Share

Bab 13

Author: Faizal Arjuna
"Aduh, kamu ini memang rendah hati ya. Aku lihat badanmu bagus kok. Pasti kuat. Kalau nggak, mana bisa jadi petugas pemadam kebakaran? Sini, biar aku lihat, kamu punya otot nggak?"

Topik yang dibahas mulai menjadi aneh, bahkan akhirnya dia langsung mengulurkan tangan ke arah dadaku. Aku belum sempat bereaksi, dia sudah menyentuhnya.

"Benar! Ada ototnya!" Bibi itu buru-buru menarik kembali tangannya. Senyumannya semakin cerah dan nada suaranya semakin bersemangat.

"Bibi ... ini maksudnya apa?" Melihat ekspresinya, aku semakin merasa ada yang tidak beres. Refleks, aku mundur sedikit.

"Maaf ya, Ray, Bibi agak kebawa suasana. Hehe .... Ray, kamu 'kan tinggal sendirian. Kamu ini masih single ya?"

"Eee ... ya, single."

Nindy sudah setuju untuk bercerai denganku, jadi tentu saja aku single. Namun, entah kenapa saat mengatakannya di depan wanita ini, perasaanku justru semakin tidak enak.

Semua sudah dibicarakan, uang sudah dibayar, kontrak sudah ditandatangani .... Namun, kenapa dia belum pergi?

"Bagus sekali, Ray. Aku suka lihat kamu, jadi aku kasih harga sewa murah ya. Aslinya tiga bulan sewa plus satu bulan deposit, tapi untuk kamu aku kasih enam bulan saja gimana? Tanpa deposit."

Sesudah memastikan aku single, mata bibi itu sampai menyipit saking senangnya. Dia pun langsung menurunkan harga sewa tanpa ragu.

Sampai di titik ini ... sekalipun lamban, aku tetap bisa menebak maksudnya. Dia ... tertarik padaku?

Pikiran mengerikan itu muncul dan tubuhku langsung merinding. Aku buru-buru mengubah jawaban. "Bukan begitu, Bibi. Aku nggak single. Aku sudah menikah lima tahun, bahkan punya anak."

"Hehe, jangan bohong. Kamu masih muda, mana mungkin sudah nikah dan punya anak?" Wanita itu sama sekali tidak percaya, justru menatapku sambil tersenyum. Senyuman yang biasanya ramah, kini malah membuat seluruh bulu kudukku berdiri.

"Ray, jangan bohong ya. Kamu bawa barang sendirian. Apa istri dan anakmu tinggal di kampung? Anakmu umur berapa? Sekolah di mana? Kelas berapa? Wali kelasnya siapa?"

Pertanyaan bertubi-tubi, semua soal anak. Faktanya, aku tidak punya anak. Andrew baru datang ke rumah dan aku pun tidak kenal dekat dengannya. Dalam sekejap, aku langsung terpaku.

"Eee ...."

"Tuh 'kan, nggak bisa jawab? Hehe. Ray, tenang saja, tinggal di sini ya. Jangan bohong sama Bibi." Melihatku terdiam, bibi itu semakin senang.

Saat hendak pergi, dia masih melambai sambil berkata, "Sudah ya, kita sudah deal. Kamu sewa enam bulan, tanpa deposit!"

Mendengar itu, ditambah tatapan yang dia berikan, seluruh bulu kudukku hampir berdiri.

Saat dia hendak keluar, aku hanya bisa menegaskan sekali lagi. "Bibi, aku benar-benar sudah nikah!"

"Oke, oke. Kamu sudah menikah. Tapi aku tetap suka kamu. Aku kasih kamu harga sewa murah. Kamu tinggal saja."

Tak pernah terpikir olehku, setelah aku menegaskan berkali-kali, bibi itu bukan percaya, malah terus terang bilang suka padaku.

Dia menutup pintu dan pergi, sementara aku terpaku, tubuhku kaku seperti patung. Ini benar-benar gila, sama sekali tidak ditutupi. Bahkan yang sudah menikah pun mau diembat?

Aku benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis. Kulit kepalaku sampai terasa kesemutan.

Aku pun menyesal sudah membayar uang sewa terlalu cepat, apalagi kontrak sudah ditandatangani.

Siapa yang menyangka bibi itu akan tertarik padaku? Kalau tahu begini, tidur di jalan pun lebih baik daripada tinggal di sini!

Namun, sekarang aku tidak bisa membatalkan apa pun. Uang di dompet cuma cukup untuk makan dua hari, sementara gaji baru turun beberapa hari lagi ....

Tidak ada pilihan lain, aku terpaksa tinggal dulu. Demi berwaspada dari wanita itu, aku pun langsung membeli kunci tambahan anti-maling dari online! Kirim cepat!

Setelah memesan, aku akhirnya bisa bernapas lega. Kemudian, aku mulai membereskan sedikit barang yang kubawa. Hanya pakaian dan perlengkapan mandi.

Sementara itu, barang-barangku yang lain, termasuk selimut dan barang pribadi, semuanya masih di rumah Nindy.

Saat aku sedang membereskan ruangan, Nindy dan Chicco sudah tiba di bar. Malam ini, Nindy berbeda dari gaya dingin dan elegan yang biasanya. Dia memakai rok pendek, kaki jenjangnya dibalut stoking hitam yang menggoda, sepatu hak tinggi runcing, rambut dibuat gelombang besar.

Riasannya tebal, auranya benar-benar seperti dewi yang seksi dan menggoda.

Chicco yang berdiri di sampingnya sampai terpana. "Nindy, gayamu malam ini benar-benar bikin aku kaget. Pas kita pacaran dulu pun, aku belum pernah lihat kamu dandan seperti ini."

"Aku cantik?"

"Tentu saja. Kamu paling cantik di sini!"

"Kamu suka?"

"Suka .... Tapi kalau aku bilang begitu, Ray nggak keberatan, 'kan?" Chicco menelan ludah, pura-pura khawatir.

Sikapnya yang pura-pura ini sama sekali tidak memengaruhi Nindy. Nindy hanya menjawab dengan nada datar, "Malam ini kita senang-senang saja, jangan sebut dia. Ayo, kita minum."

"Oke. Tapi Nindy, kita masuk ruang VIP saja ya? Kamu tampil secantik ini, aku takut ada orang berniat buruk." Tatapan Chicco padanya dipenuhi rasa memiliki dan hasrat.

"Nggak, di sini saja." Kali ini, Nindy menolak dengan tegas. Bahkan sebelum Chicco sempat berbicara lagi, Nindy sudah merangkul lehernya dan menempel padanya ....

Di saat bersamaan, seseorang di sudut bar sedang memotret kedekatan Nindy dan Chicco tanpa henti.

Di luar bar, suasana malam jauh lebih tenang. Aku baru saja selesai membereskan semuanya. Aku berdiri di samping jendela menatap bulan yang tenang.

Walaupun barangku sedikit, saat membuka lemari, baru kusadari rumah ini sudah lama tidak dihuni sehingga debunya sangat tebal. Aku pun menghabiskan satu jam untuk membersihkan semuanya sebelum menata pakaian.

Saat ini, ponselku tiba-tiba berbunyi. Ternyata dari teman kuliah yang sudah lama tidak menghubungiku. Kupikir dia mau mengundangku ke pernikahan. Rasa penasaran membuatku membuka pesannya.

Ternyata bukan undangan, melainkan video yang diteruskan. Dari sampul videonya seperti suasana bar. Di tengah, seorang wanita bersandar di dada seorang pria. Siluetnya terasa familier.

Belum sempat kubuka videonya, temanku mengirim pesan lain, lengkap dengan emoji terkejut.

[ Ray, coba lihat. Wanita di video itu istrimu, Nindy, 'kan? ]

Nindy? Melihat nama itu, entah kenapa hatiku bergetar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Bang Curlay
g bner ini udah bayar mlh balik lagi ke awal dan harus buka kunci yng udah di baca
goodnovel comment avatar
Dodo Sabda Trisna
saya sdh bayar kenapa saya gak bisa buka bab berikut nya
goodnovel comment avatar
Zhen enal
baru bab 13???
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 625

    Aku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku tetap menatap Xavian dengan dingin, lalu mencibir."Xavian, apa otakmu rusak? Aku sudah lama cerai dengan wanita ini. Hubungan kami sudah berakhir.""Kamu nggak bisa mengancamku dengan dia.""Bisa. Ray, aku juga nggak pernah melakukan sesuatu yang keterlaluan padamu. Setelah hari itu, aku juga nggak pernah ganggu Shiesta lagi.""Apa sulitnya membiarkan keluargaku pergi?" Wajah Xavian tampak muram. Sorot matanya dipenuhi kebencian."Kalau aku bisa berdiri di sini, berarti semua yang kamu lakukan sudah kuketahui." Ekspresiku tetap datar.Mendengar itu, Xavian menggertakkan gigi. Wajahnya menjadi makin suram. "Jadi memang nggak ada yang bisa dirundingkan?""Bagus! Bagus sekali! Ray, kamu memang kejam. Tapi aku lebih kejam darimu! Kalaupun mati, aku akan menyeretmu ikut mati!"Selesai berbicara, Xavian tiba-tiba mendorong Nindy. Dari balik pakaiannya, dia mengeluarkan sebilah belati. Dengan wajah penuh kegilaan, dia menerjang ke arahku.Aku langsu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 624

    "Mati lagi?"Aku terkejut mendengarnya. Di dalam hati, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.Para petinggi Grup Wardoyo yang melompat dari gedung karena takut dihukum masih bisa dimengerti. Bagaimanapun juga, seperti yang dikatakan Nicole, kejahatan yang mereka lakukan sangat keji dan cukup untuk membuat mereka mendekam di penjara seumur hidup.Namun, kasus Grup Pariaman tidak separah itu. Sekalipun Winardi ditangkap polisi, hukumannya paling sekitar sepuluh tahun. Apa sampai harus bunuh diri karena takut dihukum?"Ada yang nggak beres. Suruh Nicole dan para elite Grup Ghifari memanfaatkan jaringan intelijen keluarga. Selidiki apa masih ada sesuatu yang disembunyikan Winardi atau ada pihak lain di belakangnya.""Baik." Bella langsung mengangguk. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Nicole, lalu menyampaikan perintah Ray.Sementara itu, semua ancaman di Kota Shandro sebenarnya sudah berhasil kuselesaikan. Satu-satunya masalah yang tersisa hanyalah Keluarga Maldini di Kota Oc

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 623

    Aku menepuk bahunya pelan, lalu berkata dengan suara lembut, "Semangat sedikit. Di area pertambangan masih banyak pekerja yang butuh bantuanmu untuk koordinasi.""Aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Untuk sementara, bisa kuserahkan urusan di Kota Shandro kepadamu? Termasuk Grup Wardoyo dan Grup Pariaman."Mendengar itu, mata Nicole membelalak karena terkejut. "Grup Pariaman juga mau kamu tumbangkan?""Ya, semuanya sudah terungkap. Winardi bukan hanya sekongkol dengan para calo untuk menaikkan harga obat, tapi juga melakukan banyak perbuatan kotor lainnya.""Saat ini, di mata sebagian warga Kota Shandro, Farmasi Rising Dragon sudah dianggap sebagai perusahaan kapitalis yang dibenci.""Kalau ingin terus berkembang di Kota Shandro, kita harus menyingkirkan Grup Pariaman, lalu mengungkap seluruh kebenaran kepada publik dan memulihkan nama baik Farmasi Rising Dragon."Mendengar itu, Nicole langsung mengangguk. "Kalau Pak Ray sudah bicara seperti ini, apalagi kamu juga sudah memb

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 622

    "Rising Dragon masih belum cukup kuat. Tapi sekarang, dengan sumber daya dari Keluarga Ghifari di ibu kota, akhirnya aku bisa bergerak tanpa ragu."Mendengar itu, Clara mengangguk mengerti. Entah kenapa, pria yang masih tersenyum santai di hadapannya itu tiba-tiba memancarkan aura seolah ingin menaklukkan dunia.Setelah itu, aku membawa kembali beberapa botol minuman berkualitas. Aku juga mengajak Clara makan bersama kakekku."Ray, selama kamu bisa menerima semua ini, Kakek sudah merasa tenang. Di pihak Grup Ghifari, Kakek sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal mengambil alih semuanya sebagai pewaris muda, lalu wujudkan cita-citamu."Kakekku memandangku dengan mata penuh kebanggaan. "Untuk sementara, urusan di ibu kota akan Kakek tahan dulu. Tunggu sampai kamu selesaikan semua urusanmu, lalu kembali secara resmi.""Saat itu, biarkan mereka semua tahu, yang kembali ke Keluarga Ghifari bukanlah seorang anak terlantar dari luar, melainkan seekor naga sejati yang selama ini bersembunyi di k

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 621

    "Hamid pasti salah satunya, 'kan? Lalu Bella, ahli bela diri sehebat itu, apa dia juga termasuk?""Masih ada yang lain. Tokoh-tokoh besar yang tiba-tiba muncul, yang dulu pernah kutolong. Mereka semua juga pengaturan Kakek?"Mendengar itu, kakekku tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Bukan. Hanya Hamid yang memang Kakek atur. Sisanya adalah hasil usahamu sendiri."Hanya Hamid. Bisa dibilang, dialah orang pertama yang membawa keberuntungan dalam hidupku. Tanpa Hamid, mustahil aku bisa sampai pada titik ini. Namun, ternyata sejak awal dia sudah tahu identitasku?"Pantas saja Hamid berkali-kali rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Dia membantuku agar bisa naik status? Harga yang dia bayar benar-benar terlalu besar."Aku tersenyum pahit. Otakku segera menyusun kembali semua kejadian, dari masa lalu hingga sekarang. Semua orang, semua peristiwa, bagaimana aku harus menghadapi semuanya mulai sekarang?"Mau gimana kamu menilai, Kakek nggak akan ikut campur. Kakek percaya pada kemampu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 620

    Mendengar itu, Clara hanya tersenyum misterius, lalu berkata penuh makna,"Nanti setelah kamu bertemu dengan beliau, semuanya akan menjadi jelas."Beliau? Aku makin bingung. Namun, karena sudah telanjur datang, aku tetap mengikuti Clara masuk.Begitu memasuki ruang VIP, hanya ada seorang pria tua yang duduk di dalam. Auranya begitu berwibawa, mengenakan pakaian yang mewah dan elegan."Beliau ini ...?" Aku melirik pria tua itu. Entah kenapa wajahnya terasa sangat familier. Bahkan bisa dibilang ada sedikit kemiripan denganku.Namun, Clara tidak menghiraukanku. Dalam sekejap, sikapnya berubah menjadi penuh hormat."Kakek Ghifari, Ray sudah kubawa.""Terima kasih."Pria tua yang duduk di kursi utama akhirnya memperlihatkan senyuman tipis, lalu melambaikan tangan kepadaku. "Ray, cepat mendekat ke Kakek.""Aku?" Saat itu juga aku benar-benar terkejut. Dengan wajah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.Pria tua ini juga bermarga Ghifari, bahkan mengaku sebagai kakekku? Jangan-jangan ....

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status