LOGINKesombongan Darshun akhirnya benar-benar membuat Kamil murka. Dengan mata memicing dan amarah yang susah payah ditekan, dia berkata, "Darshun, apa maksudmu sebenarnya? Sekarang kami sudah nggak butuh bantuanmu lagi. Apa kami bahkan nggak boleh pergi? Atau kami juga harus membayar tagihanmu?"Mendengar itu, Darshun mencibir. "Aku nggak kekurangan uang untuk bayar makan. Tapi pertemuan hari ini bukan sesuatu yang bisa kalian datangi sesuka hati lalu pergi sesuka hati.""Apa maksudmu?" Aku mengernyit dan menatapnya."Maksudku masih kurang jelas?" Darshun tersenyum dingin sambil menunjuk meja makan. "Aku sudah bilang. Perkenalkan dirimu, lalu berdiri di atas meja dan tampilkan sebuah pertunjukan. Mau menyanyi boleh. Mau menari juga boleh. Setelah selesai, baru kita duduk dan bicara."Penghinaan yang terang-terangan.Kamil sudah tidak sanggup menahannya lagi.Brak!Dia menghantam meja dengan marah. "Keterlaluan!"Namun, saat itu aku malah menepuk bahunya pelan. "Pak Kamil, duduk."Aku membe
Setelah mendengar penjelasan Kamil, aku mengernyitkan dahi dan menatap Darshun. Kalau memang seperti yang dikatakan Kamil, sudah pasti Darshun akan mempersulit kami. Itu hal yang wajar.Namun dari sikapnya saat baru masuk tadi, dia terlihat seolah datang khusus untuk mempermalukan kami, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk berunding."Nggak apa-apa. Kalau dia keterlaluan, nggak perlu berunding juga."Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk bahu Kamil. Masalah penyegelan pabrik farmasi adalah urusanku dengan kedua direktur pabrik. Kamil sudah cukup banyak membantu dengan berlari ke sana kemari dan menjembatani pertemuan ini. Aku tidak mungkin membiarkannya dipermalukan demi urusanku sendiri.'Lagi pula, bukan berarti aku nggak punya cara lain.' Aku mendengus dingin dalam hati.Dari luar, aku tetap tenang dan berkata kepada Darshun, "Duduklah. Perundingan hari ini akan menguntungkan kedua belah pihak.""Baik. Aku ingin melihat keuntungan seperti apa yang kamu maksud."Darshun sed
Hanya dengan informasi seperti itu, bagaimana mungkin bisa menemukan seseorang?'Apa jangan-jangan Ketua sedang jatuh cinta?' Wanita itu hanya bisa menghela napas dalam hati."Oh ya, aku juga tahu dia mengendarai mobil Land Rover. Nomor pelatnya adalah ...."Setelah diingatkan oleh wanita itu, Arney tiba-tiba tersadar. Dia sama sekali tidak menyadari keanehan sikapnya sendiri dan malah menjelaskan dengan sungguh-sungguh."Aku mengerti, Ketua. Mohon tunggu kabar dariku." Setelah mendapatkan satu-satunya petunjuk yang berguna itu, wanita tersebut langsung mulai melakukan penyelidikan.Sementara itu, Arney tetap tenang dan tidak terburu-buru. Dia berbaring di kursi belakang mobil sambil memejamkan mata untuk beristirahat. Namun, sesekali alisnya yang indah masih berkerut. 'Kursi belakang mobil ini nggak senyaman pelukannya .... Aku juga nggak bisa merasa setenang tadi ....'....Di sisi lain, aku sama sekali tidak tahu bahwa tindakanku menyelamatkan seseorang malah mendatangkan masalah ba
"Mau menstabilkan mental anggota?"Mendengar ucapannya, Arney mengernyitkan dahi.Setelah terdiam beberapa detik, dia tetap menggelengkan kepala. "Belum perlu.""Di dalam organisasi ada masalah sebesar ini, tetapi kita sama sekali nggak sadar selama ini. Itulah masalah terbesar. Sekarang malah bagus setelah semuanya meledak. Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membersihkan seluruh anggota yang memiliki niat buruk."Saat mengucapkan itu, kilatan amarah muncul di mata indah Arney.Dengan suara dingin dia berkata, "Sudah diketahui belum siapa pihak yang bersekongkol dengan dua bajingan itu? Kalau nggak punya pendukung, mustahil mereka berani mengkhianatiku!"Wanita yang mengemudi mengangguk. "Ketua, dugaan Anda benar. Kami sudah menyelidikinya. Dalang di balik pemberontakan ini adalah Organisasi Macan Hitam di Kota Cloudia.""Terakhir kali Ferry datang ke Kota Cloudia, sepertinya dia sempat berselisih dengan mereka. Ketika Organisasi Nagari mulai memperluas pengaruh ke Kota Cloudi
Raut dingin di wajah Arney sama sekali tidak berkurang.Dengan suara dingin dia berkata, "Orang yang menyelamatkan nyawaku adalah dia. Sejak kapan itu jadi kamu?""Baik, baik, anggap saja pacarmu yang selamatkan kamu. Tapi aku juga nggak punya dendam ataupun masalah sama kamu. Kenapa kamu menyanderaku seperti ini?"Dokter hampir menangis. Kalau sejak awal dia tahu gadis yang terlihat cantik dan pendiam ini ternyata begitu berbahaya, dia pasti tidak akan membiarkan Ray pergi secepat itu."Kalau begitu katakan padaku, di mana dia sekarang? Kenapa sudah selama ini dia belum kembali? Apa dia meninggalkanku begitu saja?"Wajah Arney tetap dingin. Dengan gigi terkatup dia berkata, "Ingin kabur begitu saja tanpa bertanggung jawab? Mimpi!"Di dalam mobil tadi, hampir seluruh tubuhnya sudah dilihat oleh Ray. Terlebih lagi, siapa yang tahu apakah Ray sudah menebak identitasnya dan pergi melaporkan keberadaannya di rumah sakit kepada orang lain?Arney tidak berani mengambil risiko itu. Dia juga t
Aku menjelaskan kondisi Arney kepada dokter dengan cepat."Ke sini!" Dokter mengangguk. Begitu mendengar kata racun ular, ekspresinya langsung berubah serius.Aku segera meletakkan Arney di atas ranjang pasien. Dokter langsung mulai memeriksanya, menanyakan waktu gigitan dan ciri-ciri ular yang menggigitnya.Saat ini kondisi mental Arney masih cukup baik. Dia menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Melihat hal itu, aku akhirnya merasa tenang. Aku keluar lebih dulu dari ruang gawat darurat untuk mengurus pembayaran.Ketika kembali, dokter sudah menyelesaikan pemeriksaannya. "Kamu bawa pacarmu ke sini tepat waktu dan penanganan awal yang kamu lakukan juga sangat baik.""Kebetulan rumah sakit kami memiliki serum untuk jenis ular tersebut. Pacarmu sudah dibawa untuk disuntik serum, jadi nggak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja."Mendengar ucapan dokter, aku menghela napas lega. Namun, aku juga teringat kembali pada penampilannya yang berbahaya saat menodongkan belati."Dokter, dia bu







