LOGINPada saat yang sama, di tempat lain, Owen naik ke sebuah mobil mewah dalam keadaan lusuh dan sangat kelelahan.Di dalam mobil itu, selain seorang sopir, ada juga Sandy. "Pak Sandy, aku sudah melakukan semua yang diperintahkan.""Tapi entah gimana, Ray bisa mengetahui kalau resep itu bermasalah. Pasti ada orang hebat yang bantu di belakang layar!"Mata Owen memerah. Suaranya serak saat berkata, "Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Ini benar-benar bukan salahku! Pak Sandy, tolong lepaskan anakku!"Mendengar itu, Sandy tersenyum tipis. Tatapannya penuh ejekan. "Owen, lihat dirimu. Kenapa terburu-buru sekali?""Misinya gagal, aku bahkan belum sempat hukum kamu, kamu sudah mulai mengajukan syarat kepadaku?""Bukan ... bukan begitu!" Tubuh Owen gemetar. Matanya dipenuhi ketakutan dan keputusasaan.Sandy mengangkat secangkir kopi yang baru diseduh di sampingnya, lalu menyesapnya dengan santai. Wajahnya tampak sangat menikmati.Baru setelah cukup lama, dia membuka mata dan menatap Owen deng
Usai bicara, Tony berhenti sejenak. Dia menurunkan suaranya lalu melanjutkan, "Kelompok relawan uji obat sebelumnya adalah pihak yang mengalami masalah. Aku juga sudah mengatur mereka untuk menjalani pemeriksaan di klinik Dokter Gisela. Tenang saja, nggak ada yang terbongkar."Mendengar ucapannya, aku mengangguk puas. Efisiensi kerja Tony memang selalu tinggi."Selain itu, keberadaan Dokter Owen masih belum berhasil ditemukan."Tony melanjutkan laporannya, "Dan juga pria yang datang menemui Bapak kemarin, Winardi dari Kota Shandro. Setelah menerima kabar tadi malam bahwa Bapak mengundangnya ke perusahaan untuk membahas kerja sama, aku sudah menyiapkan ruang rapat.""Pak Winardi sekarang sedang menunggu Bapak di sana."Mendengar ucapannya, aku sedikit terkejut. Aku tidak menyangka Winardi begitu ingin segera mencapai kerja sama."Hah? Dia datang sepagi ini?""Benar, Pak Ray.""Baiklah, kalau begitu aku langsung ke sana. Kirimkan data perusahaannya ke aku, termasuk riwayat kegiatan bisni
"Bisa."Aku tersenyum tak berdaya. Bagaimanapun, dengan mata tertutup aku tidak bisa melihat apa pun. Namun ketika tanganku terus bergerak ke atas mengikuti pijatan, Mayumi yang duduk di depanku mulai terlihat semakin aneh. Aku bahkan bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar tanpa terkendali."Ka ... kamu tunggu sebentar. Bisa nggak tanganmu jangan bergerak sembarangan? Kamu pijat terlalu ke atas!" Beberapa detik kemudian, Mayumi berkata dengan suara bergetar. Nada bicaranya terdengar malu."Maaf. Aku memang nggak bisa melihat."Aku berdeham canggung, lalu segera menarik tanganku kembali. Kaki Mayumi memang terlalu panjang. Kalau hanya pergelangan kaki, lokasinya mudah ditemukan. Namun, untuk seluruh otot dan urat di sepanjang kaki, wajar kalau aku sulit menentukan posisi yang tepat."Tapi jangan terlalu ke bawah juga.""Sudahlah. Aku pegang tanganmu dan bantu menunjukkan lokasinya."Suara Mayumi begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.Tangannya yang lembut perlahan menyentuh pungg
"Selesai sudah. Sepertinya dia benar-benar nggak punya kekurangan."Aku yang baru saja turun sampai ke pintu masuk bertanya dengan heran, "Kamu ngomel apa sih dari tadi?"Wajah Mayumi langsung memerah."Ng ... nggak ada apa-apa! Bukan urusanmu!""Baiklah." Aku mengangkat bahu dan tidak melanjutkan pertanyaan. Bagaimanapun, sejak tadi Mayumi memang terlihat agak aneh.Tak lama kemudian, aku membantunya naik ke mobil dan memasukkan kopernya ke bagasi. Saat kembali, aku melihat Mayumi duduk di kursi belakang. Sepatu dan kaus kaki di kaki yang terkilir sudah dilepas, lalu kakinya diletakkan di atas kursi. Dia mencoba memijat dirinya sendiri untuk mengurangi rasa sakit.Namun, sesekali masih mengernyit kesakitan.Melihat gerakannya yang sangat canggung, aku langsung tahu bahwa Mayumi sama sekali tidak punya pengalaman menangani cedera terkilir."Biar aku saja. Kebetulan ada minyak gosok di mobil. Kalau kamu terus memijat seperti itu, bisa terjadi cedera kedua dan malah makin parah."Aku men
"Jangan-jangan inilah yang disebut hati wanita sulit ditebak?" Aku bergumam tak berdaya. Namun, aku sama sekali tidak tahu bahwa saat itu pikiran Mayumi sedang sangat kacau. Dia sangat menyesali dirinya yang tidak mampu menahan dorongan hatinya tadi."Aku benar-benar mencium Ray di depan William .... Memang ada alasannya, tapi kalau terus begini, bagaimana dengan persahabatanku dengan Hawa?""Dasar Ray menyebalkan. Dia bahkan cepat sekali ingin suruh bawahannya carikan rumah baru untukku dan menyuruhku pindah .... Aku tahu kamu nggak suka aku. Memangnya kenapa? Kalau memang hebat, jangan pulang ke rumah beberapa hari ini. Jangan muncul di depanku!"Meski pengalaman kerja Mayumi sangat banyak, sama seperti Hawa, sejak kecil dia selalu dikelilingi para pengagumnya. Namun, dia tidak pernah benar-benar menjalin hubungan dengan siapa pun.Dalam urusan cinta, dia masih sangat polos.Sekarang setelah akhirnya ada pria yang membuat hatinya berdebar, orang yang dipilihnya malah pria yang lebih
Pada detik berikutnya, Mayumi tiba-tiba memegang wajahku dan memaksanya menoleh ke arahnya. Lalu, bibir merahnya yang lembut langsung menempel di bibirku."Hm ...."Aku langsung membelalakkan mata. Mayumi menciumku dengan penuh perasaan. Matanya terpejam rapat, seolah benar-benar tenggelam dalam momen itu.'Jangan-jangan ini juga bagian dari akting? Kenapa banyak sekali orang-orang yang merepotkan di sekitar Mayumi?' Aku mengeluh dalam hati.Beberapa detik kemudian, Mayumi akhirnya melepaskanku lalu menatap William dengan wajah dingin. "Sekarang kamu percaya?""Bajingan!"Ekspresi William menjadi sangat buruk. Dia menatapku dengan penuh kebencian. Setelah meraung marah, dia langsung mengayunkan tinju ke arahku. "Apa yang membuatmu pantas bersama Mayumi?!""Memangnya urusanmu?"Kesabaranku sudah habis saat itu. Tanpa ragu aku menghindari pukulannya, lalu langsung membalas. Aku mengumpulkan tenaga dan menghantamkan satu pukulan keras ke perutnya.Buk!"Aaaah!"William menjerit kesakitan.







