MasukAku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku tetap menatap Xavian dengan dingin, lalu mencibir."Xavian, apa otakmu rusak? Aku sudah lama cerai dengan wanita ini. Hubungan kami sudah berakhir.""Kamu nggak bisa mengancamku dengan dia.""Bisa. Ray, aku juga nggak pernah melakukan sesuatu yang keterlaluan padamu. Setelah hari itu, aku juga nggak pernah ganggu Shiesta lagi.""Apa sulitnya membiarkan keluargaku pergi?" Wajah Xavian tampak muram. Sorot matanya dipenuhi kebencian."Kalau aku bisa berdiri di sini, berarti semua yang kamu lakukan sudah kuketahui." Ekspresiku tetap datar.Mendengar itu, Xavian menggertakkan gigi. Wajahnya menjadi makin suram. "Jadi memang nggak ada yang bisa dirundingkan?""Bagus! Bagus sekali! Ray, kamu memang kejam. Tapi aku lebih kejam darimu! Kalaupun mati, aku akan menyeretmu ikut mati!"Selesai berbicara, Xavian tiba-tiba mendorong Nindy. Dari balik pakaiannya, dia mengeluarkan sebilah belati. Dengan wajah penuh kegilaan, dia menerjang ke arahku.Aku langsu
"Mati lagi?"Aku terkejut mendengarnya. Di dalam hati, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.Para petinggi Grup Wardoyo yang melompat dari gedung karena takut dihukum masih bisa dimengerti. Bagaimanapun juga, seperti yang dikatakan Nicole, kejahatan yang mereka lakukan sangat keji dan cukup untuk membuat mereka mendekam di penjara seumur hidup.Namun, kasus Grup Pariaman tidak separah itu. Sekalipun Winardi ditangkap polisi, hukumannya paling sekitar sepuluh tahun. Apa sampai harus bunuh diri karena takut dihukum?"Ada yang nggak beres. Suruh Nicole dan para elite Grup Ghifari memanfaatkan jaringan intelijen keluarga. Selidiki apa masih ada sesuatu yang disembunyikan Winardi atau ada pihak lain di belakangnya.""Baik." Bella langsung mengangguk. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Nicole, lalu menyampaikan perintah Ray.Sementara itu, semua ancaman di Kota Shandro sebenarnya sudah berhasil kuselesaikan. Satu-satunya masalah yang tersisa hanyalah Keluarga Maldini di Kota Oc
Aku menepuk bahunya pelan, lalu berkata dengan suara lembut, "Semangat sedikit. Di area pertambangan masih banyak pekerja yang butuh bantuanmu untuk koordinasi.""Aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Untuk sementara, bisa kuserahkan urusan di Kota Shandro kepadamu? Termasuk Grup Wardoyo dan Grup Pariaman."Mendengar itu, mata Nicole membelalak karena terkejut. "Grup Pariaman juga mau kamu tumbangkan?""Ya, semuanya sudah terungkap. Winardi bukan hanya sekongkol dengan para calo untuk menaikkan harga obat, tapi juga melakukan banyak perbuatan kotor lainnya.""Saat ini, di mata sebagian warga Kota Shandro, Farmasi Rising Dragon sudah dianggap sebagai perusahaan kapitalis yang dibenci.""Kalau ingin terus berkembang di Kota Shandro, kita harus menyingkirkan Grup Pariaman, lalu mengungkap seluruh kebenaran kepada publik dan memulihkan nama baik Farmasi Rising Dragon."Mendengar itu, Nicole langsung mengangguk. "Kalau Pak Ray sudah bicara seperti ini, apalagi kamu juga sudah memb
"Rising Dragon masih belum cukup kuat. Tapi sekarang, dengan sumber daya dari Keluarga Ghifari di ibu kota, akhirnya aku bisa bergerak tanpa ragu."Mendengar itu, Clara mengangguk mengerti. Entah kenapa, pria yang masih tersenyum santai di hadapannya itu tiba-tiba memancarkan aura seolah ingin menaklukkan dunia.Setelah itu, aku membawa kembali beberapa botol minuman berkualitas. Aku juga mengajak Clara makan bersama kakekku."Ray, selama kamu bisa menerima semua ini, Kakek sudah merasa tenang. Di pihak Grup Ghifari, Kakek sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal mengambil alih semuanya sebagai pewaris muda, lalu wujudkan cita-citamu."Kakekku memandangku dengan mata penuh kebanggaan. "Untuk sementara, urusan di ibu kota akan Kakek tahan dulu. Tunggu sampai kamu selesaikan semua urusanmu, lalu kembali secara resmi.""Saat itu, biarkan mereka semua tahu, yang kembali ke Keluarga Ghifari bukanlah seorang anak terlantar dari luar, melainkan seekor naga sejati yang selama ini bersembunyi di k
"Hamid pasti salah satunya, 'kan? Lalu Bella, ahli bela diri sehebat itu, apa dia juga termasuk?""Masih ada yang lain. Tokoh-tokoh besar yang tiba-tiba muncul, yang dulu pernah kutolong. Mereka semua juga pengaturan Kakek?"Mendengar itu, kakekku tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Bukan. Hanya Hamid yang memang Kakek atur. Sisanya adalah hasil usahamu sendiri."Hanya Hamid. Bisa dibilang, dialah orang pertama yang membawa keberuntungan dalam hidupku. Tanpa Hamid, mustahil aku bisa sampai pada titik ini. Namun, ternyata sejak awal dia sudah tahu identitasku?"Pantas saja Hamid berkali-kali rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Dia membantuku agar bisa naik status? Harga yang dia bayar benar-benar terlalu besar."Aku tersenyum pahit. Otakku segera menyusun kembali semua kejadian, dari masa lalu hingga sekarang. Semua orang, semua peristiwa, bagaimana aku harus menghadapi semuanya mulai sekarang?"Mau gimana kamu menilai, Kakek nggak akan ikut campur. Kakek percaya pada kemampu
Mendengar itu, Clara hanya tersenyum misterius, lalu berkata penuh makna,"Nanti setelah kamu bertemu dengan beliau, semuanya akan menjadi jelas."Beliau? Aku makin bingung. Namun, karena sudah telanjur datang, aku tetap mengikuti Clara masuk.Begitu memasuki ruang VIP, hanya ada seorang pria tua yang duduk di dalam. Auranya begitu berwibawa, mengenakan pakaian yang mewah dan elegan."Beliau ini ...?" Aku melirik pria tua itu. Entah kenapa wajahnya terasa sangat familier. Bahkan bisa dibilang ada sedikit kemiripan denganku.Namun, Clara tidak menghiraukanku. Dalam sekejap, sikapnya berubah menjadi penuh hormat."Kakek Ghifari, Ray sudah kubawa.""Terima kasih."Pria tua yang duduk di kursi utama akhirnya memperlihatkan senyuman tipis, lalu melambaikan tangan kepadaku. "Ray, cepat mendekat ke Kakek.""Aku?" Saat itu juga aku benar-benar terkejut. Dengan wajah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.Pria tua ini juga bermarga Ghifari, bahkan mengaku sebagai kakekku? Jangan-jangan ....







