Share

Dokter Brian

Author: She Sheila
last update publish date: 2026-07-13 13:53:57

"Ibu Karina Gunawan!" 

Wanita berkacamata hitam itu menegang. Tubuhnya beranjak dari ruang tunggu pasien menuju ke arah perawat berpakain serba putih. Karina menjalani pemeriksaan dasar seperti timbang berat badan dan tensi darah serta wawancara singkat seputat kondisinya saat ini.

"Masih ingat haid terakhir di tanggal berapa, Ibu?"

Karina menyebutkan tanggal yang ia ingat jelas, tanpa cela. Kebiasannya menyilang kalender saat masa datang bulan tiba akhirnya berguna.

"Apakah ini kehamilan pertama?"

Ia mengangguk pelan, sembari melirik sekitar. Wajahnya terus tertunduk, bersama rambut yang jatuh menutupi wajah. Kali ini ia tak ingin satu orang pun mengenali wajahnya. Untuk itu ia sengaja memilih rumah sakit di pinggiran kota untuk menghindari pertemuan dengan siapapun.

"Ada keluhan, Ibu?"

Karina menggeleng pelan. "Mual aja, paling!" katanya teringat bagaimana seringnya ia merasa mual dan tak jarang memuntahkan isi perutnya beberapa hari terakhir.

Perawat itu mencatat keluhan Karina sembari tersenyum hangat, tahu betul bahwa hal itu sering kali pada ibu muda. Setelah semua pertanyaan terjawab, ia mengarahkan Karina pada sebuah pintu bertulisan 'dr. Triawan,Sp.OG'.

"Silakan rebahan dulu di sini, kita persiapan untuk USG terlebih dahulu, sembari menunggu dokter."

Karina yang masih bingung mengikuti semua perintah dengan baik. Ia naik ke ranjang, membuka kemeja yang dikenakannya sampai batas dada, sementara bagian bawah tubuhnya ditutupi selimut.

"Dokter Brian masih di toilet, mohon ditunggu sebentar."

"Ba... apa? Siapa?" Karina tersentak mendengar nama yang tak asing di telinga.

"Dokter Brian, Ibu."

"Brian?" tanyanya bingung, nama yang tak asing dan mampu membuat tubuhnya bergidik.

"Betul Ibu, karena ada operasi darurat, jadwal Dokter Triawan hari ini diganti dengan Dokter Brian."

Wajah Karina berubah merah padam, menahan rasa marah dan malu yang mungkin akan terjadi. Ia tak tahu ada berapa dokter dengan nama Brian di dunia ini, namun perasaannya berubah campur aduk hanya dengan mendengar nama itu.

"Saya batalkan pemeriksaannya!" katanya serata merapikan pakaian dan bergerak turun, bahkan nyaris melompat dari ranjang.

Otaknya tak lagi bisa berpikir. Ia hanya ingin pergi, secepat mungkin dari tempat itu sebelum sang dokter datang. Tangannya berusaha mengenakan kembali sepatu hak tinggi yang biasa ia kenakan di kantor.

SREK!

Baru saja Karina ingin menyentuh tirai yang menutupi ruang pemeriksaan, tapi tangannya kalah cepat dengan pria berjas putih dengan kacamata yang bertengger di wajah. Dua pasang manik beradu, menunjukkan wajah yang sama.

"Kamu?"

"M-maaf, saya permisi dulu!"

Karina buru-buru pergi. Kakinya bergerak dengan cepat, takut pria itu menyusul. Air wajahnya tegang, takut dan malu campur aduk di dada. Entah jawaban apa yang akan ia berikan ketika Brian bertanya nanti.

Tangannya terus menekan pintu lift yang tak kunjung terbuka. Namun begitu ada celah, ia bergerak maju tanpa aba-aba.

"Tunggu!"

Sebuah tangan menahannya, dengan kuat dan tatapan memohon. Karina menggelengkan kepala, wajahnya tertunduk malu. Ia berusaha melepaskan diri dari Brian.

"Aku enggak akan tanya macam-macam!" katanya. Ucapan itu membuat wajah Karina terangkat. "Aku hanya akan periksa kamu, janji!" tambahnya sembari menyentuh pergelangan tangan lembut yang mulai melemah.

Wanita itu bergerak maju, mengikuti langkah kaki Brian yang membawanya kembali ke ruang pemeriksaan. Tak ada orang di sana, hanya ada mereka berdua.

"Silakan!"

Karina kembali naik ke ranjang, dengan wajah tertunduk. Kacamata yang ia gunakan tak dapat menutupi rasa malu yang jelas terbaca dari air mukanya yang memerah.

"Maaf," kata Brian yang menaikkan selimut hingga batas pinggang, sementara Karina membuka kemejanya, lagi.

Tangan besar itu menyemprotkan gel ke alat USG, lalu menempelkannya ke bagian perut Karina. Perlahan ia menggerakkan tangan, tapi matanya fokus ke layar.

"Permisi ya..."

Lembut. Satu kata yang dapat menggambarkan bagaimana Brian melakukan pemeriksaan pada Karina. Terutama ketika alat di tangannya bergerak turun menuju perut bagian bawah dan menekannya sedikit lebih dalam.

"Maaf, harus ditekan sedikit biar kelihatan," jelasnya.

Karina mengangguk tanpa kata. Matanya tertuju pada layar yang terpajang di dinding, khusus untuk pasien. Ia menyaksikan sendiri, benda bulat kecil yang nampak seperti buah anggur di matanya. Warnanya hitam-putih, tak jelas.

"Sudah ada kantung janin, perkiraan usianya...ehm..." Brian menggerakkan tangannya, memicingkan mata untuk memastikan dengan tepat. "Sudah lima minggu," tambahnya seraya tersenyum.

Sang dokter kembali beraksi, memeriksa adakah kemungkinan kelainan yang terjadi. Namun sejauh itu, tak ada hal aneh dan membuatnya tersenyum ke arah Karina.

"Kondisinya bagus, tapi di sini alatnya terbatas, paling kalau mau dengar detak jantungnya..."

"Memangnya bisa?" potong Karina yang nampak sangat tertarik dengan hal itu.

"Mungkin bisa dipemeriksaan berikutnya."

Wajah penuh semangat itu luntur perlahan. Bibirnya maju, seolah kecewa, ciri khas Karina yang belum pernah Brian lihat. Namun hal itu malah membuat sang dokter terkekeh.

"Next, kita dengar sama-sama!" katanya penuh percaya diri. "Janji!" tambahnya dengan keyakinan.

Karina melepas kacamatanya, menunjukkan wajah sendu yang baru bisa ditunjukkannya pada orang lain. Bibirnya terangkat, sebuah senyuman terukir hangat, mengartikan syukur akan semua pertolongan yang terus-menerus Brian tunjukkan.

"Aku bantu bersihkan."

Tangan itu menarik beberapa lembar tisu dan membersihkan bagian perut Karina dengan sangat hati-hati. Setelah itu, ia juga ikut membantu Karina turun dari ranjang yang cukup tinggi, termasuk memasangkan sepatunya.

"Nanti kurangi pakai sepatu hak tinggi, ya!" nasihat pria itu. "Selain bikin kaki cepet pegel, kamu bisa jatuh, apalagi kalau perutnya makin besar," tambahnya dengan lembut.

Karina mengangguk paham. Kedua beranjak ke meja kerja Brian yang langsung sibuk mengisi hasil pemeriksaan. Pria itu menyodorkan hasil USG yang menunjukkan gambar di layar tadi.

Bibir bergincu merah muda itu tersenyum dengan tangan lain menyentuh perut yang masih datar. Tak pernah ia sangka bahwa jatuh cinta bisa muncul walau hanya melihat gambar monokrom itu.

"Aku berikan obat mual untuk diminum sebelum makan. Lalu akan ada vitamin dan..." Brian tercekat akan ucapannya sendiri. Ia menatap Karina sebelum melanjutkan ucapannya.

"Dan?"

"Apakah perlu aku berikan penguat kandungan?"

Karina terhenyak. Isi kepalanya mendadak kosong, tanpa jawaban. Senyumnya pudar, bersama bayang-bayang masa depan yang entah akan bagaimana jadinya. Karir yang ia bangun susah payah, keluarga yang mungkin akan semakin berantakan dan kemungkinan buruk lainnya jika janin ini dibiarkan berkembang.

Tangannya mengelus lembut perut itu sekali lagi, coba merasakan gerak yang mungkin belum ada. Tapi rasanya hangat, seolah janin yang belum sempurna itu mengirimkan pesan cinta untuk sang ibu.

Tiba-tiba saja Karina merunduk dalam. Air matanya jatuh bersama tangis yang pecah tak terelakkan. Wajah cantik itu hilang, bersama rambut-rambut yang jatuh, menutupi sedih dan semua amarah yang bercampur jadi satu.

Tangan besar nan kokoh menyentuh bahu Karina, seolah tahu apa yang telah terjadi tanpa perlu diceritakan. Wanita itu menengadahkan kepala, menatap pria yang tersenyum di balik kacamata kerjanya. Tatapannya hangat dengan bibir tertutup rapat. Sesuai janji, ia sama sekali tak bertanya tentang apapun.

"Aku akan bantu jaga dia, kalau kamu mau!" ucapnya penuh keyakinan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Gara-gara Pandji

    "Saya diintimidasi, dipaksa melakukan pemeriksaan itu dan kemungkinan besar hasilnya juga dimanipulasi hingga saya tidak bisa mendapatkan keadilan."Wanita dalam layar menunduk dan menangis. Pria-pria bertubuh besar di sisinya mendekat dan merangkul, coba memberi ketenangan. Lalu tak lama mereka mengamuk, menunjuk-nunjuk dan mengelukan nama Brian yang menjadi tokoh utama dalam pemberitaan ini.CKLIK!Brian mematikan layar, merundukkan kepala dan mengingat alur di mana ia menemukan Mawar, pasien yang dibawanya dalam program Inside Her. Tak hanya itu, ia juga mulai menelusur, di mana letak kesalahannya.Lirikannya berubah tajam begitu layar ponsel menyala. Nama Karina ada di sana, dengan emot tanda cinta berwarna merah menyala. Namun ia malah menekan tombol merah sebagai tanda menolak. Tabgannya bertaut dengan wajah menunduk dalam. Kepalanya terasa penuh, memutar cerita lama tentang pertemuannya dengan Mawar dan bagaimana ia melayani wanita itu dengan sangat baik.TING!Sebuah pesan m

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Dokter Pandji atai Bandji?

    "Dokter, ada yang mau bertemu."Pandji menengadah, menatap perawat yang masuk di saat semua pasien sudah selesai diperiksa. Ekspresi penu tanya itu langsung terjawab begitu seorang wanita muncul di ambang pintu. Wajahnya tak asing, begitu pula tatapan tajam yang menunjukkan alasan dari kemunculannya."Oke, terima kasih!" katanya seraya mempersilakan perawat itu untuk keluar.Karina masuk dengan langkah pasti. Matanya tak lepas dari wajah dokter yang membuatnya muak bahkan hanya dengan melihat senyum menyebalkannya."Ada yang bisa saya bantu, Ibu Karina?" tanyanya terdengar sok akrab. Senyumnya menyimpan sejuta arti, mulai dari ledekan hingga puas, karena bisa membuat wanita itu hadir di ruangannya, atas kesadaran sendiri. "Atau Nona, karena Anda belum menikah, kan?" selorohnya kali ini dengan nada mengejek.Air muka si cantik semakin merah, menahan malu dan kesal yang sudah ada di ubun-ubun. Keduanya tak saling mengenal, tapi cerita satu sama lain sepertinya sudah jelas pernah didenga

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Sutradara Sesungguhnya

    "Dokter Brian di mana?"Karina menatap sekeliling, tapi tak menemukan pujaan hatinya di sana. Seorang kameramen menunjuk ruang ganti, posisi sang dokter berada saat ini."Thank you!"Wanita itu bergerak dengan cepat menuju ke tempat sang kekasih. Seperti biasa, ia disapa dengan senyuman manis dan tatapan penuh kasih dari Brian. Pria itu bahkan tak malu mengelus lembut perut buncit yang menggemaskan itu di depan para perias."Sorry, gue mau ngobrol bentar, bisa?" pintanya pada beberapa orang yang langsung mengangguk tanda mengerti.Karina tak ingin membuang waktu. Inside Her terus berjalan, rating harus dipertahankan, tapi masalah kembali datang. Semua masalah harus diselesaikan sesegera mungkin, atau ini akan membuat Inside Her dan Brian dalam masalah besar. Utamanya bagi sang kekasih yang tentu memiliki etika profesi."Ada apa?" tanya Brian langsung sadar bahwa ada yang tak beres dari kedatangan sang kekasih.Wajah Karina nampak cemas, bingung harus mulai dari mana. Ia menarik kursi,

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Pasien Bermasalah

    "Happy banget Bumil!" puji Sheila yang muncul dari arah pintu masuk. Karina tergelak. Ia baru saja menekan tombol lift, dan keduanya masuk bersamaan. Wajahnya nampak berseri-seri dan cerah ceria, persis menggambarkan suasana hatinya yang tengah berbahagia, seperti dugaan rekan kerjanya itu."Kelihatan banget, ya?" tanya Karina sembari melihat pantulan diri dari dinding lift yang menunjukkan bagaimana wajah cantik itu berpuluh kali lipat lebih cerah dari biasanya."Bukan lagi!" jawab Sheila menggeleng-gelengkan kepala.Semenjak hubungan keduanya membaik, Sheila dan Karina sering terlihat jalan berdua, berbincang terkait pekerjaan atau bahkan hanya bersenda gurau layaknya sahabat. Hubungan ini membuat sebagian orang memandang tak suka, karena perpaduan mereka dalam pekerjaan malah membuat semuanya semakin baik."Abis dapat apa? Duit? Berlian?" Sheila mencecar dengan penasaran.Sesekali tangannya menyentuh perut Karina yang kian membesar. Ia begitu gemas melihat sembulan itu, dan kadang

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Rahasia Brian

    "Rasanya udah lama kita enggak makan, terus ngobrol kayak gini!" Karina berseru kegirangan. Sepiring nasi dengan sup buatan Brian membuat nafsu makannya bertambah. Apalagi ditemani sang kekasih yang akhirnya tak jadi pulang."Terakhir setahun lalu enggak, sih?" celetuk Brian yang langsung disambut tawa Karina.Keduanya terbahak. Guyonan khas bapak-bapak yang membuat suasana semakin mencair terasa begitu pas bagi mereka. Tangan yang bertaut, manik saling memandang dan elusan lembut satu sama lain yang tiada henti, rasanya begitu hangat dan indah."Tapi..." Kalimat itu mengambang, tatapan mata Karina mendadak ragu. "Kamu enggak lagi ngehindarin aku, kan?" tanyanya tiba-tiba.Sang dokter mengernyitkan kening, bingung. Ia merasa tak menghindari sang kekasih. Kesibukannya memang di luar kebiasaan.Jika Brian masih bisa membagi waktu untuk sekedar menelepon atau mengunjungi sang kekasih, kali ini memang tidak. Mulutnya mulai bergerak, menceritakan semua kegiatannya dari pagi hingga sore, b

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Kangen

    "Nginep enggak?"Karina memasang wajah memohon. Sudah seminggu ini ia tidur sendiri. Jadwal bertemu dengan sang dokter pun terhitung jarang, keduanya menyempatkan diri di jam-jam makan siang dan mengantar pulang seperti saat ini."Hmmm... aku cek jadwal sebentar!" Brian mendesah pelan sembari menatap layar ponsel, di mana semua jadwal tersedia di sana. Mulai dari jadwal praktik, visit sampai konsultasi naskah dengan Sheila."Besok aku memang ada acara ke kantor kamu buat penulisan naskah bareng anak-anak, tapi abis makan siang. Paginya aku ada praktik." Sang dokter memasang wajah sedih, karena kemungkinan besar dirinya menginap semakin kecil.Lokasi rumah sakit memang cukup jauh dari tempat Karina, sehingga ia memperhitungkan jarak dan juga waktu tempuhnya. Belum lagi kemacetan di pagi hari yang sering membuat panik duluan."Beneran enggak bisa?" tanya Karina memelas.Wanita itu memasang wajah sedih dan nestapa karena tak ditemani lagi. Walau bukan yang pertama, namun entah mengapa p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status