Chapter: Kangen"Nginep enggak?"Karina memasang wajah memohon. Sudah seminggu ini ia tidur sendiri. Jadwal bertemu dengan sang dokter pun terhitung jarang, keduanya menyempatkan diri di jam-jam makan siang dan mengantar pulang seperti saat ini."Hmmm... aku cek jadwal sebentar!" Brian mendesah pelan sembari menatap layar ponsel, di mana semua jadwal tersedia di sana. Mulai dari jadwal praktik, visit sampai konsultasi naskah dengan Sheila."Besok aku memang ada acara ke kantor kamu buat penulisan naskah bareng anak-anak, tapi abis makan siang. Paginya aku ada praktik." Sang dokter memasang wajah sedih, karena kemungkinan besar dirinya menginap semakin kecil.Lokasi rumah sakit memang cukup jauh dari tempat Karina, sehingga ia memperhitungkan jarak dan juga waktu tempuhnya. Belum lagi kemacetan di pagi hari yang sering membuat panik duluan."Beneran enggak bisa?" tanya Karina memelas.Wanita itu memasang wajah sedih dan nestapa karena tak ditemani lagi. Walau bukan yang pertama, namun entah mengapa p
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: Kejutan Karina"Emangnya kita mau ke mana, sih?" tanya Brian penasaran.Sudah hampir satu jam keduanya mengendarai mobil yang entah ke mana tujuannya. Karina bahkan mengambil alih di bangku kemudi, walau dengan pengawasan khusus dari sang kekasih."Sabar, sebentar lagi kamu pasti tahu, ini udah deket kok!" katanya seraya terkekeh.Entah apa yang membuat Karina begitu bahagia. Wanita itu muncul di tempat praktik Brian tanpa konfirmasi, lalu menjemputnya penuh paksa. Dan kini keduanya masih di perjalanan yang begitu asing dan menjauhi Ibu Kota, menuju Kota seberang yang banyak ditumbuhi tanaman hijau dan sejuk."Kamu enggak capek nyetirnya? Sini deh, aku ganti!" kata Brian.Namun dengan tegas Karina menggelengkan kepala. Wanita itu malah membuka jendela mobil, menikmati udara yang begitu jarang jika di kota besar. Rambutnya terbang, mengikuti arah angin."Seger....!" serunya senang.Brian tersenyum. Pria itu ikut menurunkan jendela dan m
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Belum Selesai"Masih ada pasien?" "Sudah tidak ada, tapi Dokter Panji katanya mau bertemu Dokter," jawa sang perawat. Brian diam sejenak. Sang senior muncul tiba-tiba setelah beberapa bulan lalu berpisah di sidang kode etik. Hubungan keduanya bahkan tak terlalu baik untuk sampai mengunjungi satu sama lain. "Suruh masuk aja!" Perawat tersebut keluar sebentar dan tak lama kembali bersama seorang pria tambun dengan jas dokter melekat tanpa dikancing. Ekspresinya kesal karena penantian yang begitu lama untuk bertemu juniornya. "Sibuk banget ya, sampe mau ketemu aja harus buat janji!" ledeknya. "Sorry, pasiennya suka banyak kalau abis weekend!" jawab Brian tenang. "Gimana, gimana? Ada yang bisa gue bantu?" tanyanya langsung. Brian paling tak suka berbasa-basi terutama dengan orang yang tak terlalu dekat bahkan bisa dibilang musuh bebuyutan. Walaupun Panji adalah senior, tapi untuk kompetensi dan pembuktian di lapangan, jumlah pasien dan kemampuan Brian dalam operasi jauh di atasnya. Sehingga in
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Tentang Masa Depan"Rating sejauh ini bagus, komentar orang juga makin oke, hampir semuanya lupa tentang kasus-kasus kemarin."Laporan dari Sheila membuat wajah Karina makin cerah, berbahagia. Setelah berbulan-bulan mereka diserang banyak masalah, ide tiap episode yang bongkar-pasang, bergonta-ganti, akhirnya kini program Inside Her makin bersinar. "Dokter Brian juga kayaknya makin enjoy tiap syuting, ide-idenya baru dan fresh, Inside Her sekrang identik dengan wajah beliau."Tim marketing ikut menyampaikan bagaimana program ini juga ikut mengubah banyak hal, terutama Brian yang terkenal tak hanya profesional tapi juga beritegritas. Sang dokter saat ini lebih luwes dan banyak diundang dibeberapa talkshow karena perannya di Inside Her."Walau waktu syuting jadi padat dan jadwal terbatas karena makin banyak pasien dan tindakannya!" celetuk Sheila membuat seisi ruangan tertawa.Broto tersenyum, bangga mendengar banyaknya kemajuan dari produser baru yang walau banyak masalah, tapi juga mendatangkan banyak
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Ngambek"Kamu mau makan apa?"Brian sibuk mengeluarkan hasil belanja ke meja dapur. Pria itu cukup sering melakukan hal ini, terutama selama berhubungan dengan Karina yang ternyata selama ini jarang sekali memasak. Bahakan karena hidup seorang diri, kekasihnya itu lebih sering membeli makanan dari luar."Terserah aja!"Karina langsung merebahkan diri di atas sofa. Ia sama sekali tak tertarik dengan aktifitas dapur yang biasa dilakukan sang kekasih. Apalagi sejak tadi ia sedang menjalani perang dingin karena merasa dibohongi oleh pria itu.Sepanjang jalan, Brian coba menjelaskan, merayu bahkan memberi perhatian-perhatian kecil, namun sang kekasih tetap bersikukuh untuk melakukan aksi diam. Lelucon yang biasanya mampu membuat wanita itu tertawa malah mendapat balasan tatapan tajam.Pria itu coba untuk tetap bertahan untuk memberikan perhatian walau tak mampu menghilangkan amarah itu dengan cepat. Perubahan hormon, berat badan dan kondisi fisik memb
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Masalah di Rumah Sakit"Jadi yang diomongin orang-orang itu bener?"Karina berteriak, meluapkan semua kekesalan karena ketidak jujuran Brian padanya. Sebagai sepasang kekasih, mereka telah berjanji untuk saling terbuka untuk masalah apapun."Iya, tapi kan...""Jadi kamu tutupin semuanya dari aku? Mau sampai kapan?"Emosi sang produser menggebu-gebu. Ia sudah tak tahan dibohongi seperti ini. Walau Brian kukuh pendirian bahwa ia hanya belum cerita saja. Namun Karina menolak alasan itu.Setelah ditekan, barulah Brian bercerita bahwa semua itu benar. Ia memang dipanggil oleh manajemen rumah sakit terkait berita-berita yang terus berseliweran di media.Awalnya, pihak rumah sakit memberikan apresiasi atas kinerja Brian yang aktif baik di dalam ataupun di luar. Sayangnya, semakin lama berita yang muncul adalah berita-berita negatif yang juga ikut mencoreng nama citra rumah sakit.Manajemen dianggap melindungi Brian yang merupakan salah satu anak dokter senior dan orang terpandang. Lalu muncul juga laporan dari kom
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Clara Si Pemberani"Jadi apa yang harus aku katakan pada mereka?" tanya Clara yang sudah mondar-mandir sejak tadi.David membaca berkas yang sempat terlewat kemarin. Karena buru-buru pulang, ia mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Dan akibatnya, hari ini ada sekelompok masyarakat yang melakukan demo di depan gerbang pabrik, hingga keduanya harus melalui pintu samping.Clara mengintip lewat jendela ruangannya. Matanya terkejut mendapati peserta demo yang semakin banyak. Sebagian dari mereka menuntut pencabutan keputusan pemecatan untuk beberapa orang, termasuk Ratna yang ternyata juga merupakan salah seorang putri daerah. Ialah alasan dari kegiatan demo kali ini."Tunggulah sebentar lagi, kita keluar setelah ada pihak kepolisian."Namun Clara langsung mengambil posisi di samping suaminya. Hatinya tak tenang, karena ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan segerombolan orang yang tak dikenal. Bukan hanya itu, sikap anarkis dan teriakan penuh makian menggambarkan dengan jelas bagaimana kepribadi
Last Updated: 2024-04-20
Chapter: Saling Tuduh"Mobil sudah siap, kita berangkat sekarang!" teriak David dari luar kamar.Satu kalimat dari pria itu membuat Clara tersentak. Gadis itu diam untuk beberapa saat. Sejak semalam sikap mereka menjadi canggung. Lebih tepatnya sejak ciuman yang didaratkan suaminya itu tanpa aba-aba.Tentu saja itu bukan ciuman pertama mereka. Namun kali ini begitu membekas karena David membuat permainan mereka semakin dalam dan nyaris terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Beruntung keduanya masih cukup sadar diri.Gara-gara perbuatannya, David harus menerima takdir untuk tidur di luar. Ya, Clara mengusirnya dan melarang pria itu untuk tidur di kamar yang sama dengannya. Karena ia butuh istirahat dan melihat wajah suaminya membuatnya semakin tak bisa tidur."Aku turun!" katanya seraya bergerak untuk memulai hari.Dengan satu set pakaian kantor yang rapi, Clara pergi bersama David. Hanya mereka berdua tanpa ditemani sopir. Keduanya sepakat untuk bersama menjalankan tantangan dari Leo. Sehingga intensitas di
Last Updated: 2024-04-15
Chapter: Obat untuk Clara"Apa yang terjadi?" tanya David dengan telepon yang tersambung dengan pengeras suara di mobilnya.Pria itu mendengarkan dengan seksama penjelasan demi penjelasan yang diutarakan mantan bawahannya. Kepalanya berdenyut kencang setiap kali sesuatu terjadi pada sang istri. Bukan hanya karena Clara tengah sakit dan beristirahat di rumah, tapi juga karena secara kedewasaan, gadis itu masih cukup muda untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu.Kakinya menginjak pedal gas semakin dalam, bersama fokus mata yang tak teralihkan dari jalanan. Tangannya memegangi kepala yang terus memutar otak untuk membuat gadisnya semakin kuat. Bukan untuknya, tapi minimal untuk diri Clara sendiri. Dan itu adalah tugas yang cukup berat bagi David.Clara hidup dengan bergelimang harta dengan jutaan pengawal dan pelayan yang biasa membantunya. Dengan kondisinya kini, ditambah keberadaan Amy dan Leo yang terus merongrong hartanya, maka semua tak akan bisa kembali seperti sedia kala. Gadis itu harus bisa belajar ma
Last Updated: 2024-04-14
Chapter: Ulah Leo"Tuan Putriku sedang sakit?" Wajah Leo yang masuk tanpa permisi ke kamar keponakannya mendapat sambutan dingin. Gadis yang masih tergeletak di atas ranjang itu hanya memandang sengit. Tangannya menggenggam ujung bantal, siap melakukan lemparan jikalau pamannya itu mulai menyebalkan."Mau ku panggilkan dokter pribadiku? Atau ku antar ke rumah sakit untuk periksa?" tawarnya dengan senyum yang nampak ramah di luar.Clara memutar matanya malas. Ia sudah tahu betul bahwa kehadiran Leo hanya untuk mengejeknya yang sedang sakit. Tak ada maksud baik di hati pria yang sudah tinggal bersamanya sejak sang ibu meninggalkan rumah. Leo dan Amy berkedok malaikat yang akan menjaga keponakannya yang menderita, tapi kenyataannya tak demikian.Dua orang dewasa itu hadir untuk menjaga harta sang ayah, untuk dimiliki dan dikuasai berdua. Dan saat ini, semua nyaris menjadi nyata. Jika Clara tak segera bangkit dan terus bertumpu pada David yang memang banyak memberikan bantuan."Sudah ku katakan sejak awal
Last Updated: 2024-04-13
Chapter: Sakit Membawa Berkah"HATCHI!"Clara memeluk dirinya sendiri bersama selimut tebal di atas kasur empuk. Pendingin ruangan yang biasanya menyala, mendadak padam. Tentu saja karena kondisi sang pemilik yang sedang tak enak badan.Sejak pulang dari restoran, gadis itu langsung membersihkan diri dengan air hangat. Ditambah lagi semangkuk sup hangat dan secangkir teh yang nampaknya belum cukup mengobati rasa dingin yang semakin menusuk tubuhnya. "Kau yakin tak ingin ku antar ke rumah sakit?" tawar David yang masih bertahan dengan sofa empuk di ujung ranjang.Jarak keduanya memang tak terlalu jauh. Tapi keduanya masih setia untuk menjaga privasi masing-masing dengan pisah ranjang. Selain untuk menjaga diri, juga untuk meyakinkan bahwa semua hubungan ini hanya sebuah kesalahan yang diawali dengan ulah licik seseorang."I'm okay!" katanya dengan jari telunjuk dan jempol yang membentuk lingkaran pertanda ia masih baik-baik saja.Namun tak demikian yang dilihat oleh David. Mata istrinya berair, dengan ingus yang m
Last Updated: 2024-04-12
Chapter: Mengenal David"Jadi ayahku yang membiayai sekolahmu?" tanya Clara tak percaya. Cangkir di tangannya bergetar hebat, saking bingungnya dengan semua kebaikan sang ayah yang tak pernah ditunjukkan pada putri semata wayangnya.Sebagai anak, Clara merasa begitu tak tahu diri. Bukan hanya dalam hal berbakti, tapi juga mengetahui sifat dan sikap sang ayah, yang sebenarnya. Semua kebaikan yang dilakukan Tuan Bernardo hanya bisa ia dengar tanpa pernah ia ketahui dengan mata kepalanya sendiri.Seperti yang sudah diterima oleh David. Semenjak lepas dari pekerjaan pengawalnya yang lama, pria itu ternyata sudah direkrut oleh sang ayah dan langsung disekolahkan kembali. Pria yang kala itu masih menjadi karyawan baru, mendapatkan banyak sekali keuntungan yang bisa saja dimanfaatkan menjadi tak baik.Namun David yang pada dasarnya memang ingin menuntut ilmu membuat kepercayaan Bernardo semakin besar. Tak hanya itu, suami dari Clara De Quinn itu terus setia, kapanpun dan di mana pun sang ayah berada. Belum cukup sa
Last Updated: 2024-04-11
Chapter: Mengakhiri Semua Drama"Dan kau merahasiakan ini semua dariku?" Arnes bertanya dengan tatapan tajam ke arah manik cokelat kekasihnya. Sesekali diliriknya perut Sheila yang mulai membesar. Tanda-tanda kehamilan tak keduanya rasakan saat bersama terakhir kali. Sehingga pria itu masih tak percaya jika wanita di hadapannya benar tengah mengandung."Aku hanya tak ingin merepotkan Paman!" jawab Sheila dengan penuh penekanan.Semua yang ia lakukan tiada lain karena ingin membantu kekasihnya itu. Semakin Arnes fokus, semakin masalah mereka akan selesai, dan pada akhirnya akan bertemu tanpa ada masa lalu yang perlu diurus. Dengan begitu keduanya akan hidup damai sejahtera, seperti mimpi yang pernah dirajut bersama."Kau boleh menyimpan semuanya, tapi tidak dengan informasi sepenting ini! Apa kau pikir aku tega meninggalkanmu berdua saja menjalani hari dengan kondisi begini? Laki-laki macam apa yang tega membiarkan wanita yang dicintainya menderita, Sheila?" cecar Arnes yang diakhiri dengan adegan menjambak rambutn
Last Updated: 2024-01-24
Chapter: Merindukan Arnes"Aku akan kirimkan uang untuk kebutuhanmu sebulan ini. Kau tak perlu khawatir tak ada pasien."Sheila mendengarkan celoteh dan juga nasihat-nasihat Arnes yang tak bisa ia rasakan kehadirannya. Sudah berbulan-bulan lamanya dan ia mulai merasa jengah. Ucapan yang sama selalu ia dengar, mulai dari jaga diri, jangan telat makan dan bergembira.Kata terakhir sungguh menyiksanya. Ia harus hidup tanpa pria yang sudah menghamilinya. Dan yang paling menyebalkan adalah, Arnes belum tahu jika Sheila mengandung. Semua disembunyikan sedemikian rupa hanya untuk membuat fokus sang dokter tertuju pada rumah sakit. Harapannya tentu saja penyelesaian masalah menjadi cepat dan keduanya segera bertemu."Tapi sampai kapan aku harus menunggu di sini?" tanya Sheila dengan nada yang begitu rendah, nyaris tak terdengar.Wanita yang tengah mengelus-elus perutnya yang mulai membesar itu hanya bisa meratapi nasib ditinggal berdua dengan sang bibi, tanpa kejelasan dari sang kekasih. Jangankan mengajak ke pernikah
Last Updated: 2024-01-20
Chapter: Kehidupan Baru"Hari ini enggak ada pasien?" tanya Sheila sembari keluar dari ruang praktinya dengan wajah penasaran.Wanita paruh baya yang duduk manis di meja pendaftaran menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan dari sang keponakan. Nina menoleh ke arah teras klinik kecil yang biasanya ramai. Tapi entah mengapa sudah beberapa hari terakhir nampak sepi pengunjung.Sudah beberapa bulan terakhir masyarakat Desa Waduk menghampiri klinik sekaligus tempat tinggal Sheila dan Nina untuk berobat. Hal ini dikarenakan Puskesmas yang letaknya cukup jauh. Jika menggunakan motor saja bisa satu jam lamanya. Itupun belum tentu mendapatkan antrean, karena keterbatasan tenaga kesehatan dan membludaknya pasien yang meliputi beberapa Desa."Tumben ya, Bi?" tanya Sheila sembari mengelus perutnya yang mulai membesar.Nina tersenyum kecut. Wanita berbedan besar itu sebenarnya tahu betul apa yang membuat masyarakat enggan pergi ke tempat mereka. Tapi bibirnya kelu, tak sanggup menjelaskan alasan itu pada Sheila. Ia t
Last Updated: 2024-01-18
Chapter: Pilihan SulitSheila menatap bayangannya di cermin. Pakaian dan tangannya masih penuh darah, bersama air mata yang mengalir penuh sesal. Tangisnya pecah, menunduk dalam. Tubuhnya bergetar hebat setelah mengalami sekaligus menjadi saksi sebuah kejadian yang tak akan pernah ia lupakan seummur hidup."Sheila!"Suara bariton yang cukup ia kenal memanggil dari balik pintu kamar mandi. Tubuhnya begitu berat untuk bergerak. Tapi ia tetap melakukannya, sembari memutar kenop pintu pelan."Polisi bilang kita sudha boleh pulang," katanya sembari melepaskan jas putih dokter miliknya dan meletakkannya di bahu Sheila. "Aku akan mengantarmu pulang, setelah itu...""Aku ingin ke rumah sakit!" katanya setengah merengek. "Aku ingin tahu kondisi Paman Reno dan Andrew," tambahnya melemah.Entah apakah Sheila masih pantas menyebut dua nama itu ketika semua masalahnya malah membawa kedua orang itu ke dalam derita. Tapi ia hanya ingin melihat dua orang yang kini menjadi korban dari tembakan brutal Mia."Kau tak perlu ke
Last Updated: 2024-01-15
Chapter: Serangan Mendadak"Kenapa Paman baru angkat teleponku?" tanya Sheila dengan kesal.Sudah sejak 30 menit yang lalu ia menghubungi pria paruh baya itu. Namun baru kali ini teleponnya dijawab. Rasa khawatir dan panik muncul setelah muncul beberapa video Arnes yang muncul di beranda sosial medianya."Apa yang kau lakukan? Kau ingin hancur sendirian, hah? Apa begini caramu memulai hidup denganku?" cecarnya berapi-api.Sheila belum melihat secara utuh hasil konferensi pers yang baru saja dilakukan paman dokternya itu. Tapi dari potongan-potongan yang beredar saja, ia sudah bisa memastikan bahwa Arnes berniat mengarahkan semua amarah padanya. Padahal kenyataannya tak demikian."Temui aku sekarang atau kau tak akan pernah bertemu denganku lagi!" ancamnya seraya menutup telepon.Emosinya meletup-letup, tak terima dengan semua pernyataan yang tentu akan menghancurkan nama baik Arnes. Padahal selama puluhan tahun ia memupuk rasa percaya pada pasiennya, memberikan pelayanan terbaik, berusaha untuk mengembangkan il
Last Updated: 2024-01-14
Chapter: Perpisahan"Jadi kau akan memilih perempuan itu, hah?" Mia memandang ke luar jendela, di mana langit biru dengan terik sinar mentari yang mulai tinggi. Panasnya menjalar ke hati yang kini membara setelah mendengar keputusan sang suami. Sementara jari-jarinuya sudah sejak tadi mencengkeram tas tangan yang sejak tadi ia bawa."Kau benar-benar akan membuang semua yang kau miliki saat ini? Demi dia?" cecarnya memaksa Arnes untuk menjawab pertanyaan itu di depan wajahnya langsung.Pria paruh baya itu memandang wanita cantik yang sampai saat ini tak pernah berubah sejak pertama kali ia temui. Tanda-tanda penuaan mungkin nampak, tapi tak terlalu jelas bagi seorang Mia yang memiliki banyak waktu dan uang untuk mengalokasikan kecantikannya sebagai tujuan utama. Kakinya melangkah maju, mendekati istri yang sudah lebih dari dua puluh tahun menemaninya."Aku tak bisa menjadi Arnes yang terus berada di belakangmu untuk mendapat apa yang dia inginkan. Aku harus berusaha dan sedikit berkorban untuk tahu rasan
Last Updated: 2024-01-13