로그인After my physical examination, I'm about to leave the pack infirmary located in my cousin's territory when a heavily made-up healer suddenly grabs my arm. She hisses, "Stop right there! You think you can break something in the infirmary and just run away? No way!" I look at her unfamiliar face and blink, feeling utterly confused. "What did I break?" She points to the crystal potion bottles on the shelves and wrinkles her nose exaggeratedly. "You reek, and your stench has contaminated all the potions, making them unusable! Alpha Xander bought these at a high cost, and all of it is worth 500 thousand dollars. There's also compensation for causing me emotional distress—that's another 200 thousand. "Altogether, that's 700 thousand dollars. Will you pay by cash or card?" My scent is a mix of violet and amber. It's noble and cool, like a winter dusk. Of course, not everyone loves this scent, but "contamination"? Please! I can't fathom why the infirmary in Xander's territory is operating like a scam. I laugh out of anger and say, "I'm Alpha Xander's cousin. I don't pay a single cent in his territory. If anyone has a problem with that, have Xander come say it to my face." But the healer only rolls her eyes. "You bitch, trying to use such lowly tricks to get my Alpha's attention? You wish! If you don't pay up today, I'll strip you naked and throw you onto the street so that everyone can smell how foul you are!" She has no idea who she's threatening. I take a deep breath and quickly contact my Beta. "Tell Xander—either banish this healer from the pack, or I'll banish him."
더 보기GADIS
Aku mematut bayanganku di cermin. Aku meraba kalung berlian yang tak terlihat seperti berlian itu. 'Hhh' aku mendesah dan pikiranku terbang ke waktu itu.
“Ini adalah gaji pertamaku Dis, aku harap kamu suka dengan hadiah kecil ini.”
Aku tersenyum pahit. Pahit sekali. Dan tak terasa aku meloloskan satu air mata dan berhasil membasahi pipi tembamku. Aku menyekanya secepat kilat. 'Gue nggak mau inget-inget semuanya lagi.'
Setelah memutuskan untuk tidak ingin ber-mellow ria, dalam sekejap aku sudah berada di dalam mobil. Aku menelepon kakakku, Celine.
“Kak, gue udah otw nih. Lu tunggu di lobby ya.” Yah, beginilah nasib wanita karir yang sudah lama melajang. Aku tidak ingin terlihat sebagai tamu kesepian, jadi kuputuskan untuk mengajak Kak Celine sebagai partner acara malam ini.Malam ini aku harus menghadiri pertunangan anak pemilik perusahaan yang aku pimpin. This is a bad idea. Radit –anak pemilik perusahaan– pernah menyatakan cintanya kepadaku dan dengan bergidik ngeri aku langsung menolaknya. Jangan berpikiran bahwa Radit itu jelek. No, he's fuckin’ handsome. Tapi dia memang bukan seleraku. Otot-ototnya terlalu kekar untuk wanita mungil sepertiku. Aku tidak bisa membayangkan betapa sesaknya jika dia memeluk tubuhku.
“Dis!” panggil Kak Celine sesampainya aku di lobby hotel yang super mewah ini. Aku berjalan menghampirinya.
“Ih cie masih gamon juga nih?” Dia mengerling pada kalungku.
“Apaan sih kak, sayang kan kalo barang bagus gini nganggur di apartemen?” jawabku sekenanya ketika menyadari apa maksud dari ucapan Kak Celine.
“Btw lo masih kontak-kontakkan sama Kavaleri? Terakhir itu sih dia nelfon gue, katanya kangen sama kita sama Ibu Bapak juga. Dia bilang mau main, kalo boleh sama lo”.
Aku tertegun. Memandang Kak Celine tak percaya. Kak Celine yang sadar aku berhenti, langsung menghadap ke belakang dengan muka bertanya-tanya.
“Come on, jangan nanya aku kenapa.” Aku memperingatkan Kak Celine agar tidak mengucapkan sepatah kata pun dan berjalan melewatinya.Pesta pertunangan ini berjalan sangat meriah. Aku duduk menyaksikan Radit dan Sherri bernyanyi bersama. Mereka terlihat sangat cocok, dan aku mulai teringat padanya...
“Apapun yang terjadi, kamu harus selalu ada di sampingku Dis! Kamu harus jadi istriku! Kamu yang udah nemenin di masa susah-senengku. Dan kamu layak ngedapetin balesannya!”
“I still remember that words, Kav...” batinku.
Entahlah, di setiap kesempatan ramai seperti ini hatiku masih saja merasa sepi dan kosong. Kehilangan orang yang paling dicintai memang tidak mudah, dan aku telah membuktikannya.
Para tamu undangan bertepuk riuh saat Radit mencium kening Sherri. Aku pun ikut memeriahkan acara itu dengan menyumbangkan satu lagu favorit Radit. Ini adalah permintaan pribadinya. Ia ingin aku menyanyikan lagu A Thousand Years di hari pertunangannya ini. Aku mengiyakan saja karena menghormati dia sebagai atasanku dan sebagai teman yang pernah ada rasa terhadapku.
“Kak gue balik apartemen duluan ya. Besok ada janji sama Valerie mau ngurus keberangkatan ke Singapur.” pamitku ditelinga Kak Celine, setelah turun dari panggung. Suasana yang begitu riuh membuatku harus berteriak di telinga Kak Celine.
“Iya sono, lu ati-ati ya. Jangan lupa kabarin Ibu sama Bapak kalo lu mau ke Singapur.”
Kak Celine memutuskan untuk kembali ke apartemennya menggunakan ojek online karena aku tidak sempat mengantarkannya pulang. I’m sorry, kak…
☺☺☺
Tangan kananku sibuk merapikan riasan sedangkan satunya lagi mengecek iPhone-ku apakah Valerie sudah di lobby. Aku menyambar sling bag pemberian Kavaleri dan bergegas turun ke lobby. Aku pikir tidak ada ruginya menunggu Valerie di lobby.
Beberapa staf mencoba menyapaku dan aku membalas sapaan mereka. Saat pintu lift terbuka, berdirilah seorang wanita seksi yang berhasil membuat aku terkejut. Dia menampakkan senyum miringnya. Aku memandangnya untuk sejenak dan saat tersadar aku langsung masuk ke dalam lift.
“How are you buddy?” sapanya mencoba ramah. Aku menghembuskan nafas.
“Fine.” Nada jawaban itu kubuat setenang dan senormal mungkin. Jangan sampai aku terlihat gagap di hadapan wanita ini. Dia tersenyum geli.
“Apa ada ceritanya cewek baik-baik aja setelah ditinggalin cowoknya karena paksaan dari orang tuanya? You are a liar, Miss. Gadis...”
Aku menoleh padanya dan tersenyum semanis-manisnya. “Apa anda buta? Apakah anda tidak bisa melihat jika saya baik-baik saja? Apakah anda berpikir saya hidup bergantung dengan laki-laki yang sekarang ada di pelukan anda? No, Miss. Asha. Permisi!”
Aku keluar lift dan meninggalkan Asha –wanita PHO– yang sekarang berhasil menyandang status sebagai "pacarnya Kavaleri". Menggeser namaku dengan cara-cara liciknya. Sungguh memalukan! Aku melihat Swift milik Valerie masuk di halaman apartemen, dan aku segera berlari masuk ke dalamnya.
Aku memasang muka cuek sekaligus jutek. Valerie yang menyadarinya langsung menanyakan keadaanku.
“Lu kenapa sih Dis? Perasaan di telefon tadi lu semangat banget.” Mobil kami mulai meninggalkan kawasan apartemenku.
“Ketemu sama nenek lampir gue. Sebel deh, ngapain juga tuh orang pindah ke apartemen gue. Jadi nggak betah gue di apartemen.” semburku murka.
Valerie terkekeh geli. “Sabar aja deh. Dia tuh sengaja pindah ke situ biar bisa mata-matain lu. Dia mah nggak ada puas-puasnya nyakitin elu Dis. Orang kaya begitu mah nggak ada matinya. Apalagi dia kalah cantik dari elu, was-was aja kalo Kava bisa balikan ama elu.”
“Ya tapi kan gue udah ngasih Kavaleri buat dia Val, mau apa lagi dia dari gue? Kavaleri adalah satu-satunya orang berharga di hidup gue yang gue relain buat dia. Buat dia nikahin!”
Valerie memandangku, merasa iba. Aku pun mendesah, mencoba menahan lelehan air mataku. "Gue gaboleh cengeng, gue gaboleh nangis di depan sahabat gue."
“Gue tau Dis, kapten pilot lu itu emang bener-bener cinta mati lu, tapi kita semua nggak bisa apa-apa kan kalo bokapnya Kavaleri yang nyuruh elu sama Kava harus putus di tengah jalan? Gue malah nggak mau, suatu saat lu nikah tanpa restu orang tuanya Kava dan pernikahan kalian dihancurin orang-orang jahat macem Asha.” Valerie mulai serius. Aku mulai memikirkan kata-katanya yang sudah empat tahun ini menjadi sahabatku.
“Sebenernya bukan masalah bokapnya Kava atau Asha yang ngeganggu gue Val, tapi soal Kava yang masih pengen balik sama gue. Gue nggak bisa ngebohongin perasaan gue sendiri kan Val? Gue nggak bisa bilang kalo gue udah nggak cinta dia lagi. Tapi mau gimana Val? Bokapnya disantet ama si Asha makanya bisa berubah gitu ke gue.”
“Yaudahlah Dis, sabar aja. Gue tau gimana rasanya nggak direstuin orang tua. Lu kencengin doanya, kalopun elu jodoh ya semoga masa-masa kritis macem gini cepetan selesainya. Tapi kalo memang nggak bisa bersatu, gue yakin Tuhan punya seseorang yang lebih baik dari dia.”
Aku mengangguk dan benar-benar susah payah menahan air mataku agar tidak meluncur. Dua jam kuhabiskan untuk merias wajahku, dan aku tidak ingin merusaknya begitu saja dengan air mata. Aku berusaha untuk memandang langit-langit mobil, menahan bendungan air mata agar tidak jebol dan membasahi pipi. Dan, berhasil!
Aku dan Valerie turun dan segera menuju ke meja ticketing. Setelah cukup lama dan cukup alot memilih flight, akhirnya kami menjatuhkan pilihan ke penerbangan Garuda Indonesia pukul 12.45.
Things in the Lighthall pack had changed.In just one night, the once-arrogant Alpha Xander and his malicious girlfriend Nina had plummeted from the clouds down into the mud.The central plaza was crowded with werewolves.The pack members felt no sympathy as they watched the once high-and-mighty Alpha grovel on the ground like a beggar, nor did they feel anything when they saw the usually haughty and tyrannical healer sport a bloody mouth and disfigured face.Instead, they erupted in cheers and applause.All these years, Xander had been obsessed with she-wolves, and Nina, during her time with him, had abused her power. As a result, everyone resented them.In their eyes, my swift and severe punishment became a righteous deed that eliminated evil.I didn't linger in the Lighthall pack for long. After appointing a powerful werewolf who had long been suppressed as acting Alpha and leaving guards to help maintain order, I set off back to the Frostmoon pack.The motorcade slowly drov
Xander stared at me in horror, scrambling backward desperately. Even the chair clattered noisily along with him. "No! No! Kamryn! Please! Don't! Don't destroy me!"Xander's desperate roar echoed in the waste room, quickly turning into agonized wails.Braden moved quickly, precisely, and cruelly. He swiftly gripped Xander's jaw, forced his mouth open, and poured a bottle of purple liquid down his throat.Xander coughed violently while clawing at his throat, trying to vomit the contents out."Kamryn! You broke your word! I hope you die a horrible death!" he bellowed.I stood to the side with an indifferent expression. I gave my word? Giving my word to someone like him would be self-inflicted cruelty. When I first helped him rise to power, he, too, had vowed to always protect me. And what was the result? He used my resources, kept a girlfriend who humiliated me, and chose to look the other way when I was in danger. He even kicked me while I was down.Letting an ungrateful bastard
The underground waste room of the pack infirmary was still dark and damp. The air reeked of a foul mix of rotting potions and stale blood.A few hours ago, I had been pinned to the floor here, enduring the corrosion of silver water.Now, the roles were reversed.Nina was suspended in mid-air by iron chains, her wrists already bleeding from the restraints. Her expensive haute couture dress was now filthy, and she had cried her once-meticulous makeup into a comical clown mask.Nearby, Xander was tied to a chair. He had a rag stuffed in his mouth and was forced to watch everything. His eyes were filled with fear, pleading, and a trace of resentment toward Nina. Clearly, on the way here, he had figured out who was truly to blame for all this.If only this stupid she-wolf hadn't provoked me, he would still be the high-and-mighty Alpha, living a life of luxury and indulgence.I sat on a clean chair, toying with the metal bucket that had once contained the disinfectant."Nina, do you r
"No… Don't…" Xander kneeled on the floor, his hands clutching the carpet. Earlier, he had still held onto hope, believing I would spare him for the sake of family ties. But now, faced with reality, all his illusions had shattered.How could he bear to revert to being an ordinary werewolf after having already enjoyed the life of an Alpha with others fawning over him? What was even more terrifying was that he now faced being banished from the pack, forced to become a Rogue, left to brave the elements on his own!"Kamryn! I was wrong! I was really wrong!" Xander wept bitterly, trying to hug my legs, but Braden blocked him."I shouldn't have shielded her! I shouldn't have been so deluded! Please, don't strip my Alpha title or banish me from the pack! We grew up together. Have you forgotten our past bonds? Have you forgotten what Grandpa said before he died, that we should support each other?"He finally brought up our dead grandfather, but unfortunately, it was too late.While looking
The Alpha Succession Decree was like a heavy hammer, smashing down on Xander and shattering any illusions everyone present had.Xander fumbled to catch the paper. After reading its contents, he froze in place as if struck by lightning."Change of Alpha? Kamryn, you're insane! We share the same blo
Dead silence filled the hall.Xander's wine glass slipped from his hand, shattering on the floor with a loud crack. He squinted his bleary eyes, seemingly unable to recognize me standing against the light. Meanwhile, Nina, in his arms, screamed first, "Alpha! It's her! That crazy she-wolf even ch












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.