LOGIN
“AAAOOOOO…”
Lolongan panjang terdengar di sana. Suaranya melengking dan juga keras, begitu memekakkan telinga serta memecahkan kesunyian di tengah malam. Suara gemerisik dari dahan pohon yang bergoyang ikut terdengar, bau anyir darah yang pekat juga menambah rasa seram dan membuat bulu kuduk siapapun bisa berdiri karena ngeri.
Pemandangan itu mirip seperti pemandangan horor yang mencekam.
“AAHH…. TOLONG…! JANGAN BUNUH DIRIKU…!” Seorang laki-laki yang tubuhnya bersimbah darah memohon untuk tidak dibunuh. Wajah pria itu pucat pasi, darah yang mengucur hebat dari kening membasahi area pipi kanannya. Ia kehilangan banyak darah, akan tetapi karena keinginannya untuk tetap hidup membuat pria itu terus bergerak, menjauh dari bahaya yang ada di depan mata.
Sang pria terus merayap, kaki kanannya yang putus memaksanya untuk bergerak menggunakan kedua tangan. Ia mencoba untuk pergi menjauh, membuat jarak dirinya dengan bahaya yang mengancam itu bertambah jauh. Pergerakan sang pria terbatas, kedua matanya terbelalak lebar, mulutnya yang terbuka dan menutup untuk mendapatkan pasokan oksigen pun kini ikut ternganga.
Seraya merayap mundur dengan kedua sikunya, sang pria beberapa kali menatap ke depan, ke arah monster berambut lebat dan bertubuh tinggi yang tengah membelakangi cahaya rembulan di belakang sana. Monster itu tinggi dan besar —hampir tiga meter tingginya. Kedua telinga besarnya berdiri tegak di atas kepala itu bergerak-gerak sesaat mengamati pergerakan sang pria, lalu mulut di bawah moncong besarnya terbuka lebar, memperlihatkan dua deret gigi bertaring yang sangat mengerikan.
“AAAOOO…!!!” Si manusia serigala menengadahkan kepalanya ke atas. Dia membuka lebar mulutnya, lalu melolong sekeras-kerasnya.
“AAAAOOOOO!!!!”
“AAAOOO…”
“AAAAOOOOO!!!”
Sambutan demi sambutan pun menggelegar di sana. Lolongan dari manusia serigala yang mengarah ke bulan disambut oleh lolongan dari manusia serigala lainnya. Pesta berdarah yang dikuasai oleh kengerian pun dimulai, dan sang pria yang merangkak penuh ketakutan pun menjadi satu-satunya saksi biksu yang masih hidup di tempat itu.
“AAAKKHH!!!” teriak sang pria penuh kesakitan. Ia menurunkan matanya, di sana ia melihat empat cakar besar yang tajam menusuk dadanya dari belakang sampai tembus ke depan. Rasa sakit menghantamnya dengan kekuatan penuh. Kedua matanya terbelalak lebar, dan si pria membawa kedua tangannya yang bergetar untuk menyentuh area luka besar yang ada di dadanya.
Darah segar menyembur hebat dari luka yang menganga di dada. Sang pria juga memuntahkan darah dari mulutnya. Kedua mata pria itu berkunang-kunang sekaligus kabur, dan napas terakhirnya pun menghilang kala cakar tajam yang menusuknya dari belakang ditarik dari tubuhnya. Tidak lama kemudian, manusia serigala yang menyerang pria itu langsung menggigit lehernya, mengoyak daging dan kulit dengan brutal, lalu melahapnya. Begitu rakus. Sangat menakutkan.
BRUK…
Tubuh itu jatuh menghantam tanah karena tidak ada yang menopangnya, tepat di antara mayat-mayat yang termutilasi dan tergeletak di atas tanah hutan. Manusia serigala yang berjumlah lebih dari sepuluh orang pun menikmati aroma darah dan daging besar dari manusia yang mereka bantai. Mereka kembali melolong ke udara, menyerukan kegembiraan karena ‘pesta’ yang terjadi di sana.
“AAAAOOOOO!!!”
Pemandangan seram itu adalah apa yang Orion lihat ketika ia membuka matanya untuk yang pertama kalinya. Dia berdesis, menahan rasa sakit luar biasa yang dirasakannya. Sebelum Orion bisa mengetahui apa yang terjadi di tempat itu, tubuhnya yang sudah terluka parah kini mulai merasakan lemah dan membuatnya hampir melayang serta kehilangan kesadaran.
Mata Orion menggelap, ia ingin pingsan karena tubuhnya yang kehilangan banyak darah. Akan tetapi, instingnya untuk bertahan hidup yang telah terasah oleh marabahaya pun memaksanya untuk tetap terjaga. Dengan bersusah payah Orion bangkit dari posisi tidurannya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengedarkan pandangannya untuk melihat ada di mana dirinya berada sekarang ini.
Pepohonan besar tumbuh tinggi menjulang ke atas, dedaunannya yang tumbuh di dahan pohon-pohon itu sangat rindang, menutupi langit di atas sana sampai membuat Orion kesulitan untuk melihat apakah sekarang ini siang atau malam. Di sana Orion melihat ada banyak tubuh manusia tergeletak di atas lantai hutan sampai area altar tempatnya berada. Warna merah darah menjadi warna dominan dan membentuk genangan yang menyeramkan, aroma darah yang anyir mendominasi area itu.
Pemandangan yang tersaji di depan matanya sangat menyeramkan, mampu membuat bulu kuduk orang yang melihatnya berdiri hebat. Sayangnya, ekspresi Orion tidak berubah sedikit pun ketika ia menemukan dirinya berbaring di antara para mayat yang termutilasi. Dia masih tenang, bahkan keningnya juga tidak berkerut ngeri, serta kedua matanya masih mengisyaratkan kekaleman seperti apa yang tersaji di sana bukanlah hal yang menyeramkan.
Dengan tubuh yang telah mencapai batas karena luka parah yang dideritanya, Orion pun beringsut ke samping, menghindari serangan telak yang berasal dari depan. Setelah itu Orion berguling beberapa kali dan kemudian menggunakan satu lutut untuk bertumpu setelah berhenti. Orion melihat seekor manusia serigala yang berbulu lebat rupanya menyadari kalau dirinya tidak mati, sang manusia serigala yang murka itu pun langsung menyerang Orion dengan mengibaskan cakaran tajam tangannya pada pemuda itu. Beruntung sekali Orion yang memiliki insting tajam bisa menghindar, sehingga dia bisa selamat dari serangan tersebut.
“Wow, kalau aku tidak segera menghindar pastinya aku sudah menjadi daging cincang di tanganmu,” ungkap Orion. Lidahnya berdecak kecil, mencemooh sang manusia serigala yang barusan gagal mengeksekusi dirinya. Meskipun tubuhnya begitu lemah, Orion masih memiliki energi untuk mengatakan hal itu.
Tahu kalau Orion tengah mengolok-olok kegagalannya, si manusia serigala yang tubuhnya diselimuti oleh rambut keabu-abuan itu menggeretakkan gigi-gigi besarnya. Ia menggeram. Seraya bertumpu pada kedua lutut besarnya, si manusia serigala pun melompat tinggi. Dia begitu cepat, dua tangannya dengan kuku-kuku tajam mengarah pada Orion, siap mencabik tubuh pemuda itu tanpa ampun.
Kurang dari satu detik kemudian, si manusia serigala sudah berada di atas Orion, dia akan menerkam tubuh ringkih Orion.
Orion meludahkan darah yang menggumpal dalam mulut. Dia mengambil sebuah belati perak dari ruang kosong yang tak kasat mata. Dengan belati perak di tangan, Orion menghalau serangan tajam manusia serigala yang dilayangkan padanya. Meskipun tubuh Orion jauh lebih kecil bila dibandingkan ukuran si manusia serigala, pemuda itu terlihat tidak kesulitan ketika menahan serangan yang diberikan padanya, terutama dengan tubuhnya yang bisa dikatakan tidak fit karena luka berat yang dimilikinya.
Ketika serangan mereka bertemu, Orion tidak membuang banyak waktu untuk mendorong musuhnya menggunakan belati —mengibaskan si manusia serigala darinya.
Detik berikutnya, Orion bergerak begitu cepat dan cekatan. Ia muncul di belakang tubuh besar si manusia serigala lalu menebas leher monster itu menggunakan belati perak di tangannya. Begitu tebasan itu dilayangkan, tubuh dan kepala manusia serigala terpisah. Darah segar dalam jumlah banyak muncrat ke udara, Orion melompat di udara sebelum mendarat beberapa meter dari manusia serigala yang dibunuhnya.
BUAGH…
Suara tubuh besar yang terjatuh terdengar cukup keras. Suara itu dan juga aroma darah yang pekat di udara menarik perhatian manusia serigala lainnya yang ada di tempat itu.
“Grrrr…. AAAAOOOOO!!!” Manusia serigala terdekat dengan tempat Orion bergegas berlari ke arahnya, ia geram karena melihat anggota klannya terbunuh di tangan ‘binatang berkaki dua’ —manusia— rendahan seperti Orion.
Orion melesat ke belakang, ia menghindari serangan yang dilayangkan bertubi-tubi oleh si manusia serigala kedua. Setelah menghindari serangan untuk kedua kalinya, Orion menendang sisi samping tubuh si manusia serigala. Tendangan yang terlihat lemah namun memiliki kekuatan yang besar itu membuat si manusia serigala terpental sejauh empat meter dari Orion.
Pemuda itu menoleh ke samping. Dua manusia serigala lainnya yang bertubuh besar menyerangnya dari dua arah yang berlawanan secara bersamaan. Orion mengendikkan kedua bahu, lalu sosoknya menghilang dari kepungan dua manusia serigala. Orion melesat ke udara, dengan kecepatan yang tinggi dan sukar untuk dilihat oleh mata telanjang, dengan cepat ia kembali memenggal kepala kedua manusia serigala sebelum mendarat di atas dahan pohon yang besar dan kokoh tidak jauh dari sana.
“Monster di sini tidak terlalu kuat, namun anehnya mereka bisa membunuh banyak orang termasuk pemilik tubuh ini,” gumam Orion. Ia melihat ke bawah, matanya yang begitu tenang sibuk mengawasi pergerakan monster yang ada di bawah sana.
“Apa orang-orang yang tinggal di tempat ini sangat lemah?” tanyanya lagi kepada diri sendiri.
Termasuk tiga manusia serigala yang berhasil ia bunuh tadi, Orion menghitung jumlah monster yang ada di tempat ini tidak lebih dari sepuluh banyaknya. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, ia menggunakan persepsi untuk menyembunyikan keberadaannya agar tidak dideteksi oleh kawanan manusia serigala yang ada di bawah sana.
“Open.”
Begitu kalimat itu meluncur dari mulutnya, sebuah layar dengan garis biru di tepiannya muncul di hadapan Orion. Layar virtual itu memiliki nama “System: Infinity Abyss”. Nama itu tidak terdengar asing bagi pemain Infinity Abyss seperti Orion. Hanya mereka yang terhubung dengan sistemnya lah yang bisa melihat layar masing-masing.
“Sistemku anehnya masih bekerja, padahal aku ingat sebelum meninggalkan Paradis aku sudah menghancurkan otak utama dari sistem ini,” gumam Orion kepada dirinya sendiri.
Mata Orion menelisik apa yang terpasang di layar virtual di depannya. Di sana terdapat empat bagian yang bisa diseleksi, mereka adalah: ruang portabel, sistem mall, sistem trading, dan forum.
Dan di bagian paling bawah layar tertera jumlah poin yang Orion miliki adalah 9999999999+, poin itu sama persis dengan jumlah poin yang Orion miliki ketika dia berada di Paradis. Terutama setelah Orion berhasil keluar sebagai pemenang, ia mendapatkan banyak poin tambahan yang kini terakumulasi menjadi satu dengan poin sebelumnya.
Apabila Orion kembali ke Paradis, ia akan menjadi orang terkaya dalam permainan Infinity Abyss dengan jumlah poin sebanyak itu dalam genggamannya. Dan pemain lainnya tentu akan merasa iri dengannya.
“Ada yang berbeda dari sistem ini. Di sini tidak ada informasi umum dan langsung mengarah pada sistem mall,” gumam Orion lagi. Jarinya mengarah pada ruang portabel, di sana terdapat berbagai macam barang serta senjata yang Orion miliki dan tersimpan rapi pada sistem virtual tersebut.
Lalu Orion mengeklik sistem mall di samping ruang portabel. Dalam sistem mall itu Orion melihat ada berbagai macam barang yang dijual di sana, mulai dari barang sederhana seperti makanan, pakaian, sampai mata uang dari berbagai negara yang belum pernah Orion lihat sebelumnya. Di sistem mall juga menjual barang-barang bernilai tinggi seperti ramuan khusus, batu rune, senjata dalam kelas E sampai legendaris dan mistik, serta masih banyak lagi. Asalkan memiliki poin, mereka bisa membeli barang apapun dalam sistem mall.
Beruntungnya semua harga yang tertera pada barang di sistem mall masih berada dalam rentang harga yang bisa Orion beli menggunakan poin.
Orion mengarahkan jarinya pada sistem trading yang ada di bagian paling bawah. Di area sistem trading Orion tidak melihat apapun di sana, layar virtualnya masih bersih dan kosong.
“AAAAOOOOO!!!!” Lolongan super keras dari kawanan manusia serigala kembali terdengar. Suaranya menyebar ke seluruh penjuru area hutan, memaksa perhatian Orion yang ingin melihat area forum pada layar virtual sistemnya untuk kembali mengarah pada kawanan monster tersebut.
“Mempelajari sistem ini bisa dilakukan nanti. Yang terpenting sekarang adalah mengeliminasi monster di tempat ini.”
Tanpa melihat ke arah layar, jari tangan Orion mengarah pada sistem mall dan ia membeli dua botol ramuan penyembuh seharga dua poin per botolnya. Tubuh yang Orion gunakan bukanlah tubuhnya sendiri, dia tidak melihat ada kemampuan regenerasi cepat dalam tubuh ini, sehingga Orion membutuhkan ramuan penyembuh untuk membuat semua luka di tubuhnya sembuh sebelum ia menghadapi sisa monster yang ada di bawah sana.
Bayangan besar membelakangi matahari—menutupinya dan menimbulkan ketegangan bagi sekelompok mahasiswa beserta dua instruktur mereka. Percikan air yang terbawa oleh tubuh monster jatuh pada perahu motor di depanya serta permukaan laut di sekitarnya—secara otomatis membuat Orion dan yang lainnya menjadi basah kuyup walaupun mereka terlindungi oleh perisai perak milik Orion.Besar seperti gunung dengan tubuh sepanjang lima puluh meter. Monster laut di hadapan Orion dan kelompoknya berbentuk ikan paus raksasa, warnanya hitam dengan beberapa aksen merah membara layaknya lava dari gunung berapi di sekitar kepalanya. Empat sirip raksasa bergerak di atas permukaan laut, lalu ekornya yang besar dihentak-hentakkan sehingga gelombang laut besar tercipta dan membuat perahu motor itu menjadi semakin tidak stabil.Saat monster berbentuk ikan paus raksasa membuka mulutnya, dua barisan gigi-gigi tajam berukuran besar menjadi pemandangan menyeramkan. Tidak lama kemudian, monster itu menyemburkan lava
“Huft… huft… huft… lakukan sesuatu, aku lelah sekali dan tidak bisa berenang lagi.” Suara keluhan dari Lara terdengar setelah keheningan di antara mereka melanda sejak lima menit lalu.Harry, Kapten Hills, dan Kapten Enzo tidak lekas memberikan komentar kepada Lara. Mereka bertiga terus berenang ke depan. Walaupun ketiganya tidak tahu di mana pulau terdekat berada maupun melihat adanya spot untuk pemberhentian sementara, mereka terus berenang. Mereka sedikit optimis kalau cepat atau lambat mereka akan menemukan pulau untuk berhenti.Berbeda dengan keempat orang yang tengah berenang. Orion berselancar menggunakan perisai peraknya di atas permukaan air laut, di sampingnya ada sosok Archie dan Noah yang masih tidak sadarkan diri. Keduanya berbaring terlentang di kedua sisi Orion.Sesungguhnya Orion tidak ingin membawa kedua orang itu bersama dengan dirinya, namun melihat keadaan yang lainnya ia tidak memiliki pilihan lain kecuali membawa kedua orang tidak sadarkan diri tersebut bersama de
Angin berderu keras, sapuan aroma asin menguar di udara, dan cahaya begitu terang pun menyapu sosoknya begitu dirinya berjalan melewati portal dungeon. Satu langkah, dua langkah, semuanya tampak tenang.Namun, begitu tiga langkah ia ambil, Orion merasakan pijakan di bawah kakinya menghilang. Gravitasi menerpanya, menariknya terjun bebas ke bawah. Cahaya yang tadinya begitu terang menghilang, Orion yang menemukan dirinya terjun dari ketinggian melihat ke atas di mana langit biru dengan hiasan awan putih menyapa penglihatannya.Orion terkesiap. Dia jatuh ke bawah dari ketinggian yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ujung dari portal dungeon ada di atas langit, begitu melewatinya ia langsung jatuh terjun bebas tanpa perlawanan. Ia ingat dungeon yang mereka tuju ini adalah dungeon level rendah, bagaimana bisa sebelum melakukan sesuatu mereka langsung disuguhkan awalan yang menegangkan seperti ini?“AAAAAAHHHHHH!!!!”“AAAHHHH!!!”“AKU JATUH!!!”Beberapa teriakan keras teredam oleh ang
Sesuai namanya, Kastil Obsidian memiliki warna kelam dibalik kemegahan bangunannya. Meskipun tertata rapi dan tampak indah, atmosfer yang mengelilingi kastil besar ini terasa suram, bahkan orang yang memiliki kepribadian ceria pun akan terpengaruh begitu mereka menginjakkan kaki di area tersebut.Bangunan kuno dengan arsitektur khas pertengahan renaissance tersebut dibangun di atas lahan luas yang dikelilingi oleh hutan lebat. Pepohanan di sekeliling kastil menjulang tinggi dan tumbuh lebat, bahkan kalau bukan karena jalan raya yang melintasi pertengahan hutan dan melintasi area Kastil Obsidian, bangunan tersebut tidak akan dapat diakses oleh banyak orang.Energi negatif yang mengalir dan mengelilingi kastil memberikan sensasi dingin, begitu menusuk tulang sampai orang menjadi enggan untuk berkunjung. Tidak heran banyak orang menyampaikan teori kalau bangunan kastil ini merupakan bangunan berhantu.Sejak tiba di Bintang Biru, ini pertama kalinya bagi Orion merasakan energi negatif seba
Orion menghela napas panjang. Kedua matanya tertutup, earphone terpasang pada telinga, lalu ia duduk bersandar pada kursi mobil layaknya orang lemas dan tidak memiliki tenaga. Ia begitu rileks dan nyaman, tampak seperti orang malas yang tengah dalam perjalanan liburannya, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang akan masuk dungeon sebagai destinasi latihan militernya.Orion tahu ada banyak pasang mata mengarah padanya secara sembunyi-sembunyi, mengawasinya serta berusaha agar tidak ditemukan olehnya. Bahkan, instruktur yang bertugas sebagai pengawas pun juga terlihat takjub ketika mereka melihat semua ini.Berbagai macam emosi terpetak jelas pada beberapa orang yang duduk di sekitar Orion. Mereka takjub sekaligus iri melihat betapa santainya sosok Orion Black tersebut, bahkan Harry yang seharusnya memiliki level sama seperti Orion terlihat tidak sesantai Orion sekarang ini.Dia begitu percaya diri dengan kemampuannya sendiri, pikir banyak orang setelah mengawasi Orion. Mereka mena
Lima anak muda dengan usia sebaya berkumpul di sebuah tempat yang berlokasi di belakang gedung aula besar. Empat laki-laki dan seorang perempuan. Kelimanya saling berpandangan, mengamati satu sama lainnya sebelum mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah tiga orang pria berseragam militer yang berdiri di depan mereka.“Dari keseluruhan mahasiswa baru yang mengikuti latihan militer tahun ini, kalian berlima tercatat sebagai individual yang berhasil membangkitkan kekuatan supernatural, dan dua di antaranya juga terdaftar sebagai Hunter.” Kapten Hills yang berdiri paling depan mulai membuka suara, kedua matanya mengawasi kelima anak muda di hadapannya dengan seksama.“Orion Black, Hunter level A. Hadrian Welsh, Hunter level A,” imbuh sang kapten sembari melihat Orion dan Harry bergantian.Ketika namanya disebut, Orion tidak mengubah ekspresi wajahnya—ia masih tenang dan bergeming di tempat, bahkan ketika tiga pasang mata dari mahasiswa yang berdiri di dekatnya mengarah padanya. Kendatip







