MasukTuan Malik menjauh sejenak. Cukup untuk ia menatap wajah Alisa yang terlihat pucat ketakutan karena permintaannya. “Lisa, aku tidak bisa menunggu lagi.” “Please... Tuan! Aku... belum siap!” Bibir Alisa bergetar saat memohon dihadapan Tuan Malik. “Aku sudah menunggu terlalu lama, Lisa! Dan aku sudah tidak sabar lagi.” Kata Tuan Malik sambil memegang pundak Alisa. “Jangan lakukan ini sekarang, Tuan! Aku belum menginginkannya.” Mohon Alisa lagi. Ia kembali mendorong dada pria itu agar menjauh darinya. Ia tahu, tidak ada gunanya dirinya terus memohon. Tuan Malik begitu dominan, arogan dan mengerikan. Pria dewasa itu mampu melakukan hal-hal apa saja, yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan mengambil apa saja yang ia inginkan tanpa harus bertanya. “Kau akan menyukainya.” Ucapannya itu terdengar begitu tidak berperasaan. “Kau akan belajar untuk menyukainya dan menginginkannya.” Alisa berusaha menghindar dengan meneleng ke samping, tetapi Tuan Malik lebih dulu meraih wajahnya, l
Akan tetapi, usaha Alisa hanya sia-sia belaka. Tuan Malik terlalu kuat dan tangguh untuk dikalahkan. Mana mungkin dia bisa menang melawan pria dewasa Walinya itu yang tinggi besar. Dimana besar tubuhnya saja hampir 6 kali tubuhnya.“Kamu mau membantah perintahku, Lisa?” Tanya Tuan Malik tidak suka. Terlihat jelas gurat kemarahan dari wajahnya.“Bukan begitu, Tuan! Aku hanya ingin menyimpannya saja! Sungguh!” Ucap Alisa sekali lagi berusaha menjelaskan.“Kamu sudah berjanji akan menurutiku, Lisa! Jadi, biarkan para pembantu yang membereskannya!” Tegas Tuan Malik penuh penekanan. Ia masih berusaha untuk tetap sabar menghadapi gadis itu. “Tapi Tuan, aku hanya...” Alisa ingin kembali mengulangi ucapannya, tapi belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pria dewasa itu sudah memotongnya lebih dulu.“Cukup! Kau tidak mendengar apa kataku, Lisa?” Sentak Tuan Malik dengan tidak sabar. “Berhenti membantah dan ikuti aku! Sekarang!” Perintah Tuan Malik begitu murka. Ia tidak bisa bersikap lunak l
Tidak butuh waktu lama, motor gede Andika sudah memasuki blok elit kawasan itu. Ketika sedang santai melintasi tikungan tiga arah yang tidak ada rambu lalu lintasnya, Andika dikejutkan oleh sorot lampu kendaraan yang berpendar terang didepannya, yang sama-sama berbelok ke arah jalan yang sama. Jalan yang disampingnya terhampar lapangan golf yang cukup luas. Jalan ke arah rumah seorang konglomerat bernama Tuan Malik. Saking kagetnya, kedua kendaraan itu seketika membunyikan klaksonnya bersamaan.“Anjir!” Umpat Andika cukup shock. Hampir saja ia menabrak kendaraan roda empat yang memasuki jalur yang sama itu. Untunglah Andika bisa langsung menguasai motornya yang sempat oleng dan hilang kendali karena efek dari rasa terkejutnya. Dengan gesit ia melaju lebih dulu memimpin didepan.“Hati-hati, Dika?”Pesan Alisa yang ikut merasakan jantungnya hampir copot karena insiden tak terduga itu.Alisa tidak memperhatikan lebih detail kendaraan sedan yang kini ada dibelakangnya. Tidak pernah ter
Untuk sesaat, Alisa merasa bimbang untuk memberitahu siapa sebenarnya orang yang sudah mengklaim dirinya pada Andika. Ia tidak ingin Andika membenci orang itu setelah mengetahuinya. Akan tetapi, ia tidak bisa terus-terusan menyembunyikan rahasianya. Cepat atau lambat, semuanya pasti terbongkar. Sebelum berkata, Alisa kembali menelan salivanya. “Dia Waliku, Dika! Namanya Tuan Malik.” “Kamu bercanda, bukan?” Andika menegakkan kepalanya.Kepala Alisa menggeleng, “Aku tidak bercanda, Dika! Memang dia waliku.”“Kenapa harus dia, Ally? Bukankah seharusnya dia hanya menjagamu? Mengasuhmu dan memenuhi semua kebutuhanmu, layaknya seorang ayah terhadap putrinya?” Protes Andika setelah melepas pelukannya.“Memangnya aku siapanya, hingga dia wajib mengasuhku dan memenuhi semua kebutuhanku? Aku bukan siapa-siapanya, Dika!” Jelas Alisa.“Dan kenyataannya, Waliku itu tidak mau dianggap sebagai ayahku, meskipun aku ingin sekali menganggapnya sebagai seorang ayah. Dia menginginkanku seperti dirinya
Andika tersenyum miris, “Itulah adik sepupuku, Tamara. Dia selalu tegas, serius, rumit, dan cukup... gila.” “Ya. Sebelas dua belas dengan kamu, bukan?” Maklum Alisa yang tidak begitu kaget dengan sifat ekstrem ketua OSIS sekolahnya, saat membandingkan sifat dan kelakuan Andika yang notabene kakak sepupu Tamara.Mendengar nada sindiran Alisa, Andika hanya tersenyum bangga. “Tau aja kamu. Jadi, gimana nasib kita sekarang?” Andika melangkah lebih dekat.Alisa menghela nafas pasrah, “Harus bagaimana lagi. Sebaiknya aku pulang saja. Percuma juga aku mencoba masuk. Pasti bakalan diusir seperti kamu.”Ada ide cemerlang yang melintas di kepala Andika. “Jangan pulang dulu!” Tarik Andika di tangan Alisa. Melarang gadis itu pergi. “Kenapa tidak kita coba masuk sama-sama saja. Pasti mereka akan mengira kita berpasangan.” Lalu tangannya menahan pinggang belakang Alisa.Tangan Alisa reflek menahan dada Andika agar tidak menempel ke tubuhnya. Kadang kala, Andika bisa berubah menjadi sosok penggoda
Sesuai rencana sebelumnya, begitu pulang sekolah, Alisa menyibukkan diri bersama sang nenek yang sudah sibuk di dapur menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakannya untuk membuat adonan dari berbagai macam kue buatannya, dimana kue-kue itu nanti akan ia drop ke pasar sesuai pesanan pelanggan. Tanpa melupakan kewajiban utamanya sebagai siswi sekolah yang rajin dan bertanggung-jawab, Alisa tidak lupa mengerjakan terlebih dahulu tugas-tugas sekolahnya. Karena bagaimanapun juga, ia bercita-cita ingin selalu menjadi siswi yang terbaik dan berprestasi di kelasnya, meski tidak terbaik di sekolah. Sekaligus ingin menunjukkan pada Tuan Malik bahwa dirinya tidak menyia-nyiakan waktu belajarnya di sekolah. Membuat pria itu bangga dan tidak sia-sia mengasuhnya. Walau ia seketika menjadi miris saat mengingat kejadian semalam.Tuan Malik masih belum pulang ke rumah ketika Alisa beserta nenek Kusmirah menikmati makan malamnya bersama di meja makan.“Kowe mesti nurut karo kabeh penjaluke Den Bagus,







