ログインOlla Viola adalah seorang penyanyi berbakat dengan suara emas yang mampu menyanyikan lagu dangdut, tembang Jawa, Malaysia, hingga barat dengan penuh penghayatan. Di balik ketenarannya yang mulai menanjak, Olla hidup sederhana bersama suaminya, Aloy, seorang pria pengangguran yang dulu ia tolong karena kasihan. Olla menyangka cinta dan kesetiaan akan membuat rumah tangganya bahagia, hingga kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Aloy berselingkuh dengan Niar, sahabat sekaligus rekan satu panggung Olla. Lebih kejam lagi, Aloy memutarbalikkan fakta tentang masa lalu mereka. Ia mengaku sebagai sosok yang membesarkan karier Olla dan menyelamatkannya dari kemiskinan, padahal seluruh kesuksesan itu lahir dari kerja keras Olla sendiri. Di balik wajah manis dan kata-kata manipulatifnya, Aloy diam-diam menyusun rencana. Dokumen rumah dan mobil yang dibeli dari jerih payah Olla dibaliknamakan atas namanya sendiri. Saat semuanya siap, Aloy dan Niar kabur, membawa serta seluruh harta yang telah Olla perjuangkan bertahun-tahun. Olla pun berniat membalas dendam atas semua perbuatan Aloy kepadanya.
もっと見るPukul tujuh pagi, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar sederhana itu, menimpa wajah cantik seorang perempuan bernama Olla Viola. Tubuhnya yang semalam kelelahan karena latihan vokal kini perlahan bangun.
Ia menguap kecil, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengucek mata. Hari ini bukan hari biasa. Olla mendapat job besar menyanyi di acara ulang tahun salah satu pengusaha kaya yang dijuluki orang-orang sebagai sultan. Honornya cukup besar, dan ini kesempatan emas untuk membuktikan kalau dirinya masih bersinar di dunia musik. Olla tersenyum kecil. Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi. Air dingin membasuh wajahnya, menghapus sisa kantuk yang menempel. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, mata bening itu masih menyimpan semangat, walau di baliknya ada lelah yang tak terlihat. Setelah selesai mandi dan berdandan sederhana, Olla menatap ruang tamu kecil yang sepi. Tak ada suara siapa pun. Biasanya, Aloy, suaminya, sudah bangun duluan, menyiapkan sarapan ringan, lalu dengan semangat mengantar Olla manggung. Tapi kali ini sepi. Kening Olla berkerut. "Ke mana dia pagi-pagi gini?" gumamnya pelan. Ia berkeliling mencari, kamar kosong, dapur juga. Hanya aroma sisa kopi di gelas yang masih menggantung di meja makan. "Biasanya udah rapi, nyiapin mobil buat anter aku," pikirnya heran. Namun, Olla tak mau berburuk sangka. Ia menyiapkan sarapannya sendiri, sepotong roti dan segelas susu. Sesekali pandangannya masih menoleh ke arah pintu, berharap Aloy muncul sambil tersenyum seperti biasanya. Tapi sampai jam menunjukkan pukul delapan lewat, tak ada tanda-tanda suaminya akan pulang. "Ya udahlah. Mungkin dia ada urusan," ucap Olla akhirnya, mencoba menenangkan hatinya sendiri. Setelah berpakaian rapi dan mengenakan make up ringan, Olla mengambil helm, lalu keluar rumah. Biasanya Aloy yang mengantar dengan mobil, tapi kali ini ia harus naik sepeda motor kesayangannya, satu-satunya kendaraan yang masih atas nama dirinya sendiri. Angin pagi menyapa lembut wajahnya saat motor melaju di jalanan menuju tempat acara. Di dalam hati, ada rasa aneh. Seperti firasat tak enak yang sulit dijelaskan. Sekitar setengah jam kemudian, Olla tiba di lokasi. Sebuah taman luas yang disulap menjadi panggung megah dengan lampu-lampu warna-warni. Spanduk besar bertuliskan: "Ulang Tahun Sultan Pak Surya - 50 tahun. Beberapa kru terlihat sibuk menata alat musik dan mengecek sound system. Olla menyapa beberapa rekan penyanyi yang sudah datang, lalu duduk sejenak di kursi backstage. Perutnya mulai terasa tidak nyaman, mungkin karena terlalu banyak minum susu tadi. Ia pun berdiri dan mencari arah toilet. Lorong menuju toilet cukup sepi. Saat melangkah ke sana, Olla mendengar sesuatu, suara samar dari salah satu bilik toilet wanita. Suara itu seperti desahan tertahan, bercampur tawa kecil. Olla spontan berhenti di depan pintu bilik itu, mendengarkan tanpa sengaja. "Ngapain sih orang di dalam?" batinnya. "Aneh banget, kayak bukan cuma kencing." Ia menggeleng pelan, berusaha tidak peduli. "Ah, mungkin cuma orang yang lagi main HP," pikirnya menenangkan diri. Olla akhirnya masuk ke bilik lain untuk menuntaskan hajatnya. Namun suara itu masih terdengar samar-samar, membuatnya tak tenang. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari toilet dan membasuh tangan. Saat itulah, dari pantulan cermin, ia melihat seorang wanita berambut panjang keluar dari bilik yang tadi. Wajah itu sangat familiar. "Niar?" gumam Olla dalam hati. Sahabatnya sesama penyanyi, wanita yang sering manggung bersamanya di berbagai acara. Tak lama kemudian, Niar menatapnya lewat cermin sambil tersenyum manis. "Halo, Olla!" sapanya riang. "Eh, hai, Niar! Kamu udah dari tadi?" tanya Olla ramah. Niar mengangguk, suaranya renyah. "Iya, tapi tadi aku kebelet banget, hehe." Olla hanya mengangguk sambil mengelap tangannya. Namun, sesuatu terasa janggal. Tatapan Niar tampak sedikit gugup. Dan aroma parfum maskulin samar-samar masih tercium di udara, bukan aroma wanita. "Apa mungkin suara yang tadi itu ...," batin Olla mulai gelisah. Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Musik pembuka menggema, para tamu undangan mulai berdatangan dengan pakaian mewah. Olla duduk di kursi tunggu di dekat panggung, menunggu gilirannya tampil. Dari kejauhan, ia melihat seseorang berjalan tergesa dari arah toilet. Langkahnya cepat, wajahnya sebagian tertutup topi dan masker. Tapi Olla mengenal sosok itu dari cara berjalannya, dari bentuk bahunya yang lebar. Aloy. Jantung Olla seketika berdebar keras. "Kok kayak suamiku," gumamnya pelan. Ia mencoba memastikan, tapi pria itu sudah keburu keluar dari area acara dan naik ke mobil hitam, mobil yang sama dengan milik mereka di rumah. Hatinya bergetar hebat. "Kok bisa dia di sini?" pikirnya. "Dan kenapa barusan Niar juga keluar dari toilet itu?" Namun ia buru-buru menepis pikiran buruknya. Tidak, ia tak mau menuduh tanpa bukti. Ia harus tetap profesional, acara belum dimulai. Wajahnya harus tetap tersenyum di depan penonton. Sementara itu, di luar sana, kejadian sebenarnya baru saja terjadi .... Pagi tadi, Aloy bangun lebih dulu dari Olla. Ia sudah lama menjalin hubungan rahasia dengan Niar, wanita yang membuatnya merasa lebih nyaman meski sebenarnya semua itu hanya permainan nafsu dan kelicikan. Saat Olla masih tertidur, Aloy mengirim pesan singkat pada Niar. "Aku jemput jam tujuh. Kita ke lokasi bareng." Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Aloy pergi dari rumah membawa mobil milik Olla. Ia menjemput Niar di rumahnya. Sesampainya di lokasi, tempat itu masih sepi. Kru baru datang setengah. Aloy memandang Niar dari kursi mobil, lalu tersenyum licik. "Masih lama acaranya. Kita punya waktu, sayang," bisiknya. Niar sempat ragu. "Gila kamu, mas. Kalau istrimu tahu, gimana?" Aloy malah tertawa pelan. "Nggak bakal. Dia pikir aku di rumah atau ke bengkel servis mobil. Lagian dia nggak pernah curiga." Niar menggigit bibir bawah, setengah malu, setengah terbuai. Hingga akhirnya, godaan itu menang. Mereka berdua menuju toilet wanita di area belakang panggung, tempat yang sepi dan jarang dilalui orang pagi-pagi. Aloy mengunci pintu kamar mandi. Ia mulai meremas dua buah gundukan kenyal di dada Niar. Kemudian memagut bibir indah Niar. "Mmhhh ...." Desahan lirih terdengar dari mulut Niar. Tanpa basa basi, Aloy melepas celana Niar perlahan. Kini tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Niar pun membelakangi Aloy, dan dengan bringas Aloy memasukkan pusakanya yang telah mengeras. "Ahhh ...." Desahan demi desahan memenuhi ruangan kamar mandi. Hingga Aloy menumpahkan lahar panas. Permainan selesai. Mereka kembali mengenakan pakaiannya. Mereka tak menyadari bahwa Olla berada di tempat tersebut. ** Sore hari acara selesai. Olla tampil dengan sangat memukau. Suaranya merdu, tepuk tangan penonton bergemuruh. Ia bahkan mendapat pujian langsung dari pembawa acara. Namun di balik senyum dan tepukan tangan itu, hatinya tidak tenang. Bayangan wajah Aloy yang keluar dari toilet terus mengganggu pikirannya. "Mirip banget, masa iya cuma kebetulan?" pikirnya dalam hati saat perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, mobil milik mereka sudah terparkir rapi di halaman. "Lho. Dia pulang duluan?" kening Olla berkerut. Ia membuka pintu, menemukan Aloy sedang rebahan santai di ruang tamu sambil menonton TV. "Mas," panggil Olla pelan. Aloy menoleh malas. "Hm? Udah pulang?" "Iya. Mas, oh iya, tadi aku kayak lihat kamu di acara panggung." Aloy spontan duduk, matanya tajam. "Hah? Kamu ngomong apa?" "Aku lihat dari jauh. Kamu keluar dari arah toilet pas aku mau manggung." "Jangan ngarang deh, La. Mungkin mirip aja," potong Aloy cepat, suaranya meninggi sedikit. "Tapi mirip banget, mas. Lagian, kamu tadi kemana, biasanya anter aku manggung, tapi ...." "Cukup! Aku tadi ada urusan sama temenku, bukan di situ!" "Urusan apa?" tanya Olla lirih. Aloy mengembuskan napas kasar. "Kamu mulai curiga sama aku, ya?" "Bukan gitu, mas. Aku cuma heran aja. Tadi aku juga lihat Niar di sana." "Udah cukup!" bentak Aloy, suaranya keras. Olla terdiam, terkejut. Aloy berdiri, menatapnya dengan wajah penuh emosi. "Kamu jangan bikin masalah cuma karena hal sepele! Pakai nuduh macem-macem." Olla menunduk, hatinya mulai perih. "Aku nggak nuduh, mas. Aku cuma ...." "Udah diam. Aku mau tidur," potong Aloy lagi, lalu berjalan masuk ke kamar, meninggalkan Olla sendirian di ruang tamu dengan mata yang mulai basah. Malam itu, Olla duduk di sofa dalam diam. Televisi menyala tanpa suara, hanya cahaya yang menyoroti wajahnya yang muram. "Kenapa suamiku sekarang berubah? Apa salahku? Apa kurangku?"Iya, benar," angguk Suli mantap. Nada suaranya tenang, nyaris tanpa getar, seolah yang baru saja ia ucapkan bukan sesuatu yang luar biasa.Ia mengaduk matcha latte-nya perlahan, gerakannya elegan, matanya sesekali menatap Aloy tanpa kesan memaksa."Dan aku sedang mencari orang yang mau investasi emas," lanjutnya santai, "dengan modal lima ratus juta dan keuntungan tiga miliar."Sendok di tangan Aloy berhenti bergerak. Jantungnya seakan melonjak, lalu berdetak lebih cepat dari biasanya. "Lima ratus juta balik tiga miliar?" batinnya.Angka itu berputar-putar di kepalanya seperti dengungan lebah yang tak mau pergi."Apa benar yang kamu katakan, Laras?" tanya Aloy, berusaha terdengar biasa saja meski matanya jelas memancarkan ketertarikan.Suli mengangkat wajahnya, menatap Aloy lurus-lurus. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum genit, melainkan senyum percaya diri seorang perempuan yang terbiasa berada di lingkaran orang berduit."Apa tampang saya terlihat seperti penipu?" katanya pela
Charol tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya santai, ada kilat licik tipis di matanya. "Mbak dandan yang cantik. Pakai baju yang aku belikan kemarin. Terus mbak pergi ke apartemen. Nanti aku kirim alamatnya. Itu apartemen Niar, temenku, sekaligus selingkuhan Aloy."Suli menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya berkerut, bukan karena bingung, tapi karena cemas. "Aku ngapain di sana, Mbak?""Mbak duduk aja di taman depan apartemen itu. Pura-pura foto-foto selfie," lanjut Charol dengan nada tenang, seolah menjelaskan rencana piknik. "Tenang, Mbak nggak usah takut. Nanti Aloy pasti datang ke apartemen itu. Nah, otomatis dia bakal nyapa Mbak. Mbak pura-pura kaget ya. Terus ajak dia ke mana gitu buat ngobrol-ngobrol. Aku bakal kasih arahan lewat chat."Suli mengangguk pelan. "Kalau aku salah ngomong gimana, Mbak?"Charol menyesap susunya, lalu meletakkan gelas perlahan. "Makanya aku bilang, santai aja. Mbak jadi diri Mbak sendiri. Nanti aku yang atur alurnya."Suli menghela napas pa
Rumah kontrakan itu masih terasa asing, meski sejak sore tadi Charol dan Suli sudah bolak-balik mengatur barang.Dindingnya polos, lantainya dingin, dan hanya ada beberapa perabot sederhana, sofa dua dudukan, meja kayu, serta kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.Senja telah berganti malam. Lampu kuning temaram menciptakan bayangan lembut di wajah kedua wanita itu saat mereka duduk berhadapan.Suli memeluk bantal kecil di dadanya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil sejak kejadian di rumah sakit. Sesekali matanya menatap lantai, seolah takut kenangan siang tadi kembali menyeruak.Charol menuangkan air hangat ke dua cangkir. Ia menyodorkan satu pada Suli. "Minum dulu. Biar tenang.""Terima kasih, mbak," jawab Suli lirih. Jemarinya gemetar saat menerima cangkir itu.Mereka terdiam sejenak. Hanya suara kipas angin dan jam dinding yang terdengar.Charol mengamati Suli dari sudut matanya, wanita itu masih muda, wajahnya lembut, tetapi garis kelelahan tampak jelas. Bukan kele
Langkah Charol dan Suli terhenti tepat di samping mobil. Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah terasa menekan kulit. Suli hendak membuka pintu ketika suara serak dan bau alkohol menyergap dari arah belakang."Wah, wah, wah … Suli."Suara itu membuat tubuh Suli menegang. Wajahnya seketika pucat, napasnya tercekat di tenggorokan. Seorang pria dengan pakaian kusut dan mata merah berjalan sempoyongan ke arah mereka. Langkahnya tidak stabil, namun senyum liciknya jelas terlihat."Kamu sekarang hidup enak, ya," lanjut pria itu sambil tertawa kecil. "Punya bos cantik, tajir pula. Pantesan lupa sama suami sendiri."Suli refleks mundur, bersembunyi di balik tubuh Charol. Tangannya gemetar, kukunya mencengkeram lengan Charol seolah mencari perlindungan terakhir."Herman." Suara Suli nyaris tak terdengar.Charol berbalik, menatap pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Nalurinya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres, bau alkohol menyengat, tatapan kosong bercampur agresi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー