LOGINHai, Kak! Terima kasih sudah mampir dan mengikuti cerita ini. Karena ini liburannya cukup lama, author akan crazy-up selama tiga hari. Nantikan terus kelanjutannya, karena author akan up tidak di jam biasanya. Jangan lupa tinggalkan komentar ya kak. Terima kasih.
Mobil Dani meluncur cepat menuju dokter langganan Dinda dan Mita. Setelah melewati berbagai pemeriksaan, Dani mendapat selembar surat keterangan dan foto. Keningnya berkerut. Memandang foto hasil usg di tangannya dengan tatapan tidak percaya. Dokter harus mengulang tiga kali untuk membuat Dani benar-benar percaya dengan foto dan surat keterangan yang diberikan padanya."Ini serius, Dok? Dokter nggak sedang nge-prank saya'kan?" "Serius, Pak Dani. Delapan bulan lagi, anda akan menjadi seorang ayah."Perlu beberapa menit untuk ia benar-benar memahami jika semua itu adalah benar adanya. Gemuruh di dadanya membuat Dani merasakan sensasi deg-degan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia akan menjadi seorang ayah. Ketika sudah berada di luar ruangan, Dani langsung memeluk Sari yang ikut mengantar Maya ke klinik. Ia mengangsurkan lembaran foto kepada Sari. Wanita itu tertegun sejenak lalu berteriak kesenangan. Ia langsung mengirim pesan pada Dinda."Mama mau punya cucu lagi!" tulisn
Tepat pukul sebelas pagi keesokan harinya, suara lantang Dani menggema di kediaman Yani yang sudah dihias demikian rupa. Harumnya bunga melati dan sedap malam mendominasi. Aneka bunga segar menghiasi mulai jalan masuk hingga ruang tamu yang digunakan sebagai tempat akad nikah. "Saya terima nikah dan kawinnya Maya Safitri binti Marlin Sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.""Sah?" tanya penghulu kepada para saksi."Sah." "Alhamdulillah." Ucapan syukur mengiringi doa yang dipanjatkan penghulu untuk kedua mempelai. Tak lupa juga wejangan pernikahan yang biasa diberikan untuk pengantin baru.Bulir air mata yang tadi menggenang di sudut mata Yani, akhirnya meluncur tanpa kendali. Bahunya terguncang hingga harus ditenangkan Dinda dan Mita. Yani mengangguk, membalas tangan Mita yang menggenggam erat kedua tangannya."Terima kasih. Semoga Maya bisa menjadi istri yang baik dan patuh pada suaminya.""Aamiin. Sekarang, Ibu harus maju ke depan. Itu, di sana. Mama sudah menunggu untuk
Sambutan hangat yang diberikan keluarga Broto, membuat Yani terharu. Yani tidak pernah membayangkan jika keluarga Broto begitu membumi. Padahal mereka termasuk keluarga berada, jauh diatasnya. Namun, mereka tidak seperti kebanyakan. Bahkan, besan mereka tidak jauh berbeda. Yani berulang kali mengucap syukur. Ketakutan yang sempat menggelayutinya saat Dani mulai sering bertemu dengan Maya, hilang sudah. Makan malam itu berjalan lancar, penuh kehangatan. Satu yang disayangkan, Marlin tidak berada di tengah-tengah mereka, dan itu mendatangkan perasaan sedih dalam hati Yani. Ia berulang kali menggumamkan nama Marlin."Andai Bapak ada di sini. Akan terasa jauh lebih seru dan lengkap. Anak kita, pasti akan sangat bahagia." Satu bulir air mata menetes dari sudut luar netra Yani.Maya menggenggam erat tangan Yani. "Bapak melihat kita, Bu. Semoga bapak merestui ini semua."Mobil Dani meninggalkan kediaman Broto menuju tempat tinggal Yani. Acara makan malam berjalan sukses. Lamaran akan dilaks
"Maksudnya?" Yani menuntut Dani untuk memperjelas kalimatnya. Yani masih meragukan kemampuan telinganya menangkap maksud dibalik kalimat-kalimat yang ia dengar barusan. Jangan-jangan pria muda ini sedang menge-pranknya.Seperti sudah menduga sebelumnya, Dani kembali mengatakan hal yang intinya sama, bahwa ia ingin menikahi Maya, putri semata wayang Yani.Bingung dan ragu. Yani justru menatap kedua punggung tangannya lalu membolak-balik keduanya, seakan ingin menunjukkan jika perkara ini bukanlah perkara sepele, dan ia sedang berpikir keras tentang perkara ini. "Kami bukan dari keluarga kaya.""Tidak ada masalah. Keluarga saya pun tidak jauh berbeda.""Anak saya bukanlah seseorang yang sangat pintar.""Justru itu yang saya suka. Berarti saya bisa menjadi suami sekaligus guru untuknya."Maya semakin salah tingkah mendengar jawaban-jawaban Dani. Tekad Dani sepertinya sudah sangat bulat. Ia berhasil menjawab pertanyaan dan pernyataan Yani. "Dia belum lulus kuliah." "Maya bisa menerus
Maya menatap pria yang kini sedang menatap dalam ke arahnya. Pria itu menanti jawabannya. Keadaan toko saat itu sedang sepi. Pembeli terakhir baru saja pergi meninggalkan kasir, yang sudah dijaga oleh satu pegawai baru, yang direkrut Maya tiga hari yang lalu."Tidak lama. Paling lama satu jam." Dani berusaha meyakinkan Maya yang masih tampak ragu untuk menerima ajakannya."Mengapa tidak bicara di sini saja?"Dani menggeleng tidak setuju. "Tidak akan leluasa. Padahal apa yang akan saya sampaikan nanti sangat penting."Maya masih enggan untuk mengabulkan ajakan Dani. "Sebentar saja." Dani berusaha sekali lagi. " Harus meminta ijin ibu dulu? Oke. Mana ibu kamu?" Dani langsung saja berjalan menuju ruang produksi, mengacuhkan Maya yang berusaha mencegah langkahnya.Ia tidak punya banyak waktu. Hari ini ia harus menjelaskan sesuatu pada Maya dan Maya harus memberinya jawaban paling tidak besok.Yani yang sedang memberi instruksi kepada beberapa karyawan langsung menghentikan perkataannya k
Bantal yang berada di atas pangkuan Yani sukses jatuh bebas ke bawah. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya."Maaf, Bu. Bukannya apa-apa tapi saya rasa kok terlalu cepat jika kita sudah membahas soal ehm, rencana pernikahan. Hubungan mereka masih sebatas teman dan saya pikir terlalu terburu-buru jika kita sudah membahas hal yang lebih serius."Sari menangkap keberatan yang sangat jelas terlihat dari kalimat Yani. Mungkinkah dirinya sudah bertindak terlalu jauh? Tanpa berbicara dulu dengan Dani, ia langsung saja bertemu dengan Maya dan sang ibu."Hmmm. Mungkin Nak Maya bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan kalian berdua? Apakah kalian sudah membahas hal yang lebih jauh?" Hati Maya mencelos sesaat. Boro-boro membicarakan hal-hal yang menyerempet pernikahan, percakapan mereka berdua hanya percakapan ringan dan masih terkesan sangat kaku. Baik dirinya maupun Dani, seperti masih mencoba mengenal satu sama lain.Maya menggeleng. "Tidak, Bu. Kami hanya mengob
Dinda mencoba membuka kedua netranya. Hari masih begitu gelap, dan suasana masih begitu sunyi. Samar, terdengar rintik ujan mulai turun mengenai genteng, menyebarkan bau khas tanah. Tangan Arya masih memeluk erat tubuh Dinda, seakan enggan berada jauh dari wanita muda itu. Bukannya menyingkirkan t
"Om Dani! Bian mau yang itu." Brilian menarik-narik tangan Dani agar mendekat ke etalase yang penuh dengan macam-macam puding di rak paling atas. Warna-warni dan hiasan di atas puding, membuat Brilian tidak mengalihkan pandangannya dari etalase itu.Dani menepati janjinya pada dua keponakannya. Ia m
Dani ternyata tidak menepati janjinya pada Brilian. Dia menepikan mobilnya tepat di depan gerai Maya, lalu memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dani keluar dari mobil lalu melangkah tegas masuk ke gerai Maya.Suasana gerai yang tidak terlalu ramai membuat Dani bebas bergerak. Ia bebas mengamati seluruh
Dani mengunyah sus yang berhasil ia ambil dari tas belanja Dinda. Ia mengunyah sambil berpikir apa yang akan ia katakan setelah tiba di gerai kue Maya, besok. Ya. Dani berencana untuk tetap mendatangi gerai Maya, meski sempat bersitegang dengan sang adik. Bagaimanapun, Dani adalah anak tertua, yang







