LOGINUntuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Naura Callista Wijaya terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan pria yang paling ia takuti. Arka Rajendra Mahardika, CEO kejam yang dijuluki monster di dunia bisnis. Satu tanda tangan di atas kertas… dan hidup Naura tidak lagi menjadi miliknya. Ia harus meninggalkan Dion, pria yang ia cintai, untuk menikahi sang monster dan menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria yang katanya tidak memiliki hati. Setidaknya… itu yang ia pikirkan. Karena setelah menikah, Naura mulai menyadari sesuatu yang mengganggu. Arka tidak pernah memperlakukannya seperti istri kontrak.Tatapannya terlalu posesif.Sentuhannya terlalu menuntut. “Selama kamu memakai namaku... kamu adalah milikku, Naura." bisiknya dingin di telinga Naura. Masalahnya… pria yang Naura tinggalkan belum benar-benar menyerah. Dan monster seperti Arka tidak pernah berbagi apa yang menjadi miliknya. Ketika dua pria itu akhirnya berhadapan, Naura sadar bahwa pernikahan ini bukan sekadar kontrak, Ini adalah perang yang bisa menghancurkan semuanya.
View MoreLampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kelas atas. Namun di balik semua kemewahan itu, ada sesuatu yang jauh lebih samar dan tidak kalah menyengat. Keserakahan yang dibungkus dengan sopan santun para elit.
Malam ini bukan sekadar pesta merger antara Mahardika Group dan Wijaya Group. Bagi Naura Callista Wijaya, malam ini terasa lebih seperti perjamuan para predator.
Naura berdiri di sudut ruangan, memegang gelas sampanye yang hampir tidak ia sentuh sejak tadi. Gaun satin berwarna nude membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, kainnya jatuh lembut mengikuti lekuk pinggang hingga paha. Riasan natural menonjolkan wajah mungilnya—mata kecokelatan yang biasanya tampak cerah kini menyimpan sesuatu yang lebih waspada.
Sebagai model papan atas, Naura tahu persis bagaimana cara berdiri agar terlihat rapuh sekaligus memikat. Bahunya sedikit merosot, dagunya terangkat tipis, dan tatapannya dibiarkan lembut seolah ia sama sekali tidak menyadari puluhan pasang mata yang diam-diam mengamatinya.
Padahal Naura sangat sadar bahwa hampir semua pria di ruangan ini memandangnya seperti barang lelang. Dan mereka tidak sepenuhnya salah.
Di balik kain halus yang menyentuh pahanya, tersembunyi sebuah belati keramik kecil yang terikat rapat dengan strap tipis.
Dingin logamnya menempel pada kulit Naura, menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa sedikit aman di ruangan yang dipenuhi para serigala berbulu tuksedo ini.
“Tersenyumlah, Naura. Kamera ada di mana-mana.”
Suara bariton rendah itu muncul di sampingnya dengan nada tenang yang tidak memberi ruang untuk bantahan.
Naura menoleh sedikit.
Rafael Adrian Wijaya, berdiri di sana. Dalam setelan tuksedo hitamnya, Rafael tampak seperti sosok CEO muda yang sempurna, tenang, percaya diri, dan penuh karisma. Naura cukup mengenalnya untuk tahu bahwa guratan halus di sekitar mata kakaknya bukan hanya karena kelelahan.
Itu ambisi.
Ambisi yang terlalu besar untuk ditahan.
Naura meneguk sampanyenya sedikit sebelum berbisik pelan, nyaris tanpa membuka bibirnya.
“Jadi… berapa harga yang kalian pasang untukku malam ini, Kak?”
Rafael menatapnya sekilas, jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.
“Naura—”
“Ratusan Milyar?” lanjut Naura dengan nada ringan, seolah sedang bercanda. Ia memutar gelas di tangannya, menatap cairan keemasan di dalamnya. “Atau... lebih?”
Kalimatnya terdengar santai. Namun matanya tidak tersenyum.
Rafael menghela napas pelan sambil melirik sekeliling mereka, memastikan tidak ada tamu yang berdiri cukup dekat untuk mendengar percakapan itu.
“Jangan dramatis, kamu tahu kondisi perusahaan.” katanya akhirnya.
Naura terkekeh pelan. Tawa yang singkat dan kering.
“Benarkah? Karena dari posisiku, ini terlihat sangat dramatis.” Ia menoleh menatap kakaknya. “Kalian menjualku pada Arka Rajendra Mahardika.”
Rafael menegang sedikit.
“Ini hanya pernikahan bisnis, Naura.”
“Dengan pria yang dijuluki Monster oleh dunia bisnis?” Naura mengangkat alis tipis. “Kedengarannya seperti keputusan yang sangat waras.”
“Dua tahun, hanya dua tahun. Setelah itu kamu bisa bebas.” kata Rafael datar.
Naura menatap kakaknya cukup lama hingga Rafael mulai terlihat tidak nyaman. Lalu ia tersenyum tipis.
“Kamu benar-benar gila ya, Kak.”
“Aku hanya menyelamatkan warisan Ayah!” tegas Rafael.
“Dengan menjual adiknya sendiri pada iblis?” Nada suara Naura masih lembut, tapi sesuatu di dalamnya mulai retak.
Rafael akhirnya kehilangan kesabarannya. Ia mendekat sedikit, suaranya turun menjadi bisikan tajam.
“Jangan membuatku mengingatkanmu tentang Dion.”
Nama itu menghantam Naura seperti pukulan. Jari-jarinya langsung menegang di sekitar gelas sampanye.
“Jika kamu menolak ini, aku hanya perlu satu telepon untuk memastikan karier fotografer kecil itu berakhir sebelum matahari terbit.” lanjut Rafael dengan nada yang terlalu santai untuk ancaman seperti itu
Naura terdiam. Ia mematung selama beberapa detik. Sampai kerumunan di dekat pintu aula tiba-tiba bergeser, diikuti riuh kecil yang langsung menyebar di antara para tamu. Beberapa orang menoleh, para fotografer mengangkat kamera mereka, dan dalam hitungan detik perhatian seluruh ruangan tertuju pada satu titik yang sama.
Arka Rajendra Mahardika melangkah masuk.
Ia mengenakan setelan jas navy yang dijahit sempurna, membungkus tubuhnya yang tinggi dan atletis. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara senyum ramah yang menghiasi wajah tampannya membuat beberapa wanita di sekitar pintu masuk langsung berbisik kagum satu sama lain.
Jenis senyum yang membuat para pemegang saham percaya bahwa uang mereka berada di tangan yang tepat. Sedangkan untuk para wanita, senyum itu cukup untuk membuat mereka tersihir.
“Selamat malam semuanya,” sapa Arka dengan suara bariton yang tenang dan mudah didengar bahkan di tengah riuh pesta. “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir malam ini. Selamat menikmati acara malam ini.”Ia tersenyum tipis ketika semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah padanya.
Lalu ia berjalan dengan langkah santai, menyapa beberapa investor dengan jabat tangan singkat sebelum akhirnya mendekat ke arah keluarga Wijaya.
Matanya menemukan Naura hampir seketika. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat bulu kuduk Naura meremang.
“Arka, senang kamu bisa datang tepat waktu.” Surya Wijaya menyambutnya dengan jabat tangan hangat yang sedikit terlalu antusias.
“Tentu saja, Tuan Wijaya. Saya tidak mungkin melewatkan malam ketika saya akhirnya bisa memiliki permata paling berharga di keluarga Anda.” jawab Arka dengan senyum sopan.
Kalimat itu disambut tawa kecil dari beberapa tamu di sekitar mereka, seolah hanya sebuah pujian biasa.
Namun Naura merasakan sesuatu yang lain di baliknya.
Arka kemudian menoleh ke Rafael.
“Rafael. Kudengar progres pembangunan infrastruktur di proyek Kalimantan kalian mengalami sedikit kendala logistik ya.”ujar Arka pelan.
Rafael langsung mengangguk. “Kami memang sedang mengevaluasi beberapa jalur distribusi.”
“Kita bicarakan itu besok di kantorku, aku yakin kita bisa menemukan solusi yang lebih efisien.” kata Arka santai.
“Tentu, dukunganmu sangat berarti bagi kami.” jawab Rafael dengan cepat. Nada suaranya hampir terdengar seperti bawahan yang sedang berbicara pada atasannya.
Kemudian, tanpa tergesa, perhatian Arka beralih sepenuhnya pada Naura.
Ia melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka menyusut perlahan hingga Naura bisa mencium aroma sandalwood yang samar dari tubuh pria itu, aroma yang bersih, mahal, dan entah kenapa terasa berbahaya.
Arka mengambil tangan Naura dengan gerakan yang halus. Ia menunduk sedikit, lalu mengecup punggung tangan itu. Kecupannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Naura Callista Wijaya,” gumamnya lembut.
Ketika Arka mengangkat wajahnya kembali, matanya menatap langsung ke dalam mata coklat Naura dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
“Senang akhirnya bisa bertemu dengan calon istriku secara resmi.” senyumnya melebar tipis.
“Kamu bahkan lebih cantik daripada di majalah Vogue.” pujinya tulus.
Kilatan kamera langsung memenuhi ruangan. Para fotografer berebut mengabadikan momen yang terlihat seperti adegan romantis sempurna.
Naura tersenyum dengan profesional, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun di depan kamera. “Terima kasih, Tuan Mahardika.”
Arka sedikit memiringkan kepala, seolah tidak menyukai panggilan formal itu.
“Panggil aku Arka, Sayang. Kita akan segera menjadi satu keluarga, bukan?”
Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Naura, cukup dekat sehingga hanya Naura yang bisa mendengar kalimat berikutnya.
“Simpan ketakutanmu untuk malam pengantin kita sayang.”
Tubuh Naura langsung menegang.
“Aku tahu kamu punya banyak rahasia di balik wajah cantik ini. Dan aku sangat tidak sabar mengulitinya satu per satu.” lanjut Arka pelan.
Arka menarik diri sebelum Naura sempat bereaksi.
Senyumnya kembali sempurna ketika ia menoleh ke arah kamera-kamera yang masih menyala.
Di depan publik, mereka tampak seperti pasangan impian. Namun bagi Naura, perang baru saja dimulai.
Arka melingkarkan tangan Naura ke lengannya seolah itu hal yang biasa.
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.
Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.
Ini perintah.
****
Langit Jakarta pagi itu tampak kelabu, seolah turut berduka atas reputasi yang sedang hancur lebur di dasar jurang. Gedung agensi Starlight Entertainment yang biasanya menjadi tempat Naura Callista Wijaya merasa seperti ratu, kini terasa seperti tiang gantungan yang siap menjerat lehernya.Naura melangkah keluar dari mobil dengan langkah yang dipaksakan teguh. Ia mengenakan setelan blazer hitam oversized dari Balenciaga untuk menyembunyikan tubuhnya yang semakin kurus karena stres, outfitnya dipadukan dengan kacamata hitam besar yang menutupi matanya yang bengkak akibat kurang tidur. Rambut blonde yang baru saja menjadi kebanggaannya kini justru terasa seperti beban yang menarik kepalanya ke bawah. Di sampingnya, Vanessa berjalan dengan wajah sepucat kertas, jemarinya tak henti mengetik di ponsel yang terus bergetar."Ingat, Ra. Jangan sampai terpancing emosi ya, kita harus tetap tenang. Semua ini pasti bisa kita lewati dengan baik," bisik Vanessa saat mereka sampai di depan pintu jati
Tatkala kesadarannya kembali pulih, Naura berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk. Namun sialnya, apa yang mereka lakukan beberapa menit lalu adalah sebuah kenyataan yang membuatnya ingin menghilang saja dari bumi ini.Saat akhirnya ia memberanikan diri melirik ke bawah, napasnya hampir terhenti. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pahanya basah. Cairan itu merembes di antara lipatan kulitnya, menyebar hingga membasahi sofa.Naura memejamkan mata sejenak, tersengat rasa malu yang menyesakkan dada. Ini benar-benar gila. Apa yang baru saja terjadi bersama monster itu adalah hal paling mustahil yang pernah ia bayangkan. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah ini.“Sekarang sudah paham, Naura?” Suara rendah Arka mengudara, membelah kekacauan di kepala Naura. “Lain kali, ingat ini sebelum berpikir untuk menjadi pengkhianat kecil!”Sorot puas bercampur gairah masih tercetak jelas di iris gelap pria itu. Arka mengusap pi
“Cincin yang bagus, Naura.” Sarkasnya tajam.Deg…Jantung Naura berdegup kencang. Kalimat itu lebih tajam dari belati yang diam-diam ditancapkan ke dadanya. Reflek matanya melirik ke cincin berlian yang tersemat rapi di jari manisnya pemberian Dion waktu itu.‘Naura bodoh.’ Ia memaki dirinya sendiri dalam hati.Dengan suara yang tenang, ia mencoba mencairkan kecurigaan yang sudah jelas terpancar di mata Arka.“Ah, iya ini salah satu koleksi cincin favoritku. Bagus, kan?” jawab Naura santai. Ia mengangkat dagu sedikit berpura-pura percaya diri.Arka tidak menjawab. Ia mengambil tangan Naura dengan gerakan tiba-tiba, lalu memperhatikan cincin itu dengan tatapan tajam. Jemari Naura menegang saat ia merasa cincin itu dilepas paksa dari jari manisnya.“Arka, kenapa dilepas? Itu cincin kesukaanku. Cepat kembalikan!” serunya, panik mulai merayapi hatinya. Takut pria itu melakukan hal gila.Arka meneliti cincin itu dengan ibu jari dan telunjuknya, bibirnya menyeringai penuh ledekan. “Cincin ke
Di taman belakang mansion yang dipenuhi lampu gantung kecil bernuansa hangat, suasana jauh lebih ringan. Naura duduk bersama Jesslyn dan Tiffany di area gazebo, ditemani teh hangat dan dessert kecil. Tawa ringan sesekali terdengar.Tiffany bahkan merangkul bahu Naura dengan penuh kasih sayang. “Jangan pikirkan berita sampah itu, Ra. Mami tahu kamu anak yang baik. Orang-orang hanya iri dengan kecantikanmu.” Suara Tiffany lembut, tulus.Naura menatap wanita itu sebentar. Ia tidak menyangka akan mendapat dukungan sebesar ini. “Terima kasih, Mami. Sudah percaya denganku.”Tiffany tersenyum hangat. “Pokoknya kamu jangan sampai down, ya. Tenang saja, Arka pasti akan membantumu memulihkan skandal itu.”Naura mengangguk pelan. Ada rasa aneh yang menghangat di dadanya.“Kamu tahu, Mami dan keluarga Wijaya sudah lama sekali menginginkan pernikahan ini. Iya, kan, Jess?” lanjut Tiffany.Jesslyn tersenyum. “Iya, benar sekali. Bahkan kita sudah saling kenal sejak lama. Mungkin dari Rafa dan Arka mas












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews