LOGINUntuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Naura Callista Wijaya terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan pria yang paling ia takuti. Arka Rajendra Mahardika, CEO kejam yang dijuluki monster di dunia bisnis. Satu tanda tangan di atas kertas… dan hidup Naura tidak lagi menjadi miliknya. Ia harus meninggalkan Dion, pria yang ia cintai, untuk menikahi sang monster dan menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria yang katanya tidak memiliki hati. Setidaknya… itu yang ia pikirkan. Karena setelah menikah, Naura mulai menyadari sesuatu yang mengganggu. Arka tidak pernah memperlakukannya seperti istri kontrak.Tatapannya terlalu posesif.Sentuhannya terlalu menuntut. “Selama kamu memakai namaku... kamu adalah milikku, Naura." bisiknya dingin di telinga Naura. Masalahnya… pria yang Naura tinggalkan belum benar-benar menyerah. Dan monster seperti Arka tidak pernah berbagi apa yang menjadi miliknya. Ketika dua pria itu akhirnya berhadapan, Naura sadar bahwa pernikahan ini bukan sekadar kontrak, Ini adalah perang yang bisa menghancurkan semuanya.
View MoreVanessa terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. Kemudian ia menatap lurus ke arah Naura. "Studio baru Dion... kebakaran kemarin pagi, Ra."Deg.“APAA?”"Bagaimana bisa... kebakaran?" suara Naura tercekat di tenggorokan. Seluruh tubuhnya mendadak terasa lemas hingga ia harus bertumpu pada pinggiran konter dapur agar tidak limbung. "Dion... Dion baik-baik saja, kan? Dia tidak ada di dalam sana saat kejadian, kan, Van?""Tenang, Ra. Tenang dulu," sahut Vanessa cepat sambil memegang kedua bahu Naura, berusaha meredam kepanikan sahabatnya. "Dion aman. Dia selamat dan tidak terluka sedikit pun karena saat api membesar kemarin subuh, dia sedang tidak ada di studio."Naura menghembuskan napas lega, tetapi rasa sesak di dadanya tidak berkurang sedikit pun. "Lalu penyebabnya apa? Studionya baru saja selesai direnovasi. Semuanya masih baru, Van. Kenapa bisa?""Kabar dari polisi sih karena korsleting listrik di ruang penyimpanan alat," jawab Vanessa santai sambil membetulkan
Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden tipis di apartemen mewah milik Naura, menumpahkan semburat keemasan yang menghangatkan lantai kayu. Di atas ranjang, Naura menggeliat sebelum membuka mata perlahan.Selama beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Potongan-potongan kejadian semalam kembali berkelebat di benaknya.Senyum Arka.Tatapan pria itu.Ciuman singkat di keningnya sebelum mereka berpisah.Tanpa sadar, sudut bibir Naura terangkat membentuk senyum tipis. Sesaat kemudian ia langsung tersadar."Tunggu..." gumamnya sambil mengerjapkan mata beberapa kali. "Kenapa aku malah senyum-senyum sendiri sih?"Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. "Astaga, Naura. Sadar." Detik berikutnya, kepalanya menggeleng cepat, berusaha mengusir bayangan Arka yang tiba-tiba memenuhi pikirannya."Pasti ini karena masih ngantuk."Semakin ia mencoba meyakinkan diri, sosok pria itu justru semakin jelas terlintas di benaknya. Pria m
"Perempuan mana lagi yang kamu ajak tidur sampai segarang itu sebelum ditembaki di jalan, hm?" katanya sambil menggeleng pelan. "Seleramu boleh juga, Bro." Senyumnya semakin lebar.Arka menurunkan gelas whisky ke atas nakas dengan ketukan pelan. Bunyi kristal yang beradu dengan permukaan kayu jati terdengar jelas di tengah keheningan kamar. Ia menghembuskan napas panjang, membiarkan hangatnya alkohol membakar kerongkongan, lalu kembali menyandarkan tubuh ke kepala ranjang tanpa sedikit pun terusik oleh ledekan sahabatnya."Itu dari calon istriku," jawab Arka singkat. Suaranya berat dan tenang, tetapi sarat penegasan yang tak memberi ruang untuk dibantah.Bagas langsung terdiam. Tangannya yang hendak merapikan botol antiseptik membeku di udara. Kedua alisnya terangkat bersamaan. Ia memajukan wajah sedikit, menatap Arka lekat-lekat seolah baru saja mendengar pengakuan paling mustahil di dunia."Calon istri?" ulang Bagas penuh sangsi, matanya menyipit. "Maksudmu... Naura? Model papan atas
Sepuluh menit setelah meninggalkan unit apartemen Naura, sedan hitam antipeluru yang membawa Arka melaju membelah jalanan ibu kota. Kendaraan mewah itu mengambil jalur melalui kawasan industri tua yang menghubungkan langsung ke kompleks Mansion Arka.Gerimis tipis membasahi aspal hingga memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Bahkan truk-truk logistik yang biasanya masih hilir mudik pada jam seperti ini pun tak terlihat satu pun. Jalan sepanjang beberapa ratus meter itu terasa lengang, nyaris mati, seolah sengaja dikosongkan.Arka menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi belakang. Jemarinya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri. Senyum tipis sempat terukir di bibirnya, tetapi lenyap begitu saja saat bayangan dokumen jalur selatan yang berhasil dibobol kembali memenuhi pikirannya.CIIIITTTTT!Suara decitan ban memekakkan telinga. Sedan itu mengerem mendadak hingga tubuh Arka terlempar ke depan. Beruntung refleksnya masih cukup cepat untuk menahan tubuh dengan lengan yang menghantam
Sayangnya, yang membuat jantungnya seolah diremas adalah apa yang terhampar di atas tempat tidur dan apa yang terlihat di dalam walk in closet yang pintunya terbuka setengah.Matanya membelalak sempurna saat menatap deretan gaun malam rancangan desainer ternama yang tergantung rapi berdasarkan grada
Tatapan Arka mengunci Naura tanpa ampun. Jarak yang tersisa di antara mereka begitu tipis hingga Naura bisa menangkap kilatan kemarahan sekaligus rasa memiliki yang begitu pekat di manik mata pria itu. Keheningan di dalam ruangan terasa semakin mencekik, hanya menyisakan deru napas yang saling berke
“Bagaimana cara aku menghadapi monster itu nanti? Arghh, sialan.” Pekiknya tertahan sambil mencak-mencak di atas kasur.Di tengah kekacauan pikirannya yang terasa nyaris meledak, suara pintu walk-in closet yang bergeser terbuka membuat Naura tersentak. Ia segera mengangkat kepala.Arka melangkah kel
“See? Jarimu bahkan sengaja mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh ototku, kan?” cibir Arka dengan nada rendah yang sangat menyebalkan. Pria itu sengaja menekan telapak tangan Naura agar semakin menempel erat di atas guratan perut berototnya.Naura menelan salivanya dengan susah payah. Badannya sep
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews