LOGINDengan cepat aku lepaskan pelukanku bersama Alya. Aku berdiri dengan jantung yang berdetak cukup kencang.“Kenapa, Malik?” tanya Alya. Di belum sadar, ada orang lain selain kami berdua.Aku tidak menjawab, hanya berdiri membeku sambil menatap tiga orang yang berdiri menatap tajam ke arahku. Jelas, kilatan marah terpancar nyata yang terarah padaku.“Jadi ini kelakuanmu, Malik?!” sentak ayah.Refleks Alya berdiri, membalikkan badan ke arah keluarga Arin yang tiba-tiba datang ke sini, tanpa memberi kabar terlebih dahulu.“Pantas perasaan Ibu tidak enak. Kamu bermain gila ternyata dengan wanita lain!” tunjuk ibu ke arahku dan juga Alya.Napas mereka memburu, aku tahu mereka tengah emosi. Sementara Vita berusaha menenangkan keadaan.“Ayah, Ibu, aku bisa jelaskan semuanya. Apa yang kalian lihat, bukan seperti yang kalian pikirkan,” ucapku.“Mau mengelak? Basi! Kamu sudah tertangkap basah. Katakan, siapa dia?” tanya ayah.“Aku mantannya Malik, Om, Tante!” timpal Alya.Sial! Alya hanya memper
Setelah Alya pergi, bergegas aku berkemas lantas keluar dari ruangan ini.Sepanjang perjalanan aku terus merenungi perasaanku. Bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin aku benar-benar telah jatuh cinta pada Arin? Namun, kenapa cinta itu harus datang terlambat, setelah orangnya pergi?Aku menggigit ujung jari jempolku, dengan siku bertumpu di jendela mobil yang sengaja kubuka. Energiku cukup terkuras oleh emosi yang ada dalam diriku.Beberapa kali aku membunyikan klakson saat terjadi kemacetan. Perasaan yang sedang tidak baik-baik saja, ditambah keadaan jalan yang macet seperti ini. Cukup menguji kesabaranku.Sekitar sepuluh menit terjebak macet, akhirnya jalanan pun kembali lancar. Dengan kecepatan tinggi, kulajukan mobil ini hingga aku telah sampai di depan rumah.Menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Mengusap ranjang yang pernah kami tiduri bersama. Ya, aku dan juga Arin. Aku teringat akan kejadian itu, kejadian yang tidak disengaja, yang membuat kami bersatu dalam peluh kebahagiaan
“Kembalikan, itu bukan apa-apa!” Aku berusaha merebut kertas yang ada di tangan Alya.Alya menjauh, dia turun dari mejaku. Dia berjalan sambil membawa kertas itu.“Kalau bukan apa-apa, kenapa kamu sampai takut segitunya?”Alya menatap serius ke arah kertas itu. Bahkan dia beberapa kali menepis tanganku, saat kucoba merebut kertas itu dari tangannya.“Malik, ja-jadi ….”Aku menghela napas kasar, Alya sudah terlanjur membaca isi kertas yang berupa surat kesepakatan kontrakku bersama Arin.“Kalian nikah kontrak?” tanya Alya. Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.Terbongkarlah sudah, Alya telah mengetahui statusku bersama Arin.“Jelaskan padaku, kenapa kalian melakukan hal ini? Jelas ini melanggar, Malik!” ucap Alya. Dia menuntut penjelasan dariku.Aku terdiam menunduk, aku duduk sambil merenung. Alya mendekat, dia mengangkat daguku, terpaksa aku harus beradu mata, walaupun rasanya tidak nyaman dalam keadaan situasi seperti ini.“Jawab, Malik. Kenapa kalian melakukan ini? Pa
(POV Malik)Hari-hari telah berlalu, bahkan minggu pun telah berganti bulan. Sejak saat kepergian Arin, belum pernah aku berhenti mencari keberadaannya. Bahkan semua anak buahku kukerahkan. Tidak hanya itu, aku pun menambah anggota anak buah, berharap dan berharap bisa lebih membantu menemukan Arin.“Bagaimana? Apakah sudah ada perkembangan?”“Maaf, Pak Malik. Kami sudah berusaha, tapi sampai saat ini kami masih belum bisa menemukannya,” ucap salah satu anak buahku.Aku mengangkat sebelah tanganku ke udara. Mengisyaratkan supaya mereka keluar dari ruanganku.Entah harus berusaha seperti apa lagi. Perginya Arin seperti ditelan bumi. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda keberadaannya di mana.“Maaf, Bang Malik. Aku belum bisa menemukan mbak Arin. Temanku juga belum ada yang berhasil. Abangku susah sekali dihubungi, dia terlalu sibuk bekerja. Tapi aku sudah mengirimkan fotonya,” ucap Delon di dalam sebuah pesan masuk.Aku menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi. Kuputar-putar kursi y
(POV Raka)“Mau untung malah buntung, sial sekali aku malam ini, yang seharusnya menang banyak tapi malah mendapat ancaman besar.”Sepanjang jalan terus menerus aku merutuki nasibku yang selalu tidak mujur. Baru saja aku akan mendapatkan uang banyak. Namun, sialnya aku harus gagal.Lelaki itu, aku masih ingat lelaki yang sok-sokan menjadi pahlawan kesiangan itu. Dia adalah suami barunya Arin. Kesal sekali, kini aku tidak mendapatkan uang sepeser pun karena ulahnya.Dipecat dari pekerjaan, rumah disita, tabungan raib, dan Gita pergi. Lengkap sudah penderitaanku. Sempurna sekali nasib burukku. Entah dosa apa yang aku lakukan selama ini.Aku pikir Gita tidak akan seberani itu pergi dariku. Pasalnya Gita tidak memiliki tempat tujuan selain rumahku. Namun, sayangnya dia pergi, bersama hilangnya harta benda yang aku miliki.Awalnya aku mengira Gitalah yang mengambil semua yang aku miliki. Aku marah, aku sempat kecewa padanya. Namun, aku salah besar. Seorang juragan datang ke rumahku, mengus
“Bang Malik!”Aku terperanjat, melihat seseorang yang nyaris aku tabrak ini. Aku membantunya bangkit lalu membawanya ke pinggir jalan.“Sorry-sorry … apa ada yang luka?” tanyaku.“Tidak, Bang. Aku yang harusnya minta maaf. Soalnya aku yang salah, nyebrang sembarangan!” jawabnya.Aku meneliti keadaannya dari atas hingga ke bawah. Memang tidak ada yang luka. Syukurlah … aku pikir aku akan mendapatkan masalah baru malam ini.“Kamu … Delon, kan?” tanyaku memastikan.“Iya betul, aku Delon, Bang, adiknya teman Bang Malik. Sudah lama kita nggak ketemu, Abang nggak pernah lagi main ke rumah. Bagaimana kabarmu, Bang?” jawabnya.Ternyata benar, dia adalah Delon, adik sahabatku waktu kuliah dulu.“Kabarku baik, aku sibuk kerja, maaf. Kenapa malam-malam begini kamu lari-larian di jalan? Walaupun sepi tapi ini sangat bahaya. Ngomong-ngomong, sama siapa kamu di sini? Apa sama abangmu?” tanyaku. Aku menoleh ke sana kemari.“Aku sendiri, Bang. Aku habis nganter pacarku pulang habis nonton. Tapi tiba-







