LOGIN“Em … Bibi serius aku harus melakukannya?” tanyaku tidak percaya.Bi Saroh mengangguk mantap. Seakan usul yang dia berikan adalah jalan pintas yang terbaik.“Kenapa tidak? Selama itu bisa membuat Mbak Arin bertahan di sini, gas saja!” jawab bi Saroh dengan mantapnya.Beberapa kali bi Saroh mengangguk memberikan sebuah dorongan padaku. Dukungan yang teramat besar. Namun, aku ragu dengan ide bi Saroh.“Tapi … aku–”“Bibi yang akan membantu, Mbak Arin hanya tinggal eksekusi saja,” potongnya.Aku merenung, keterdiamanku mengandung keraguan yang teramat.“Memang sedikit ekstrim, tapi selama itu bisa membuat Mbak Arin dan mas Malik bersatu, kenapa tidak?” lanjut bi Saroh.“Aku akan pikirkan nanti, Bi. Terus sekarang, apa yang mesti aku lakukan?” tanyaku. Seketika aku menjadi bodoh, tidak tahu harus apa, bagaimana, dan … semua buntu karena Alya ada di sini.Bi Saroh mengetuk-ngetuk dagunya dengan bola mata terarah ke atas. Wanita ini tengah berpikir.“Ajak mas Malik belanja, berlakulah seman
Selera makanku hilang, aku pun beranjak dari sofa dan meninggalkan tempat ini.“Loh, kenapa nggak dimakan?” tanya Malik.Sekilas aku melirik ke arahnya, tanpa menghiraukan keberadaan Alya di rumah ini.“Sudah kenyang!” jawabku.Maksudku … kenyang makan hati.Aku pun kembali melanjutkan langkahku. Menaiki anak tangga dan mengunci diri di dalam kamar.Bersandar pada partisi kayu ini, aku menumpahkan tangisanku karena Malik. Seharusnya dia menghargai keberadaanku di sini, bahkan aku pernah mengutarakan perasaanku padanya. Namun, apa yang terjadi? Terang-terangan dia menyakitiku dengan membawa Alya ke sini.“Apa mungkin ini caramu untuk menyingkirkan aku dari hidupmu, Malik?” Merosot ke lantai, aku membenamkan wajahku di antara dua lutut. Terdiam dengan rasa sedih yang aku seorang diri yang merasakannya.Mereka seakan menari-nari di atas penderitaanku.Tok! Tok! Tok!Seketika suara pintu terdengar memecah keheningan yang ada. Tidak ada niat untuk membukakan pintu tersebut. Aku tahu pasti
Nyes!Hatiku seakan teriris melihat pesan tersebut. Pasalnya kontak yang mengirim pesan tersebut bernama Alya.Aku merenungi pesan tersebut. Jika Alya mengirimkan kata-kata jika dia juga merindukan Malik, itu berarti Malik yang lebih dulu mengatakan merindukan Alya.Hatiku semakin berdenyut nyeri. Sakit, Ya Tuhan … ini terlalu sakit untuk kuketahui.Sudah kuduga, bahwa Malik bahagia atas putusnya Alya dengan Dion. Lalu, bagaimana dengan diriku yang sudah terlanjur mencintai Malik?“Kenapa, Tuhan?” gumamku.Aku memegangi dadaku, mencoba untuk tetap tenang walaupun sebenarnya aku tidak bisa. Aku tidak mampu.Aku melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, cukup lama. Sejenak aku berpikir, seandainya aku mencari tahu tentang pesan dari Alya, mungkin masih ada banyak lagi pesan yang lain. Aku semakin penasaran, menduga memang ada pesan lain di ponsel Malik bersama Alya.Otakku menuntunku untuk mengambil ponsel itu. Namun, hatiku menolak, dan … ya … akhirnya hatiku yang ka
“Malik, akhirnya kamu pulang!” sapa Alya.Malik membeku, menatap heran ke arah Alya. Tampaknya Malik terkejut dengan keberadaan Alya di rumah ini.“Alya, kenapa kamu ada di sini?” tanya Malik. Dia melirik ke arah sofa. Bisa kutebak, pasti dia mencari Dion.Alya menyeka air matanya, ternyata dia menangis.“Tadi tidak sengaja aku bertemu Arin di cafe. Jadi … aku ikut dia ke sini. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Malik,” jawab Alya. Dia meraih tangan Malik.Dan … ya, wajah Malik tidak bisa berbohong. Lengkungan senyum terukir di wajah lelaki itu. Dia bahagia ada Alya di sini.“Apa kabar kamu sekarang?” tanya Alya, dia meneliti keadaan Malik.“Baik, aku baik-baik saja,” jawab Malik.Bahkan keberadaanku di rumah ini hanya seperti patung yang tiada artinya. Mereka hanya fokus pada diri mereka.“Ehem … Alya, suamiku baru pulang. Saya akan mengurusnya, dia pasti capek dan lapar,” timpalku.Aku mendekati Malik, kurebut tangan Malik dari tangan Alya. Kugandeng suamiku menuju ruang makan.
“Mau ngapain?” tanyaku lirih.“Aku mau minta maaf sama Malik, Rin. Bagaimana pun aku yang salah. Aku tidak mendengarkan ucapan Malik, dan … lihatlah! Sekarang semuanya terbukti, Dion tidak sebaik aku kira,” jawab Alya.Aku terdiam membeku, entah apa yang harus aku katakan pada Alya. Jujur aku tidak ingin Alya datang ke rumah Malik. Aku tidak rela, aku tidak ingin perasaan Malik kembali menggebu saat melihat Alya.“Arin, kenapa diam? Apa aku tidak boleh datang ke rumah Malik?” tanya Alya. Dia berhasil membuyarkan lamunanku.Aku menggelengkan kepala cepat. Menyunggingkan senyuman yang terpaksa.“Tidak, bukan begitu. Bo-boleh … boleh, kok!” jawabku.Walaupun aku ragu, akhirnya aku meminta pak Murad untuk segera melajukan mobilnya menuju arah pulang.Sepanjang perjalanan aku hanya diam dengan beribu lamunan yang berputar di kepalaku. Ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, semua bercampur baur menjadi satu.Tidak ada sepatah kata pun ucapan yang keluar dari mulutku. Aku tidak ada semangat u
“Kurang ajar!” pekik seseorang yang ada di belakangku.Penasaran, aku menoleh ke arah belakangku. Aku terhenyak, melihat seseorang berdiri dengan bahu berguncang hebat menahan amarah.“Alya,” gumamku.Alya melirik sekilas ke arahku. Tatapannya kembali lurus pada pemandangan yang sebelumnya membuatku tidak percaya.Di sana, tepat di meja seberang mejaku. Mas Dion duduk bermesraan dengan seorang wanita yang masih terlihat muda. Bukan ibunya. Namun, wanita itu terlihat asing.“Sabar, Alya!” ucapku lirih.Alya menggeleng pelan, aku paham pasti dia sakit hati melihat tunangannya bersama wanita lain. Lelaki yang ia banggakan, yang membuatnya rela meninggalkan lelaki yang mencintainya sepenuh hati, Malik. Namun, memgkhianati dengan begitu teganya.Alya berjalan cepat mendekati mereka berdua.Brak!Suasana ramai di cafe itu tiba-tiba berubah hening dan berubah menjadi suara bisikan-bisikan lembut di antara semua pengunjung. Perhatian para pengunjung seketika terarah pada Alya, mas Dion dan wa







