Masuk“Mandi, dan pakai gaun itu!” seru Malik.Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Menatap gaun yang ada di tanganku. Sangat indah, berwarna biru muda dengan desain yang apik dan juga elegan.“Ini … buatku?” tanyaku.“Buat bi Saroh!” celetuk Malik.Aku berdesis. Namun, aku kembali menyunggingkan senyuman. Bahagia sekali aku mendapatkan sesuatu dari lelaki yang aku cintai.“Memangnya ada acara apa, sampai aku harus memakai gaun ini? Apakah ada pesta … atau ada acara makan malam?” tanyaku penasaran.“Teman SMA-ku mengadakan acara reuni malam ini. Semua yang hadir harus membawa pasangan masing-masing. Cepat mandi, dandan yang cantik. Aku tidak bisa menunggu lama. Aku tunggu di bawah!” jawabnya.Apa yang Malik bilang barusan, sungguh membuatku terkesan dan bahagia. Bagaimana tidak, dia mengajakku ke acara reuni itu, sebagai pasangannya. Itu artinya … Malik sudah mulai menerimaku sebagai pasangannya.Malik pun keluar dari kamarku. Tanpa berlama-lama lagi, bergegas aku memasuki kamar mandi.Bahk
Aku kembali duduk, ketika beberapa pengunjung memperhatikan ke arahku. Aku berusaha untuk tenang walaupun sebenarnya emosi sudah mulai menguasai diri. Ku rapikan tata letak gelas yang tergeletak tidak beraturan di atas meja karena ulahku.“Aku mohon, Arin. Please! Aku masih mencintai Malik, kami saling mencintai. Jangan halangi hubungan kami berdua,” mohon Alya. Dia meraih kedua tanganku, menggenggamnya dengan erat, sebagai isyarat permohonan.Seenak jidat Alya berkata seperti itu. Permintaan macam apa ini. Bisa-bisanya dia tidak menghargai perasaanku dan juga posisiku.“Tapi aku istrinya Malik. Aku sudah tidak mau menyatukan kalian berdua. Karena apa? Waktu itu kamu ke mana saja, Al? Aku sudah berusaha mempersatukan kamu dan Malik, membantu Malik meyakinkan bahwa kamu lebih baik bersanding dengan Malik. Tapi sayangnya, kamu sudah buta karena Dion.” Aku menjeda ucapanku. Kuatur napasku yang memburu.“Tapi maaf, Alya. Dulu aku memang tidak mencintai Malik, sehingga aku berusaha keras u
Kring!Belum sempat kami melakukannya, dering ponsel milik Malik seketika mengganggu kami.Kami saling menjauh, aku membuang muka ke arah jendela. Sementara Malik, dia mengangkat panggilan telepon yang entah dari siapa.“Iya, Al. Ada apa?” sapa Malik.Kedua tanganku spontan mengepal kuat. Bisa kutebak, pasti Alya yang menelpon Malik. Bisa-bisanya Alya mengganggu acara romantis kami. Seakan dia tahu apa yang akan kami lakukan, dan seakan dia ingin mengacaukannya.“Ah, iya. Tidak apa-apa, santai saja. Aku sedang ada di jalan pulang. Aku tutup teleponnya,” ucap Malik sebelum dia menutup teleponnya.Napas panjang kuhembuskan. Aku melirik ke arah Malik, dia tengah menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.“Dari Alya?” tanyaku.“Ya, dia memberitahuku kalau ada barang dia yang tertinggal di rumahku,” jawabnya.Mood-ku seketika hilang. Kenapa harus ada nama Alya di waktu yang tidak tepat? Alya … aku menjadi berpikir buruk padanya. Mungkin saja barang yang tertinggal itu, adalah murni
“Em … Bibi serius aku harus melakukannya?” tanyaku tidak percaya.Bi Saroh mengangguk mantap. Seakan usul yang dia berikan adalah jalan pintas yang terbaik.“Kenapa tidak? Selama itu bisa membuat Mbak Arin bertahan di sini, gas saja!” jawab bi Saroh dengan mantapnya.Beberapa kali bi Saroh mengangguk memberikan sebuah dorongan padaku. Dukungan yang teramat besar. Namun, aku ragu dengan ide bi Saroh.“Tapi … aku–”“Bibi yang akan membantu, Mbak Arin hanya tinggal eksekusi saja,” potongnya.Aku merenung, keterdiamanku mengandung keraguan yang teramat.“Memang sedikit ekstrim, tapi selama itu bisa membuat Mbak Arin dan mas Malik bersatu, kenapa tidak?” lanjut bi Saroh.“Aku akan pikirkan nanti, Bi. Terus sekarang, apa yang mesti aku lakukan?” tanyaku. Seketika aku menjadi bodoh, tidak tahu harus apa, bagaimana, dan … semua buntu karena Alya ada di sini.Bi Saroh mengetuk-ngetuk dagunya dengan bola mata terarah ke atas. Wanita ini tengah berpikir.“Ajak mas Malik belanja, berlakulah seman
Selera makanku hilang, aku pun beranjak dari sofa dan meninggalkan tempat ini.“Loh, kenapa nggak dimakan?” tanya Malik.Sekilas aku melirik ke arahnya, tanpa menghiraukan keberadaan Alya di rumah ini.“Sudah kenyang!” jawabku.Maksudku … kenyang makan hati.Aku pun kembali melanjutkan langkahku. Menaiki anak tangga dan mengunci diri di dalam kamar.Bersandar pada partisi kayu ini, aku menumpahkan tangisanku karena Malik. Seharusnya dia menghargai keberadaanku di sini, bahkan aku pernah mengutarakan perasaanku padanya. Namun, apa yang terjadi? Terang-terangan dia menyakitiku dengan membawa Alya ke sini.“Apa mungkin ini caramu untuk menyingkirkan aku dari hidupmu, Malik?” Merosot ke lantai, aku membenamkan wajahku di antara dua lutut. Terdiam dengan rasa sedih yang aku seorang diri yang merasakannya.Mereka seakan menari-nari di atas penderitaanku.Tok! Tok! Tok!Seketika suara pintu terdengar memecah keheningan yang ada. Tidak ada niat untuk membukakan pintu tersebut. Aku tahu pasti
Nyes!Hatiku seakan teriris melihat pesan tersebut. Pasalnya kontak yang mengirim pesan tersebut bernama Alya.Aku merenungi pesan tersebut. Jika Alya mengirimkan kata-kata jika dia juga merindukan Malik, itu berarti Malik yang lebih dulu mengatakan merindukan Alya.Hatiku semakin berdenyut nyeri. Sakit, Ya Tuhan … ini terlalu sakit untuk kuketahui.Sudah kuduga, bahwa Malik bahagia atas putusnya Alya dengan Dion. Lalu, bagaimana dengan diriku yang sudah terlanjur mencintai Malik?“Kenapa, Tuhan?” gumamku.Aku memegangi dadaku, mencoba untuk tetap tenang walaupun sebenarnya aku tidak bisa. Aku tidak mampu.Aku melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, cukup lama. Sejenak aku berpikir, seandainya aku mencari tahu tentang pesan dari Alya, mungkin masih ada banyak lagi pesan yang lain. Aku semakin penasaran, menduga memang ada pesan lain di ponsel Malik bersama Alya.Otakku menuntunku untuk mengambil ponsel itu. Namun, hatiku menolak, dan … ya … akhirnya hatiku yang ka







