Compartilhar

6. Adrian Dan Pacarnya

last update Data de publicação: 2026-04-28 08:19:22

Fyuh, beruntung A’luka sampai juga ke kelas setelah melakukan adegan kekerasan fisik.

Di tengah jalan... A’luka malah ditatap intens oleh abang terakhirnya di depan gerbang. Karena abang-abangnya sudah sangat kaya menggunakan bakat masing-masing untuk berkarier, dia anak terakhir harus dimanja walaupun karena berbagai alasan dia harus tinggal bersama paman dan bibinya.

"Hahaha, sudah berapa lama Kakak jadi maskot di situ?" A’luka bergerak waspada memantau keadaan sekitar dengan takut-takut.

Wajah cowok itu menyeringai lebar seperti Joker. Tubuhnya kurus tapi sangat tinggi bak tiang gantung bendera merah putih. Giginya sangat rapi sampai membuat mata iri karena terlalu putih. Nama abang keenamnya ini Azril. Dia tipe orang yang sangat taat agama sampai bisa membuat hati adem saat azan di masjid terdekat.

"Kenapa perlu waktu lama untuk datang ke sekolah?!!!!"

"Itu... Kak. Bibi dari bibinya dari bibi pamannya terus ke kakeknya menyambung ke buyutnya datang dan mengganggu adik cantikmu." (⁠*⁠^⁠3⁠^⁠)⁠/ Beginilah ekspresi A’luka jika di depan Azril.

"Uhuk uhuk uhuk, kamu..." Sebelum Azril sempat selesai bicara, batuk ganas membuatnya terhenti. Dengan tergesa-gesa dia mencari di seluruh seragam sekolahnya sampai menemukan kotak persegi panjang kecil di sakunya. Dia membukanya sangat cepat dan menelan beberapa pil di dalam. Jangan salah paham, ini bukan pil obat-obatan atau sejenis herbal apa pun. Yang mirip pil itu hanya permen mint yang menyamar jadi obat. Azril batuk memang tidak palsu, tapi dia bersikeras untuk tidak berobat, karena dalam keyakinannya yang tidak dapat digoyahkan, semua penyakit itu datangnya dari Allah dan Allah juga yang menyembuhkan.

Ini sudah menjadi mayoritas: orang baik cepat mati, orang jahat panjang umur.

"Aku pergi." Selagi kakaknya masih batuk keras, A’luka cepat kabur dari TKP.

Azril yang ditinggal berwajah merah. Dia tidak berdaya dan meloloskan A’luka begitu saja.

Tunggu saja nanti, A’luka. Kakak akan menghukum kamu.

......

Adrian sedang menyetir mobilnya menuju bandara. Inilah alasan kenapa dia tidak mengantar A’luka ke sekolah kali ini. Dia ada janji dengan pacarnya di luar negeri. Pacarnya ini berniat datang ke kotanya. Tentu saja sebagai pacar dia harus datang dan menjemputnya di bandara, bukan?

Caca, mantan teman kuliahnya waktu di luar negeri. Caca sudah lama suka sama Adrian. Sahabat yang lembut dan setia bertahun-tahun. Dia tahu Adrian kembali ke kotanya, tapi dia tidak menyangka Adrian malah jadi dekat sama bocah ingusan yang belum merasakan kejamnya dunia.

Caca jelas tidak senang. Tapi dia mengerti ada dendam antara Adrian dengan A’luka, jadi dia tidak bisa asal marah-marah. Karena takut kehilangan, dia tahan rasa cemburu dan pura-pura jadi pacar perhatian. Meski begitu, rasa khawatirnya makin menjadi. Dia takut Adrian sungguh-sungguh jatuh hati ke A’luka. Jadi hari ini, dia meninggalkan pekerjaannya dan langsung terbang ke sini.

Adrian sudah tahu Caca akan datang, jadi dia izin cuti pagi ini dan tidak mengantar A’luka ke sekolah. Ada sedikit rasa bersalah karena main di belakang A’luka, tapi dia tetap ke bandara lebih awal untuk menjemput Caca, karena bagaimanapun dia tetap pacar aslinya.

Adrian menunggu sebentar sampai akhirnya melihat Caca turun dari pesawat. Seksi, berpayudara jumbo, ramping, pakai kemeja wanita putih yang menonjol, bawa tas simpel. Gayanya sangat familiar untuk Adrian. Begitu masuk ke mobil, dia duduk di kursi penumpang depan dengan natural, senyum tipis. "Kamu sudah lama menungguku?"

Adrian balas tersenyum. "Enggak, aku baru saja datang beberapa menit lalu."

Pertama, Adrian sibuk menyajikan sarapan pagi ke A’luka dan membereskan rumah mereka berdua. Setelah itu semua, dia datang ke bandara dan menjemput Caca kemudian membawanya ke restoran tenang dan romantis. Sambil tersenyum, Adrian mendorong kotak kecil ke depan Caca. "Untukmu."

Caca membuka kotak itu. Isinya sepasang berlian rubi mahal. Dia senyum tipis. "Makasih, aku suka sekali. Muah." Caca mengecup bibir Adrian kemudian duduk lagi.

Adrian bersandar di kursi. Dia menatap Caca dengan lembut, lalu bertanya santai, "Kamu mau stay berapa lama kali ini?"

Caca senyum dikit, agak genit. "Kita pulang bareng setelah semua ini kelar, ya?"

Ekspresi Adrian agak kaku sebentar, lalu hening beberapa detik sampai menjawab. "Aku mungkin perlu waktu. Kamu tidak perlu menungguku."

Caca tidak marah. Tatapannya rumit, tenang, lalu dia bertanya pelan tapi to the point, "Kamu tidak benar-benar suka bocah itu, kan?"

"Mana mungkin?" Adrian langsung tertawa sinis, nadanya meremehkan. Bukannya membuat orang percaya, nada Adrian seakan menyembunyikan pikirannya yang sebenarnya.

Caca menatap Adrian lama sampai bisa mengeluarkan api dari dalam matanya, lalu berucap serius, "Jika kamu mau, kita bisa bongkar ke media massa soal itu. Kamu tidak perlu melakukan semua ini."

Adrian menyipitkan mata, nada suaranya dingin terkesan memerintah. "Tidak, aku tidak mau. Perusahaan itu seharusnya milikku. Membiarkan dia bebas dan hidup bahagia hanya sekedar kehilangan perusahaan yang dia sendiri tidak peduli? Enggak. Gue mau dia ngerasain dikhianati sama seperti aku yang sengsara di luar negeri dulu. Aku mau dia tidak punya apa-apa dan tidak punya tempat bersandar pada siapa pun."

"Tapi..." Caca menatap serius, lalu lanjut dengan nada lembut, "Bukan dia yang bunuh, tapi ayahnya."

Mata Adrian bergetar tapi langsung kembali ke tatapan dinginnya. "Kamu datang hari ini cuma untuk membujukku berhenti?"

Ada kesedihan di dalam tatapan Caca. Dia terpaksa tersenyum, matanya masih berbinar. "Aku cuma kangen kita bareng seperti dulu."

Di bawah meja, tangan Caca mengepal kuat. Dia benci Adrian dekat sama bocah itu, cemburu, marah. Tapi dia tidak bisa mencurahkan semuanya. Dia harus pura-pura pengertian, karena dia tahu hubungan mereka rapuh dan bisa pecah jika Adrian bilang putus.

Adrian sadar dia memang mengabaikan Caca gara-gara terlalu fokus jadi perhatian ke A’luka. Nada suaranya jadi melunak. "Jangan dipikirkan. Aku sama dia mustahil."

Caca senyum getir. "Kalau begitu... malam ini kamu bisa tinggal, tidak?"

Adrian menatap Caca, lalu akhirnya jawab pelan, "Tidak malam ini." Adrian ingat bahwa malam ini dia sudah janjian untuk sesuatu dengan A’luka.

Caca mengembuskan napas berat. Dia tersenyum paksa ke Adrian. "Baiklah, asal kamu tidak lupa untuk kembali jika sudah selesai balas dendam. Kau paham. Ini keringanan terakhir yang bisa kubuat untukmu."

Adrian jelas tidak terlalu peduli ke keadaan Caca yang tidak biasa. Dia cuek dan mengangguk patuh.

"Ya, tunggu saja. Aku pasti kembali." Setelah itu tanpa basa-basi Adrian langsung pergi tergesa-gesa untuk menjemput A’luka pulang sekolah. Menurut Adrian ini bukti dia sayang banget ke A’luka, walaupun jelas tidak mungkin untuk bisa hidup rukun sebagai pacar jika usianya tidak berimbang. Karena itu dia harus terlihat dapat diandalkan oleh pacarnya.

Sedangkan A’luka kini dicegat Galaga di tengah gerbang sekolah.

"Kamu Nona cantik yang menyelamatkanku kemarin, kan." Galaga menyipitkan mata sambil menggenggam bahu A’luka.

A’luka mengerutkan dahinya. Setelah berbalik dan melihat itu pria tampan, wajahnya langsung berubah cerah.

"Tidak apa-apa kok. Aku cuma mau bilang makasih. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan. Please, jangan ditolak. Kalau ditolak aku tidak tahu lagi harus membalasnya seperti apa." Kini Galaga sudah melepaskan bahu A’luka. Dia menggerak-gerakkan tangannya gelisah, takut ditolak, takut diusir, dan berbagai macam bayangan negatif mulai bermunculan setelah lima detik tanpa jawaban.

"Baiklah, aku setuju." Seru A’luka sambil menyentil dahi Galaga gemas. A’luka tidak tahu jika cowok salah tingkah itu menggemaskan.

Galaga tidak merasakan sakit, justru dia langsung melompat bahagia.

"Benarkah?! Kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar, aku akan membawa motorku ke sini."

A’luka menjawab dengan senyuman. Dia menyetujui ucapan Galaga.

Di pihak Adrian, dia melihat pacarnya yang sudah dekat layaknya pasangan pengantin itu dibonceng pria liar. Dia merasa geram tidak nyaman.

"A’lu-ka... kau dan ayahmu sama-sama bajingan." Saat datang ke sini Adrian sangat menantikan pelukan hangat dan juga ciuman manis. Dia tidak menyangka pacarnya dengan mudah akrab dengan pria lain.

Cengkeramannya pada setir mobil mengencang, giginya bergemeletuk geram. Adrian sudah memikirkan beribu cara untuk menyiksa A’luka di rumah.

A’luka tidak menyangka traktiran makan dari Galaga akan membuatnya diperkenalkan dengan gengnya Galaga. Bahkan rumah makan yang dia tempati sekarang dikelola oleh para berandalan. Dia sedikit terbawa suasana dan pulang larut.

Ceklik... A’luka membuka pintu rumahnya yang gelap gulita. Matanya berusaha menyesuaikan keadaan agar dapat melihat di kegelapan.

Di sofa, Adrian menunduk. Ekspresi wajahnya tidak bisa dikenali, tapi yang jelas dia sangat marah. Tanpa mendengarkan penjelasan dari bibir A’luka yang sudah terbuka, Adrian menghimpit A’luka di balik pintu.

"Apa menyenangkan punya banyak pria berandalan yang suka padamu, hah?!"

"Adrian, aku..." Kalimatnya terhenti oleh ciuman Adrian. Ciuman itu ganas, posesif, liar, dan mengintimidasi. Adrian melumat bibir A’luka sampai lupa bernapas. Adrian menggigit kuat bibir lembut A’luka sampai berdarah.

"Engh.... sessss." A’luka meringis kesakitan. Adrian tidak peduli. Adrian sedang marah besar. Otaknya hanya menyuruhnya untuk meniduri A’luka sampai tidak bisa bangun dan merayu pria berandalan liar lagi.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   39. Apakah malam itu kau menyelamatkanku karena kau membenciku, atau karena kau mencintaiku, A'luka

    Sepuluh tahun kemudian. Di sebuah kamar apartemen yang sepi, Adrian tiba-tiba terbangun dari tidurnya di tengah malam dengan napas terengah-engah dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia kembali memimpikan A'luka, ingatan tentang kata-kata terakhir wanita itu sebelum ajal menjemput kembali berputar dengan sangat jelas di kepalanya. Dia sudah merenungkan dan memikirkan arti dari kalimat terakhir A'luka selama sepuluh tahun penuh tanpa henti, namun sampai detik ini, dia masih belum bisa menemukan jawabannya. *Apakah malam itu kau menyelamatkanku karena kau membenciku, atau karena kau mencintaiku, A'luka?* *Kalau kau membenciku, kenapa kau rela mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya demi mendorongku menjauh dari maut? Tapi jika kau mencintaiku, kenapa kau harus mengatakan bahwa kau sedang mengembalikan nyawamu kepadaku, menggunakan cara yang begitu kejam dan tegas untuk menghukumk

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   38. Adrian… semua kisah di antara kita benar-benar telah selesai

    Seluruh persendian Adrian terasa lemas seolah lumpuh. Dia merangkak dan terhuyung mendekati tubuh itu selangkah demi selangkah dengan gemetar hebat. Dia ingin segera merengkuh dan menggendong A'luka, namun tangannya melayang di udara, terlalu takut untuk menyentuh karena ngeri akan memperparah luka-luka di tubuh wanita itu. Sepasang matanya dipenuhi oleh rasa ketidakberdayaan dan keputusasaan yang paling ekstrem. Berusaha mempertahankan sisa kesadarannya, dia segera mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar untuk menghubungi ambulans darurat. Adrian mencondongkan tubuhnya ke atas wajah A'luka, air matanya menetes deras membasahi pipinya sendiri. Suaranya bergetar hebat menahan tangis yang pecah. "Jangan khawatir, Sayang… tolong jangan takut. Bantuan akan segera datang… Kau akan baik-baik saja… Kau tidak akan mati, aku bersumpah kau tidak boleh mati…!" A'luka merasa seolah-olah setiap tulang di dalam tubuhn

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   37. Aku memercayaimu

    A'luka meninggalkan tempat penyekapan terpencil itu. Sopir yang disiapkan oleh ibu Adrian di luar langsung mengantarnya kembali. Sepanjang perjalanan, A'luka memperhatikan jalanan dan menyadari bahwa dirinya saat ini berada di kota lain yang jaraknya ratusan mil dari tempat tinggalnya. Pantas saja Yulin tidak kunjung bisa menemukannya selama berminggu-minggu ini. Sopir itu menurunkan A'luka dengan aman di Kota C sebelum akhirnya berpamitan pergi. Sambil melangkah menuju apartemennya, A'luka menarik napas dalam-dalam, merasakan udara kebebasan. *Adrian ternyata benar-benar melepaskanku dengan begitu mudah,* batin A'luka tenang. *Pria itu memang keras kepala dan obsesif, tapi jauh di dalam dirinya, sisa kebaikan yang dia miliki membuatnya tidak akan pernah tega melihatku benar-benar hancur. Dia hanya butuh hantaman kenyataan yang keras untuk sadar. Dan kata-kata dari ibunya sendiri terbukti jauh lebih efekti

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   36. Aku Pergi

    Ibu Adrian tidak membentaknya, dia justru tersenyum sedih. "Tahukah kamu, Adrian? Semua hal di dunia ini bisa kamu rebut dengan kekuatan… tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kamu rampas: hati seseorang." Wajah Adrian seketika memucat pasi. Kebenaran itu… dia sebenarnya sudah mengerti sejak lama, namun egonya selalu menolak untuk menghadapi kenyataan. Selama ini dia sengaja menjebak diri dalam ilusi palsu; berpikir bahwa selama A'luka berada di dalam jangkauannya, dia bisa mengabaikan segalanya… Tapi kata-kata ibunya barusan terlalu jujur dan kejam, menghancurkan seluruh dinding halusinasinya dan memaksa dia untuk menatap realitas yang telanjang. Kini dia bisa melihat dengan jelas betapa sia-sia dan konyolnya semua tindakannya selama ini. Dari kecil hingga dewasa, apa pun yang dia inginkan, dia selalu bisa mengambilnya. Tapi… dia tidak akan pernah bisa memaksa seseorang yang sudah telanjur k

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   35. Aku mencintainya… aku tidak ingin dia meninggalkanku

    Ibu Adrian menatap Adrian, matanya dipenuhi rasa kecewa yang mendalam. Dia bahkan sudah mencoba menghentikan putranya itu waktu berniat kembali ke tanah air. Tingkah laku ayah Adrian di masa lalu yang kejam memang bener-bener keterlaluan. Kalau dia masih hidup, mungkin ada alasan bagi Adrian untuk kembali demi menuntut keadilan. Tapi ayah A'luka sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu! Sekalipun pria itu bersalah, A'luka sama sekali tidak tahu apa-apa… Ayah A'luka tidak membunuh keluarga mereka, melainkan memberi mereka uang yang sangat banyak agar bisa pergi dan hidup layak… Sekarang mereka sudah hidup damai, jadi kenapa Adrian harus kembali dan melampiaskan kebencian kepada anak yang tidak bersalah? Apa bedanya kelakuan Adrian sekarang dengan kekejaman musuh mereka dulu? Tidak, tindakan Adrian malah jauh lebih parah. Yang paling penting, ibu Adrian tidak ingin putranya menyia-nyiakan hidup hanya demi membalas dendam masa lalu. Semua kes

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   34. Ibu… kenapa Ibu ada di sini?

    Yulin berjuang keras untuk bangun, menatap Adrian dengan mata memerah menahan sakit. "Mau kau bawa ke mana dia?!" Adrian menoleh, menatap Yulin dengan pandangan merendahkan yang sangat acuh tak acuh. Dia kemudian menggendong A'luka dan pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Saat A'luka membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya terbaring di atas tempat tidur berukuran sangat besar. Saat dia mencoba untuk duduk, pergelangan tangan kanannya tertahan. Ternyata ada borgol yang mengunci tangannya ke tiang kepala tempat tidur. Borgol itu dibungkus dengan kulit yang sangat lembut agar tidak melukai kulitnya… namun melihat itu, ekspresi A'luka seketika menggelap. Saat itu juga, sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Ternyata Adrian tertidur di sampingnya. Pria itu menatap A'luka dengan penuh kasih sayang. "Kau sudah bangun." A'luka marah sampai selur

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   5. Asal Kamu Tampan, Aku Suka

    Setelah pulang dari bioskop, kami berdua resmi hidup bersama. Kau tahu bukan apa yang akan terjadi jika wanita ganteng dan cowok macho tinggal satu rumah. Yah..... Begitulah, itu akan terjadi malam ini. A’luka ini tipe wanita yang pandang fisik. Asal kamu cukup tampan, A’luka bisa jatuh cinta dalam

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   4. Mulutmu Manis Sekali Sayang

    Tiga puluh menit setelah A’luka keluar, para murid mulai bosan. Mereka saling pandang dan sepakat untuk mengeluarkan HP mereka lagi untuk bermain. Belum genap satu menit para siswa bermain, kelas meledak karena reaksi kimia. Seketika seluruh siswa berebut untuk memfoto dan meviralkan video keadaan

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   3. Hukuman Telat Sekolah

    A’luka berangkat ke sekolah kesiangan. Dan naasnya lagi, dia harus bergulat dengan seorang nenek-nenek dan kakek-kakek yang menyangka jika dia adalah cucu mereka. "Ah... Arjun. Nenek tidak menyangka kamu jadi makin kurus." Entah karena apa, A’luka tidak bisa melepaskan diri dari genggaman dua lans

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   2. Gadis Nakal, Paman menculikmu

    A’luka menggelengkan kepalanya kuat-kuat sampai bintang-bintang berwarna kuning cerah mengelilingi kepalanya. "Tidak, aku sudah punya enam abang gila. Kamu sudah paman-paman. Ini sangat cocok untukmu, Paman." A’luka yang setengah sadar itu tersenyum konyol ke pria di depannya. "Gadis nakal, apa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status