แชร์

2. Jerat Dendam Masalalu

ผู้เขียน: Jongos Pendusta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-26 05:11:57

A’luka menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Efek alkohol murahan bercampur kepanikan instan membuat kepalanya terasa berputar hebat, sampai-sampai ia merasa ada ilusi bintang-bintang berwarna kuning cerah yang sedang menari mengelilingi kepalanya.

"Tidak mau!" seru A’luka, suaranya parau namun bersikeras. "Aku sudah punya enam abang gila di rumah. Dan kamu... kamu itu sudah om-om, sudah paman-paman! Panggilan itu sangat cocok untukmu, Paman!"

Dalam kondisi setengah sadar dan kehilangan kendali atas akal sehatnya, A’luka justru menyunggingkan senyum konyol. Garis wajahnya yang tegas dan tampan tampak melunak, memancarkan kepolosan seorang gadis remaja yang mabuk berat di depan pria asing yang berbahaya.

Mata gelap pria itu menyipit, memancarkan kilat beralih yang tajam. "Gadis nakal," bisiknya, suaranya merendah bagai seringai serigala. "Apa kamu tidak takut kalau Paman culik sekarang?"

Bukannya gemetar ketakutan, A’luka yang hatinya sedang kosong karena baru saja patah hati justru tertawa renyah. Sifatnya yang sangat menyukai visual pria tampan mendadak keluar tanpa saringan. "Ayo sini, culik aku, Paman! Aku malah senang kalau diculik pria tampan sepertimu!"

A’luka merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membusungkan dada, seolah-olah ia sedang menunggu pelukan hangat dari seorang pahlawan. Detik itu juga, seluruh citra gadis polos, pendiam, dan jinak yang biasa ia tunjukkan di sekolah runtuh total tak bersisa.

"Bocah nakal," desis pria itu, rahangnya mengeras. "Beruntung malam ini kamu bertemu denganku. Karena jika tidak, aku tidak akan sungkan untuk 'memakanmu' sekarang juga."

Tanpa peringatan, pria itu melangkah maju. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, ia menyambar pinggang A’luka, mengangkat tubuh jangkung gadis itu ke atas pundaknya seperti mengangkat sekarung beras. Ia berbalik dan membawa A’luka keluar dari hiruk-pikuk diskotek menuju sebuah hotel mewah yang terletak tepat di seberang jalan.

Pria itu telah mengawasi A’luka sejak awal. Ia mendengar setiap jengkal ocehan manja A’luka pada sahabat pirangnya tadi. Kehadirannya di sudut meja VIP itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah rencana matang yang telah ia susun dengan sabar. Ia sengaja mendekati A’luka untuk sebuah tujuan besar yang gelap... dan malam ini, kesempatan emas itu akhirnya jatuh tepat ke dalam genggamannya.

Di sepanjang koridor diskotek hingga lobi hotel, tidak ada satu pun pengunjung atau petugas keamanan yang menaruh curiga bahwa ini adalah aksi penculikan. Di dunia malam yang fana seperti ini, pemandangan seorang pria membawa wanita yang mabuk untuk menjadi teman tidur satu malam adalah hal yang lumrah. Semua orang asyik dengan urusan hedonisme mereka masing-masing, membiarkan sang domba berjalan sendiri ke dalam sarang serigala.

Tepat pukul sebelas malam yang dingin, pintu sebuah kamar hotel mewah tertutup rapat.

Brak!

Pria itu membanting tubuh A’luka dengan kasar ke atas ranjang berseprai putih bersih. Belum sempat A’luka memprotes, tubuh tegap pria itu sudah bergerak menindihnya, mengunci pergerakan gadis itu di bawah kungkungan energinya yang mengintimidasi. Jemari kekar pria itu bergerak perlahan, meraba permukaan kulit leher A’luka, lalu perlahan mencengkeram tenggorokannya.

Wajah tampan pria itu mendadak terdistorsi oleh kilat kebencian yang mendalam. Matanya merah menyala, memancarkan aura kegilaan yang mengerikan. Genggamannya pada leher A’luka semakin mengencang, membuat pasokan oksigen gadis itu menipis.

Sialan! Kenapa kesempatan emas ini tidak bisa kugunakan untuk menyingkirkan wanita ini sekarang juga? umpat pria itu dalam hati. Rahangnya berkerat menahan gejolak insting membunuhnya.

Aku tidak bisa membunuhnya sekarang. Menghabisinya terlalu cepat hanya akan membuang kartu AS-ku. Kamu... kamu masih sangat berguna untuk menghancurkan seluruh keluargamu sampai ke akar-akarnya!

Perlahan, cengkeraman tangannya mengendur. Pria itu menarik diri, lalu duduk di tepi ranjang dengan punggung tegap. Ia terdiam dalam keheningan malam, menatap lurus ke depan seakan-akan dirinya telah berubah menjadi patung batu yang tak bernyawa. Sementara itu, karena efek alkohol yang terlampau kuat dan rasa pusing yang mendera, A’luka sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja berada di ambang kematian, nyaris tewas dicekik oleh pria yang ia puji tampan.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Kelopak mata A’luka bergerak lambat sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Kesadarannya perlahan pulih meski kepalanya masih terasa seberat timah. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan pandangan kabur. Hasilnya nihil. Kamar mewah itu tampak sepi. Ia menggaruk kepalanya yang berambut pendek dengan raut bingung.

Kenapa aku bisa ada di tempat asing ini?!

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka. "Gadis kecil, kamu sudah bangun?" sebuah suara berat memecah keheningan. Pria itu melangkah masuk sambil membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih.

"Ah! Penculik!" A’luka berteriak asal, refleks menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhnya sampai ke ujung hidung begitu melihat sosok pria itu mendekat. Andaikan saat itu ia mengingat bagaimana wajah tampan pria yang membawanya, ia pasti tidak akan menjerit histeris seperti itu.

Garis-garis hitam imajiner seketika muncul di dahi Adrian Lantaruka—nama asli pria misterius tersebut. Ia telah menahan diri sepanjang malam, memastikan gadis ini tetap aman di bawah pengawasannya, namun balasan yang ia terima justru tuduhan sebagai seorang kriminal.

"Bodoh," sahut Adrian dengan nada dingin yang datar. "Aku hanya tidur denganmu semalaman tanpa melakukan apa pun yang aneh. Ayo bangun dan makan. Aku sudah membawakan satu porsi hidangan pagi untukmu."

Otak A’luka yang masih setengah tumpul akibat sisa alkohol tidak mampu menyerap seluruh kalimat Adrian dengan sinkron. Fokusnya justru langsung terkunci pada potongan kalimat: 'Aku hanya tidur denganmu.'

Kalimat itu bagai hantaman batu besar yang memecahkan tempurung kepalanya. Di dalam kamus remaja polos seperti A’luka, frasa "tidur bersama" di dalam kamar hotel hanya menjanjikan satu fakta absolut yang mengerikan: dia telah ternodai! Keperawanannya telah hilang!

Seketika, A’luka menyibakkan selimutnya. Air mata kembali mengucur deras membasahi pipinya saat ia menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib malangnya yang salah paham. "Paman! Hiks... kamu harus bertanggung jawab padaku! Karena kita sudah... sudah begitu, jadilah pacarku, Paman! Kamu harus jadi pacarku! Huaaa... hiks... hiks..."

Kalimat yang seharusnya menjadi sumpah serapah penyesalan, entah bagaimana justru berbelok arah menjadi ajang pemaksaan cinta. Di sela-sela tangisnya, mata elang A’luka berkedip-kedip, diam-diam mengagumi pahatan wajah Adrian yang luar biasa tampan dari jarak dekat. Sifat bawaan lahirnya yang gila visual pria tampan kembali mengambil alih logikanya.

Adrian menghela napas berat, menatap gadis di depannya dengan tatapan jengah. "Berhenti memanggilku Paman! Dan cepat habiskan makananmu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."

Di balik ketegasannya, Adrian menyunggingkan senyum tipis di dalam hati. Baguslah jika gadis bodoh ini tidak menaruh curiga sedikit pun pada kemunculannya yang tidak alami di diskotek semalam. Karena A’luka sendiri yang menawarkan diri dan meminta pertanggungjawaban, Adrian tidak akan mundur. Ia akan memainkan peran sebagai kekasih yang protektif dengan sempurna. Ini adalah tiket masuk gratisnya untuk membantai habis keluarga Lantaruka yang telah membuatnya sengsara selama puluhan tahun.

Adrian mengira ia harus menyusun strategi rumit selama berbulan-bulan untuk menyusup ke dalam lingkaran keluarga itu. Siapa sangka, titik lemah mereka justru menyerahkan diri dengan begitu mudah.

"Tidak mau! Paman tetap Paman, titik!" seru A’luka keras kepala. Namun begitu mencium aroma makanan di depannya, tangisnya langsung berhenti seketika. Ia menyendok bubur itu dengan lahap sampai kedua pipinya menggembung seperti tupai. "Wah... Paman, masakan ini enak banget! Paman beli di mana?"

"Jangan banyak bicara. Cepat selesaikan, aku akan mengantarmu," potong Adrian dingin.

Sesuai ucapannya, Adrian membawa A’luka pulang. Namun, ia tidak sudi menginjakkan kaki lebih jauh. Ia hanya menurunkan A’luka di depan pintu gerbang besi yang menjulang tinggi dan luas—pembatas luar dari kediaman mewah keluarga paman A’luka.

"Paman, terima kasih untuk yang semalam, ya," ucap A’luka tulus, berdiri di samping mobil Adrian.

"Em," jawab Adrian dengan anggukan kepala yang dingin sebelum langsung melesat pergi membelah jalanan kota.

Di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah sewanya, ponsel Adrian bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari kekasihnya, Caca, yang saat ini bekerja sebagai agen rahasianya sekaligus memegang posisi strategis sebagai sekretaris di Perusahaan Lantaru LNc.

"Adrian, apa kamu masih sibuk mengurusi anak kecil itu?" suara Caca terdengar di seberang telepon, sarat akan nada cemburu yang tertahan. "Cepatlah datang ke kantor rahasia kita. Ada banyak berkas menumpuk yang membutuhkan tanda tanganmu."

"Tidak, urusanku dengannya sudah selesai untuk hari ini. Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Tunggu aku," jawab Adrian singkat sebelum memutus sambungan.

Satu jam kemudian, Adrian dan Caca sudah duduk bersama di sebuah ruangan ber-AC yang sepi. Di atas meja, berserakan grafik-grafik keuangan dan pergerakan bursa saham. Keduanya tengah memantau harga saham sebuah perusahaan media raksasa—perusahaan yang sangat ingin dihancurkan oleh Adrian dari dalam maupun luar.

"Kenapa grafiknya bisa meroket setinggi ini?!" seru Adrian, emosinya tersulut saat melihat angka-angka hijau yang mendominasi layar laptop Caca.

Caca menghela napas, menyerahkan sebundel dokumen tebal berkover hitam. "Adrian, tidak mudah untuk mencaplok Perusahaan Media Putra ini. Prospek bisnis mereka di kuartal ini sangat menjanjikan. Ditambah lagi, ada rumor valid yang mengatakan bahwa mereka akan memproduksi proyek film fiksi ilmiah skala global yang didanai hingga 2 miliar rupiah. Investor sangat mempercayai mereka."

Adrian menyandarkan punggungnya, matanya menyipit tajam menatap dokumen Perusahaan Media Putra tersebut. "Kalau begitu, kita ubah strateginya. Aku sendiri yang akan mencemari nama baik perusahaan ini dengan skandal. Begitu nama mereka berada di titik nadir dan saham mereka anjlok, tugasmu adalah bergerak cepat untuk mengambil alih seluruh aset mereka dengan harga terendah di saat mereka hampir bangkrut."

Caca mengangguk patuh, namun kemudian ekspresi wajahnya berubah sendu. Ia menggeser duduknya mendekati Adrian. "Adrian... sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu bersama. Kamu selalu sibuk. Apa... apa kamu mulai mengabaikanku karena gadis remaja dari keluarga Lantaruka itu?"

Adrian mengernyitkan dahi, gurat tidak suka jelas tercetak di wajahnya yang tegas. "Caca, aku pikir kamu adalah wanita yang rasional dan paling paham dengan situasiku saat ini. Aku mendekati gadis kecil itu hanya untuk menjadikannya batu pijakan demi membantai seluruh keluarga jahanam itu. Setelah dendam ini terbalaskan, kita baru bisa bicara tentang hubungan kita lagi. Sekarang, kembali bekerja dan jangan membuat masalah tidak penting."

Dendam yang membakar dada Adrian bukanlah tanpa alasan. Dua puluh tiga tahun yang lalu, ayah Adrian dan ayah A’luka adalah sahabat karib yang merintis bisnis media bersama dari nol. Namun, keserakahan membutakan mata ayah A’luka. Pria itu ingin menguasai seluruh saham perusahaan secara sepihak. Tentu saja, ayah Adrian menolak keras pengkhianatan itu. Pertengkaran hebat terjadi, dan ayah Adrian memilih keluar dari ruangan dengan amarah memuncak.

Nahas, di malam berhujan itu, ayah Adrian tertabrak mobil saat menyeberang jalan. Ayah A’luka yang menguntit di belakangnya melihat kejadian tragis itu dengan mata kepala sendiri. Namun, alih-alih menolong atau menelepon ambulans dan polisi, pria serakah itu justru diam dan berbalik arah, membiarkan sahabatnya sekarat di aspal jalanan hingga tewas kehabisan darah karena terlambat ditangani.

Satu bulan setelah pemakaman, dengan dokumen-dokumen palsu, ayah A’luka berhasil mencaplok setengah saham sisa milik almarhum ayah Adrian dengan harga murah. Kejadian kelam itulah yang memaksa Adrian masuk ke dalam pusaran takdir sebagai seorang protagonis yang hidupnya penuh dengan penderitaan.

Pelarian Adrian dan ibunya ke luar negeri bukanlah hal yang mudah. Meski mereka membawa sedikit uang pesangon, sang ibu harus memutar otak dan bekerja memeras keringat demi membesarkan Adrian sendirian di negeri orang tanpa sanak saudara. Di masa-masa sulit SMA itulah Adrian mulai merintis bisnis kecil-kecilan dari bawah, di mana ia juga bertemu dengan Caca yang setia menemaninya di awal karier. Adrian benar-benar prototipe tokoh utama pria yang mandiri, dingin, dan penuh luka masa lalu.

Hingga setahun yang lalu, sebuah surat wasiat lama dan pengakuan dari ibunya yang sedang sakit mengungkap kejanggalan di balik kematian sang ayah. Adrian kembali ke kota ini dengan satu misi: membalas dendam. Dengan susah payah, ia mengumpulkan serpihan bukti sejarah masa lalu yang telah ditimbun dalam-dalam.

Kesimpulannya tetap sama: Ayah A’luka bersalah atas kematian ayahnya.

Sayangnya, takdir seolah bermain curang. Ayah A’luka ternyata sudah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu akibat penyakit kronis. Kehilangan objek utama pembalasan dendamnya membuat Adrian hampir gila. Rasa frustrasinya dialihkan kepada keturunan pria itu. Ia bersumpah akan menghancurkan seluruh keluarga Lantaruka yang tersisa.

Sebenarnya, dengan kekuatan finansial yang Adrian miliki sekarang, sangat mudah baginya untuk langsung mencaplok Perusahaan Media Putra yang saat ini dikelola oleh paman A’luka—perusahaan yang sejatinya dibangun menggunakan darah dan keringat ayahnya. Namun, tantangan terbesar Adrian adalah keenam kakak tiri A’luka. Mereka adalah sekumpulan pria superior yang menguasai berbagai sektor penting dan monopoli teknologi di kota ini. Menghadapi mereka secara frontal sama saja dengan bunuh diri.

Tapi Adrian tidak akan membiarkan satu ikan pun lolos dari jaring sasarannya. Pertemuannya dengan A’luka di diskotek malam itu telah ia rancang sedemikian rupa. Niat awalnya hanya untuk pendekatan perlahan, namun siapa sangka gadis remaja itu justru langsung terbawa perasaan, menyukainya, bahkan salah paham mengira mereka telah tidur bersama. Adrian hanya perlu mengikuti arus permainan ini. Mengapa tidak? Toh, semua kemewahan yang dinikmati gadis itu sekarang adalah hak miliknya yang dirampas dulu.

Saat ini, Adrian menyadari posisinya masih terlalu lemah untuk menumbangkan dominasi keenam kakak tiri A’luka. Jika ia ingin menghancurkan benteng pertahanan kokoh itu, ia harus menyerang dari titik terlemah mereka: si bungsu, Lansia Luka. Gadis itu adalah pusat warisan emosional yang diam-diam dijaga oleh keluarga tersebut. Jika mental si bungsu berhasil ia hancurkan hingga gila, maka seluruh anggota keluarga Lantaruka di atasnya pasti akan goyah dan mudah dikalahkan oleh beban mental yang ia ciptakan.

"Tunggu saja pembalasanku..." gumam Adrian, menatap tajam ke arah jendela luar kantornya.

Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Lantaruka.

"Paman, Bibi! Aku pulang," seru A’luka pelan saat melangkah masuk melewati ruang makan.

"Duduk," sebuah suara berat dan dingin menyahut. Itu adalah paman A’luka. Nada suaranya selalu terkesan memerintah dan penuh keangkuhan, tipikal kepala keluarga yang menganggap A’luka hanya sebagai parasit karena tidak memiliki ikatan darah yang dekat dengannya.

Di samping pamannya, seorang gadis remaja seumurannya menatap A’luka dengan pandangan sinis. "Sepupu, ke mana saja kamu semalaman ini? Kenapa baru pulang jam segini dengan pakaian kusut begitu?" tanya Nina, sepupunya, penuh dengan nada selidik dan kecurigaan.

"Bukan urusanmu," jawab A’luka pendek tanpa menoleh. Ia sama sekali tidak berniat untuk bergabung di meja makan yang penuh dengan kepalsuan itu. Dengan langkah lebar, ia langsung melesat menuju kamarnya untuk mandi dan berganti seragam sekolah.

Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan seragam putih-abu-abu yang rapi, A’luka kembali ke ruang makan. Namun, keluarga pamannya sudah selesai makan dan pergi entah ke mana, hanya menyisakan piring-piring kotor dan sisa makanan yang sudah mendingin di atas meja.

Keluarga paman A’luka memang terkenal abai dan tidak pernah peka terhadap kehidupan sehari-hari A’luka. Mereka tidak peduli apakah gadis itu sudah makan, ke mana ia pergi, atau bagaimana perasaannya. Namun bagi A’luka, pengabaian ini justru berkah tersembunyi. Hal ini membuatnya memiliki kebebasan mutlak tanpa perlu diawasi.

A’luka menyambar tas sekolahnya yang bermotif pink cerah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin koridor. Tubuhnya yang tinggi tegap dilapisi seragam SMA membuatnya tampak seperti model androgini yang memikat, namun senyumnya tetaplah senyum gadis puber biasa. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri. Jarang ada anak yatim piatu yang diperlakukan dingin oleh keluarga angkatnya namun tetap bisa setenang dan setegar dirinya dalam menghadapi kehidupan sehari-hari yang jauh dari kata memuaskan.

Ia berjalan menuju pintu depan yang sunyi. Karena tidak ada satu orang pun yang bisa ia ajak berpamitan di rumah besar itu, A’luka menepuk permukaan tembok marmer di dekat pintu dengan akrab.

"Rumah, aku berangkat sekolah dulu, ya! Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kemasukan maling!" seru A’luka riang kepada dinding mati tersebut.

Jangan menganggap A’luka sudah gila karena berbicara dengan tembok. Di balik penampilannya yang keren dan maskulin sebelum jadi feminim, ia hanyalah gadis kesepian yang merindukan interaksi hangat dari orang-orang di sekitarnya.

Halo Pembaca GoodNovel! Kalau kalian menyukai ketegaran A’luka dan ingin menyapanya, yuk berikan senyuman dan salam kalian di kolom komentar di bawah! A’luka berjanji pasti akan menyapa kalian balik di bab selanjutnya! Jangan lupa tambahkan buku ini ke rak membaca kalian, ya!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   39. Apakah malam itu kau menyelamatkanku karena kau membenciku, atau karena kau mencintaiku, A'luka

    Sepuluh tahun kemudian. Di sebuah kamar apartemen yang sepi, Adrian tiba-tiba terbangun dari tidurnya di tengah malam dengan napas terengah-engah dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia kembali memimpikan A'luka, ingatan tentang kata-kata terakhir wanita itu sebelum ajal menjemput kembali berputar dengan sangat jelas di kepalanya. Dia sudah merenungkan dan memikirkan arti dari kalimat terakhir A'luka selama sepuluh tahun penuh tanpa henti, namun sampai detik ini, dia masih belum bisa menemukan jawabannya. *Apakah malam itu kau menyelamatkanku karena kau membenciku, atau karena kau mencintaiku, A'luka?* *Kalau kau membenciku, kenapa kau rela mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya demi mendorongku menjauh dari maut? Tapi jika kau mencintaiku, kenapa kau harus mengatakan bahwa kau sedang mengembalikan nyawamu kepadaku, menggunakan cara yang begitu kejam dan tegas untuk menghukumk

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   38. Adrian… semua kisah di antara kita benar-benar telah selesai

    Seluruh persendian Adrian terasa lemas seolah lumpuh. Dia merangkak dan terhuyung mendekati tubuh itu selangkah demi selangkah dengan gemetar hebat. Dia ingin segera merengkuh dan menggendong A'luka, namun tangannya melayang di udara, terlalu takut untuk menyentuh karena ngeri akan memperparah luka-luka di tubuh wanita itu. Sepasang matanya dipenuhi oleh rasa ketidakberdayaan dan keputusasaan yang paling ekstrem. Berusaha mempertahankan sisa kesadarannya, dia segera mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar untuk menghubungi ambulans darurat. Adrian mencondongkan tubuhnya ke atas wajah A'luka, air matanya menetes deras membasahi pipinya sendiri. Suaranya bergetar hebat menahan tangis yang pecah. "Jangan khawatir, Sayang… tolong jangan takut. Bantuan akan segera datang… Kau akan baik-baik saja… Kau tidak akan mati, aku bersumpah kau tidak boleh mati…!" A'luka merasa seolah-olah setiap tulang di dalam tubuhn

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   37. Aku memercayaimu

    A'luka meninggalkan tempat penyekapan terpencil itu. Sopir yang disiapkan oleh ibu Adrian di luar langsung mengantarnya kembali. Sepanjang perjalanan, A'luka memperhatikan jalanan dan menyadari bahwa dirinya saat ini berada di kota lain yang jaraknya ratusan mil dari tempat tinggalnya. Pantas saja Yulin tidak kunjung bisa menemukannya selama berminggu-minggu ini. Sopir itu menurunkan A'luka dengan aman di Kota C sebelum akhirnya berpamitan pergi. Sambil melangkah menuju apartemennya, A'luka menarik napas dalam-dalam, merasakan udara kebebasan. *Adrian ternyata benar-benar melepaskanku dengan begitu mudah,* batin A'luka tenang. *Pria itu memang keras kepala dan obsesif, tapi jauh di dalam dirinya, sisa kebaikan yang dia miliki membuatnya tidak akan pernah tega melihatku benar-benar hancur. Dia hanya butuh hantaman kenyataan yang keras untuk sadar. Dan kata-kata dari ibunya sendiri terbukti jauh lebih efekti

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   36. Aku Pergi

    Ibu Adrian tidak membentaknya, dia justru tersenyum sedih. "Tahukah kamu, Adrian? Semua hal di dunia ini bisa kamu rebut dengan kekuatan… tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kamu rampas: hati seseorang." Wajah Adrian seketika memucat pasi. Kebenaran itu… dia sebenarnya sudah mengerti sejak lama, namun egonya selalu menolak untuk menghadapi kenyataan. Selama ini dia sengaja menjebak diri dalam ilusi palsu; berpikir bahwa selama A'luka berada di dalam jangkauannya, dia bisa mengabaikan segalanya… Tapi kata-kata ibunya barusan terlalu jujur dan kejam, menghancurkan seluruh dinding halusinasinya dan memaksa dia untuk menatap realitas yang telanjang. Kini dia bisa melihat dengan jelas betapa sia-sia dan konyolnya semua tindakannya selama ini. Dari kecil hingga dewasa, apa pun yang dia inginkan, dia selalu bisa mengambilnya. Tapi… dia tidak akan pernah bisa memaksa seseorang yang sudah telanjur k

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   35. Aku mencintainya… aku tidak ingin dia meninggalkanku

    Ibu Adrian menatap Adrian, matanya dipenuhi rasa kecewa yang mendalam. Dia bahkan sudah mencoba menghentikan putranya itu waktu berniat kembali ke tanah air. Tingkah laku ayah Adrian di masa lalu yang kejam memang bener-bener keterlaluan. Kalau dia masih hidup, mungkin ada alasan bagi Adrian untuk kembali demi menuntut keadilan. Tapi ayah A'luka sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu! Sekalipun pria itu bersalah, A'luka sama sekali tidak tahu apa-apa… Ayah A'luka tidak membunuh keluarga mereka, melainkan memberi mereka uang yang sangat banyak agar bisa pergi dan hidup layak… Sekarang mereka sudah hidup damai, jadi kenapa Adrian harus kembali dan melampiaskan kebencian kepada anak yang tidak bersalah? Apa bedanya kelakuan Adrian sekarang dengan kekejaman musuh mereka dulu? Tidak, tindakan Adrian malah jauh lebih parah. Yang paling penting, ibu Adrian tidak ingin putranya menyia-nyiakan hidup hanya demi membalas dendam masa lalu. Semua kes

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   34. Ibu… kenapa Ibu ada di sini?

    Yulin berjuang keras untuk bangun, menatap Adrian dengan mata memerah menahan sakit. "Mau kau bawa ke mana dia?!" Adrian menoleh, menatap Yulin dengan pandangan merendahkan yang sangat acuh tak acuh. Dia kemudian menggendong A'luka dan pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Saat A'luka membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya terbaring di atas tempat tidur berukuran sangat besar. Saat dia mencoba untuk duduk, pergelangan tangan kanannya tertahan. Ternyata ada borgol yang mengunci tangannya ke tiang kepala tempat tidur. Borgol itu dibungkus dengan kulit yang sangat lembut agar tidak melukai kulitnya… namun melihat itu, ekspresi A'luka seketika menggelap. Saat itu juga, sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Ternyata Adrian tertidur di sampingnya. Pria itu menatap A'luka dengan penuh kasih sayang. "Kau sudah bangun." A'luka marah sampai selur

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   6. Adrian Dan Pacarnya

    Fyuh, beruntung A’luka sampai juga ke kelas setelah melakukan adegan kekerasan fisik. Di tengah jalan... A’luka malah ditatap intens oleh abang terakhirnya di depan gerbang. Karena abang-abangnya sudah sangat kaya menggunakan bakat masing-masing untuk berkarier, dia anak terakhir harus dimanja wal

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   5. Asal Kamu Tampan, Aku Suka

    Setelah pulang dari bioskop, kami berdua resmi hidup bersama. Kau tahu bukan apa yang akan terjadi jika wanita ganteng dan cowok macho tinggal satu rumah. Yah..... Begitulah, itu akan terjadi malam ini. A’luka ini tipe wanita yang pandang fisik. Asal kamu cukup tampan, A’luka bisa jatuh cinta dalam

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   4. Mulutmu Manis Sekali Sayang

    Tiga puluh menit setelah A’luka keluar, para murid mulai bosan. Mereka saling pandang dan sepakat untuk mengeluarkan HP mereka lagi untuk bermain. Belum genap satu menit para siswa bermain, kelas meledak karena reaksi kimia. Seketika seluruh siswa berebut untuk memfoto dan meviralkan video keadaan

  • Diculik Paman Ganteng, Dia Menipu Cintaku   3. Hukuman Telat Sekolah

    A’luka berangkat ke sekolah kesiangan. Dan naasnya lagi, dia harus bergulat dengan seorang nenek-nenek dan kakek-kakek yang menyangka jika dia adalah cucu mereka. "Ah... Arjun. Nenek tidak menyangka kamu jadi makin kurus." Entah karena apa, A’luka tidak bisa melepaskan diri dari genggaman dua lans

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status