Share

Part 5 Niat Busuk Harlan

Penulis: Li Na
last update Terakhir Diperbarui: 2022-08-28 09:21:35

'Kakaknya gampang dibodohin. Apalagi adeknya mudah banget dikibulin. Goyang dumang dikit aja udah mangap-mangap dia, hahaa.'

Kikik geli lelaki berwajah bopeng mengingat perbuatan mesumnya. Merasa diri paling tampan sedunia bisa mendapat gadis secantik Safea.

Hubungan mereka berawal dari aroma badan wangi Safea. Gadis yang suka berpakaian ketat menyesakkan dada itu selalu wangi saat ke rumah, itulah awal ia melancarkan pendekatan.

Harlan coba ngobrol mepet-mepet, atau sentuhan sedikit berpura tak sengaja. Melihat Safea merespon hanya dengan senyum, mulailah aksi colekan disengaja, kontak yang perlahan meningkat ke kontak fisik lebih dalam.

Hubungan sembunyi-sembunyi dan sedikit sandiwara di belakang istri, ternyata memacu adrenalin Harlan naik level paling tinggi. Membuatnya candu hingga hubungan lebih terjadi.

Bukannya menghindar, Safea justru datang lagi datang lagi. Seakan memancing hasratnya melihat pakaian serba kurang bahan.

Senyum tipis khas Harlan Wijiyono tertarik ke sudut.

"Aku tahu dari awal Fea sudah enggak suci, tapi itu gak masalah. Makanan enak biar hasil curian kalau lapar akan kulahap juga ahaaa," sombong Harlan atas kelakuannya.

Ia jadi teringat Safea bilang dirinya hamil. Kening pria ini jadi berkerut, alis berantakan berbulu kasar itu hampir bertaut.

Hubungan baru dua bulan masa sudah tahu hamil? Bukannya dulu …?

Ia teringat Rahma dulu baru tahu hamil saat sudah kandungan empat bulan. Entah karena sibuk nawarkan barang dan nagih kreditan mantan istrinya itu tidak sadar dirinya hamil.

"Eits, tunggu dulu! Kok, Safea tahu secepat ini, ya?"

Mengangguk-angguk sendiri ia menyusun puzzle kejadian, mengulangi ingatan kuat pada yang janggal. Tidak rumit untuk otaknya yang biasa bekerja licik.

“Sipp!” kepalan tangannya memukul telapak sebelah. “ini rugi kalau nggak dimanfaatkan!”

“Rugi apanya, Mas?” Adik perempuannya muncul dari kamar rawat, mengagetkan lelaki bermata kecil yang duduk di kursi tunggu luar.

“Eh, nggak pa-pa. Udah datang kamu, Hasna? Kamu jaga Mama dulu, ya. Mas mau pulang, ngantuk.”

“Iya cepetan, Mas. Tadi Hesti tadi bilang mo pergi.”

Gegas langkah kaki panjang Harlan menyusuri lorong. Sebuah rencana tersusun di otaknya, diakhiri dengan usapan rambut ala playboy kampung.

Mobil merah mentereng warna kesukaan ibunya membawa ia pergi dengan hati riang.

"Tusukan gunting sakit dikit nggak apa-apa, yang penting lepas dari istri bau terasi, dapat yang wangi, uhuyy!" decaknya diakhiri siulan.

Lagu dangdut koplo Jaran Goyang menemaninya di dalam mobil menuju rumah.

*

“Kenapa Azka dikurung sendiri di rumah?!” serang Rahma pada Harlan yang baru sampai dan turun dari mobil merah.

Bukannya menjawab tapi ia memindai wajah dan pakaian Rahma. Lumayan, puji hatinya refleks. Netra di balik kaca mata hitam itu memindai dari atas ke bawah mantan istri.

'Pakai baju apa pun kamu tetap kalah sama bodi Safea, Rahma, Rahma.'

“Mas Harlan, aku tanya itu Azka sendiri di dalam?!”

Kaget. Lelaki itu langsung melangkah melewati wanita yang memandangnya dengan raut tak suka.

“Mulai berani teriak kamu, ya, ngapain ke sini?”

Harlan membuka kunci pintu rumah yang menyatu dengan gantungan kunci mobilnya. Azka terlihat dari kaca jendela tengah ketiduran. Badan di lantai, kepalanya saja di atas karpet.

Begitu pintu terbuka Rahma setengah berlari masuk. Menggendong anak yang ditangannya masih ada botol susu kosong.

“Ma ….”

Mata bulat bersih itu membuka.

“Sayang, mama kangeen ….”

Rahma dekap erat tubuh mungil itu, sambil menahan air mata tidak jatuh. Ia mencium kening dan pucuk kepala buah hatinya penuh sayang.

Sementara Harlan melihat Hesti adiknya memang tidak ada di rumah.

“Nggak sabar amat pergi, ni bocah ditinggal sendiri di rumah kan bahaya!” gerutunya kesal.

“Hei mau ke mana?”

Saat kembali ke depan ia melihat Rahma menggendong Azka keluar.

Tanpa berhenti wanita ini menjawab datar, “ Aku ibunya dan aku berhak bawa Azka.”

“Oh, okey. Aku gak keberatan.” Jawaban Harlan terdengar bernada senang setengah merendahkan itu membuat Rahma menghentikan langkah. Lalu berbalik.

“Jauhi kami, jangan berpikir dapatkan Safea! Itu urusan keluarga kami.”

“Hei dengar ya, kita belum resmi cerai di pengadilan, baru sebatas talak agama. Kamu nggak bisa seenaknya menginjakku!"

Tak ingin mendengar ocehan orang yang dianggapnya sudah tak waras, Rahma melanjutkan langkah, mendudukan Azka di kursi depan motor matic majikannya, bersiap pergi.

“Papa ….” Dengan polos Azka melambaikan tangan membuat hati Rahma teriris. Anak ini sama sekali tidak tahu masalah kedua orang tuanya.

“Rahma, aku tetap akan nikahi Safea. Kami secepatnya menikah! Keluargamu yang minta. Mau lihat pesan mereka, hah?” Senyum puas mencuat di bibir Harlan sambil mengacungkan ponsel pintar di tempatnya berdiri.

Mendidih seketika dada Rahma mendengar itu. Semoga ini hanya omong kosong, pikirnya mengalihkan. Lalu menancap gas pergi.

“Bye Azka, kita akan serumah lagi! Tunggu papa, ya!” teriak Harlan begitu girang pada anaknya yang terus melambai, sampai motor tak terlihat lagi di belokan jalan.

Tubuh Rahma kaku, napasnya menyesak, tersendat menarik udara. Sangat keterlaluan kalau keluarga akhirnya menjadikan Harlan menantu lagi di rumah mereka.

*

Ia membawa Azka ke rumah yang dibiarkan kosong sementara beberapa waktu lalu.

Harlan malu kembali ke rumah ini, warga tahu semua tentang kasusnya. Rahma sebenarnya merasakan beban sama, apalagi itu adik sendiri. Nama tercoreng bukan noda lagi tapi bagai disiram cat hitam yang sulit hilang dari raga dan nama.

“Mama lumahnya kotol cekali ….” Azka menunjuk ruangan yang bak kapal pecah.

Barang-barang di meja terpelanting ke berbagai arah, taplak meja terseret ke depan pintu, belum lagi sofa dan meja tamu tidak tersusun arahnya. Ia terlupa meminta orang bersihkan rumah ini, setelah kejadian itu. Sebab terlalu beruntun musibah menimpa keluarganya.

“Ayo Azka ke kamar aja, ya, sementara mama bersih-bersih.”

Anak lelaki itu penurut. Mainan yang masih di dalam plastik untuk Azka tadi ia keluarkan.

Bus Tayo dan teman-teman disambut putra kecilnya dengan riang, detik kemudian bocah tampan itu larut bermain sambil bicara sendiri.

Rahma mulai bergerak bersih-bersih. Jendela dibuka semua, membuang bau pengap. Penat di badan bergerak seharian di rumah majikan tak ia pedulikan. Membereskan ruang tengah sampai belakang. Rumah yang kotor seperti tak dihuni berbulan-bulan.

Sesudah beres ia menarik napas lalu minum dua gelas air putih. Makan malam mau beli jadi saja. Tenaganya sudah habis terkuras seharian ini. Saat akan ke kamar ia melewati tempat yang tertutup, tapi gagang pintunya rusak.

Tempat itu ....

Langkah perlahan ia mendekat, sedikit gemetar mendorong daun pintu yang langsung terbuka.

Selimut bantal sampai bercak merah kehitaman di lantai masih ada, membuat darahnya terasa mengalir cepat ingat kejadian waktu itu.

Matanya kemudian membelalak melihat pakaian dalam wanita, dan tak jauh di sudut sana pakaian dalam pria yang sangat dikenalnya.

Bruk!!

Ia menarik pintu keras. Suara gedebumnya mewakili amarah terdalam.

Perbuatan mereka itu sangat menjijikkan!

Jika boleh bersumpah ia tak ingin melihat muka-muka itu lagi. Sayangnya, ia seperti dipaksa harus menghadapi semua. Satunya bapak anaknya, satu lagi adik.

Rahma mengatur napas pendek-pendek menenangkan diri, ia tidak ingin hilang kewarasan dengan kelakuan dua manusia lakn*t itu.

Bersambung ….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Akhir Tragis

    "Ada apa?" Dimas mendorong dua pundak Safea untuk melepaskan diri."Ada orang ngejar aku, Mas ... makanya aku lari ke sini ...." Safea kembali memeluknya.“Sebentar, sebentar.” Merasa risi, Dimas menjauh sambil memanggil Rahma. “Sayang, ini ada adekmu,” ujar Dimas pada istrinya di kamar.Rahma langsung keluar, menghampiri Safea dengan wajah terheran-heran.“Safea? Ngapain kamu sampai ke sini?”“Mbak ... aku diganggu orang, makanya tau Mbak Rahma nginap di sini aku lari ke sini. Tolong aku, Mbak … biarkan aku di sini malam ini aja ....” Safea meminta tumpangan nginap sampai pagi, karena merasa diri sedang tidak aman keluar. Mendengar itu tubuh Rahma langsung membatu. Hatinya memang tersentuh, takut Safea benar dalam bahaya, tapi sisi lain ia juga tak ingin kembali dibodohi. Sebelum pernikahan ini terjadi Safea pernah datang ke rumah Dimas, merayu pria itu dengan sangat murahan dan memalukan dirinya sebagai kakak. Untunglah Dimas tahu kelakuan adiknya itu, ia langsung menegur keras a

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Bahagia

    Besok akad nikah Rahma-Dimas akan dilaksanakan. Malam ini dua calon pengantin itu merasakan gugup teramat sangat.Rahma merasa terus ada yang geli merayap di perut, seperti baru pertama menjadi calon pengantin saja. Bibirnya senyum-senyum sendiri membayangkan akan menjadi istri seorang Dimas Jayadi. Ia berbaring di kasur sudah sejak tadi, tapi sulit memejamkan mata. Kesendiriannya karena Azka memilih tidur bersama sang nenek membawa seraut wajah Dimas menari-nari di pelupuk mata. Geli mengingat peristiwa sore kemarin, di hari terakhir pertemuan mereka sebelum resmi besok. Saat ia minta waktu bicara berdua dengan Dimas.“Sebelum semua terlanjur, apa kamu nggak akan nyesal akan menikahiku, Mas?”“Kenapa? Kamu masih ragu?” Dimas langsung menanggapi serius, dengan menatap manik mata Rahma dalam-dalam.Terdiam sesaat, perempuan kuat ini menata kata yang tepat untuk mewakili sedikit ganjalan di hati.“Aku hadir dalam hidupmu bersama Azka, dua orang yang nggak mungkin terpisah. Apa hati Ma

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Akibat Ambisi

    Sekilas Rahma melirik dua orang pengunjung di belakang Harlan, yang langsung memberi kode anggukan kepala padanya."Baiklah, Mas. Nggak usah lama-lama. Ini uangnya." Rahma merogoh tas, seolah akan mengambil uang. Harlan pun tersenyum-senyum tak sabar."Aaagg!" Bukan uang yang diberikan tapi tempelan senjata kejut listrik pada tangan membuat Harlan sontak memekik.Di saat terkejut dan lengah itulah dua orang petugas yang menyamar jadi pengunjung tadi langsung mudah menyergap, dan mengunci tangan Harlan ke belakang. Borgol besi segera menyatukan dua pergelangan di belakang punggungnya. “Apa-apaan ini! Rahma!” bentak lelaki bopeng itu.“Anda ditangkap dengan tuduhan melakukan penipuan, dan pemerasan.” Petugas menyebut singkat kasus yang dilaporkan belakangan ini.Harlan mengelak, tapi dua petugas itu tetap tegas akan mendengar penjelasannya nanti di kantor polisi saja. Tim lain masuk bantu menyeret Harlan keluar.Lelaki yang pernah merasa hitup di atas angin itu segera menembakkan ka

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Rencana

    Rahma mulai menjalankan rencana yang menjadi bagiannya. Ia harus negosiasi dengan Harlan yang menuntut segera ditransfer. Sudah Rahma minta mereka bertemu di suatu tempat. Namun ternyata bukan hal mudah, lelaki itu malah mencurigai maksudnya.“Jangan banyak omong! Cepat transfer ke rekeningku!” pekik Harlan dalam sambungan telepon. Setelah berulang kali dihubungi baru sekarang panggilan Rahma diterima.“Mas, aku sudah berbulan-bulan nggak ketemu Azka, biarkan kami ketemu sebentar aja. Kali ini aja, Mas, skalian aku kasih uangnya.” Tak ingin kalah licik, Rahma membuat suara sesedih mungkin. “Aku ... akan tambah sepuluh juta kalau Mas Harlan bolehkan. Mas Harlan, tolong ya ... aku ngerasa bersalah sudah lama nggak ketemu Azka ...." Hening sejenak. Harlan tergiur tambahan 10 juta yang sangat sulit didapatnya akhir-akhir ini.Harlan menggaruk dahi. “Baiklah, ketemu di mana?” jawabnya kemudian.Rahma langsung menyebut tempat yang pernah direkomendasi Dini kalau mereka bertemu, tapi Harl

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Restu

    Menghela napas sejenak Dimas tersenyum kemudian menjawab, “Jay nurut saja, asal Mami bahagia.” Ia mengecup punggung tangan maminya. “Jay mau nengok kerjaan di kantor dulu, Mi, nanti ke sini lagi.”“Ya, Nak. Hati-hati di jalan.” Dimas mencuci muka di kamar mandi, lalu keluar sambil menguncir rambutnya. “Sebentar.” Bu Hakim menarik tangan Dimas keluar kamar. “Kenapa, Mi?” Pria tersebut kulitnya lebih legam bekas berjemur di pantai selama dua hari pergi, ia tampak bingung maminya menarik ke dapur seperti mencari seseorang, tapi kembali lagi ke ruang tengah.“Itu.” Langkah Bu Hakim terhenti melihat Rahma keluar dari kamar dengan pakaian rapi, sepertinya akan keluar rumah. “Dimas? Alhamdulillah, syukurlah kamu sudah pulang,” ujar Rahma cepat menguasai diri dari rasa terkejut melihat pria itu.Karena Dimas malah terpaku memandangnya Rahma langsung pamit pada Bu Hakim. “Saya mau keluar sebentar, Bu.” Ia menangkup tangan sebelum berbalik. Tak nyaman terjebak canggung antara dirinya, Bu

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Asal Mami Bahagia

    Lelaki berambut gondrong itu duduk selonjoran pasir, mengatur napas yang ngos-ngosan usai lari tanpa henti di bibir pantai. Ia membuang energi negatif dalam dirinya dengan berolah raga begini.“Mau sampai kapan di sini, Bos? Kasihan tuh yang pada nyariin.” Anto menghampirinya.“Gimana kerjaan, An?”“Masalah kerja brebes, Bos. Anto ini sudah pasti bisa dipercaya,” sombongnya menepuk dada.Senyum yang diharap terbit di bibir Dimas tak didapat jua. “Kenapa sih tiap tertekan harus pergi? Mbak Dini bilang mami Bos kurang sehat, tuh, titip pesan kalau ketemu disuruh pulang.”Dimas menatap teman sekaligus assistennya itu sebentar. Ini salah satu risiko memutuskan pergi, pasti maminya sedang kalut sekarang. Acara tinggal dua hari.Dimas beranjak berdiri, menepuk bahu sobatnya itu. “Ayo!” ujarnya membuat lelaki di sebelahnya menganga.“Maksudnya, pulang nih?” goda Anto. “Hm, kamu mau gantian di sini?” balas Dimas cuek sambil melangkah cepat.Anto tersenyum geli, ia bersusaha menjajari langka

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Rumit

    “Maksudnya apa ini, Mas Harlan?!”[Hei, rindunya aku dengar kata ‘Mas Harlan’ dari bibirmu, Rahma … tapi nggak usah semarah gitu juga. Aku mantan suami sekaligus masih adik iparmu lho. Aku sengaja bawa Azka keluar. Jalan-jalan biar bisa main kayak anak-anak lain, tapi kami kehabisan duit.]“Azka dibawa main ke mana?”[Hm, belum bisa main ini kami masih nepi di jalan …][Kamu kirim uang dulu buat Azka]“Aku akan kirim 200 ribu, tapi habis itu Mas cepat bawa Azka pulang. Mainnya biar diantar Ibu aja.”Terdengar cengengesan tawa Harlan di sana. [Mana cukup segitu, Maniis … aku minta kamu kirim lima juta, Rahma. Kami tunggu!]“Gila! Kamu mau memerasku?!”[Hehehe. Biasa aja, Manis. Kalau kamu nggak kirim, aku sama Azka akan tahan makan sampai kelaparan di jalan. Kamu mau kami ma-] “Awas kau, Harlan! Kalau Azka kenapa-kenapa, aku nggak pikir panjang membalasmu!”[Uww, takut. Hahaa. Cepat kirim uangnya Rahma! Aku serius ini!]Panggilan terputus. Detik kemudian pesan masuk berisi nomor reken

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Azka

    Pentungan besi satpam tepat mengenai jari Nadine, berhasil membuat pisaunya terlempar jauh. Gadis itu mengerang dan meloncat-loncat menahan nyeri.“Tolong mbaknya!” Beberapa orang masuk langsung membantu Rahma bangun, dan diobati lukanya.“Mam-mi …??” Seketika tubuh Nadine membeku melihat ada Bu Hakim di depan pintu, tengah menatapnya kecewa. “Se-sejak kapan Mami di sini?”“Kamu angkat tangan!” Satu dari tiga orang laki-laki membawa borgol meneriakinya. “Bawa dia ke kantor polisi!”“Saya nggak salah, Pak! Dia itu janda gatal! Dia sembunyikan calon suami saya!”“Nanti Mbak jelaskan di kantor saja,” tegas mereka tetap memborgol dan menggiringnya keluar.“Mi, tolong Nadine, Mi! Aku ini calon istri Jay, Mi!”Sayangnya Bu Hakim tak sedikit pun mau melihat wajahnya. “Mi! Ini semua juga gara-gara Mami! Gara-gara Jay!! Kalian semuaa!” pekik gadis itu terus histeris sampai di lantai bawah.Beberapa orang kembali turun usai Rahma mengatakan dirinya baik-baik saja, dan menolak ke rumah sakit. T

  • Dijadikan Ipar oleh Mantan Suami   Jiwa Psikopat

    Harlan datang ke rumah Bu Tami dengan gaya khasnya, seolah lelaki tertampan sedunia.Kehadirannya disambut raut masam dua perempuan yang duduk di ruang tamu.“Woi! Kenapa lihat aku begitu? Mana Azka?” tanyanya sambil celingukan.Safea buang muka lantas gegas ke kamar. Ia sudah lama muak lihat wajah Harlan. Tidak mau lagi berurusan dengan lelaki yang menolak menceraikannya itu.“Azka lagi tidur. Kenapa? Tumbenan ingat rumah ini?” Bu Tami bersedekap.“Lah, lah? Apa maksud Ibu? Oh, pasti Ibu mau halangi aku temui Azka, hum?”Alis lelaki itu naik sebelah. “Aku rindu anakku sekarang. bukan rindu istri cantikku yang hobi manyun itu.”“Kenapa baru sekarang anggap Azka anak? Mana tanggung jawabmu setelah berapa lama hilang?”Seminggu sejak keributan parahnya dengan Safea, Harlan memang tak pernah muncul batang hidungnya, lalu sekarang datang seolah tak bersalah.“Itu urusan pribadi, Bu. Nggak perlu juga kali aku jelaskan.” Ia melewati begitu saja Bu Tami yang melarangnya ke kamar Azka.“Mau ap

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status