Mag-log inBegitu kalimat itu terucap, suasana langsung menjadi heboh.Intrik dan saling menjatuhkan di dunia kerja memang hal biasa, tetapi perundungan kantor yang begitu terang-terangan ini jelas jarang terjadi."Kenapa kamu memaksa Ryan mengundurkan diri?" tanya Lucya."Aku ... aku ...."Wajah Zio berubah menyakitkan dan cukup lama dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.Semua orang menatapnya dengan cemas. Juno dan para wakil presiden direktur pun tak mengalihkan pandangan darinya sedikit pun."Aku diselingkuhi oleh Ryan!" Zio tiba-tiba menangis tersedu-sedu. "Ryan itu bukan manusia, dia bajingan! Dia memperkosa pacarku, Cathy! Ryan, sialan, aku akan membunuhmu!"Zio menerjang ke arah Ryan dengan histeris. Rekan-rekan di sekitarnya buru-buru menahan. "Tenang!"Zio ditahan oleh beberapa orang. Dia menangis tersedu-sedu. Dengan penuh amarah, dia menunjuk Ryan dan berteriak, "Ryan, kamu melecehkan pacarku! Lalu kamu bilang nggak mau masuk penjara dan memintaku melepaskanmu.""Karena masih menging
Di ruang rapat itu, duduk para petinggi perusahaan. Aura yang mereka pancarkan begitu menekan, membuat suasana terasa khidmat sekaligus mencekik."Ketua, Anda memanggil saya?" tanya Ryan dengan wajah tenang."Benar," kata Juno. "Kami sedang rapat dan kebetulan membahas masalahmu. Duduklah.""Oh." Ryan menjawab singkat lalu berjalan ke meja rapat, tetapi mendapati tidak ada kursi yang disiapkan untuknya.Juno memberi isyarat pada sekretaris. "Tambahkan satu kursi untuk Ryan.""Nggak perlu, Ketua. Saya berdiri saja," Ryan tersenyum tipis. "Lagi pula saya juga sebentar lagi akan mengundurkan diri."Begitu kalimat itu keluar, seluruh ruangan langsung gempar.Mengundurkan diri?Namun sedetik kemudian, semua orang memahami maksud Ryan. Jelas, setelah membaca email itu, dia sadar posisinya sudah tidak bisa dipertahankan, jadi memilih untuk angkat tangan lebih dulu.Juno bertanya, "Ryan, apa maksudmu bilang begitu?"Ryan menjawab, "Saya sudah menulis sebuah surat pernyataan. Kebetulan hari ini
Ray melirik Larry sekilas lalu berkata dengan nada menyindir, "Ryan itu 'kan orang yang direkomendasikan Pak Larry ke divisi penjualan. Menurut saya, sebaiknya Pak Larry saja yang menyampaikan pendapatnya!"Benar-benar tudingan yang dilemparkan tepat di saat krusial.'Kalau orang yang kamu rekomendasikan bermasalah, jangan harap kamu bisa cuci tangan begitu saja. Ini akibat dari pilihanmu sendiri!'Serangan ini membuat Larry benar-benar tidak siap.Juno pun menoleh ke arah Larry. "Ryan direkomendasikan olehmu?"Dengan terpaksa, Larry menjawab, "Benar, Ketua. Waktu itu Ryan bertugas di wilayah penjualan dan kinerjanya cukup baik. Saya melihat anak muda itu cekatan, ditambah lagi mendengar bahwa dia keturunan keluarga medis, jadi saya ingin memberinya kesempatan. Kami tidak ada hubungan pribadi apa pun, apalagi hubungan keluarga."Larry segera membersihkan dirinya dari segala kemungkinan keterkaitan, sambil membungkus alasan rekomendasinya dengan rapi.Juno mengangguk, lalu berkata, "Bai
"Soal Ryan yang melecehkan bawahan di departemen, buktinya sudah jelas. Bu Lucya punya pandangan apa?" tanya Larry.Lucya mengangkat satu tangannya untuk menekan dada, wajahnya tampak sedih saat berkata, "Kalau memang melakukan kesalahan, dia harus menerima hukuman. Menurut Pak Larry, gimana rencananya menangani Ryan?""Soal ini sudah bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan," Larry menghela napas. "Sekarang hampir seluruh perusahaan sudah tahu. Sekretaris ketua dewan juga sedang ke sana kemari mencari informasi. Kali ini Ryan membuat masalah yang terlalu besar."Lucya tersenyum pahit sambil menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak bisa memahami bagaimana Ryan bisa melakukan hal seperti itu. Bahkan sampai sekarang, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih tidak percaya Ryan adalah orang seperti itu.Namun, buktinya sudah ada. Rasanya terlalu menyakitkan. Dadanya terasa seperti diremas kuat hingga terasa sesak."Pak Larry, hari ini aku ingin izin. Badanku terasa kurang sehat," kat
Ryan mengerutkan kening dan menghela napas, tetapi tidak mengatakan apa pun. Sekarang memang bukan waktu yang tepat untuk membuka semuanya.Namun justru pada saat ini, Lucya berharap Ryan terus membela diri. Bahkan, dia berharap Ryan membantahnya dengan keras. Berkata bahwa dia sama sekali tidak melakukan semua itu dengan tegas dan penuh keyakinan.Namun, Ryan terus diam.Melihat sikap itu, hati Lucya langsung terasa dingin."Ryan, Ryan ... aku benar-benar nggak menyangka kamu orang seperti ini!" Lucya menggertakkan giginya. Rambutnya sedikit berantakan, matanya dipenuhi amarah. "Baru dapat sedikit kekuasaan saja, kamu sudah mulai main aturan tak tertulis di kantor. Kalau suatu hari kamu jadi wakil presiden direktur atau presiden direktur, apa kamu bahkan nggak akan melepaskanku juga?""Bu Lucya! Mana mungkin aku memanfaatkan posisi terhadap Anda?" kata Ryan."Jadi maksudmu, penampilan dan tubuhku nggak masuk seleramu, begitu?" Lucya menggertakkan gigi, wajahnya memerah karena marah."
Dua hari akhir pekan berikutnya, Ryan sama sekali tidak punya waktu untuk beristirahat. Sepanjang hari Sabtu, dia sibuk menerima wawancara dari berbagai media.Terkait kasus virus spiral di Kabupaten Tosa, pihak atasan memberikan berbagai piagam penghargaan kepada Ryan, membuat namanya langsung melambung.Setelah susah payah menyelesaikan rangkaian wawancara, sepanjang hari Minggu Ryan juga tidak sempat bersantai. Dia terlebih dahulu memenuhi undangan Bianca untuk makan malam.Di meja makan, dia juga melakukan panggilan video dengan kakak Bianca, Feliska, sambil berbincang soal kondisi terkini.Sore harinya, Kenny kembali mengajak Ryan ke bar untuk berkumpul bersama teman masa kecilnya, Milea, serta Saskia.Larut malam saat kembali ke tempat tinggalnya, Ryan masih menyempatkan diri menelepon Ivy, yang berada jauh di Amrik, selama kurang lebih satu jam.Ivy mengatakan bahwa pekerjaannya sedang sangat sibuk dan kemungkinan besar tahun ini dia tidak akan pulang. Padahal sebenarnya, Ivy be







