LOGINIni adalah perbedaan yang bersifat mendasar.Meski orang lainnya itu mengaku tidak mengharapkan imbalan, tetap saja akan menonjolkan diri mereka sendiri. Sementara itu, Ryan malah bersikap sebaliknya. Dia sebisa mungkin menghilangkan keberadaan dirinya dan malah mendorong Amanda ke depan.Itu adalah bentuk ketulusan yang murni.Sebagai wanita yang telah lama berkecimpung di dunia bisnis dan kekuasaan, Nora bisa langsung melihat apakah seseorang tulus atau tidak hanya dengan sekali pandang."Eh, nggak terasa sudah hampir tengah hari. Hari ini Bibi sedang senang. Bibi akan turun tangan sendiri memasak untuk menjamu kalian," kata Nora.Seluruh aura dirinya seolah kembali muda sepuluh tahun. Senyumnya cerah bak gadis belia."Bi Nora, nggak perlu repot-repot. Sebenarnya waktuku cukup mepet," kata Ryan. "Aku harus memeriksa kondisi Bibi lebih lanjut, lalu menuliskan resep. Setelah itu aku masih harus masuk kerja ...."Ryan berbicara panjang lebar. Nora menatapnya tanpa berkedip dan malah sem
Begitu mendengarnya, hati Nora langsung diliputi kegembiraan luar biasa. Dia sangat bersemangat.Tidak pernah terbayangkan olehnya, di usia seperti sekarang, dia masih memiliki harapan untuk melahirkan anak kandung. Hal seperti ini bahkan tidak pernah berani dia impikan.Namun, Nora adalah wanita yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup. Dia sangat pandai menyembunyikan perasaan. Dari luar, dia tetap bersikap tenang dan berkata, "Di usia seperti ini, buat apa lagi punya anak? Ryan, jangan-jangan kamu sedang mengolok-olok Bibi, ya?""Bi Nora, aku nggak berani," kata Ryan. "Aku hanya menyampaikan fakta medis. Setelah diobati, kondisi tubuh Bibi nggak akan berbeda dengan orang sehat pada umumnya. Bahkan, Bibi akan lebih muda dan lebih cantik dibanding wanita biasa.""Aduh, kamu memang pintar bicara."Di wajah Nora muncul senyum yang hampir tidak pernah terlihat sebelumnya. Jangan salah sangka, meskipun dia memiliki jabatan tinggi dan kekayaan melimpah, sebenarnya hidupnya tidak bahagia.
"Biar aku yang jelaskan," kata Ryan sambil menepuk bahu Amanda. "Bi Nora, tujuan kedatanganku hari ini hanya satu, yaitu memenuhi permintaan Amanda untuk membantu memeriksa kondisi kesehatan Bibi.""Aku bisa melihat masalah Bibi karena kondisi ini tercatat secara rinci dalam sebuah kitab medis yang diwariskan turun-temurun di keluargaku.""Menurut catatan tersebut, zaman dulu keluarga kami pernah menangani sebuah kasus wanita dengan kondisi infertilitas.""Wanita itu bukan orang biasa. Dia adalah salah satu dari selir dalam sejarah. Karena kecantikannya yang luar biasa, dia terpilih secara khusus oleh istana untuk menjadi selir. Tapi, masalahnya adalah dia tidak bisa hamil.""Sesuai namanya, kondisi ini membuat orang sangat sulit untuk memiliki anak.""Kondisi ini tidak hanya dialami wanita. Pria juga bisa mengalami infertilitas. Pria dengan kondisi seperti ini biasanya sangat tampan sampai membuat siapa pun yang melihatnya akan menyukainya. Tapi, kekurangannya adalah tidak memiliki sp
Awalnya hari ini Sonya sedang libur. Namun karena kasus di Gunung Umara itu, atasan sangat menaruh perhatian, sehingga dia harus bekerja tanpa henti dan pergi ke Gunung Umara untuk memimpin tim mencari petunjuk.Setelah meninjau kasusnya, Sonya sendiri juga merasa kebingungan.Daerah Gunung Umara hampir belum dikembangkan. Di sana hanya ada sebuah resor pemandian air panas. Korban yang meninggal di tempat seperti itu, membuat petunjuk yang bisa ditemukan sangat minim.Karena itulah, nama Ryan sebagai satu-satunya tersangka dalam berkas perkara membuatnya sangat terkesan."Iya, ada orang yang menjebakku, menuduh aku terlibat dalam kasus pembunuhan itu," kata Ryan."Benarkah itu jebakan?" Saat Sonya menatap Ryan lekat-lekat, sorot matanya sangat tajam dan penuh tekanan."Tentu saja itu jebakan," kata Ryan. "Memang benar aku punya konflik dengan Marvin, tapi nggak mungkin sampai membuatku membunuh dia.""Heh!" Sonya tertawa dingin. "Dari semua pembunuh yang pernah aku temui, setengahnya m
Lalu dia mendekat ke telinga Amanda dan berbisik pelan, "Dokter bilang aku sudah masuk masa menopause, katanya aku sebentar lagi akan berhenti haid!""Hah? Ini ...." Amanda tampak terkejut.Dalam ingatannya, Nora selalu merupakan wanita yang anggun dan awet muda, seolah tidak pernah menua."Aku nggak terima!" kata Nora. "Tahun ini aku baru 46 tahun. Aku masih merasa diriku ini gadis muda!" Lalu dia melirik Ryan. "Menurutmu, benar nggak, Ryan?""Iya, iya!" Ryan mengangguk cepat. "Seharusnya nggak memanggilmu Bi Nora, tapi Kak Nora!""Hahaha! Lihat, Ryan ini pintar sekali bicara!" Nora tertawa lepas dan lantang. Namun tetap terlihat, di balik alis dan sorot matanya, ada sedikit ketidakberdayaan yang sulit disembunyikan."Bi Nora, jangan dengarkan omongan mereka," kata Amanda. "Hari ini aku bawa Ryan khusus untuk membantu merawat tubuh Bibi.""Oh?" Nora tampak terkejut. "Selain meneliti dan mengembangkan obat, Ryan juga bisa merawat tubuh?""Penelitian obat itu hanya pekerjaan sampinganny
"Terima kasih, Bi Nora," kata Ryan sambil mengambil sebutir permen mint dan memasukkannya ke mulut."Bi Nora, di Distrik Utara Gunung Umara ada orang meninggal. Apa hubungannya dengan Sonya? Kenapa dia ikut menangani kasus ini?" tanya Amanda pada Nora."Dia baru saja naik jabatan. Sekarang dia menjabat sebagai ketua sementara Tim Reserse Kriminal Unit Satu." Nora menghela napas. "Di bawahnya juga ada regu antinarkoba. Jangan ditanya seberapa berbahayanya pekerjaan itu.""Sonya cantik dan juga jago bertarung, bukan orang biasa," hibur Amanda. "Dia punya kemampuan untuk menangani semua itu.""Mana bisa dibandingkan dengan kamu?" Nora menggenggam tangan Amanda. Aura kuatnya seketika melunak dan terlihat seperti seorang orang tua yang penuh kasih. "Suamiku dan ayahmu itu rekan seperjuangan. Dia tiap hari iri sama ayahmu karena punya anak perempuan seperti kamu.""Bibi terlalu memuji," kata Amanda dengan rendah hati."Ryan, jangan sungkan. Makan buah saja," tambah Nora.Melihat Ryan tampak







