LOGINDewasa"Jadi menurut Mama, apa Roro akan baik-baik saja?" tanya suamiku saat malam ini kami kembali tidur bersama, setelah malam kemarin, suamiku menemani putrinya yang patah hati. Mereka berdua tidur di depan televisi dengan sofa kasur."Iya, Pa. Masalah yang dialami Roro itu, hampir sama dengan masalah yang ia sebabkan pada Mama dan Exel. Bedanya, waktu pertama kali saya tahu, Exel dan Roro memang belum menikah. Untuk Roro masalahnya agak pelik, karena pelakor itu sudah dinikahi dan tengah hamil pula. Berarti Mas sudah tahu siapa yang bajingan di sini'kan?" suamiku mengangguk sambil menatap langit kamar. "Papa khawatir," kata suamiku lagi. Aku mendekatkan tubuh ini dengannya. Melingkarkan tangan untuk memeluk tubuhnya yang semakin hari, semakin lebar saja. "Roro harus menghadapi wanita itu. Bukan menghindar, apalagi melepas Exel. Orang seperti Exel memang tidak pantas untuk diperebutkan, tetapi dengan Roro tetap menjadi istri sah Exel, maka pelakor tidak akan bisa berkutik. Exel t
Roro menekan kontak suaminya berkali-kali, tetapi tidak juga diangkat. Panas di hatinya sudah tidak tertahankan lagi. Air mata sudah tidak bisa keluar karena menahan emosi. Tamu yang tidak diundang itu tengah asik bermain ponsel di teras dengan gaya sok anggunnya. Sial, kamu ke mana sih, Mas? Batin Roro kesal. Suara mobil tiba-tiba memasuki garasi rumahnya. Roro hapal suara deru mobil itu, sehingga ia langsung berlari untuk protes pada Exel."Elora, k-kenapa kamu ada di sini?" tanya Exel bingung. Elora bangun dari duduknya, lalu mencium pipi Exel dengan begitu manja. Pemandangan yang membuat hati Roro semakin terbakar api cemburu. "Kalian tidak tahu diri!"Plak! Plak!Dua tamparan melayang di pipi Exel. "Mbak, apa yang Mbak lakukan? Kasihan suami kita ini jadi terluka," sela Elora mencoba melerai. "Dasar kamu juga betina jalang! Berani sekali kamu malah datang ke sini, sialan!" Roro menarik rambut Elora yang tergerai. Perkelahian pun tidak terlelakkan. Roro bergulad dengan Elora
"Boleh'kan, Roro berkunjung ke sini?" tanya suamiku. Tentu saja aku mengangguk. "Ayo, saya temani ke depan!" Ajakku. Mas Probo turun dari ranjang dengan tubuh yang masih sedikit hangat. Wajahnya tadi sempat terkejut. Mungkin ia mengira aku akan mengusir Roro. Tentu saja aku tidak sekejam itu. Apa yang aku inginkan sudah tercapai dan aku tidak ingin memperpanjang permusuhan ini, tetapi juga tidak bisa benar-benar bersikap baik. Tetap saja luka masa lalu itu ada.Aku menggandeng lengannya keluar dari kamar. Menuntunnya untuk berjalan ke ruang tamu. "Papi," panggil Roro yang berjalan cepat menghampiri papinya. "Apa kabar kamu, Roro? Kapan bebas?" tanya suamiku. "Saya buatkan teh dulu, Mas," kataku tanpa mau melihat ke arah Roro. Sampai di dapur, bibik sudah membuatkan tiga cangkir teh. Hanya dua yang aku pindahkan ke atas nampan, ditemani sepiring brownis keju. "Itu gak papa kamu tinggal," kata mamaku bertanya. "Gak papa. Mereka ayah dan anak. Keduanya butuh waktu untuk bicara tanp
POV Sekar."Papa bilang apa?" tanyaku pada Ibra saat kami sedang berhenti di lampu merah."Mau ajak makan dan beli buku," jawab Ibra dengan mata memandang lalu lalang kendaraan lewat dari sisi kiri. "Terus kenapa gak mau?" tanya suamiku. "Ibra kangen Ayah Probo. Jadi mau main di rumah aja. Udah bisa bantuin Ibra main lego kan, Yah?" tanyanya ceria. Selain diriku, ada Ibra yang sangat menanti ayah sambungnya pulang. "Pasti papa Ibra sedih karena Ibra gak mau diajak beli buku. Ayah aja sedih kalau dicuekin Ibra." Putraku menunduk. "Ibra mau, Yah, cuma gak sekarang. Sekarang Ayah baru pulang dari rumah sakit, masa Ibra malah enak-enakan makan es krim." Suamiku tersenyum, melihat sosok Ibra dari spion."Kita makan es krim aja gimana?" tanya Ibra. "Ayah capek, mau langsung pulang aja ya," jawabku. Aku tidak mau Mas Probo kembali jatuh sakit karena mengikuti maunya Ibra."Sayang, saya gak sejompo itu," balas suamiku dengan tawa lebarnya. Aku pun ikut tertawa. "Bukan soal jompo atau ti
POV ExelSiang itu juga, aku ke kantor untuk memastikan kabar dari Bobi. Bukan hanya Bobi yang memberi kabar, asistenku juga memberitahu. Aku tidak mau percaya dan sangat mustahil ada namaku pada list karyawan. Sekelas manager pemasaran dengan kemampuan sangat bagus, tentu mustahil aku dipecat. "Siang, Pak Exel," sapa Rini; asistenku. Ia menyambutku karena aku mengatakan aku akan ke kantor. "Siang, kamu yakin gak salah lihat?" tanyaku."Sebelah sini, Pak. Ada di monitor banner besar dengan lift utama," katanya sambil menunjuk lift bagian kira. Bukan hanya aku, tetapi beberapa karyawan lainnya ikut memperhatikan layar tersebut. Nama yang muncul per sepuluh orang disertai divisinya. Namaku ada dan aku benar-benar tidak percaya. "Pak Samuel ada?" tanyaku pada Rini. Gadis itu menggelengkan kepala. "Semua direksi hari ini ada meeting di Bali tiga hari, Pak." "Kamu kena juga?""Tidak tahu, Pak, karena saya statusnya kontrak, jadi tinggal menunggu surat saja," jawab Rini yang sama bingu
"Exel bantu Mami. Mami gak mau di sini," rengek Bu Rosa pedih. Matanya sayu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Memang benar Bu Rosa tidak bisa memejamkan mata sejak ia sampai di kantor polisi sampai dengan keesokan harinya. "Ada apa sebenarnya, Mi? Kenapa Mami bisa sampai ditangkap? Apa yang Mami lakukan?" cecar Exel yang tidak mengerti. "Mami gak tahu. Mami khilaf. Bantu Mami, Exel!" "Iya, saya mau bantu Mami, tapi gimana kalau saya gak tahu apa yang terjadi sama Mami. Apa Mami udah hubungi pengacara?" Bu Rosa menggelengkan kepala."Oke, Mami ceritakan pada saya apa yang terjadi, lalu saya akan carikan pengacara tepat untuk Mami. Saya juga akan ajukan juga penangguhan penahanan, gimana?" Rosa mengangguk pelan. Lalu mengalir cerita dari wanita itu, bahwa ia telah nekat melakukan hal yang sangat membahayakan dirinya dan juga mantan suaminya. Exel hanya bisa diam, terkejut dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibu mertua, tanpa berani berkomentar apapun. Ia tidak aka
"Mas, saya angkat telepon dulu ya. Ini tangannya lepas dulu," bisik Sekar pada suami yang masih mendekap tubuhnya. Mereka baru saja mengarungi samudra satu kali, dengan Probo sebagai nahkodanya. "Gak mau!" Jawab pria itu tanpa mau membuka mata. "Mas, itu mungkin ada yang penting, makanya telepon
POV Roro"Sayang, HP kamu bunyi terus dari tadi. Coba angkat dulu!" Ujar Mas Exel dengan suara seraknya. Sinar langit yang sudah berwarna, masuk lewat celah jendela. Aku masih sangat mengantuk, tetapi ponselku sejak tadi berdering. Bukan lagi sejak pagi, sejak malam sudah terus berdering.Lelah di
"Kamu jangan cerita apapun pada mami soal asuransi ini, Mas. Biarkan mami sehat dulu saja," kataku berpesan pada Mas Exel. "Iya, Mas berangkat ya. Ini sudah telat." Aku akhirnya mengangguk pasrah. Biasanya juga aku mengurus mami sendiri saat papi sibuk bekerja. Jadi untuk kali ini pun aku tidak m
"Atas dasar apa Bapak berdua ingin saya ke kantor polisi? Saya gak mau!" Tolak Roro tegas. Namun, yang ia tolak bukanlah orang sembarangan, melainkan sepupu dari Sekar yang mungkin wanita itu tidak mengenalinya saat acara pernikahan tadi. Exel pun tidak mengenali saudara mantan istrinya itu karena







