登入Sarah tak pernah menyangka rasa cinta yang membuatnya bersedia menjadi istri Rafli ternyata hanyalah hasil manipulasi bulu perindu. Ketika black magic itu berhasil hancur, kesadaran Sarah pun kembali, kemampuan penciumannya juga bangkit lebih tajam. Kini, Sarah akan memilih untuk bangkit dan menentukan masa depannya sendiri hingga mereka yang pernah menganggap Sarah lemah, kini menyadari bahwa wanita cantik yang terlihat penyabar itu sebenarnya sedang menyiapkan balasan tanpa mengenal belas kasihan.
查看更多"Ahh ..."
Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri sudah parau dan serak, tubuhnya benar-benar akan ambruk begitu Rafli memberikan gempuran terakhir yang sangat keras seiring dengan lelakinya itu mengejang dengan peluh bercucuran membasahinya. Bau apek dari pendingin ruangan yang berisik menjadi satu-satunya musik di kamar hotel murahan ini. Kontras dengan aroma parfum mahal milik Rafli yang masih tertinggal di udara. Pitri menggeser kepalanya, berniat berbaring di atas lengan Rafli, namun pria itu dengan cepat menarik bantal untuk mengganjal kepala Pitri Seakan tidak menyadari penolakan halus tersebut, Pitri tersenyum tipis. Ujung jemarinya mulai menelusuri dada bidang pria yang sejak pagi telah membuatnya melambung tinggi. "Sampai kapan kita seperti ini, Abang?" tanya Pitri lembut, sementara jemarinya terus menggambar pola acak di atas kulit Rafli yang masih basah oleh keringat. "Aku muak melihat Abang masih memperlakukan Kak Sarah dengan mesra di toko," lanjut wanita itu dengan rahang mengencang kesal setiap kali mengingat Sarah yang cantik jelita dan awet muda, tak pernah memandangnya sedikitpun. Rafli memiringkan tubuh, memandang Pitri dengan tatapan lembut yang menipu, "Sarah itu istriku. Bersabarlah sebentar lagi. Setelah apa yang kuinginkan berhasil kudapatkan, aku akan meninggalkan Sarah dan menikahimu," janji Rafli manis. Tentu saja, janji itu bukan hanya untuk Pitri. Ada banyak wanita lain yang menerima kalimat serupa di atas ranjang berbeda yang tidak kalah hangat dari yang diberikan Pitri saat ini. Pitri terdiam. Kalimat janji yang Rafli ucapkan sudah sangat hapal dalam kepalanya. Seolah kalimat mantra itu tak lagi bisa meredakan gejolak cemburu dalam rongga dadanya setelah apa yang dia berikan pada Rafli. Di tempat lain, ponsel Sarah bergetar di atas meja. Wanita itu sedang sibuk dengan laptop kerjanya. "Ada apa, Azriel?" tanya Sarah begitu menjawab panggilan telepon dari salah satu karyawan toko sepatu impornya. [Ada barang masuk, Kak. Tapi Bang Rafli belum datang ke toko.] "Oh, terima saja seperti biasanya. Tak masalah, 'kan?" sahut Sarah santai. Tadi pagi Rafli memang pamit pergi berbelanja sepatu untuk stok toko yang kini dijalankan oleh suaminya itu tanpa campur tangan Sarah, kecuali dalam hal modal. [Tapi ...notanya belum dibayar, Kak. Ponsel Bang Rafli dari tadi berdering tapi enggak dijawab.] "Berapa totalnya?" [Lima ratus lima puluh lima juta, Kak,] jawab Azriel, terdengar sangat lirih di ujung kalimat. "Apa? Lima ratus jutaan? Rafli sama sekali belum membayarnya?" tanya Sarah terkejut. Tadi pagi Rafli baru saja meminta uang dengan akad meminjam senilai seratus juta rupiah untuk belanja sepatu. Pinjaman yang tak pernah dikembalikan sejak mereka resmi menikah enam bulan lalu. "Berikan ponselmu pada petugas pengirimannya. Biar aku yang bicara langsung," ucap Sarah setelah berpikir cepat. Sambil berbicara dengan kurir agen sepatu impor, tatapan Sarah tidak lepas dari layar laptop yang menyala di hadapannya. Di sana, terpampang jelas email dari Catherine, sahabat sekaligus rekan bisnis parfumnya sejak dua tahun lalu. 'Kapan kau bisa kembali meracik parfum lagi, Sarah? Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Para pelanggan menanyakan varian yang kau racik saat awal launching. Aku sudah coba membuatnya, tapi hasilnya jauh dari racikanmu.' Ya, sejak setahun terakhir, tepatnya setelah pertemuannya dengan Rafli, Sarah seolah kehilangan sensitivitas indra penciumannya dalam meracik parfum. Beberapa kali ia mencoba, namun hasilnya selalu gagal dan tidak sempurna. Tachi, putranya yang berusia enam tahun, bahkan sempat mengernyit begitu mencium parfum racikan terbaru yang dibuat Sarah. "Aroma apa ini? Mommy, kenapa kamu membuat aroma seperti pewangi air pel murahan?" celetuk anak lelaki itu polos disusul tawa kecil. Sarah saat itu hanya menaikkan alis, ikut tertawa kecil sambil mengangguk, "Ya, tadi memang sedang coba-coba membuat pewangi lantai. Bagus, enggak?" "Tidak bagus. Lebih baik Mommy beli saja obat pel lantai yang ada di warung. Nanti campur dengan minyak sereh, itu jauh lebih wangi," jawab Tachi telak. [Kak Sarah, apakah Kakak masih mendengarkan? Atau Kakak mau bicara langsung dengan Koko Yayan saja biar enak?] Suara kurir di telepon membuyarkan lamunan Sarah. Pria, kurir itu bahkan mengulangi penjelasannya kembali mengenai Rafli yang hanya memesan sepatu, namun meminta agar tagihannya dibebankan kepada Sarah. "Ah, ya, maaf. Boleh, kirimkan nomor telepon Koko Yayan ke ponselku langsung?" sahut Sarah, berusaha menahan gemetar di suaranya sebelum memutus sambungan. Setengah miliar lebih dalam sehari? Dada Sarah mendadak sesak. Uang seratus juta tadi pagi saja belum jelas rimbanya, sekarang ditambah beban lima ratus lima puluh lima juta? Tepat saat rasa syok dan amarah Sarah memuncak hingga ke ubun-ubun, sesuatu di dalam kepala wanita cantik itu seolah pecah. Plup! Sarah menarik napas dalam-dalam dan detik itu juga, indra penciumannya yang selama setahun ini seperti tersumbat dan mati rasa, tiba-tiba terbuka paksa. Sarah tersedak, dahak seakan memenuhi rongga tenggorokannya dan napasnya pun putus-putus. Setelah membuang lendir-lendir yang tersangkut dalam tenggorokannya di wastafel, ia menenggak air hangat. Namun hidungnya yang dahulu sangat sensitif, kini mulai mencium bau aneh yang sangat pekat menguar di udara dan sekelilingnya. Sarah membuka pintu depan rumah agar angin bertiup masuk. Namun aroma aneh tersebut bukan hanya ada di dalam kamar tidurnya bersama Rafli, tetapi juga menyeruak di ruang tengah, bahkan dari dalam kamar Tachi, putra semata wayangnya sebelum menikah dengan Rafli. "Oh ..." Sarah tersentak kaget, bergegas meraih botol sampel parfum di dalam laci meja riasnya, lalu menghirupnya. Jasmine, sandalwood, lavender ...Akurat! Kemampuan Sarah telah kembali! Perut Sarah seakan diaduk-aduk, merasa mual luar biasa mencium aroma aneh yang sangat pekat dan menusuk hidung yang akhirnya ia sadari berasal dari arah lantai. Bau tanah kuburan yang basah bercampur aroma kemenyan menguar di udara. "Bagaimana ini terjadi?" gumam Sarah pelan. Selama ini Sarah mengepel lantai rumah dan mengelap meja serta perabotan menggunakan air yang dicampur aromateraphy racikannya sebelum 'kehilangan' penciuman sensitifnya. Sambil menahan napas, Sarah bergegas masuk ke kamar Tachi yang baru saja terbangun, langsung memamerkan senyum lebarnya nan cerah begitu melihat wajah Sarah masuk. "Mommy ..." panggil Tachi dengan mata berbinar. Jantung dalam rongga dada Sarah seakan diremas tangan besi tidak kasat mata. Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat cahaya sebahagia ini di mata Tachi. Sarah mendekat, mengendus rambut dan leher Tachi, "Tachi pakai sesuatu? Kok baunya aneh?" "Tidak," Tachi terkekeh geli karena lehernya dihujani ciuman tapi dia sangat menyukainya, "Tapi Mommy... kenapa di bawah ranjang Tachi ada banyak tanah hitam? aromanya sedikit seperti bau kentut ya?" Sarah membeku. Kalimat polos Tachi barusan membuat darahnya mendadak dingin. Tatapan Sarah perlahan turun, melongok ke kolong ranjang tidur Tachi yang gelap. Pada bagian sudut sedikit tersembunyi, berserakan segenggam tanah hitam pekat yang bisa ia deteksi menebarkan bau anyir dan mistis yang luar biasa kuat, bau yang kini Sarah pun baru sadari, sama dengan yang dibawa Rafli setiap kali pria itu pulang larut malam. Sarah mencengkeram dadanya yang gemetar, menyadari satu kenyataan mengerikan. "Oh Tuhan... apa yang sebenarnya telah dilakukan Rafli pada rumah dan anakku selama enam bulan ini?" monolog Sarah dalam hati. "Mommy, Mommy kenapa? Wajah mommy pucat..." Tachi memegangi wajah Sarah, mengelap keringat yang merembas keluar di dahi dan pelipisnya. "Mommy ga apa-apa, Ma Bear. Besok Tachi ulang tahun, mau beli hadiah hari ini?" "Yeay, ulangtahun lagi!" Tachi berseru riang, tetapi kedua bola mata polosnya menatap Sarah lekat-lekat, "Sudah lama Mommy ga panggil Tachi dengan sebutan Ma Bear." kedua lengannya menarik pundak Sarah dan memeluk Ibunya tersebut, "Hari ini Tachi bahagia!" bisiknya lembut yang kembali seperti ombak besar menghantam kesadaran Sarah. "Maafin mommy ya. Mommy punya banyak salah ke Tachi." balas Sarah sambil melingkarkan lengan memeluk erat punggung Tachi, "Kita nginep di hotel yuk, merayakan ulang tahun Tachi yang ke tujuh ..." Belum selesai perkataan Sarah, Tachi sudah memotongnya cepat, "Om Rafli ikut juga Mom?" tanyanya dengan sorot mata was-was merenggangkan pelukan, menatap Sarah. Sarah tersenyum tipis, lalu kepalanya menggeleng, "Tidak. Om Rafli kan ga ulang tahun, jadi dia ga ikut." Binar di netra Tachi semakin cemerlang, ia terlihat sangat bahagia. "Bagaimana bisa mommy abai akan kebahagiaanmu selama ini, Nak?" lirih Sarah dalam hati merasa sangat bersalah pada Tachi.Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ruangan luas bernuansa putih dengan pencahayaan temaram yang nyaman."Mommy..." panggil Tachi pelan. Tangan kecilnya menggenggam jemari Sarah.Sarah mengerjapkan kelopak mata, lalu mengulas senyuman tipis untuk menenangkan Tachi yang memandangnya cemas. Saat mencoba menggerakkan tangan, ia baru menyadari salah satu punggung tangannya telah ditusuk oleh jarum infus."Maaf, ya... Tachi semalam tidak bisa tidur? Kemarilah, berbaring di samping Mommy," bisik Sarah lembut.Tachi segera naik ke atas brankar dengan hati-hati, lalu melabuhkan kepalanya di atas pundak Sarah sembari memeluk Mommynya itu erat.Sarah bisa merasakan tubuh kecil Tachi sedikit bergetar. Ia pun mendengarkan dengan saksama saa
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli sebagai hasil keringatnya sendiri di depan para wanita 'penghiburnya'."Pahaku sampai kram nih, Abang nyosor terus enggak ada habisnya..." kekeh Pitri manja, berpura-pura kesulitan meluruskan kakinya di kursi penumpang samping Rafli yang mulai menyalakan mesin.Rafli tergelak rendah, terdengar sangat puas, "Siapa suruh kamu begitu mencandu? Jadinya Abang kan ketagihan dan ga bisa berhenti," bisiknya sensual sambil menoel gemas pipi Pitri yang kini sudah kembali mengenakan hijab tertutupnya secara rapi."Mau diantar pulang ke kosan atau mau ke toko? Tapi nanti malam Abang gak bisa mampir, ke kosanmu ya," tanya Rafli sembari mengarahkan mobil keluar dari pelataran parkir hotel."Sudah sore begi
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sarah, kesusahan menyeret tas ransel kecil yang sudah ia jejali dengan beberapa setel pakaiannya.Melihat putranya yang tertawa ceria, pertahanan dingin Sarah runtuh digantikan kehangatan, "Kemari ..." Sarah langsung merengkuh tubuh montok itu, melabuhkan wajahnya dan menciumi rambut Tachi yang beraroma sampo anak-anak, lalu beralih mengendus pangkal lehernya."Mommy geli ... Hahaha! Aduh ...tolong!" pekik Tachi tergelak renyah, menggeliatkan tubuhnya. Namun, kembali dengan sengaja menyodorkan lehernya agar terus dihujani ciuman oleh Sarah yang juga sangat menikmati menggoda putranya itu.Sungguh, wajah anak lelaki yang menjelang usia tujuh tahun tersebut terlihat sangat bahagia. Hanya kare
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki kecilnya berlari bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil berteriak, "Mommy, nanti di hotel, Tachi boleh nonton Animax?" Sarah terkekeh rendah, melihat kebahagiaan putranya. Ia mengetuk pelan daun pintu kamar mandi, "Ya. Tachi boleh nonton Animax sepuasnya tapi jam tidur malam tetap berlaku seperti biasanya." "Ahhhh, tak ada kompensasi nih, Mom?" terdengar suara Tachi merajuk manja dari dalam kamar mandi.Sarah dengan tawa kecil dengan luapan rasa bahagia, "Cepatlah mandinya, konpensasi tergantung mood Mommy." godanya iseng yang seolah juga telah lama tidak Sarah lakukan pada putranya itu, sejak bersama Rafli.Setelah memastikan Tachi aman di kamar mandi, Sarah melangkah masuk ke dalam kamar t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.