Masuk"Kerja bagus, Anggi," puji Pak Probo padaku.
"Terima kasih, Pak. Sudah menjadi tugas saya," jawabku sopan dan profesional. Kaki ini mengekori langkah lebarnya dengan tergopoh karena kakiku tidak sebesar kakinya. Pria itu menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku. "Apa jalan saya terlalu cepat sampai kamu seperti tengah jadi atlet lari?" tanyanya lagi. "Maaf, Pak, kalau berkenan, Bapak jalan pelan-pelan aja sedikit, Pak. Karena saya bawa banyak barang dan berkas ini," kataku tanpa berani mengangkat wajah untuk melihat ekspresinya. Sebuah kesalahan yang aku buat di hari pertama, pasti aku dikira mengatur bos. "Saya gak bisa pelan, saya mau ke WC. Nanti keburu itu ha ha ha ...." aku pun akhirnya ikut tertawa. Pria itu berbelok ke kanan setelah melewati lorong. Ia masuk ke toilet lelaki, sedangkan aku ke toilet wanita. Wajah ini kucuci bersih agar kantuk hilang. Pelembab pun koleskan merata di kulit wajah agar terasa segar kembali. "Mau makan?" tanyanya. "Mau, Pak. Kalau Bapak?" "Tentu saja. Ayo, kita makan di sana!" Aku menurut saja saat kami masuk ke dalam mobil. Namun, sudah tidak ada Ardi, sopir yang tadi membawaku dari kantor ke Puncak-Bogor. Pak Probo yang menyetir. "Sopir ke mana, Pak?" "Saya suruh balik. Saya perlu bicara dekat dengan kamu. Maksudnya sebagai sekretaris baru saya, kamu harus tahu kegiatan sehari-hari saya ngapain aja." Aku mengangguk paham. "Apa yang biasa saya lakukan? Makanan yang membuat saya alergi. Mungkin sedikit tentang keluarga saya karena nanti mereka banyak sedikit pasti tahu tentang kamu. Terutama istri." Aku baru saja menahan napas begitu mendengar keluarganya, tetapi langsung menghela penuh kelegaan setelah mendengar terutama istrinya. "Baik, Pak, saya paham." Aku melirik jam di dekat stir mobil sudah jam satu siang. Pantas saja atasanku mau cari makan. Mobil melaju pelan menyusuri jalanan kota Bogor yang saat ini diguyur hujan gerimis. "Jadi, anak kamu siapa namanya?" "Apa itu perlu, Pak?" tanyaku. "Ya, kalau tidak mau jawab juga gak papa. Nanti pasti saya tahu sendiri," jawabnya santai. Aku tidak menyahut lagi karena ada banyak hal yang melintas di kepala. Terutama kekhawatiran Pak Probo tahu aku adalah istri menantunya. "Istri saya bernama Rosa. Terkena sakit stroke sudah empat tahun delapan bulan. Usianya lebih muda empat tahun dari saya. Dia jadi suka tantrum. Lalu saya menikah dengan Ayu. Janda tanpa anak yang lebih muda dua tahun saja dari Rosa." "Wah, Bapak istrinya dua?" "Ayu sudah meninggal enam bulan lalu." Aku mengangguk. Ini pasti postingan yang dikomentari oleh Bang Exel kurang lebih lima bulan lalu. "Innalilahi wa innaa ilaihi rooji'un. Turut berduka cita, Pa," kataku dengan suara penuh simpati. Beliau hanya tersenyum tipis. Perjalanan dilanjutkan dalam keheningan. Mungkin bosku kembali mengingat mantan istri mudanya. Ini adalah kesempatan baik untukku, tetapi aku tidak mau dianggap terlalu murahan. Ini bukan saatnya karena aku sendiri belum juga sepuluh jam bekerja. "Putri saya satu-satunya bernama Roro. Baru menikah dua hari yang lalu. Dapat suami duda tanpa anak." "Oh, duda tanpa anak, Pak? Anak Bapak, maaf, janda atau masih gadis?" tanyaku dengan hati panas. Duda tanpa anak katanya? Lalu Ibra itu siapa baginya? Kamu sangat keterlaluan Bang Exel! Lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan untuk membalas sakit hati ini! "Iya, namanya sudah cinta. Roro mengancam akan kabur kalau saya gak restuin. Istri saya lagi sakit dan saya gak mau dia tambah sakit." Aku mengangguk pelan. Dasar wanita gatal! "Turut prihatin dengan keadaan keluarga Bapak. Semoga semua berjalan dengan lancar, Pak." "Makasih, Anggi. Ayo, turun! Ini restorannnya." Terlalu fokus mendengarkan Pak Probo bercerita, aku sampai tidak menyadari kami sudah berada di depan sebuah restoran yang nampak mewah. "Mau pesan apa? Pesan saja semua menu yang bisa bikin semangat kamu balik lagi. Kita masih ada meeting jam tiga. Gak lama, satu jam setengah cukup." "Baik, Pak, terima kasih. Saya jadi tidak enak hati, masih baru kerja sudah diperlakukan dengan sangat baik oleh Bapak. Pantas saja perusahaan Bapak maju pesat karena ternyata di pimpin oleh pimpinan yang baik hati, bijaksana, dan ternyata penyayang keluarga." Aku memujinya setinggi langit. Karena aku juga perlu dirinya untuk membawaku ke langit untuk menghukum Bang Exel. "Saya tidak sesempurna itu, Anggi. Saat ini saya sedang mencari pengganti istri kedua saya." Aku yang tengah menatap buku menu, langsung menatapnya dengan terkejut. "Oh, lalu istri tua Bapak?" "Dia pasti akan ijinkan. Saya boleh poligami asalkan dengan janda." Pria itu tertawa. Aku pun ikut tertawa dalam hati. "Mm ... apa kamu gak ada niat buat cari pengganti suami kamu?" tanyanya pelan. "Ada, Pak. Saya masih muda dan masih subur insyaAllah. Jadi, pasti saya mau cari suami lagi, tapi bukan suami orang juga. Saya mau pria yang menikahi saya nanti adalah pria yang tidak punya hubungan dengan wanita lain.""Mas, aku gak suka warna cat kamar ini. Masa warna biru, norak dan gak elegan! Aku mau ganti warna abu-abu gelap. Biar terkesan cantik dan menggoda," rengek Roro pada Exel. Keduanya baru saja mengarungi tujuh samudra dan menyebrangi lautan di rumah Exel. Di kamar yang sama saat ia masih bersama Sekar. Pria itu sama sekali sudah melupakan Sekar, wanita yang sudah memberikannya keturunan."Nanti kita ganti warna catnya," jawab Exel sembari menyentuh kulit halus lengan istri mudanya. Sebuah kecupan ia daratkan di kening Roro dengan penuh khidmat, seolah-olah menikahi Roro adalah berkat paling baik dalam hidupnya. Pria yang dibutakan oleh cinta dan hasrat yang semu."Lemari dan ranjangnya juga aku mau ganti, Mas. Ini bekas Mbak Sekar semua. Masa aku dapat bekas. Biar ditukar saja sama toko furniture.""Boleh, Sayang. Apa sih yang gak boleh untuk kamu? Semua yang ada di kamar ini boleh kamu ganti, kecuali saya ha ha ha ...." Exel tertawa bahagia, begitu juga Roro yang bersemu merah. Ini ke
"Kerja bagus, Anggi," puji Pak Probo padaku. "Terima kasih, Pak. Sudah menjadi tugas saya," jawabku sopan dan profesional. Kaki ini mengekori langkah lebarnya dengan tergopoh karena kakiku tidak sebesar kakinya. Pria itu menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku. "Apa jalan saya terlalu cepat sampai kamu seperti tengah jadi atlet lari?" tanyanya lagi. "Maaf, Pak, kalau berkenan, Bapak jalan pelan-pelan aja sedikit, Pak. Karena saya bawa banyak barang dan berkas ini," kataku tanpa berani mengangkat wajah untuk melihat ekspresinya. Sebuah kesalahan yang aku buat di hari pertama, pasti aku dikira mengatur bos."Saya gak bisa pelan, saya mau ke WC. Nanti keburu itu ha ha ha ...." aku pun akhirnya ikut tertawa. Pria itu berbelok ke kanan setelah melewati lorong. Ia masuk ke toilet lelaki, sedangkan aku ke toilet wanita. Wajah ini kucuci bersih agar kantuk hilang. Pelembab pun koleskan merata di kulit wajah agar terasa segar kembali. "Mau makan?" tanyanya. "Mau, Pak. Kalau Bapak?""T
PoV SekarAku mengernyit saat melihat nomor yang muncul di layar panggilan ponselku. Nomor asing yang tidak aku kenali. Merasa tidak penting, maka panggilan itu aku abaikan. Aku bergegas mandi karena kata bos yang menjadi targetku, hari ini aku tidak boleh terlambat. Sampai aku selesai mandi, ponsel masih berkelap-kelip. Mungkin saja dari bosku dan penting. Aku berdeham dua kali, agar suara serak ini tidak menganggu. Masih dengan memakai handuk saja, aku pilih mengangkat panggilan itu. "Halo." Kusapa dengan ramah."Apa yang kamu lakukan dengan kartu kreditku, Sekar? Ada tagihan tiga puluh lima juta. Apa yang sudah kamu beli? Kamu mau bikin aku bangkrut?""Ya ampun, kirain siapa yang nelpon, rupanya pengantin baru. Saya beli alat olah raga. Saya merasa mungkin saya tidak seksi, sehingga suami saya selingkuh dengan pinguin yang jago berlenggak-lenggok.""Sekar, hentikan! Kamu tidak perlu pergi juga sebenarnya bisa. Masalah ini menjadi rumit karena kamu tidak mau menerima aturan agama
PoV ProboNamaku Probo Hadiraja, biasa dipanggil Pak Probo oleh rekan bisnis, maupun teman sejawat. Aku pria mapan dan matang di usia empat puluh tujuh tahun. Aku memiliki anak perempuan satu-satunya yang bernama Ratu Roro Handayani yang biasa dipanggil Roro.Istriku Rosa Herdiyanti, wanita dari keluarga kaya yang saat ini terkena penyakit stroke. Istriku kerap marah-marah karena sakit yang ia derita tak kunjung sembuh, padahal kami sudah berobat keluar negeri. Oleh karena itu, ia pun menyerah dan membolehkan aku menikah lagi dengan Susan; seorang janda yang usianya lebih tua dua tahun dari istriku. Susan belum lama meninggal karena sakit jantung. Aku terkadang berpikir, apa salahku pada Tuhan sehingga aku selalu dihadapkan pada pasangan yang penyakitan. Mungkin sudah takdir untuk menguji kesabaranku. InsyaAllah aku sabar dan ikhlas, tentunya. Mereka berdua wanita baik dan terutama Rosa, adalah wanita cerdas yang memberikanku anak perempuan cantik yang cerdas dan juga berprestasi. Ha
"Mama kenapa nangis?" suara Ibra membuatku menoleh. Rupanya aku lupa menutup pintu kamar. Segera kuhapus air mata agar putraku tidak khawatir."Mama rasa ini karena Mama terlalu lama di depan laptop," jawabku asal. Tidak boleh sebenarnya berbohong pada anak, tetapi semua ini terpaksa aku lakukan. Ibra masih terlalu dini mengetahui papanya menikah lagi. Cepat atau lambat Ibra memang harus diberi tahu, tapi bukan sekarang. Aku saja masih belum benar-benar siap, apalagi Ibra! aku gak mau sampai mentalnya kena dengan kabar pernikahan sang Papa. "Mama lagi gak di depan laptop. Mama lagi marahan sama papa ya? " aku tersenyum, lalu berjalan menghampiri Ibra. "Sayang, besok akan ada mbak di rumah ini. Mama harus kerja karena Mama mau lebih pintar lagi jika Mama kerja. Ibra gak papa kan?" anak lelakiku itu mengganggukkan kepala. "Mama belum jawab pertanyaan Ibra. Mama marahan sama papa, terus pergi dari rumah? kayak yang di sinetron televisi itu.""Sayang, Mama dan papa memang ada sedikit m
"Itu urusan papa dan Mama yang harus diselesaikan, Nak. Nanti jika Ibra sudah lebih besar, Mama pasti cerita. Udahan tidurnya? Mau ikut Mama jajan es krim?" wajahnya berubah terang. "Mau, dong! Ibra cuci muka dulu ya, Ma." Putraku berlari masuk ke kamar mandi. Aku pun menutup laptop. Balasan email bisa aku buka dari ponsel. Aku harap, Tuhan membantuku kali ini. Aku membawa Ibra berkeliling tempat tinggal baru kami. Aku juga mengenalkan Ibra pada ibu tetangga kanan kiri, agar mereka kenal siapa saja anggota keluarga yang ikut tinggal bersamaku. Tidak lupa Ibra juga aku daftarkan mengaji di mushola terdekat agar ia bergaul dengan teman-teman seusianya. "Jadi tinggal berdua aja, Bu Sekar? Suaminya ke mana? Bu Sekar emang janda? Wah, kalau jandanya cantik kayak Bu Sekar, suami kita perlu dipakaikan kaca mata buibu, biar gak naksir Bu Sekar," tanya Bu Heru, tetangga depan rumahku. "Iya, Bu, untuk saat ini saya tinggal berdua Ibra karena ayah Ibra lagi banyak urusan keluar kota. Nanti k







