Share

Sembilan

Author: Cahaya Asa
last update publish date: 2026-07-28 09:02:50

Dina menghentikan langkahnya. Menarik napas dalam-dalam dan mengatur ekspresi agar tidak terlihat kaget. Setelah memasang senyum profesional, ia berbalik.

"Bapak menyelidiki saya?"

Raka berdiri. Memasukkan tangannya ke saku celana. Menatap Dina intens selama beberapa detik. "Saya membutuhkan nomor kontak untuk bisa menghubungimu."

Dina memalingkan wajah. Ditatap seintens itu membuat wajahnya mendadak panas.

"Jadi... Bapak melihat identitas saya?"

"Kenapa harus berpura-pura? Padahal kamu pemilik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Sembilan

    Cahaya matahari pagi membiaskan sinar hangat menembus kaca jendela ruang VIP Rumah Sakit Medika, menyinari nampan stainless steel berisikan sarapan yang belum tersentuh di meja samping ranjang. Aroma sup ayam hangat buatan Dina—yang seperti biasa dikirimkan secara sembunyi-sembunyi melalui Suster Melati tiga hari berturut-turut—masih menyisakan kehangatan yang amat dikenal oleh Raka. Raka yang sudah berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana kain hitamnya duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya masih menyangga perban penopang gips, namun raut wajahnya jauh lebih segar meski guratan lelah dan luka di keningnya belum sepenuhnya sirna. CKELEK. Pintu kamar terdorong lebar. Elena melangkah masuk bersama Felisa, disusul dua petugas medis yang membawa berkas kepulangan. "Raka! Dokter sudah beri izin kamu pulang hari ini, Nak!" seru Elena berwajah ceria, melangkah anggun menghampiri anaknya. "Semua administrasi sudah Mama urus." Raka mendongak, matanya yang dingin menatap ibunya luru

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Delapan

    Hujan di luar sudah mereda, menyisakan deretan titik air yang mengalir lambat di kaca jendela kamar VIP lantai tiga. Dari balik celah kecil gorden yang tidak tertutup rapat, Dina berdiri mematung di lorong luar, menatap sosok Raka yang terbaring lelah dengan tubuh penuh perban.Hatinya bagai diiris belati melihat pria tegap yang biasanya berdiri kokoh dan berkuasa itu kini tampak begitu rapuh, terkunci dalam manipulasi dan amukan emosi ibunya sendiri."Mas Raka..." bisik Dina sangat lirih, jemarinya mengusap kaca dingin yang memisahkan mereka.Dina melihat Raka terpejam rapat, napasnya memburu menahan sakit usai meluapkan kemarahannya pada Elena. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dada Dina. Ia tahu, makin ia bertahan di tempat ini, makin panas konflik keluarga itu, dan makin tersiksa Raka yang sedang butuh ketenangan untuk pulih.Dina membalikkan badannya perlahan, menahan tangis yang menyesakkan tenggorokan. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi menyusuri lorong Rumah Saki

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Tujuh

    Bau cairan antiseptik di koridor rumah sakit mendadak terasa begitu menyesakkan saat Dina berdiri gemetar di sudut tangga darurat. Kotak makanan transparan berisi sup ayam hangat buatan tangannya sendiri terikat rapi dalam pelukannya, terhimpit hangat di tengah tubuhnya yang lelah dan basah oleh keringat dingin."Suster... saya mohon, cuma ini yang bisa saya berikan buat suami saya," bisik Dina lirih, matanya yang sembap menatap Suster Melati dengan memohon.Suster Melati menatap Dina iba, lalu melirik ke arah lorong ruang VIP yang dijaga ketat oleh dua satpam bentukan Elena. "Mbak Dina... Bu Elena melarang keras siapa pun membawa makanan dari luar, apalagi dari Mbak.""Tolong, Suster..." tangis Dina pecah tanpa suara, meremas ujung selimut kecil penutup kotak supnya. "Mas Raka baru sadar. Dia pasti lapar dan butuh makanan rumah. Tolong berikan ini diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu Elena atau Mbak Felisa."Suster Melati menghela napas panjang, meraihkotak makanan itu pelan dari tangan

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Enam

    Lampu neon putih di plafon ruang VIP Rumah Sakit Medika menyilaukan sepasang mata Raka yang perlahan terbuka. Rasa pening hebat akibat gegar otak ringan masih menusuk-nusuk tempurung kepalanya, sementara lengan kanannya terasa kebal terbebat gips tebal.Raka mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang berserakan.Seseorang duduk di kursi sudut ranjang, sedang memotong buah apel dengan sangat hati-hati. Gaun pastelnya rapi, rambutnya terurai indah."Dina...?" bisik Raka dengan suara parau yang amat rapuh dari balik masker oksigen.Gadis itu mendongak kaget. Pisau di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas piring kaca."Mas Raka!" seru Felisa manis, matanya berbinar gembira saat melangkah mendekat. "Alhamdulillah... Mas akhirnya sadar penuh!"Raka menarik napas pendek, rasa kecewa seketika menghantam dadanya begitu melihat sosok di sampingnya. "Kamu... Felisa? Dina mana?"Felisa menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa prihatin buatan, mengusap punggung tanga

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Lima

    Deru mesin mobil hitam itu meraung kencang membelah rintik hujan malam yang mengguyur jalanan licin Ibu Kota. Pandangan Raka memburam, bukan hanya oleh derasnya air di kaca depan, tapi oleh kepulan emosi dan rasa kecewa yang membakar dadanya hingga sesak."Kenapa Mama tega..." bisik Raka parau, cengkeramannya pada kemudi makin memutih.CIIIIET!BUM!Lampu sorot dari arah berlawanan menyilaukan matanya secara tiba-tiba. Raka membanting setir secara refleks, namun terlambat. Mobilnya menghantam pembatas jalan dengan benturan dahsyat yang menghancurkan bagian depan kendaraan. Suara dentuman besi penyok dan ledakan airbag memecah malam, sebelum semuanya berubah menjadi kegelapan total.Suara ritmis monitor detak jantung di ruang VIP Rumah Sakit Medika menyambut keheningan yang mencekam. Aroma cairan antiseptik menyengat tajam. Raka terbaring lemah dengan perban melingkar tebal di kepalanya dan gips keras yang mengunci lengan kanannya.Di luar pintu kaca, Dina berlari tergesa-gesa dengan h

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Empat

    Lampu gantung porselen di ruang tamu rumah utama Alexander Group memancarkan cahaya kekuningan yang redup dan lengang. Bau minyak kayu putih dan aroma obat-obatan menyengat tajam di udara, bercampur dengan keheningan mencekam yang sengaja diciptakan di dalam rumah megah itu.Felisa duduk canggung di tepi sofa kulit mahal, meremas jemarinya yang dingin sembari sesekali melirik ke arah tangga lantai dua."Tante... apa tidak sebaiknya kita batalkan saja?" bisik Felisa ragu, suaranya gemetar pelan. "Mas Raka kemarin sudah sangat marah di kantor..."Elena yang berbaring di sofa panjang dengan selimut tebal menutupi dada hingga kakinya seketika membuka mata, menatap Felisa tajam. "Kamu diam saja, Felisa! Raka itu anak Tante, Tante tahu persis kelemahannya!""Tapi Tante—""Raka itu sangat berbakti!" potong Elena cepat dengan suara serak yang dibuat-buat. "Kalau Tante bilang Tante mendadak serangan jantung dan sakit parah, dia pasti akan langsung lari ke sini tanpa berpikir panjang!"Elena me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status