Dina tersentak. "A-ada apa?” "Kamu berniat meracuni saya?" Fikri menatap Dina tajam. "Dagingnya terlalu matang, alot seperti karet." "Aku sudah masak sesuai instruksi, Fik–" “Buktinya begini!” bentak Fikri, membuat Dina terlonjak. Fikri mendorong piring steak itu hingga kuahnya sedikit tumpah ke taplak meja putih bersih. "Buang ini semua. Bikin yang baru. Dan pastikan kali ini benar, atau kamu tidak usah makan malam ini." “Dan ingat. Di sini kamu cuma pembantu. Jangan kurang ajar,” ucap Fikri lagi. “Panggil saya ‘tuan’.” Dina menatap piring yang didorong Fikri dengan dada yang bergemuruh hebat. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Ia ingin sekali berteriak, melemparkan piring itu ke wajah Fikri, dan pergi dari sana. Namun, bayangan nama besar papanya menahannya. Dina harus bertahan sampai bisa menghubungi pengacara papanya secara diam-diam. "Baik, Tuan. Saya akan buatkan yang baru," kata Dina lirih. Ia melangkah maju untuk mengambil piring kotor itu. Namun,
Última actualización : 2026-06-18 Leer más