"P... Pak Raka? Kok Bapak tahu nomor saya?" Dina berpura-pura kaget saat pria yang ditunggunya itu akhirnya menelepon."Kamu sudah tidur? Suaramu seperti bangun tidur." Bukannya menjawab, pria di seberang justru bertanya hal lain."I... Iya, Pak. Maaf ada apa ya, Pak?""Dompet kamu jatuh di mobil saya. Besok jam 10 ambil ke kantor saya.""Baik, Pak. Terima ka—"Tut... tut... tut...Sambungan diputus sepihak sebelum Dina menyelesaikan kalimatnya. Dina menurunkan ponsel dari telinganya, menatap layar yang kini gelap. Tanpa sadar sebuah smirk tersungging di bibirnya."Satu peluang sudah terbuka. Siap-siap balas dendam, Dina," gumamnya pelan sambil merebahkan tubuhnya ke kasur. Rasa lelah yang tadinya menumpuk seolah menguap begitu saja, berganti dengan percikan semangat yang membakar dadanya.Keesokan harinya, jam enam pagi tepat, Dina sudah selesai menyapu, mengepel, dan menyiapkan sarapan di meja makan. Gerakannya sangat sigap dan efisien. Ketika langkah kaki yang berat terdengar mende
Last Updated : 2026-07-27 Read more