เข้าสู่ระบบDina tersentak. "A-ada apa?”
"Kamu berniat meracuni saya?" Fikri menatap Dina tajam. "Dagingnya terlalu matang, alot seperti karet." "Aku sudah masak sesuai instruksi, Fik–" “Buktinya begini!” bentak Fikri, membuat Dina terlonjak. Fikri mendorong piring steak itu hingga kuahnya sedikit tumpah ke taplak meja putih bersih. "Buang ini semua. Bikin yang baru. Dan pastikan kali ini benar, atau kamu tidak usah makan malam ini." “Dan ingat. Di sini kamu cuma pembantu. Jangan kurang ajar,” ucap Fikri lagi. “Panggil saya ‘tuan’.” Dina menatap piring yang didorong Fikri dengan dada yang bergemuruh hebat. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Ia ingin sekali berteriak, melemparkan piring itu ke wajah Fikri, dan pergi dari sana. Namun, bayangan nama besar papanya menahannya. Dina harus bertahan sampai bisa menghubungi pengacara papanya secara diam-diam. "Baik, Tuan. Saya akan buatkan yang baru," kata Dina lirih. Ia melangkah maju untuk mengambil piring kotor itu. Namun, saat tangan Dina baru saja menyentuh tepian piring, ponsel Fikri yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah nomor asing tanpa nama tertera di layar. Fikri melirik ponselnya, mengernyit, lalu mengangkat panggilan itu karena mengira itu dari rekan bisnis rahasianya. Ia menghidupkan fitur speakerphone sambil menyeka tangannya dengan tisu. "Halo," sapa Fikri dingin. Suara panik dan terengah-engah terdengar dari seberang telepon. Dina seketika membeku. Ia sangat mengenali suara culas itu—suara Om Heri, pamannya yang telah kabur! "H-halo, Pak Fikri? Ini saya, Heri Prameswari," ucap suara di telepon dengan nada gemetar, setengah berbisik seperti orang yang sedang bersembunyi. "Tolong saya, Pak! Utang judi saya di kasino ternyata masih kurang. Orang-orang itu mengejar saya sampai ke perbatasan!" Fikri mendengus remeh. "Urusan saya dengan Anda sudah selesai. Jangan hubungi saya lagi." "Tunggu, Pak Fikri, tunggu dulu!" ratap Om Heri histeris. "Saya tahu Bapak sengaja beli rumah itu untuk menghancurkan mental Dina karena dendam masa lalu, kan? Begini saja, Pak... kalau Bapak mau transfer saya seratus juta lagi malam ini, saya tidak akan pernah menemui Bapak atau Dina lagi. Dengan begitu, Bapak bisa terus membuat Dina mengemis di bawah kaki Bapak selamanya tanpa tahu apa-apa!” Fikri diam. Tidak ada yang salah dari ucapan paman Dina itu. Ia memang membeli rumah itu untuk menyiksa Dina sepulangnya ia ke negara ini. Meski sudah punya Clarissa di sisinya, memori terakhir saat Dina memutuskannya membuat egonya terluka. Karenanya, ia ingin membalas Dina. Namun, Fikri sendiri tahu kalau kepemilikannya atas rumah ini tidak resmi. Surat-suratnya dipalsukan, dan Fikri hanya bisa menahan Dina di sana selama wanita itu tidak punya uang dan jalan keluar. “Baik.” Fikri akhirnya berkata. “Asalkan dia bisa tetap jadi budak saya. Tapi ini yang terakhir.” Ia tidak akan membiarkan Dina berhasil bertemu dengan pamannya, atau menuntut kembali kepemilikan rumah ini. Ia akan membuat Dina tetap tinggal di sini–di bawah kuasanya. *** "Kamu masih punya muka buat minta izin keluar, Dina? Rumah ini bahkan belum sepenuhnya bersih!" Suara bariton Fikri menggema di ruang tengah yang luas. Pria itu berdiri di dekat tangga, melonggarkan dasinya dengan tatapan tajam yang langsung mengarah pada Dina. Di sampingnya, Clarissa sedang sibuk mengoleskan krim tangan sambil mencibir. "Saya cuma minta waktu tiga jam, Tuan Fikri," sahut Dina, mengontrol suaranya agar tetap tenang meski dadanya bergemuruh. "Saya harus ke kampus untuk menyerahkan revisi draf terakhir tugas akhir saya. Setelah ini, urusan kuliah saya selesai total." Fikri berjalan mendekat, sepasang mata elangnya meneliti pakaian Dina–kemeja putih polos dan celana kain hitam yang tampak sangat sederhana. "Tiga jam. Terlambat sedikit, kamu akan tahu akibatnya. Paham?" "Paham, Tuan." Dina mengangguk kaku, lalu berbalik dengan cepat sebelum Fikri sempat mengubah pikirannya. Tiga jam yang diminta Dina ternyata bukan hanya untuk urusan kampus. Setelah berlari mengejar dosen pembimbingnya dan menyelesaikan administrasi kelulusan, Dina berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit di pusat bisnis Jakarta. Prameswari Tower. Gedung megah yang menjadi pusat dari seluruh aset triliunan milik almarhum ayahnya. Ya, dirinya sebenarnya masih punya harta warisan–tidak hanya rumah itu saja. Namun, tidak ada yang mengetahuinya.Pendar cahaya keemasan dari mentari sore membiaskan kehangatan di atas tatanan meja panjang yang terhias anggun di halaman belakang rumah utama kawasan Jakarta Selatan. Aroma wangi bunga sedap malam dan harum hidangan ayam bakar bumbu rujak memenuhi udara sore yang sejuk, menyatu dengan gelak tawa renyah anak-anak yang berlarian di atas rumput hijau.Arkanza yang kini sudah berusia satu tahun melangkah gontai dengan kaki mungilnya, mengejar Arkan yang sibuk membawa balon gas berwarna merah."Arkanza! Jangan lari cepat-cepat, nanti jatuh, Nak!" seru Dina penuh kehangatan, berdiri dari kursi ayunan kayu sembari merapikan gaun cantiknya.Raka yang berdiri di sampingnya bergegas merangkul pinggang Dina dari belakang, mendaratkan kecupan lembut di pelipis sang istri. "Biarkan saja, Sayang. Kan ada Rian sama Fikri yang menjaga mereka di rumput."Dina memiringkan wajahnya, menyunggingkan senyum tulus yang memancarkan pendar kebahagiaan sempurna. "Aku cuma terlalu bahagia, Mas... Melihat mere
Langkah kaki berbalut sepatu kets kusam itu membeku tepat di ambang pintu jati berukir klasik yang memancarkan aroma kayu tua. Fikri menatap bingung deretan rak buku mahoni yang menjulang tinggi di dalam ruang kerja almarhum ayah Felisa, sementara sinar matahari pagi menerobos celah gorden, membiaskan pendar keemasan pada meja kerja besar yang tertata rapi.Di atas meja kayu tua itu, sebuah plakat kuningan mengilap bertuliskan Direktur Utama terpajang gagah di samping tumpukan map laporan keuangan."Mas Fikri... kenapa malah melamun di pintu?" tegur Felisa lembut, melangkah mendekat sembari membawa cangkir kopi hangat yang aroma harumnya memenuhi ruangan.Fikri membalikkan badan, mengusap tengkuknya dengan raut wajah serba salah dan canggung. "Felisa... aku... aku masih terasa seperti bermimpi. Rumah sebesar ini... lalu ruang kerja ini..."Felisa meletakkan cangkir kopi di atas meja, lalu tersenyum manis memegang kedua tangan suaminya. "Ini bukan mimpi, Mas. Ini rumah kita sekarang. A
Suara gema takbir dan selawat yang mengalun lembut dari speaker Masjid Al-Ikhlas masih membekas hangat di udara pagi yang cerah. Aroma wangi melati segar bercampur asap tipis wewangian kayu cendana melayang halus, menyelimuti ruang serbaguna masjid yang tertata sederhana namun amat anggun dengan hiasan kain putih gading dan bunga krisan kuning.Di sudut meja akad nikah, Fikri yang mengenakan beskap putih sederhana masih mendekap dada, napasnya memburu lega dengan mata yang memerah berkaca-kaca usai mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas mantap."Selamat ya, Fikri... Felisa..." panggil Pak Hendra hangat, melangkah mendekati pelaminan kecil bersama Raka dan Dina.Felisa mencium punggung tangan Om Bram yang berdiri di samping penghulu dengan mata yang basah oleh air mata haru."Om Bram... terima kasih banyak ya..." cicit Felisa parau, suaranya tercekik oleh keharuan mendalam. "Terima kasih sudah mau jadi wali nikah Felisa dan merestui kami..."Om Bram menghembuskan napas panjang
Sinar lampu jalanan yang temaram membiaskan pendar hangat di atas aspal basah lorong gang kontrakan Felisa. Udara malam yang dingin bercampur bau harum martabak telur hangat yang dibawa Fikri, mengiringi langkah kaki pria itu yang bergegas mendekati pintu kayu sederhana di ujung jalan.Meski pakaian kerjanya masih berbau oli tipis usai seharian membanting tulang di bengkel, senyum di bibir Fikri tak pernah luntur.TAK! TAK! TAK!"Felisa... Arkan..." panggil Fikri pelan dari luar pintu usai mengetuknya tiga kali.CKELEK!Pintu terdorong terbuka. Arkan yang mengenakan piyama beruang langsung berlari kecil dengan langkah kakinya yang masih agak sempoyongan, menerjang lutut Fikri."Papa! Papa pulang!" seru Arkan gembira, mengangkat kedua tangan mungilnya minta digendong.Fikri seketika berlutut di lantai teras, merengkuh tubuh balita dua tahun itu ke dalam pelukannya dengan pendar kasih sayang yang meluap-luap. Ia mencium pipi gembul Arkan berulang kali."Anak Papa... Kangen Papa ya?" bis
Sinar keemasan matahari pagi menembus celah gorden ruang tamu rumah baru di Jakarta Selatan, membiaskan cahaya hangat di atas karpet bulu empuk tempat Arkanza—bayi mungil berusia dua bulan—sedang menendang-nendangkan kakinya riang.Aroma harum bubur bayi dan seduhan teh krisan memenuhi udara, menyelimuti pagi yang tenang. Namun, kedamaian itu seketika terusik saat suara ketukan pintu pagar depan terdengar tegang dan terburu-buru.TAK! TAK! TAK!Rian yang sedang mengelap mobil di halaman bergegas membuka pintu pagar. Raut wajah asisten pribadi itu seketika menegang saat melihat sosok wanita yang berdiri canggung di luar."P-Pak Raka! Bu Dina!" panggil Rian setengah berbisik usai berlari kecil ke dalam rumah.Raka yang sedang menyeduh susu di dapur menghentikan gerakannya. "Ada apa, Rian?""Bu Elena... ada di depan pagar, Pak," bisik Rian cemas. "Beliau... kelihatan beda sekali. Penampilannya sangat sederhana, tidak pakai perhiasan atau gaun mewah seperti dulu."Dina yang sedang memangk
Pendar sinar matahari sore yang hangat menerobos tirai tipis ruang perawatan VIP lantai empat, membiaskan cahaya keemasan di atas sprei putih yang rapi. Bau harum aroma terapi lavender bertabrakan dengan uap sup kaldu hangat di atas meja, menyelimuti suasana kamar yang tenang namun sarat akan keharuan yang mendalam.Dina bersandar di tumpukan bantal empuk. Wajahnya yang semula pucat pasi kini perlahan kembali memancarkan rona kehidupan, meski selang infus masih menempel di punggung tangan kirinya.Di sisi ranjang, Raka berlutut di lantai. Pria tegap itu tak berhenti menggenggam jemari kanan Dina, menciuminya berulang kali dengan linangan air mata bahagia yang mengalir tanpa henti di pipinya."Mas... sudah, Mas," bisik Dina lembut, suaranya masih agak parau namun amat menyejukkan. Jemari cantiknya mengusap lembut rahang tegas Raka yang dihiasi jambang tipis. "Nanti kalau suster masuk, Mas Raka dikira anak kecil yang sedang merajuk.""Biarkan saja," sahut Raka parau, mendongak menatap m







