FAZER LOGINJeandra terus naik tanpa hambatan menuju apartemen Zelena karena perempuan itu sudah memberinya akses. Jadi ia bisa datang kapan pun sesuai yang diinginkannya. Itu pun dengan menggunakan Aira sebagai senjata. Zelena sudah bersiap-siap untuk ke kantor ketika bel berbunyi yang menggema ke seluruh sudut apartemen nya. Tanpa perlu berpikir Zelena sudah tahu siapa yang datang. Keluar dari kamar, ia melangkah menuju pintu dan disambut pemandangan Jeandra dan Aira yang berdiri bersisian di depannya. Jeandra dengan pakaian eksekutif mudanya berupa kemeja putih, serta jas dan celana hitam formal. Rambutnya ditata dengan gaya messy hair seperti biasa. Di sebelah Jeandra yang menjulang Aira tampak begitu mungil dengan seragam sekolah berwarna pink lembut. "Mama! Aku kangen Mama!" Aira berseru ceria dan tersenyum begitu lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya. "Mama juga kangen," jawab Zelena yang kemudian membungkuk mencium pipi anak itu. Jeandra memerhatikan interaksi keduanya d
Hari ini adalah pagi terakhir Jeandra bersama Aira. Sore nanti anak berkulit sawo matang tersebut akan kembali pada Zelena."Makan yang banyak ya," kata Jeandra pada Aira saat mereka sarapan pagi.Anak itu mengangguk patuh.Ketika Jeandra akan menyuapkan oatmeal dengan sendoknya, Aira langsung menolak."Nggak usah disuapin, Pa. Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil."Celetukan polos putrinya itu membuat Jeandra terkekeh. Ia menarik kembali sendok di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi sambil mengamati Aira yang berusaha menyendok oatmeal sendiri dengan wajah serius.“Baru bisa makan sendiri udah sombong,” godanya. “Ini bukan sombong. Ini mandiri.”Jeandra mengangkat alis. “Oh, jadi sekarang kamu sudah mandiri?”“Iya,” jawab Aira cepat. “Mama juga bilang aku sudah besar.”Nama itu—Mama—membuat gerakan Jeandra terhenti sepersekian detik. Tangannya yang sedang meraih cangkir kopi berhenti di udara, lalu perlahan melanjutkan gerakan seolah tidak terjadi apa-apa.Rosalia menya
Di dalam unitnya, Zelena masih berdiri di tempat yang sama. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya karena baru saja mematahkan hati seseorang. Selama beberapa detik ia hanya bisa berdiri terpaku dengan punggung bersandar ke pintu unitnya tanpa dirinya tahu bahwa di balik pintu tersebut Nayaka juga ada di sana.'Aku nggak salah, kan?' bisik Zelena di dalam hati guna meyakinkan dirinya sendiri.Tapi dadanya tetap sesak.Bayangan wajah Nayaka saat menutup kotak cincin itu terulang. Perasaan kecewa yang begitu dalam terlukis begitu jelas di wajah lelaki itu meskipun Nayaka mencoba menyembunyikannya.Zelena mengusap muka, lalu melangkah pelan menuju sofa. Ia duduk, memeluk lutut, menatap kosong ke arah hujan di balik jendela. Ia tahu penolakannya benar. Ia juga tahu penolakannya menyakitkan.Setelah sekian menit Zelena akhirnya bangkit. Ia melangkah ke kamar dan berbaring di ranjang. Tapi matanya tidak bisa dipejamkan. Bagaimana mungkin ia bisa tidur setelah mematahkan hati orang?Zele
Zelena menutup laptop. Ia baru saja membalas email dari klien. Tubuhnya terasa pegal. Bahu dan lehernya kaku karena terlalu lama duduk dan menatap layar. Setelah ini ia bermaksud untuk langsung tidur. Apalagi di luar sana hujan yang turun rintik-rintik mengirim udara dingin sangat mendukung untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Ia beranjak dari sofa, mematikan lampu utama, menyisakan cahaya temaram dari lampu lantai di sudut ruang tamu. Hari ini terlalu panjang untuk diingat ulang.Baru saja ia melangkah menuju kamar, bel berbunyi.Zelena langsung memandang ke arah pintu dan mengesahkan napas. Baru juga mau istirahat.Melangkahkan kakinya, pintu Zelena buka dan seketika ia langsung dihadapkan pada presensi Nayaka."Malam, Zel. Aku mengganggu?" ujar lelaki itu."Udah mau tidur sih," jawab Zelena jujur. "Kenapa, Ka?""Oh, kalau gitu besok aja," jawab Nayaka agak kecewa. Sebelah tangannya yang berada di saku celana meremas kotak cincin. Rasa-rasanya ia tidak sanggup menunda sampai
Zelena sedang sibuk di depan laptop ketika ponselnya bergetar di sebelah benda itu.Satu pesan masuk. Melalui bilah notifikasi ia bisa melihat bahwa pesan tersebut adalah dari Jeandra. Yang ada di pikiran Zelena adalah bahwa setiap kali Jeandra menghubunginya itu adalah berkaitan dengan Aira. Jadi ia langsung membukanya.[Zel, kamu udah makan siang?]Zelena menatap layar handphone beberapa detik. Jarinya sempat menggantung sebelum akhirnya membalas.[Belum. Lagi sibuk kerja. Nggak sempat keluar.]Balasannya terkirim. Zelena menghela napas, lalu kembali menatap layar laptop dan memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ia harus mengejar deadline seorang kliennya. Ponselnya kembali bergetar tak sampai satu menit kemudian.Masih dari Jeandra.[Kenapa nggak bilang dari tadi?][Buat apa?]Tidak ada lagi balasan dari Jeandra. Zelena mengira percakapan itu sudah selesai. Ia mencoba kembali fokus pada desain di depannya. Tapi pikirannya sudah terlanjur terdistraksi.Tiga puluh menit kemudian,
Zelena tidak mengerti apa yang dilakukan Jeandra. Kenapa lelaki itu mendekat justru setelah mereka berpisah. Setelah jarak yang susah payah ia bangun terancam runtuh begitu saja.Ia hanya bisa menghela napas melihat mobil Jeandra di belakang melalui kaca spion. Mungkin lelaki itu juga akan ikut makan bersamanya dan Nayaka. Itu yang ada di pikiran Zelena sekarang.Nyatanya dugaan Zelena salah. Alih-alih akan ikut ke dalam restoran dan makan, Jeandra kembali keluar dari area restoran dan melaju kencang meninggalkannya."Kok dia pergi lagi?" Nayaka bertanya heran.Zelena tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertambat pada jalanan di depan restoran, pada titik kosong tempat mobil Jeandra tadi melintas lalu menghilang. “Mungkin dia memang cuma mau memastikan aku sampai di sini,” jawab Zelena akhirnya, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.Nayaka mendengkus halus. “Aneh. Kalau memang niatnya cuma itu, kenapa ribet amat?”Zelena tersenyum tipis. Ia tahu Nayaka tidak benar-benar m







