Home / Romansa / Dikejar Mantan Boss! / Bab 22 Rekan Kerja Baru yang Tampan

Share

Bab 22 Rekan Kerja Baru yang Tampan

Author: Suci Awaliah
last update publish date: 2026-09-26 20:23:04

Reno masih berdiri kaku di depan pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu mahoni itu seolah-olah Aris—si pria berjas krem—masih berdiri di sana.

Cemburu? Reno tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. Namun, fakta bahwa ada pria lain yang secara terang-terangan memberikan mawar putih, merangkul pundak Anindya, dan memegang kartu as berupa surat wasiat perjodohan benar-benar membakar isi dadanya.

"Reno... kamu nggak apa-apa?
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 23 Perang Dingin di Ruang Rapat

    "Anin, baca lagi pesannya."Suara Reno menembus keheningan yang mencekat. Tatapan matanya yang tadi tajam mendadak meredup, menyisakan kecemasan yang teramat sangat saat melihat tangan Anindya bergetar hebat memegang ponselnya.Anindya mendongak. Layar ponsel yang menampilkan pesan dari Aris seolah menyengat jemarinya. "Kak Aris bilang... kematian Ayah ada hubungannya sama keluarga Dirgantara, Reno."Reno menghembuskan napas panjang, melangkah mendekat lalu menggenggam kedua bahu Anindya. "Kamu percaya sama aku atau sama orang yang baru muncul bawa bunga mawar tadi?""Bukan masalah percaya atau nggak," potong Anindya pelan, ada keraguan yang mulai merayap di dadanya. "Tapi Ayah mati karena serangan jantung waktu diancam Bagas. Dan Bagas itu... asisten kepercayaan keluarga kamu selama bertahun-tahun, Reno."Sebelum Reno sempat membela diri, pintu ruang kerja kembali diketuk dua kali. Sekretaris divisi umum mengintip dengan wajah tegang."Maaf mengganggu, Pak Reno, Nona Anindya. Rapat d

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 22 Rekan Kerja Baru yang Tampan

    Reno masih berdiri kaku di depan pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu mahoni itu seolah-olah Aris—si pria berjas krem—masih berdiri di sana.Cemburu? Reno tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. Namun, fakta bahwa ada pria lain yang secara terang-terangan memberikan mawar putih, merangkul pundak Anindya, dan memegang kartu as berupa surat wasiat perjodohan benar-benar membakar isi dadanya."Reno... kamu nggak apa-apa?" Anindya memecah keheningan. Langkah kakinya pelan mendekati Reno yang napasnya masih menderu halus. "Soal kata-kata Kak Aris tadi, kamu nggak usah dipikirin banget. Nanti malam aku—""Aku ikut."Anindya mengedipkan matanya polos. "Hah? Ikut ke mana?""Nanti malam kamu mau ketemu dia buat bahas surat wasiat itu, kan?" Reno membalikkan badan, menatap Anindya dengan sorot mata intens tanpa kompromi. "Aku yang menyetir. Aku yang nemenin kamu. Dan nggak ada acara obrolan empat mata di tempat remang

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 21 Kecemburuan Sang CEO

    "Bagas...?" bisik Anindya tak percaya. Matanya melebar menatap layar laptop yang masih memutarkan sisa suara static rekaman. "Orang yang selama ini selalu berdiri di samping kamu... yang kemarin nolongin kita di Jawa Timur?"Reno tidak menjawab. Rahangnya mengeras sampai otot-otot di lehernya menegang. Pria itu menyambar ponsel di saku jasnya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggilan cepat."Bagas, ke ruangan Anindya sekarang. Ada berkas RUPS yang harus kamu tanda tangani," kata Reno dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang sampai terasa mengerikan."Baik, Pak Reno. Saya segera ke sana," sahut suara di ujung telepon dengan nada sopan seperti biasa.Reno mematikan sambungan, lalu menatap Anindya yang masih gemetar di kursinya. Reno bergerak cepat, mencabut flashdisk dari laptop, lalu menyembunyikannya ke dalam saku celana. Foto tua almarhum ayah Anindya diselipkan kembali ke dalam saku jasnya."Anin, dengerin saya," bisik Reno seraya berlutut di samping kursi Anindya. Ta

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 20 Hadiah Misterius di Meja Kerja

    Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 19 Menghindari Sang Ex-Boss

    "Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 18 Pengakuan Singkat

    "Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status