Mag-log in“Kenapa tidak turun? Apa kita tidak jadi makan?”Suara Vanessa memecahkan lamunan Leon. Wanita yang duduk di sampingnya itu menoleh dengan sedikit kebingungan, sementara tatapan Leon masih terpaku pada arah tempat Loraine dan Nathan menghilang beberapa saat lalu.Leon mengerjapkan mata. Ia baru menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lama diam di balik kemudi.“Maaf ya. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ia segera mengalihkan pandangan kepada Vanessa, lalu tersenyum lembut. “Ayo, kita turun. Kau pasti sudah lapar.”Vanessa langsung tersenyum. Leon bahkan turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi wanita itu. Setelah Vanessa keluar, ia merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin sebelum menggandeng tangannya menuju restoran.“Tempat ini cukup bagus, bukan?” tanya Leon.Vanessa mengangguk senang. “Bagus sekali. Aku suka suasananya.”“Kalau begitu, lain kali kita bisa datang lagi. Kau tinggal bilang tempat mana yang ingin kau kunjungi. Aku akan mengantarmu.”Sikap Leon yang b
Nathan dan Loraine masih berada di ruang keluarga bersama Daniel dan Clara. Sesekali, Loraine kembali melirik kotak kecil berisi pakaian bayi yang tadi diperlihatkan Clara. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan setiap kali ia membayangkan ketiga bayi di dalam kandungannya kelak mengenakan pakaian-pakaian mungil itu.“Omong-omong,Ibu,” Nathan membuka percakapan. “Di mana Kak Adrian dan kakak ipar? Dan dua keponakan usil itu? Kami belum sempat bertemu dengan mereka.”Clara tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Mereka sedang menghabiskan waktu bersama. Adrian dan Daisy kembali ke rumah yang sudah mereka tinggalkan selama bertahun-tahun. Darren dan Aurora juga ikut.”Nathan mengangkat alisnya. “Apa Kak Adrian berencana kembali tinggal di rumah lamanya?”“Sepertinya begitu, tapi kami tidak menanyakannya,” jawab Daniel tenang. “Tunggu saja sampai mereka sendiri yang mengatakannya.”Daniel meletakkan majalah kesehatan yang sejak tadi berada d
Mobil Nathan akhirnya memasuki halaman rumah kedua orang tuanya. Dari balik kaca jendela, Loraine melihat beberapa tanaman hias yang tertata rapi di sepanjang teras. Rumah itu masih terlihat sama seperti kunjungan terakhir mereka, dengan suasana hangat yang selalu membuatnya merasa diterima.Nathan mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arahnya.“Masih merasa nyaman? Tidak pusing atau mual?” tanyanya.Loraine tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Nathan. Kalau kau terus bertanya seperti itu, nanti aku malah merasa sedang sakit parah.”“Aku hanya memastikan.”“Ya ya baiklah.” Loraine menggenggam tangannya sebentar. “Ayo, kita masuk. Ibu pasti senang mendengar kabar ini.”Nathan mengangguk. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Loraine. Tangannya segera terulur untuk membantu istrinya keluar dari mobil, meskipun Loraine sebenarnya masih bisa melakukannya sendiri.Begitu mereka tiba di depan pintu, Nathan menekan bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang wanita paruh b
“Apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranmu?” tanya Loraine ragu-ragu. Nathan melirik tangan Loraine yang menggenggam tangannya. Ia sempat terdiam sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke jalan.“Bagaimana cara memberitahu keluargaku tentang kondisi kehamilanmu?” jawabnya akhirnya.Loraine sedikit mengernyit. “Bukankah kita tinggal memberitahu mereka kalau aku mengandung tiga bayi?”“Bukan sesederhana itu, Sayang.”Nathan menghembuskan napas panjang. Sejak keluar dari ruang pemeriksaan tadi, pikirannya terus tertuju pada satu hal yaitu reaksi keluarganya ketika mengetahui bahwa kehamilan Loraine bukan kehamilan biasa.Ia mengenal betul orang tuanya. Mereka pasti akan ikut bahagia mendengar kabar bahwa ia akan menjadi seorang ayah. Namun, kebahagiaan itu mungkin tak akan bertahan lama setelah mereka mengetahui risiko yang harus dihadapi Loraine.“Ayah dan ibu pasti akan menentang keputusanmu untuk mempertahankan ketiga bayi itu jika mereka tahu kondisi sebenarnya,” lanjut Nath
Satu bulan telah berlalu sejak malam ketika Loraine akhirnya menceritakan luka masa lalunya kepada Nathan.Selama sebulan terakhir, Nathan berusaha memberikan perhatian lebih kepada istrinya. Ia memastikan Loraine tidak melewatkan waktu makan, mengingatkannya untuk beristirahat ketika terlalu lama bekerja, bahkan beberapa kali diam-diam memeriksa apakah istrinya sudah meminum vitamin yang diresepkan dokter.Namun, hari ini berbeda.Hari ini adalah jadwal pemeriksaan yang telah mereka tunggu sejak mengetahui bahwa Loraine sedang mengandung. Pemeriksaan sebelumnya menunjukkan kadar hormon HCG dalam darah Loraine lebih tinggi daripada perkiraan untuk usia kehamilannya, sehingga dokter menyarankan pemeriksaan ultrasonografi setelah beberapa minggu.Sejak pagi, Nathan tampak lebih gelisah daripada biasanya.“Sayang, kau yakin tidak merasa mual?” tanyanya ketika mereka duduk di ruang tunggu rumah sakit.Loraine menoleh, lalu tersenyum
“Sayang, jangan membuatku takut seperti ini....” pinta Nathan.“A-aku akan segera panggil ambulans,” lanjutnya sambil bergegas berdiri hendak mengambil ponselnya.Namun, sebelum Nathan sempat menjauh, Loraine segera menahan lengan suaminya. “Jangan, Nathan. Aku baik-baik saja.”Nathan langsung berhenti. Ia menoleh kepada Loraine, menatap wajah istrinya yang masih basah oleh air mata dengan kebingungan sekaligus kecemasan yang belum mereda.“Bagaimana mungkin kau bilang baik-baik saja kalau menangis seperti ini?” tanyanya. “Apa ada yang sakit? Katakan padaku, Sayang. Aku tidak akan bisa tenang kalau kau terus seperti ini.”Loraine menggeleng pelan. Ia berusaha tersenyum, tetapi bibirnya justru bergetar ketika kembali mengingat sesuatu yang selama ini tersimpan jauh di dalam hatinya.“Aku hanya....” Ia menarik napas, mencoba mengendalikan suaranya. “Aku hanya teringat sesuatu dari masa lalu.”Nathan tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia kembali mendekati istrinya, lalu berjongkok di ha







