LOGIN"Siapa yang menulis persyaratan konyol seperti itu?!" gerutu Nathan di sepanjang perjalanannya ke kantor.
Semalaman ia benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus tertuju pada syarat di lembaran terakhir, dan itu membuat moodnya benar-benar memburuk. "Menikah?" ejeknya, tak habis pikir dengan syarat itu. Tangan Nathan mengepal di sisi tubuhnya. Memasuki kantor Nathan mengabaikan sapaan dari semua orang, wajahnya dingin dengan rahang mengeras. Ia benar-benar merasa usahanya mengabdi selama lima belas tahun ini sia-sia. Setibanya di ruang kerjanya, Nathan membanting pintu saat menutupnya. Membuat asisten sekaligus sahabatnya yang duduk di mejanya di luar ruangan kerja Nathan terkejut. Tok tok tok! “Masuk!” ucap Nathan. Asistennya mengantarkan secangkir teh. Nathan langsung meminumnya. “Duduklah, Jack!” ucapnya pada asisten. “Baik, pak,” jawabnya. “Hari ini tak perlu mode atasan-bawahan. Kau bisa bicara santai padaku seperti di luar jam kantor,” kata Nathan. “Jadi… apa yang membuatmu kesal di pagi yang cerah ini?” tanya Jackson. Nathan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya. “Apa kau sudah membaca persyaratan untuk naik jabatan yang kau berikan padaku kemarin?” tanyanya. “Tentu saja belum. Itu kan hanya diberikan untuk para kandidat saja. Mengingat posisi wakil CEO saat ini kosong, sudah jelas posisi itu harus segera diisi kan? Lalu apa masalahnya? Sepertinya kau pasti sudah lolos semua persyaratannya kan? Tinggal maju tes tahap kedua,” jelas Jackson. “Masalahnya, aku gak lolos tahap pertama!” seru Nathan. “HAH? Apa maksudmu?” tanya Jackson. Nathan menyodorkan berkas persyaratan pada asistennya itu sembari berkata, “langsung saja baca halaman terakhir.” Jackson menerimanya dan langsung melihat ke halaman terakhir. Dia langsung tertawa setelah membacanya. “Apa yang kau ketawakan?” Nathan semakin kesal, ia kembali menyeruput tehnya. “Harus punya pasangan sah atau singkatnya sudah menikah,” ulang Jackson. “Tepat sekali! Persyaratan itu sangat konyol, urusan pribadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan! Aku sudah merangkak dari bawah selama lima belas tahun. Kesempatan promosi muncul jelas di depan mataku. Masa gara-gara belum punya istri semuanya berhenti di sini?” sahut Nathan. “Kalau memang syaratnya sudah menikah, ya kau tinggal nikah saja,” jawab Jackson. “Memangnya cari istri semudah beli printer?” tanya Nathan sarkas sambil mendengus sinis. “Yah… minimal pacaran dulu sih,” Jackson masih menjawab. “Tidak semudah itu!” balas Nathan. “Kenapa?” tanya asisten lagi. “Aku tak mau membohongi orang demi keuntungan pribadiku sendiri,” Nathan menegaskan. “Kalau gitu kan, kau tinggal bayar aja. Maksudku melakukan pernikahan kontrak dengan persyaratan yang ketat,” Jackson mencoba memberikan solusi. “Mana bisa aku tinggal seatap dengan sembarangan orang, kau gila ya!” bantah Nathan. “Haruskah aku menyamar menjadi wanita. Ini jelas ide konyol sih, tapi patut dicoba,” ucap Jackson dengan berwajah serius. “Hah… kau membuatku semakin pusing. Selama seminggu ke depan, kau harus menemaniku lembur,” ucap Nathan akhirnya. “Wah… kau berlebihan sekali. Dendam pribadi kau limpahkan ke urusan pekerjaan,” gerutu Jackson. “Apa? Kau mau protes? Mau kuperpanjang jadi sebulan?” ledakan Nathan. “Maaf, pak. Sebaiknya satu minggu saja. Kalau begitu, saya mohon ijin untuk undur diri. Selamat bekerja, pak,” ucap Jackson kemudian meninggalkan ruang kerja Nathan. “Hah… ternyata aku jadi ikut-ikutan CEO, menyalahgunakan jabatan demi kepuasan pribadi,” gumamnya pelan sembari mengingat memberi hukuman konyol pada sahabatnya itu. Siang harinya saat Nathan hendak makan siang di kedai sandwich dekat kantor. Ia tanpa sengaja melihat Loraine yang kembali diseret mantan suami ke area lebih sepi. “Wanita itu… lagi-lagi menurut saja diseret seperti itu. Ada banyak orang, kenapa nggak teriak aja sih? Sudahlah. Pasti ada orang lain yang akan menolongnya,” ucap Nathan sambil menggelengkan kepalanya. Ia kembali berjalan menuju kedai untuk makan siang. Sesekali melirik ke belakang dan melihat Loraine yang masih bersama mantan suaminya itu. “Haiishhhh!” Nathan berbalik dan berlari menghampiri Loraine. Ia menarik pundak Leon hingga sekarang keduanya saling berhadapan. “Kau lagi! Jangan mengganggu untuk kedua kalinya!” ucap Leon. “Aku yang seharusnya bicara begitu! Kau ini sedang mengacau di kantor orang! Entah dari sini!” tegas Nathan. “Berani-beraninya kau bicara begitu! Kau tak tahu siapa aku?” tanya Leon sambil mendorong Nathan. Loraine melihat sekitar, beberapa orang mulai memperhatikan. Ia tak ingin merusak reputasi atasan karena terseret masalah pribadinya. “Cu-cukup. Hentikan! Leon, se-sebaiknya kau segera pergi sekarang. A-aku akan menemuimu sepulang kerja,” ucapnya dengan suara bergetar. “Apa ini Loraine? Kau sedang mengkhawatirkan playboy ini daripada aku?” tanya Leon. “Hei! Aku bukan playboy, bahkan tak ada waktu untuk berpacaran,” Nathan menyeletuk tanpa sadar. “Bahkan belum pernah pacaran. Apa kau impoten?” tanya Leon sambil ketawa sinis. “Berhenti meremehkanku!” tegas Nathan. “Cukup, kali ini aku mohon Leon. Pergilah, aku akan menemui nanti. Aku berjanji,” pinta Loraine. Leon pun akhir pergi sambil memberitahukan bahwa dia akan menunggu Loraine di rumah. Setelah melihat Leon pergi, Loraine merasa sedikit lega. Namun di waktu yang sama, ia merasa tertekan mengingat harus kembali menginjakkan kakinya di rumah yang terasa seperti neraka itu. “Hanya ini yang bisa kulakukan, demi menjaga reputasi pak Nathan,” batinnya. Suara perut Loraine berbunyi cukup keras hingga Nathan mendengarnya. “Hah… kau kapan terakhir kali makan? Suara perutmu brutal sekali seolah lebih dari seminggu tak makan,” ucap Nathan sarkas. Loraine hanya tertunduk malu. Nathan akhirnya mengajak makan bersama di kedai yang tadi hendak ditujunya. Sambil berjalan beriringan, Nathan memperhatikan Loraine secara diam-diam. Wanita itu memakai atasan lebih longgar dan lengan panjang, serta rok panjang. Sudah jelas untuk menutupi bekas luka yang didapatnya semalam. Untuk memar di pipinya cukup samar terlihat, seperti disamarkan dengan make up. “Anu, pak. Kali ini saya saja yang mentraktir sebagai ucapan terima kasih karena bapak sudah menolong saya,” ucap Loraine ragu-ragu. “Wah apa ini, harusnya kalau mau mentraktir bukankah makanan yang lebih mahal,” jawab Nathan. “Sudah kuduga, tak ada yang gratis di dunia ini,” batin Loraine. Kenyataannya, Nathan mengatakan itu hanya untuk mencairkan suasana. Namun ternyata malah sebaliknya. “Apa aku salah bicara?” gumam Nathan dalam hati. Di kejauhan tanpa mereka sadari, saat Leon akan masuk ke dalam mobilnya, ia tidak sengaja melihat Loraine sedang bersama pria tadi sedang makan siang bersama. Ia cukup lama berdiri di dekat mobilnya. Kemudian masuk dan menutup pintu mobilnya dengan keras, lalu memukul-mukul setirnya untuk melampiaskan kekesalannya. “Apa ini, Loraine? Ternyata kau berselingkuh di belakangku?” ucap Leon sambil meremas setir mobilnya. “Kau diam-diam menggugurkan kandunganmu gara-gara pria itu! Tunggu saja nanti malam saat kita bertemu. Kau harus bertanggung jawab atas kematian anakku!” Bersambung…“Ka-kakak ipar?” Nathan refleks mengucapkan kalimat itu begitu melihat sumber suara gelas pecah.Loraine yang masih duduk di sampingnya langsung menoleh. “Apa?” batinnya. Ia menatap Nathan dengan bingung.Ekspresi pria itu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Nathan bahkan sudah berdiri dan menatap Amber dengan mata yang membesar.Loraine mengerutkan dahi. “Kakak ipar?” tanyanya dalam hati. Apa dirinya tidak salah dengar?Nathan langsung berjalan cepat menghampiri Amber yang masih berdiri mematung di tempatnya. Wanita itu bahkan belum bergerak sedikit pun sejak gelas di tangannya terjatuh.“Kak Daisy?” Nathan berhenti tepat di hadapan Amber. “Kakak ipar!”Tangannya refleks memegang kedua pundak wanita itu. “Ini benar Kakak, kan?”Amber masih membeku. Aurora yang melihat Nathan memegang pundak ibunya langsung maju dan mendorong tangan pria itu. “Lepaskan Ibu!”Nathan sedikit terhuyung. Darren juga langsung be
“...”Nathan masih mematung menatap pemuda di hadapannya.Loraine yang sejak tadi memperhatikan reaksinya akhirnya ikut menatap pemuda tersebut. Ia mengerutkan dahi, mencoba mengingat wajah yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya.“Darren?”Pemuda itu yang masih berdiri di hadapan Nathan langsung menoleh kepada Loraine. Ia menyipitkan matanya sejenak. Tatapannya terlihat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu dari masa lalu.Beberapa detik kemudian, matanya melebar.“...Kak Loraine?” Wajahnya langsung berubah cerah.“Kak Loraine!” Darren tersenyum lebar. Ia bahkan terlihat jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya. “Kemana saja Kakak selama ini?”Loraine ikut tersenyum. “Darren... sudah lama sekali.”Namun sebelum Loraine sempat mengatakan lebih banyak, Darren tiba-tiba menoleh ke arah bawah pohon besar yang berada tidak jauh dari mereka. “Aurora!”Seorang gadis muda terlihat duduk di ba
“Apa ada orang terdekat yang akan kau undang saat pesta pernikahan kita nanti? Mengingat itu hari bahagia kita.”Pertanyaan Nathan membuat Loraine terdiam.Ia sebenarnya sudah memikirkan hal itu beberapa kali sejak mereka memutuskan untuk tetap melangsungkan pesta pernikahan. Namun setiap kali memikirkannya, ada satu nama yang selalu muncul di kepalanya.Hanya saja, entah kenapa menyebut nama itu terasa sulit.“Kenapa diam?” tanya Nathan.Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Ada... satu orang.”Nathan mengangguk. “Siapa?”Loraine membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. Namun setelah beberapa detik, Loraine kembali terdiam.Nathan tidak mendesaknya. Ia hanya menatap Loraine dengan tenang, menunggu wanita itu melanjutkan.“Namanya...” Loraine berpikir sejenak. “Bibi Martha Hart.”Nathan mengangguk kecil.“Beliau pemilik panti asuhan tempat saya dulu dibesarkan.” Loraine men
“Kalau begitu...” ucap Nathan. Loraine menatapnya.Nathan mengangkat alis. “Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan itu membuat pikiran Loraine yang sebelumnya sudah mulai tenang kembali berantakan.“Pesta pernikahan,” pikirnya. “Benar. Kami baru saja membicarakan berakhirnya kontrak, lalu Pak Nathan mengungkapkan perasaannya, dan sekarang bagaimana dengan pesta pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi?” batinnya sangat bergejolak. Loraine menundukkan wajah.“Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Sejujurnya, Loraine sendiri tidak tahu.“Kalau menurut saya...” Loraine berhenti sejenak. “Saya akan mengikuti keputusan Anda.”Nathan mengerutkan dahi. “Mengikuti keputusanku?”Loraine mengangguk pelan.“Ya. Bagaimanapun, pesta ini awalnya diadakan karena kontrak kita.” Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Jadi setelah kontraknya berakhir, saya pikir keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.”Nathan menatapnya bebe
“Loraine, jangan menangis seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.” Suara Nathan terdengar panik.Loraine masih menunduk. Tangannya menggenggam tisu yang diberikan Nathan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya menangis sebanyak ini. Padahal Nathan tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, justru sebaliknya.Untuk pertama kalinya, pria itu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Nathan mencintainya. Kalimat sederhana itu terus berputar di kepala Loraine. “Aku mencintaimu, Loraine.”Entah kenapa, mendengarnya langsung dari mulut Nathan membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Selama beberapa waktu terakhir, Loraine memang mulai menyadari bahwa sikap Nathan kepadanya telah berubah.Perhatian kecil yang semakin sering diberikan. Cara Nathan selalu memastikan dirinya sudah makan lalu cara pria itu memperhatikannya ketika mereka sedang berada di rumah. Ba
“Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya Loraine. Nathan terdiam, pertanyaan sederhana itu justru membuat seluruh keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi terasa menghilang.Ia menatap Loraine yang masih duduk di hadapannya. Wanita itu terlihat tegang. Kedua tangannya masih berada di atas pangkuan, sementara matanya menatap Nathan dengan penuh rasa penasaran.Nathan menarik napas panjang, ia sudah sampai sejauh ini. Kontrak mereka sudah berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan perasaannya di balik kesepakatan. Jika ia ingin mempertahankan wanita itu, sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk mengatakannya.“Ada sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama ingin kukatakan,” kata Nathan. Loraine menunggu.Nathan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Mungkin ini akan terdengar egois.”Loraine sedikit mengerutkan dahi. “Egois?” ulangnya. Nathan mengangguk pelan. “Karena setelah kontrak ini berakhir, seharusnya aku membiarkanmu pergi.”Jantung Loraine be







