Share

BAB 4

Author: Riichan
last update publish date: 2026-06-24 16:06:42

“Kau kan bisa langsung masuk, password pintu masih sama yaitu tanggal lahirmu,” ucap Leon setelah membukakan pintu saat mendengar bel berbunyi.

Loraine akhirnya masuk ke rumah Leon. Rumah yang sudah lima tahun ditempatinya saat masih menjadi istri Leon Valeㅡpria yang sering menjadi sampul majalah bisnis ataupun sering masuk di beberapa stasiun tv.

Pria yang terkenal ramah dan selalu hadir di acara amal serta terkenal sebagai family man. Hampir semua wanita menginginkan menjadi pasangannya.

“Aku hanya sebentar saja di sini,” ucap Loraine.

Loraine berusaha tetap tenang, ia melihat sekilas semuanya tidak berubah. Masih sama seperti terakhir diingatnya. Bahkan foto pernikahan mereka masih terpajang di ruang tamu.

Leon menyadari bahwa ekspresi Loraine sedikit melembut karena melihat foto-foto kenangan mereka masih terpajang seperti saat ia masih tinggal di sini.

“Kau pasti belum makan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,” ucap Leon dengan lembut.

Loraine tak menjawabnya, hanya melirik makanan di atas meja makan. Sekilas membuat Loraine hilang nafsu makannya meskipun ia belum makan lagi sejak tadi siang.

“Cobalah cicipi,” kata Leon.

Loraine tersenyum canggung sambil menjawab, “Aku masih kenyang.”

Leon menarik taplak meja hingga semua makanan terjatuh serta piring dan gelas pecah.

“Kau selalu saja meremehkan usahaku. Bahkan aku sudah cukup bersabar selama ini,” teriaknya.

“Apa yang pria gila ini katakan? Selalu saja seperti ini, selalu aku yang salah,” batin Loraine.

Leon mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan melemparkannya ke arah Loraine. Seketika membuat Loraine membeku dan menangis tanpa sadar.

“Tak usah pura-pura menangis seperti itu! Kau telah membunuh anakku, bahkan kau menyembunyikan fakta saat kau sedang mengandung anakku! Sehina itukah aku dimatamu? Hingga anak tak bersalah itu menjadi korban,” ucap Leon.

“A-aku tak membunuh anakku,” bantah Loraine dengan berderai air mata saat melihat hasil usg kandungan saat berusia lima minggu.

“Jangan bohong!” teriak Leon.

“Aku berkata jujur,” jawab Loraine.

“Kapan kau berkata jujur? Bahkan sampai detik ini kau tak jujur padaku! Kau berniat menyembunyikan fakta ini selamanya kan? Agar bisa memulai hidup baru bersama pria impoten itu!” lanjut Leon.

Loraine memejamkan matanya, ia kembali mengingat saat terakhir kali dirinya dipermalukan di perjamuan keluarga besar Leon. Saat perayaan ulang tahun ayah mertuanya. Adik iparnyaㅡLisa mengajak teman wanitanya itu di perjamuan.

Semua orang memuji dan menganggap wanita itu lebih cocok bersanding dengan Leon, dan Leon pun hanya tersenyum tak berkomentar apapun. Saat Loraine mencoba membicarakan hal itu dengan Leon di perjalanan pulang, jawaban Leon hanya…

“Kau selalu saja membesar-besarkan masalah sepele. Sudah jelas mereka hanya bercanda, kau sensitif sekali.”

Setibanya di rumah, Leon kembali pergi dengan alasan perjalanan dinas dadakan. Loraine hanya sendirian dirumah, di saat tengah malam, Lisa mengirimkan foto bersama di sebuah hotel mewah yang Leon dan teman Lisa sedang duduk bersebelahan sambil berpelukan. Malam itu juga perut Loraine terasa sangat sakit bahkan keluar darah, ia mencoba menghubungi Leon berulang kali tapi tak diangkat.

Hingga akhirnya ia pergi ke rumah sakit sendirian, dan mendengar fakta menyakitkan bahwa ia keguguran. Kehamilan yang ia nantikan kini hilang begitu saja.

“Kau mengabaikanku?”

Ucapan Leon membuat Loraine membuka mata.

“Kau lah yang mengabaikanku, Leon,” batin Loraine.

“Kau harus bertanggung jawab atas kematian anakku!” ucap Leon sambil mendekat dan menjambak rambut Loraine.

“Padahal aku akan memaafkanmu, jika kau kembali ke sisiku. Dan memulai lagi dari awal,” jelasnya.

“Tapi kau memilih berpaling dariku!” lanjutnya.

Leon mencekik leher Loraine sambil berbisik, “jika aku tak bisa memilikimu, maka tak akan ada seorangpun yang bisa memilikimu!”

Loraine tak bisa bernapas, air matanya keluar tanpa bisa ia tahan. Wajahnya mulai memerah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba melepaskan cekikan tangan Leon yang kuat itu.

BRAKKKK!

Pintu rumah akhirnya terdobrak. Leon sempat meregangkan tangannya karena suara pintu rumahnya yang terdobrak.

“Siapa itu!” teriak Leon.

Loraine melihat peluang dan akhirnya bisa melepaskan diri dari cekikan Leon. Saat ia hendak melarikan diri, Leon masih sempat menarik rambutnya. Hal itu membuat Loraine menjerit kesakitan sebelum akhirnya terjengkang ke lantai, hingga punggungnya terkena beberapa pecahan kaca.

“Arghhh,” teriaknya.

Bersambung….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 119

    Loraine akhirnya kembali bekerja. Pagi itu, ia duduk di meja kerjanya yang berada tepat di luar ruangan Nathan. Di seberangnya, Jackson sudah sibuk memeriksa beberapa dokumen yang menumpuk. “Selamat datang kembali di dunia kerja,” ucap Jackson tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya. Loraine tertawa kecil. “Terima kasih.” “Bagaimana rasanya kembali?” “Lumayan.” Jackson meliriknya. “Tidak merasa ingin kembali libur?” “Kalau bisa, tentu saja.” Jackson mengangguk setuju. “Jawaban yang sangat jujur.” Loraine baru saja membuka salah satu dokumen ketika pintu ruangan Nathan terbuka. “Bu Loraine.” Loraine langsung menoleh. “Ya, Pak?” “Bisa masuk sebentar?” “Baik.” Loraine bangkit dari kursinya dan membawa sebuah map sebelum masuk ke ruangan Nathan. Jackson memperhatikan pintu yang kembali tertutup. Ia kemudian melihat jam. Lima belas menit telah berlalu. Jackson kembali menatap pintu itu. “Mentang-mentang sudah resmi menikah, sekarang terang-terangan berduaan,” gerut

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 118

    Beberapa hari berlalu setelah keluarga Kimberly menerima konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.Untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu yang berat, Nathan dan Loraine benar-benar terasa tenang.Pagi itu, Loraine berdiri di depan meja makan sambil memperhatikan Nathan yang masih membaca sesuatu di tablet.“Bukankah kau bilang sudah tidak mau membuka pekerjaan saat sarapan?”Nathan mengangkat wajah. “Aku tidak sedang bekerja.”Loraine menunjuk layar di tangannya. “Lalu itu apa?”Nathan melihat tabletnya sendiri sebelum tersenyum santai. “Laporan.”“Laporan itu pekerjaan.”“Ini hanya lima menit.”Loraine menarik napas panjang lalu mengambil tablet tersebut dari tangannya.“Nathan.”“Loraine.”“Sudah.”Nathan menatap istrinya yang dengan tenang meletakkan tablet itu jauh dari jangkauannya. “Kau sekarang mulai mengatur ya.”“Apa tak boleh?”Nathan tertawa kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”Loraine kembali duduk di hadapannya. “Bagus.”Nathan memperhatikannya beberapa detik sebelum berk

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 117

    Pagi itu, sebelum ayah Kimberly sempat melakukan apa pun terhadap bukti yang masih tersisa, suara ketukan keras terdengar dari pintu rumahnya.Pria itu baru saja turun dari tangga ketika beberapa orang berseragam berdiri di hadapannya dengan surat perintah penangkapan. Wajahnya seketika berubah saat salah satu penyidik menyebut namanya dan mengatakan bahwa ia diperiksa atas dugaan keterlibatan dalam rekayasa kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.“Apa maksud kalian?” tanyanya dengan suara berat.“Kami memiliki cukup bukti untuk membawa Anda ke kantor kepolisian.”Pria itu sempat mencoba membantah, tetapi tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Kesaksian mantan pekerja bengkel, catatan pembayaran, dokumen perusahaan, serta pengakuan Kimberly telah membentuk rangkaian bukti yang tidak mudah dipatahkan.Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, pria yang selama ini bersembunyi di balik nama besar keluarganya akhirnya dibawa pergi dengan tangan terikat. Dan kali ini, tidak ada seorang pun

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 116

    Pagi berikutnya, suasana di rumah utama keluarga Green terasa jauh lebih berat daripada biasanya.Tidak ada percakapan santai seperti hari-hari sebelumnya. Para anggota keluarga yang mengetahui Kimberly sedang diperiksa polisi memilih diam, sementara August sejak pagi belum kembali ke rumah setelah meninggalkan kantor kepolisian tempat istrinya menjalani pemeriksaan lanjutan.~Di tempat lain di ruang keluarga West, Nathan duduk bersama Loraine, Clara, Daniel, Adrian, dan Daisy. Tidak seorang pun berbicara sampai suara pintu terbuka.Jackson masuk sambil membawa sebuah map tebal di tangannya.Nathan langsung menatapnya. “Bagaimana?”Jackson berjalan mendekat dan meletakkan map tersebut di atas meja. “Kami menemukan bukti terakhir yang kami butuhkan.”Adrian yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajah. “Bukti apa?”Jackson membuka map itu perlahan. “Mantan pekerja bengkel yang saya ceritakan sebelumnya akhirnya memberikan keterangan lengkap. Setelah melihat kembali salinan surat pem

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 115

    Ruangan pemeriksaan itu terasa jauh lebih dingin daripada yang Kimberly bayangkan.Ia duduk di salah satu sisi meja dengan seorang pengacara di sampingnya. Di seberang mereka, dua penyidik membuka beberapa map berisi dokumen yang sudah dikumpulkan selama penyelidikan ulang kecelakaan bus dua puluh tahun lalu. Kimberly berusaha mempertahankan wajah tenangnya, tetapi kedua tangannya yang sejak tadi saling menggenggam terlalu erat menunjukkan hal yang berbeda.“Sekali lagi kami tegaskan, Nyonya Kimberly. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memperoleh keterangan Anda mengenai sejumlah bukti yang ditemukan dalam penyelidikan ulang,” ujar penyidik di depannya.Kimberly mengangguk pelan. “Saya mengerti.”Penyidik membuka dokumen pertama.“Pada pemeriksaan kendaraan sebelum kecelakaan, tidak ditemukan kerusakan serius pada sistem pengereman bus tersebut. Namun setelah kecelakaan, ditemukan kerusakan yang cukup parah pada bagian yang sama.”Kimberly hanya diam.“Apakah Anda mengetahui hal tersebut

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 114

    Pagi itu, rumah utama keluarga Green yang biasanya tenang mendadak kedatangan beberapa orang berseragam polisi.Beberapa pelayan yang sedang berada di ruang depan saling berpandangan ketika dua polisi masuk bersama seorang penyidik. Mereka tidak datang untuk sekedar bertamu, karena salah satu dari mereka membawa sebuah map berwarna cokelat yang sejak tadi berada erat di tangannya.“Maaf mengganggu. Kami ingin bertemu dengan Nyonya Kimberly,” ujar salah satu polisi.Kakek Green yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga langsung mengernyitkan dahi. “Ada urusan apa polisi datang ke rumah saya?”“Kami membawa surat perintah pemeriksaan terkait penyelidikan kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.”Suasana seketika berubah.Nenek Green yang duduk tidak jauh dari Kakek langsung menatap polisi itu dengan wajah terkejut. Sementara beberapa anggota keluarga yang sedang berada di ruangan tersebut mulai saling berbisik.“Kecelakaan dua puluh tahun lalu?” ulang Kakek dengan suara berat.“Benar, T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status