LOGIN“Cukup!”
Suara itu membuat mata Loraine terbelalak. Leon menoleh ke sumber suara itu. Sosok pria berdiri di sampingnya. Ia menepis tangan pria itu. “Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur?” tanya Leon. “Pa-pak Nathan,” ucap Loraine dengan gugup. Nathan mengamati Loraine, penampilannya sangat berantakan bahkan salah satu lengannya terlihat merah karena bekas cengkeraman sosok pria di depannya ini. Sementara itu lututnya berdarah dan kakinya lecet-lecet. “Sejauh apa dia diseret hingga roknya sampai robek begitu?” batin Nathan. Loraine perlahan mencoba berdiri dengan berpegangan pada mobil. “Oh… kau mengenal pria ini, Lora?” tanya Leon. “Sudahlah… lepaskan dia, atau…” ucap Nathan. “Atau apa?” sela Leon. Nathan menghela napasnya pelan. “Kenapa aku ikut campur urusan orang lain secara impulsif seperti ini. Aku sudah lelah banget, ingin segera berbaring di atas kasur,” gumamnya dalam hati. “Atau apa?” tanya Leon lagi. “Sebaiknya kau pergi, tak usah ikut campur urusan rumah tangga orang lain,” lanjut Leon. Nathan mengerutkan alisnya, ia cukup terkejut mendengar pernyataan Leon itu. “Ma-mantan suami. Pri-pria ini mantan suami saya,” bisik Loraine. Mendengar ucapan Loraine, Nathan mendekat satu langkah ke arah Leon dan menyentuh pundak kirinya. “Rumah tangga mana yang kau maksud? Bukankah kalian sudah bercerai?” ucapnya. Mata Leon membesar, emosinya terasa disulut. Ia menepis tangan Nathan yang ada di pundaknya dengan lengan kirinya. Dan dengan tangan kanannya bersiap untuk memukul Nathan. Loraine menyadari itu, ia berusaha untuk menghentikannya. Tapi sudah terlambat… BUGHHHH! Pukulan itu mendarat di pipinya sampai ia tersungkur jatuh saking kuatnya pukulan itu. Tak hanya Nathan, Leon pun juga terkejut. Nathan menghentikan saat Leon hendak menolong Loraine. “Jauhkan tanganmu yang ringan itu!” ucapnya. Ia bergegas menolong Loraine. Darah keluar dari sudut bibir Loraine, pipinya pun terlihat memar. Setelah Loraine terduduk, Nathan kembali berdiri dan mendekati Leon. “Ini penganiayaan, aku akan menelepon polisi,” ucap Nathan sambil mengeluarkan ponselnya. Leon mulai panik, ia bergegas menuju ke arah mobil dan segera menaikinya. “Awas saja kau! Aku akan buat perhitungan denganmu!” ucap Leon sambil memacu mobilnya. “Wajahnya cukup familiar, apa orang terkenal,” gumam Nathan sambil memasukkan kembali ponselnya dalam sakunya. Nathan kembali menghampiri Loraine, “apa kau bisa berdiri?” Loraine mengangguk, Nathan membantunya berdiri dengan hati-hati. Saat ia sudah berdiri dan mencoba berjalan, luka-lukanya terasa perih. Ia hanya meringis untuk menahan rasa perih itu. “Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa luka-lukamu,” ucap Nathan. “Ti-tidak perlu pak, sa-saya bisa mengobatinya sendiri di rumah,” jawab Loraine. “Saya tak ingin merepotkan Bapak lebih dari ini,” lanjutnya. “Takutnya lukamu terinfeksi, jadi menurut saja kali ini,” jawab Nathan. Loraine akhirnya menurut, lalu ia meraba pundaknya. Tatapannya beralih ke pundak kiri dan berpindah ke pundak kanan. Nathan menyadari hal itu dan bertanya, “kau mencari sesuatu?” “Ta-tas saya, Pak,” jawab Loraine sambil melihat sekeliling mencari tasnya. “Ayo naik mobilku dulu, setelah itu akan kucarikan tasmu,” ucap Nathan. Setelah membantu Loraine masuk ke dalam mobilnya, Nathan kini berkeliling di sekitar tempat kejadian untuk mencari tas Loraine. “Arghhh… apalagi ini? Kenapa aku melakukan semua ini. Aku udah capek banget,” gerutunya. Setelah menemukan tas milik Loraine, ia bergegas kembali ke mobilnya dan segera menuju ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Loraine dibantu perawat untuk diobati oleh dokter. Setelah selesai dan semua baik-baik saja. Nathan hendak mengantarkan Loraine pulang, namun Loraine tak ingin berhutang budi lebih dari ini. Akhirnya menolak tawaran Nathan dan memilih untuk pulang naik taksi saja. “Saya permisi duluan Pak, sekali lagi terima kasih banyak,” ucap Loraine sebelum naik taksi. Nathan hanya mengangguk dan kembali ke mobilnya untuk pulang. Setibanya di rumah, ia membawa dokumen yang sengaja ingin dikerjakan di rumah. Sebelum kembali bekerja, ia terlebih dahulu mandi supaya lebih segar. Setelah selesai, ia kembali ke ruang kerjanya sambil membawa secangkir kopi. “Rasa capek selalu hilang setiap kali tiba di rumah,” gumamnya sambil memilah dokumen. Amplop coklat terjatuh, Nathan mengambilnya dan teringat bahwa amplop itu berisi persyaratan untuk mengikuti tes kenaikan jabatan. Saat akan membukanya, ponselnya tiba-tiba berdering. Tertulis nama ‘Ibu’ di layar ponselnya. “Halo, Bu. Bukankah ini sudah terlalu larut malam untuk menelepon?” “Hah… putra ibu belum tidur rupanya,” “Ibu kan menelepon, bagaimana bisa aku tertidur?” “Baiklah… ibu akan mematikan telepon. Sebelum itu, kapan ya ibu bisa menggendong seorang bayi?” “Pertanyaan konyol apa lagi ini, Bu? Ibu kan bisa membuat bayi lagi bersama ayah. Kenapa bertanya padaku segala sih?” “Anak ini! Ibu terlalu tua untuk melahirkan lagi. Maksud ibu itu cucu! Ibu ingin menggendong cucu!” “Sudahlah bu, kututup dulu ya teleponnya. Putramu ini mau tidur. Selamat malam.” Nathan mematikan ponselnya. “Hah… ibu selalu saja, apa ibu nggak bosan bicara hal sama berulang,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. Ia kembali fokus pada amplop coklat di depannya itu. Perlahan menyobek dan membaca isinya. Jelas tertulis semua persyaratan untuk naik jabatan. Awalnya ia santai membaca semua persyaratan itu. Mulai dari pengalaman kerja, masa kerja, target keuntungan, penilaian kepemimpinan, dan seterusnya. Semuanya terpenuhi hingga catatan tambahan di halaman paling akhir yaitu memiliki pasangan sah (sudah menikah). Brakkk! Berkas itu dibanting. “Konyol!” “Apa gunanya aku kerja mati-matian selama lima belas tahun terakhir ini?” “Persyaratan ini sungguh tak masuk akal dan benar-benar konyol!” Saking kesalnya ia beranjak dan memilih untuk tidur. Bersambung…“Kenapa tidak turun? Apa kita tidak jadi makan?”Suara Vanessa memecahkan lamunan Leon. Wanita yang duduk di sampingnya itu menoleh dengan sedikit kebingungan, sementara tatapan Leon masih terpaku pada arah tempat Loraine dan Nathan menghilang beberapa saat lalu.Leon mengerjapkan mata. Ia baru menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lama diam di balik kemudi.“Maaf ya. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ia segera mengalihkan pandangan kepada Vanessa, lalu tersenyum lembut. “Ayo, kita turun. Kau pasti sudah lapar.”Vanessa langsung tersenyum. Leon bahkan turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi wanita itu. Setelah Vanessa keluar, ia merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin sebelum menggandeng tangannya menuju restoran.“Tempat ini cukup bagus, bukan?” tanya Leon.Vanessa mengangguk senang. “Bagus sekali. Aku suka suasananya.”“Kalau begitu, lain kali kita bisa datang lagi. Kau tinggal bilang tempat mana yang ingin kau kunjungi. Aku akan mengantarmu.”Sikap Leon yang b
Nathan dan Loraine masih berada di ruang keluarga bersama Daniel dan Clara. Sesekali, Loraine kembali melirik kotak kecil berisi pakaian bayi yang tadi diperlihatkan Clara. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan setiap kali ia membayangkan ketiga bayi di dalam kandungannya kelak mengenakan pakaian-pakaian mungil itu.“Omong-omong,Ibu,” Nathan membuka percakapan. “Di mana Kak Adrian dan kakak ipar? Dan dua keponakan usil itu? Kami belum sempat bertemu dengan mereka.”Clara tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Mereka sedang menghabiskan waktu bersama. Adrian dan Daisy kembali ke rumah yang sudah mereka tinggalkan selama bertahun-tahun. Darren dan Aurora juga ikut.”Nathan mengangkat alisnya. “Apa Kak Adrian berencana kembali tinggal di rumah lamanya?”“Sepertinya begitu, tapi kami tidak menanyakannya,” jawab Daniel tenang. “Tunggu saja sampai mereka sendiri yang mengatakannya.”Daniel meletakkan majalah kesehatan yang sejak tadi berada d
Mobil Nathan akhirnya memasuki halaman rumah kedua orang tuanya. Dari balik kaca jendela, Loraine melihat beberapa tanaman hias yang tertata rapi di sepanjang teras. Rumah itu masih terlihat sama seperti kunjungan terakhir mereka, dengan suasana hangat yang selalu membuatnya merasa diterima.Nathan mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arahnya.“Masih merasa nyaman? Tidak pusing atau mual?” tanyanya.Loraine tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Nathan. Kalau kau terus bertanya seperti itu, nanti aku malah merasa sedang sakit parah.”“Aku hanya memastikan.”“Ya ya baiklah.” Loraine menggenggam tangannya sebentar. “Ayo, kita masuk. Ibu pasti senang mendengar kabar ini.”Nathan mengangguk. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Loraine. Tangannya segera terulur untuk membantu istrinya keluar dari mobil, meskipun Loraine sebenarnya masih bisa melakukannya sendiri.Begitu mereka tiba di depan pintu, Nathan menekan bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang wanita paruh b
“Apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranmu?” tanya Loraine ragu-ragu. Nathan melirik tangan Loraine yang menggenggam tangannya. Ia sempat terdiam sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke jalan.“Bagaimana cara memberitahu keluargaku tentang kondisi kehamilanmu?” jawabnya akhirnya.Loraine sedikit mengernyit. “Bukankah kita tinggal memberitahu mereka kalau aku mengandung tiga bayi?”“Bukan sesederhana itu, Sayang.”Nathan menghembuskan napas panjang. Sejak keluar dari ruang pemeriksaan tadi, pikirannya terus tertuju pada satu hal yaitu reaksi keluarganya ketika mengetahui bahwa kehamilan Loraine bukan kehamilan biasa.Ia mengenal betul orang tuanya. Mereka pasti akan ikut bahagia mendengar kabar bahwa ia akan menjadi seorang ayah. Namun, kebahagiaan itu mungkin tak akan bertahan lama setelah mereka mengetahui risiko yang harus dihadapi Loraine.“Ayah dan ibu pasti akan menentang keputusanmu untuk mempertahankan ketiga bayi itu jika mereka tahu kondisi sebenarnya,” lanjut Nath
Satu bulan telah berlalu sejak malam ketika Loraine akhirnya menceritakan luka masa lalunya kepada Nathan.Selama sebulan terakhir, Nathan berusaha memberikan perhatian lebih kepada istrinya. Ia memastikan Loraine tidak melewatkan waktu makan, mengingatkannya untuk beristirahat ketika terlalu lama bekerja, bahkan beberapa kali diam-diam memeriksa apakah istrinya sudah meminum vitamin yang diresepkan dokter.Namun, hari ini berbeda.Hari ini adalah jadwal pemeriksaan yang telah mereka tunggu sejak mengetahui bahwa Loraine sedang mengandung. Pemeriksaan sebelumnya menunjukkan kadar hormon HCG dalam darah Loraine lebih tinggi daripada perkiraan untuk usia kehamilannya, sehingga dokter menyarankan pemeriksaan ultrasonografi setelah beberapa minggu.Sejak pagi, Nathan tampak lebih gelisah daripada biasanya.“Sayang, kau yakin tidak merasa mual?” tanyanya ketika mereka duduk di ruang tunggu rumah sakit.Loraine menoleh, lalu tersenyum
“Sayang, jangan membuatku takut seperti ini....” pinta Nathan.“A-aku akan segera panggil ambulans,” lanjutnya sambil bergegas berdiri hendak mengambil ponselnya.Namun, sebelum Nathan sempat menjauh, Loraine segera menahan lengan suaminya. “Jangan, Nathan. Aku baik-baik saja.”Nathan langsung berhenti. Ia menoleh kepada Loraine, menatap wajah istrinya yang masih basah oleh air mata dengan kebingungan sekaligus kecemasan yang belum mereda.“Bagaimana mungkin kau bilang baik-baik saja kalau menangis seperti ini?” tanyanya. “Apa ada yang sakit? Katakan padaku, Sayang. Aku tidak akan bisa tenang kalau kau terus seperti ini.”Loraine menggeleng pelan. Ia berusaha tersenyum, tetapi bibirnya justru bergetar ketika kembali mengingat sesuatu yang selama ini tersimpan jauh di dalam hatinya.“Aku hanya....” Ia menarik napas, mencoba mengendalikan suaranya. “Aku hanya teringat sesuatu dari masa lalu.”Nathan tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia kembali mendekati istrinya, lalu berjongkok di ha







