MasukRumah sakit itu terasa lebih dingin dari biasanya.Bau antiseptik menusuk hidung, lampu-lampu putih menyilaukan mata, dan suara langkah tergesa di lorong panjang membuat jantung siapa pun ikut berdegup tak karuan.Tharie hampir berlari menyusuri koridor, Gilang di sampingnya, Papa Elham dan Mama Ami sedikit tertinggal di belakang. Di ujung lorong, papan bertuliskan ICU berdiri seperti gerbang yang memisahkan harapan dan kehilangan.“Bagaimana kondisi Ayah saya?” tanya Papa Elham pada dokter yang baru keluar.Dokter itu menghela napas pelan. “Tekanan darah beliau turun drastis. Kami sudah melakukan tindakan stabilisasi. Untuk sementara, kondisinya kritis, tapi masih bisa dipantau.”Tharie merasa lututnya melemas.“Kakek sadar?” suaranya bergetar.“Beberapa kali membuka mata. Tapi tidak lama.”Mama Ami memeluk putrinya, namun Tharie hampir tidak merasakan pelukan itu. Dunia di sekitarnya seperti teredam, hanya menyisakan satu pikiran: waktu.Waktu yang mungkin benar-benar menipis.Setel
Langit sore itu menggantung rendah di atas rumah besar keluarga Elham, seperti ikut menahan napas bersama seorang gadis yang duduk terdiam di tepi ranjangnya.Tharie menatap lurus ke luar jendela. Halaman rumahnya yang biasanya terasa luas dan nyaman kini seperti berubah menjadi penjara tanpa jeruji. Angin berembus pelan, menggoyangkan tirai putih yang menjuntai hingga lantai. Ia memeluk kedua lututnya, pikirannya berputar-putar pada satu kalimat yang terus terngiang sejak kemarin malam.“Kamu harus menikah dengan Gilang secepatnya.”Kalimat itu tak hanya mengejutkannya. Kalimat itu meruntuhkan dunianya.Pintu kamar diketuk pelan.“Tharie, boleh Mama masuk?” suara Mama Ami terdengar lembut, tapi ada ketegangan samar di dalamnya.Tharie tidak menjawab. Namun pintu tetap terbuka perlahan.Mama Ami masuk dengan langkah hati-hati. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putrinya yang tampak lebih pucat dari biasanya.“Kamu belum makan dari tadi siang,” ucapnya pelan.“Aku tidak lapar, Ma.”“Kam
Setelah pertemuan dengan Hanum, Aditya, dan Intan, hidup Tharie terasa… lebih sunyi.Bukan karena tekanan berkurang sepenuhnya.Justru karena semuanya menjadi terlalu tenang.Tidak ada lagi desakan langsung dari Papa. Tidak ada pembicaraan tentang tanggal. Tidak ada tatapan menghakimi dari keluarga Gilang. Bahkan di sekolah, rumor mulai mereda karena fokus siswa teralihkan oleh ujian akhir.Namun ketenangan itu membuat pikirannya bekerja lebih keras.Ia mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak sempat ia pikirkan.Tentang Queen.Tentang masa lalu Gilang.Tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan kedua dalam hidup seorang laki-laki yang pernah mencintai begitu dalam.---Suatu sore, setelah les tambahan, Tharie tidak langsung pulang. Ia duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah—tempat yang sama di mana ia pernah mengatakan, “mari coba.”Langit berwarna jingga. Angin s
Ketenangan itu kembali terusik ketika Papa Elham menerima tamu tak terduga di rumah.Tharie baru tahu ketika Mama memanggilnya turun dengan wajah yang tak bisa ia baca—antara tegang dan gugup.“Tharie, ada tamu.”Ia menuruni tangga perlahan. Dari balik pegangan kayu, ia melihat tiga sosok duduk di ruang tamu.Dan napasnya tercekat.Gilang tidak datang.Yang datang adalah keluarganya.Seorang wanita paruh baya dengan raut wajah tegas namun anggun duduk paling depan. Sorot matanya tajam, tetapi tidak dingin. Di sampingnya, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan pembawaan tenang dan dewasa. Dan di sebelah pria itu, seorang wanita yang wajahnya lembut, namun menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.Tharie mengenali mereka dari cerita yang pernah Gilang sampaikan.Hanum.Ayah angkatnya.Aditya, kakak angkatnya.Dan Intan—istri Aditya—yang tidak lain adalah orang tua dar
Keputusan itu—“mari coba”—tidak langsung mengubah dunia.Langit tetap sama. Sekolah tetap penuh bisik-bisik. Papa masih sesekali menatapnya dengan sorot penuh tanya. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam diri Tharie.Ia tidak lagi berdiri di tengah badai tanpa arah.Ia memilih.Dan pilihan itu, sekecil apa pun, memberinya pijakan.---Hari-hari setelah pembicaraan di taman belakang sekolah terasa canggung sekaligus baru. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada perubahan status yang dramatis. Secara teknis, Gilang masih gurunya. Secara etika, mereka tetap menjaga jarak.Namun di balik jarak itu, ada kesepahaman yang tak terucap.Mereka sedang mencoba.Bukan sebagai guru dan murid.Bukan sebagai calon pengantin karena wasiat.Tapi sebagai dua manusia yang ingin melihat kemungkinan.Gilang tetap profesional di kelas. Tidak ada perlakuan istimewa. Tidak ada tatapan terlalu la
Dua hari setelah percakapan tentang mutasi itu, keadaan justru semakin rumit.Bukan karena rumor baru.Melainkan karena satu kabar yang datang tiba-tiba.Kakek kritis.Telepon dari Mama datang saat Tharie sedang berada di kelas. Wajahnya langsung pucat saat membaca pesan singkat itu. Tangannya gemetar, hingga buku yang ia pegang terjatuh ke lantai.“Tharie?” suara Gilang dari depan kelas memanggilnya.Ia berdiri dengan napas tidak teratur. “Pak… saya izin.”Tanpa banyak tanya, Gilang menangkap sesuatu dari ekspresinya. “Silakan.”Namun sebelum ia melangkah keluar, Gilang sudah lebih dulu menyusulnya ke lorong.“Ada apa?”“Kakek…” suaranya pecah. “Kritis.”Gilang tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk singkat. “Aku antar.”Dan untuk pertama kalinya, Tharie tidak menolak.Di dalam mobil, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Semua pertahanan yang ia bangun runtuh begitu saja.Gilang tidak mencoba menenangkan dengan kata-kata klise. Ia hanya menyetir dengan tenang, sesekali mel







