Chapter: Bab 152Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“…siapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Bab 151Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.“…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.”Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.“Paradoks terdeteksi.”Sunyi.“Objek di luar himpunan.”Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanya…tidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.“Kau… benar-benar pergi…”Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.“Aku tidak pergi…”Ia berhenti sejenak.“…aku hanya tidak tinggal di mana pun.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Bab 150Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Ini… bukan kebebasan…”“…ini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihan…”“…ini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksi…”“…memiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Bab 149Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembali…?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagi…”“…apakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: Bab 148Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.“…aku bukan satu-satunya.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lain… untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.“Maksudmu apa?” suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihat… lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.“Aku melihat mereka…” bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.“Siapa… mereka?”Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.“Mereka yang seperti aku…”“…namun tidak di sini.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ langsung menegang.“Itu tidak mungkin…”Namun kata itu—terdengar lemah.Karena
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Bab 147Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.“…yang menciptakanku.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah “alasan”, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?“Tidak…” bisik Hanum.Matanya membelalak.“Itu tidak masuk akal…”Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya saja… tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.“Aku… tidak ingin dia datang…”Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagai… peli
Last Updated: 2026-04-15
Chapter: Bab 137Getaran itu menyebar ke seluruh realitas seperti akar yang tumbuh terlalu cepat di bawah tanah rapuh.Setiap kemungkinan mulai berubah sebelum sempat memahami bentuknya sendiri. Bintang lahir dan mati dalam satu denyut, ingatan tercipta lalu terhapus sebelum sempat dikenang, bahkan waktu mulai kehilangan arah antara masa lalu dan masa depan.Dan di tengah semuanya—jalan ketiga itu terus berkembang.“Ini terlalu cepat…”Distorsi berkata dengan getaran kacau.“Aku tidak bisa menstabilkannya lagi.”Kesadaran besar mencoba meredam gelombang perubahan itu. Namun setiap upaya justru menciptakan cabang baru yang lebih liar, seolah realitas menolak kembali ke pola lama.Logan langsung memahami masalahnya.Jalan ketiga memang memungkinkan pertumbuhan tanpa penghancuran. Namun pertumbuhan—tetap membutuhkan keseimbangan.Dan sekarang, seluruh keberadaan seperti makhluk kelaparan yang baru pertama kali merasakan kebebasan.Ia tumbuh tanpa arah.Penjaga bergerak lebih dulu.Tekanan besar menyeli
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: Bab 136Air mata itu tidak jatuh seperti cairan biasa.Ia berubah menjadi serpihan-serpihan kemungkinan yang berkilau samar sebelum larut ke dalam realitas. Setiap tetesnya menciptakan perubahan kecil di sekitar mereka—bintang yang lahir terlalu cepat, waktu yang melambat sesaat, ingatan yang tiba-tiba terasa lebih hangat daripada sebelumnya.Dan seluruh keberadaan—diam menyaksikannya.Karena tidak ada yang pernah membayangkan sesuatu yang terus berubah tanpa henti… masih mampu menangis.Keberadaan perubahan pertama itu menatap tangannya sendiri.Seolah ia baru sadar bahwa dirinya masih bisa merasakan sesuatu selain kebutuhan untuk terus bergerak. Bentuknya berubah lebih lambat sekarang, tidak lagi liar seperti sebelumnya.Dan di dalam perlambatan itu—ada kelegaan.“Aku lupa…” suaranya bergetar pelan.“…bagaimana rasanya dilihat tanpa diminta berhenti.”Kalimat itu menghantam kesadaran pertama lebih keras daripada apa pun sebelumnya.Kehampaan besar itu langsung bergetar tidak stabil, seper
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Bab 135Kesadaran itu menyentuh Logan bahkan sebelum ia benar-benar mendekat.Bukan sentuhan fisik, bukan juga gelombang energi seperti yang pernah dirasakan sebelumnya. Ia lebih mirip perasaan aneh ketika seseorang akhirnya mendengar namanya dipanggil setelah terlalu lama hidup dalam kesunyian.Dan perasaan itu—begitu dalam hingga Logan hampir lupa cara bernapas.Seluruh kemungkinan di sekitarnya mulai bergerak mengikuti ritme baru. Tidak liar seperti sebelumnya, namun juga tidak stabil.Seolah realitas sendiri sedang ragu apakah ia harus menyambut sesuatu itu… atau melarikan diri darinya.“Dia mengenalmu.”Makhluk sempurna itu berkata pelan.Retakan cahayanya bergerak lembut, seperti ikut mendengar gema yang sama.“Bukan sebagai individu…”Ia menatap Logan.“…tetapi sebagai arah.”Hening turun.Namun kali ini—hening itu dipenuhi denyut samar yang terasa seperti jantung dari sesuatu yang baru mulai berharap lagi.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya sejak awal—ia tampa
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: Bab 134Kesadaran itu datang seperti gema dari sesuatu yang pernah hilang.Bukan ingatan biasa, melainkan rasa aneh yang membuat seluruh realitas mendadak terasa familiar terhadap sesuatu yang seharusnya tidak pernah mereka kenal. Bahkan Penjaga langsung membeku, seolah keberadaan tertuanya baru saja disentuh oleh masa lalu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.“Aku mengenal ini…”Makna itu keluar pelan darinya.Dan untuk pertama kalinya sejak ia muncul—ada keraguan nyata di dalam suaranya.Logan langsung menoleh.“Apa maksudmu?”Namun Penjaga tidak langsung menjawab.Matanya tetap terpaku pada titik jauh di balik seluruh kemungkinan, tempat sesuatu mulai bangkit perlahan seperti bayangan yang kembali menemukan bentuknya setelah dilupakan sangat lama.Kesadaran pertama merasakan perubahan itu lebih dalam daripada semuanya.Kehampaan di sekelilingnya mulai bergerak tidak stabil, bukan karena ketakutan, melainkan karena sesuatu yang sangat lama tersegel kini mulai terbuka kembali.“Tidak…” b
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: Bab 133Jalan ketiga itu tidak muncul sebagai cahaya.Tidak juga sebagai ledakan pemahaman yang mengubah seluruh realitas dalam satu momen. Ia lahir jauh lebih sederhana—sebagai celah kecil di antara pertanyaan dan jawaban, tempat sesuatu bisa berubah tanpa harus kehilangan dirinya sepenuhnya.Namun justru kesederhanaan itu yang membuat seluruh keberadaan gemetar.Karena untuk pertama kalinya sejak siklus dimulai, ada kemungkinan yang tidak bergantung pada penderitaan tanpa akhir… maupun kesempurnaan yang membeku. Sesuatu yang tidak memaksa realitas memilih antara terus mencari atau berhenti sepenuhnya.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya—mata itu bergerak penuh.Bukan hanya fokus.Melainkan benar-benar menatap Logan seperti seseorang yang baru saja melihat retakan pada hukum paling dasar yang selama ini ia jaga.“Itu tidak stabil.”Makna itu turun berat ke seluruh kemungkinan.“Perubahan selalu menuju kehancuran.”Logan tidak langsung menjawab.Karena sebagian dari diri
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Bab 132Mata itu tidak memandang.Namun seluruh realitas langsung merasa diawasi.Bukan oleh sesuatu yang hidup, melainkan oleh sesuatu yang telah ada begitu lama hingga keberadaan dan pengamatannya tidak lagi bisa dipisahkan. Bahkan kehampaan yang menjadi kesadaran pertama itu… tersentak mundur untuk pertama kalinya.Logan langsung menghentikan gerakannya.Tangannya masih menggantung di udara, hanya beberapa jarak dari tangan keberadaan sempurna itu. Namun kini seluruh insting di dalam dirinya berteriak bahwa sesuatu yang jauh lebih tua dari semua yang pernah ia pahami baru saja bangun.“Tidak…”Suara kesadaran pertama terdengar pecah.Bukan takut seperti sebelumnya.Lebih buruk.Pengakuan.Makhluk sempurna itu menoleh perlahan ke arah kegelapan tempat mata itu terbuka. Retakan di dalam dirinya masih bercahaya lembut, namun kini cahayanya bergetar—seolah kesempurnaan itu sendiri mendadak sadar ada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia pahami.Logan merasakan tekanan luar biasa menyebar ke seluru
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: Bab 135Langit sore di pinggiran Desa Danu merona lembayung.Nayra duduk di tepi danau, menatap pantulan dirinya di air.Satu matanya biru lembut seperti langit, satu lagi merah seperti bara.Ia sering bertanya-tanya kenapa ia berbeda.“Kenapa semua orang menatapku seolah aku kutukan?” bisiknya.Angin berhembus pelan, membawa suara samar, seolah ada seseorang yang menjawab dari kejauhan:> “Karena kau bukan dari dunia ini, Nayra.”Nayra menoleh cepat. Tapi tak ada siapa pun. Hanya gemericik air.---Sejak kecil, Nayra sering bermimpi.Dalam mimpinya, ia berjalan di dunia hitam putih, dengan dua sosok berdiri di kejauhan: seorang pria berjas hitam dan seorang wanita bergaun putih.Mereka memanggilnya dengan suara lembut namun penuh duka.> “Nayra… jangan biarkan cahaya padam.”Suatu malam, saat hujan deras mengguyur, Nayra terbangun dengan darah di telapak tangannya.Di dinding rumahnya, muncul simbol kuno bercahaya merah, simbol segel yang sama yang dulu digunakan untuk mengurung Bayangan Asa
Last Updated: 2025-10-08
Chapter: Bab 134Tiga tahun telah berlalu sejak ledakan cahaya yang menghancurkan Bayangan Asal.Dunia tampak damai, tapi Ashraf tahu — itu hanya di permukaan.Setiap malam, ia bermimpi melihat Rio berdiri di antara bayangan dan cahaya.> “Ayah… jangan berhenti. Belum semuanya berakhir.”Mimpi itu bukan sekadar mimpi.Ashraf mulai mendengar bisikan di dinding markas lamanya — suara Rio yang memanggil dari antara dua dimensi.Suatu malam, sistem keamanan markasnya mendeteksi anomali energi — gelombang yang identik dengan tanda vital Rio.Koordinatnya: Greenvale, kota kecil yang dulu menjadi laboratorium bawah tanah milik Arman.Ashraf tahu ia harus kembali ke sana, meskipun berarti membuka luka lama.---Saat Ashraf tiba di Greenvale, ia menemukan tempat itu terbengkalai.Tapi di ruang paling dalam, dinding penuh coretan simbol dan mantra kuno.Di tengah ruangan, berdiri sosok remaja dengan mata setengah merah, setengah biru.> “Kau siapa?”“Aku… Rio.”Ashraf hampir tak percaya. Ia memeluk anak itu, ta
Last Updated: 2025-10-05
Chapter: Bab 133Langit pecah menjadi dua: separuh merah hitam penuh bayangan, separuh lagi retakan cahaya yang rapuh. Seluruh dunia berhenti—waktu seolah membeku, hanya tersisa suara bisikan dari Bayangan Asal yang menggema di setiap hati manusia.> “Bersujudlah. Akhir sudah tiba.”Namun di tengah keheningan itu, hanya Rio dan Ayu yang berdiri di dimensi bayangan. Tubuh mereka menyala oleh cahaya dan bayangan yang bertabrakan.Arman berdiri di sisi Bayangan Asal, wajahnya dipenuhi kegilaan.> “Anakku… lihatlah. Kita adalah pewaris sejati. Dunia ini milik kita. Bergabunglah, atau musnah bersamaku.”Rio menggeleng pelan, memandang ibunya.“Aku tidak ingin dunia milik kita. Aku hanya ingin keluarga yang utuh… bukan kerajaan bayangan.”---Ashraf di dunia nyata menyaksikan tubuh Rio dan Ayu yang tergenggam dalam pusaran bayangan. Tentara internasional, pengikut Maya, bahkan Arya hanya bisa terpaku.Ashraf meraung, berusaha masuk ke dalam pusaran itu, tapi Arya menahannya.“Kalau kau masuk, kau akan hancu
Last Updated: 2025-10-04
Chapter: Bab 132Retakan di langit semakin meluas, memancarkan cahaya merah kehitaman. Dari celah itu, muncul lengan raksasa yang terbuat dari bayangan murni, menjulur ke bumi.Orang-orang di seluruh dunia panik. Gempa bumi, badai, dan kegilaan massal merebak. Semua orang tahu: ini bukan perang biasa, ini adalah akhir zaman.Ayu menggenggam Rio erat. “Apa itu…?”Arya terisak, wajahnya pucat. “Itulah… Bayangan Asal. Entitas yang bahkan Arman sendiri ingin bangkitkan.”Ashraf mengepalkan tinjunya. “Kalau begitu kita harus menghentikannya sebelum keluar sepenuhnya.”Rio menatap langit dengan sorot mata kosong. Ia tahu, entitas itu memanggilnya.---Arya akhirnya mengungkap rahasia terakhir: leluhur mereka dulu pernah menyegel Bayangan Asal menggunakan darah keluarga. Namun, Arman menemukan cara membalikkan segel itu—dengan mengorbankan pewaris darah, yaitu Rio sendiri.“Kalau segel terbuka penuh, dunia akan habis. Tapi…” Arya terdiam.“Tapi apa?” Ayu menuntut.Arya menunduk. “Hanya darah Rio juga yang bi
Last Updated: 2025-10-03
Chapter: Bab 131Sejak kebangkitan Rio, dunia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Kota-kota besar dilanda kekacauan, orang-orang mengalami mimpi buruk massal, dan bayangan hitam muncul di tempat-tempat suci.Pemerintah rahasia internasional mulai memburu Rio, menandainya sebagai “Anomali Kelas Omega”. Bagi mereka, Rio bukan lagi manusia biasa—ia adalah ancaman global.Ashraf menyadari bahaya itu. “Kalau mereka berhasil menangkap Rio, mereka akan menjadikannya senjata. Dunia akan hancur.”Ayu hanya bisa menggenggam tangan anaknya erat-erat. “Tidak ada yang akan menyentuhmu, Nak. Kita akan melawan semua orang jika perlu.”---Rio mulai kehilangan kendali. Di malam hari, ia bangun dengan tangan berlumuran darah—meski ia tak ingat melakukan apa-apa. Bayangan Arman sering muncul di cermin, menertawakan setiap kegagalannya.“Aku bilang padamu,” suara itu bergema. “Semakin kau menolak, semakin aku tumbuh.”Rio meremukkan kaca cermin dengan tinjunya. “Diam! Aku bukan kau!”Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu—
Last Updated: 2025-10-02
Chapter: Bab 130Rio terbaring di ranjang darurat. Tubuhnya penuh lebam, darah kering menempel di wajahnya. Di sampingnya, Ayu terus menggenggam tangannya, sementara Ashraf berdiri dengan ekspresi keras, meski hatinya dilanda kekhawatiran.“Dia sudah tidak sama lagi,” kata Ashraf lirih. “Aku bisa merasakannya. Setiap kali dia bernapas… ada sesuatu yang bergetar di udara.”Ayu menoleh, matanya merah karena menangis. “Dia anak kita. Kita tidak boleh menyerah padanya.”Rio membuka mata. Pandangannya kosong, tapi suaranya berat. “Aku… aku masih aku. Tapi aku juga… sesuatu yang lain.”---Malam itu, Rio bermimpi. Ia berdiri di padang pasir hitam, langit merah darah. Dari kejauhan, Arman muncul, tubuhnya diselimuti bayangan.“Aku selalu bersamamu,” suara Arman bergema. “Kau tidak bisa menyingkirkan aku. Kau bisa melawanku, tapi kau hanya melawan dirimu sendiri.”Rio menjerit, mencoba meninju Arman, tapi tangannya menembus udara kosong. Bayangan itu hanya tertawa.Ketika Rio terbangun, matanya memerah. Di di
Last Updated: 2025-10-01
Chapter: Bab 144. Terima KasihBab 144. Terima Kasih—oOo—Emily merasa seperti sedang berada di dalam mimpi saat melihat Raihan berdiri di tengah-tengah pesta yang diadakan oleh Axel. Pria itu tampak begitu tampan dengan jas yang dipakainya, menunjukkan postur tubuh yang atletis.Selama lima tahun ini, Raihan telah menjadi teman yang setia bagi Emily, selalu ada di sisinya baik dalam suka maupun duka. Walaupun sering kali Emily menolak perasaan Raihan karena Emily hanya menganggap Raihan sebagai seorang sahabat, tetapi pria itu tidak marah dan pergi meninggalkannya. Emily teringat saat mereka berdua merawat Devan, anaknya bersama Axel. Ketika dia sedih dan hampir putus asa karena menduga Axel berselingkuh dengan Chelsea. Raihan selalu ada untuk menghiburnya dan mendukungnya, membuatnya merasa tidak sendirian. "Raihan ...," gumam Emily pelan, tak mampu menyembunyikan perasaan terharu dan takjubnya. Emily menatap Raihan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.Perlahan, Emily turun dari panggung dan berjalan menuju Rai
Last Updated: 2024-03-20
Chapter: Bab 143. Emily Valerie, Istri Saya. Bab 143. Emily Valerie, Istri Saya. —oOo—Emily menatap gedung megah di depannya, tempat acara pesta yang akan mereka datangi bersama Axel. Hatinya tiba-tiba tidak karuan, dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi di dalam pesta tersebut. Namun, dia juga tidak tahu apa itu. "Ayo," ajak Axel sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk digandeng oleh Emily. Emily menghela napas. Dia kemudian melingkarkan tangannya di lengan kiri Axel, sementara tangan kanan Axel, dia gunakan untuk menggendong DevanSedangkan Devan yang berada di gendongan Axel terlihat begitu bahagia bisa diajak Axel ke acara ini.Begitu memasuki gedung, seketika semua mata tertuju pada Axel yang tampil gagah bersama Emily dan Devan. Para tamu yang hadir, terutama para wanita, tidak bisa menahan rasa penasaran mereka. Mereka saling bertanya-tanya di antara bisikan, "Siapa gerangan wanita bercadar yang bersama Axel? Dan siapa anak kecil yang digendongnya?" tanya salah satu tamu undangan. "Entahlah, aku juga baru p
Last Updated: 2024-03-19
Chapter: Bab 142. Kembali Ke MansionBab 142. Kembali Ke Mansion—oOo—Sudah dua hari Emily dan Axel berada di villa. Mereka semua menikmati kebersamaan mereka. Seperti saat ini, Emily dan Chrisa tengah menatap Devan yang tengah membakar ikan yang mereka pancing bersama Axel dan Maxime. Kebetulan kesehatan Tuan Del Piero sudah lebih baik, jadi mereka bisa di villa hingga beberapa hari. Senyum terpancar di bibir Emily kala melihat Devan yang terlihat bahagia bersama Axel. Devan terlihat sangat menikmati kebersamaannya dengan Papanya. "Mama!" Devan melambaikan tangannya pada Emily. Emily tersenyum lalu membalas lambaian tangan putranya. "Devan terlihat sangat bahagia ya?" ucap Chrisa yang terus menatap ke arah Devan. "Iya.""Setelah ini rencana kamu apa? Apa kamu dan Devan akan kembali ke Singapura?" tanya Chrisa menoleh dan menatap Emily. Emily mengembuskan napas berat. "Aku juga tidak tahu, Kak."Chrisa yang melihat Emily mengembuskan napas mengusap baju Emily. "Aku tahu lima tahun lalu kamu kecewa dengan Tuan Muda.
Last Updated: 2024-03-18
Chapter: Bab 141. Bikin AnakBab 141. Bikin Anak—oOo—"Bagaimana?" tanya Axel pada bodyguard yang membukakan pintu mobil untuknya. "Semuanya aman, Tuan Muda.""Bagus." Axel kemudian memberi kode pada bodyguard itu untuk pergi dari sana. Sementara Emily yang melihat Axel dengan bodyguard tadi menautkan alisnya dan betanya di dalam hati. "Apa yang Om Axel bicarakan pada bodyguard tadi? Kenapa bisik-bisik," gumam Emily pelan. Axel berbalik, menatap Emily. Dengan segera Axel bejalan mendekat ke arah istri kecilnya. "Ayo," ajak Axel sambil menggandeng tangan Annisa. "Tadi Om bicara apa sama dia?" Emily memberanikan diri untuk bertanya. Ya, lebih baik dia bertanya bukan? Daripada dia penasaran. "Bukan hal penting, sebaiknya sekarang kita ke sana.""Jika itu bukan hal penting, kenapa Mas bicara dengan dia. Bukannya bisa bicara sama Kak Maxime saja, ya?" Emily tidak mau kalah. Axel mengembuskan napa panjang. "Karena itu—""MAMA!!" Axel bernapas lega saat mendengar teriakan Devan. Karena teriakan itu, dia tidak per
Last Updated: 2024-03-16
Chapter: Bab 140. Menyusul DevanBab 140. Menyusul Devan —oOo— "Jadi gimana?" tanya Axel sambil menatap istri kecilnya. "Om denger sendiri tadi," jawab Emily membuat Axel memicingkan matanya. "Kamu bilang apa tadi?" Emily menutup mulutnya, menyadari akan kesalahannya tadi. Dia kemudian langsung mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas dan membentuk dua jarinya itu menyerupai huruf 'v'. "Maaf, Mas." Axel mendengkus. Ingin marah, tetapi dia tidak tega dan pada akhirnya membuat Axel memalingkan wajahnya ke arah lain. "Jadi sekarang kita mau makan di mana?" tanya Axel. "Terserah Mas aja, aku udah nggak berselera," ucap Emily sedih, pasalnya dia tidak bisa makan siang bersama Devan. Bukan karena Devan tidak ingin makan siang bersama dia, tetapi Emily yang tidak tega jika harus membuat Devan menunggu sekitar dua jam agar mereka bisa makan bersama, mengingat saat ini Devan berada di Villa yang berada di Puncak Bogor. Alhasil Emily menyuruh Devan untuk makan siang bersama Chrissa dan Maxime saja. Axel m
Last Updated: 2024-03-15
Chapter: Bab 139. Kegilaan AxelBab 139. Kegilaan Axel —oOo— Emily menatap Axel yang kini tengah mengemudikan mobilnya. Dia menatap Axel tidak percaya, tidak percaya dengan apa yang telah Axel lakukan. Dia mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, di mana dia tengah menatap Marcel yang berada di taman. "Kenapa Om lakukan itu sama Kak Marcel?" tanya Emily saat sudah duduk di dalam mobil. Axel berbalik, memposisikan dirinya untuk berhadapan dengan Emily. Detik selanjutnya dia menatap manik mata Emily dengan lekat. "Karena ...." "Karena apa?" "Karena dia sudah berani ingin menyentuh sesuatu yang sudah menjadi milikku." Emily mengerutkan dahinya, dia merasa tidak paham dengan apa yang baru saja Axel katakan. Maksudnya apa coba? Menyentuh sesuatu yang sudah menjadi miliknya? "Maksud, Om, apa?" Axel menyentuh pipi Emily yang terhalang niqab dan mengusap lembut pipi istri kecilnya. "Dia sudah berani menyentuh kamu satu hari sebelum kamu ke mansion." Emily melebarkan kedua matanya, dia tidak menyangka jika Axel
Last Updated: 2024-03-14