Mag-log inSetelah pertemuan dengan Hanum, Aditya, dan Intan, hidup Tharie terasa… lebih sunyi.Bukan karena tekanan berkurang sepenuhnya.Justru karena semuanya menjadi terlalu tenang.Tidak ada lagi desakan langsung dari Papa. Tidak ada pembicaraan tentang tanggal. Tidak ada tatapan menghakimi dari keluarga Gilang. Bahkan di sekolah, rumor mulai mereda karena fokus siswa teralihkan oleh ujian akhir.Namun ketenangan itu membuat pikirannya bekerja lebih keras.Ia mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak sempat ia pikirkan.Tentang Queen.Tentang masa lalu Gilang.Tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan kedua dalam hidup seorang laki-laki yang pernah mencintai begitu dalam.---Suatu sore, setelah les tambahan, Tharie tidak langsung pulang. Ia duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah—tempat yang sama di mana ia pernah mengatakan, “mari coba.”Langit berwarna jingga. Angin s
Ketenangan itu kembali terusik ketika Papa Elham menerima tamu tak terduga di rumah.Tharie baru tahu ketika Mama memanggilnya turun dengan wajah yang tak bisa ia baca—antara tegang dan gugup.“Tharie, ada tamu.”Ia menuruni tangga perlahan. Dari balik pegangan kayu, ia melihat tiga sosok duduk di ruang tamu.Dan napasnya tercekat.Gilang tidak datang.Yang datang adalah keluarganya.Seorang wanita paruh baya dengan raut wajah tegas namun anggun duduk paling depan. Sorot matanya tajam, tetapi tidak dingin. Di sampingnya, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan pembawaan tenang dan dewasa. Dan di sebelah pria itu, seorang wanita yang wajahnya lembut, namun menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.Tharie mengenali mereka dari cerita yang pernah Gilang sampaikan.Hanum.Ayah angkatnya.Aditya, kakak angkatnya.Dan Intan—istri Aditya—yang tidak lain adalah orang tua dar
Keputusan itu—“mari coba”—tidak langsung mengubah dunia.Langit tetap sama. Sekolah tetap penuh bisik-bisik. Papa masih sesekali menatapnya dengan sorot penuh tanya. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam diri Tharie.Ia tidak lagi berdiri di tengah badai tanpa arah.Ia memilih.Dan pilihan itu, sekecil apa pun, memberinya pijakan.---Hari-hari setelah pembicaraan di taman belakang sekolah terasa canggung sekaligus baru. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada perubahan status yang dramatis. Secara teknis, Gilang masih gurunya. Secara etika, mereka tetap menjaga jarak.Namun di balik jarak itu, ada kesepahaman yang tak terucap.Mereka sedang mencoba.Bukan sebagai guru dan murid.Bukan sebagai calon pengantin karena wasiat.Tapi sebagai dua manusia yang ingin melihat kemungkinan.Gilang tetap profesional di kelas. Tidak ada perlakuan istimewa. Tidak ada tatapan terlalu la
Dua hari setelah percakapan tentang mutasi itu, keadaan justru semakin rumit.Bukan karena rumor baru.Melainkan karena satu kabar yang datang tiba-tiba.Kakek kritis.Telepon dari Mama datang saat Tharie sedang berada di kelas. Wajahnya langsung pucat saat membaca pesan singkat itu. Tangannya gemetar, hingga buku yang ia pegang terjatuh ke lantai.“Tharie?” suara Gilang dari depan kelas memanggilnya.Ia berdiri dengan napas tidak teratur. “Pak… saya izin.”Tanpa banyak tanya, Gilang menangkap sesuatu dari ekspresinya. “Silakan.”Namun sebelum ia melangkah keluar, Gilang sudah lebih dulu menyusulnya ke lorong.“Ada apa?”“Kakek…” suaranya pecah. “Kritis.”Gilang tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk singkat. “Aku antar.”Dan untuk pertama kalinya, Tharie tidak menolak.Di dalam mobil, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Semua pertahanan yang ia bangun runtuh begitu saja.Gilang tidak mencoba menenangkan dengan kata-kata klise. Ia hanya menyetir dengan tenang, sesekali mel
Seminggu setelah percakapan di rumah sakit itu, hidup Tharie tidak kembali normal.Justru sebaliknya.Rumor di sekolah semakin liar.Awalnya hanya bisikan di lorong. Lalu berubah menjadi tatapan-tatapan aneh di kelas. Bahkan ada yang berani berkomentar terang-terangan saat Tharie melewati kantin.“Katanya mau nikah sama Pak Gilang…”“Pantes aja sering bareng…”“Jangan-jangan dari dulu memang udah ada apa-apa…”Kalimat-kalimat itu menusuk seperti jarum-jarum kecil yang tak terlihat, tapi menyakitkan.Tharie berusaha menegakkan bahu setiap kali melangkah melewati kerumunan. Ia tidak ingin terlihat rapuh. Tidak ingin memberi mereka kepuasan melihatnya terluka.Namun tetap saja… ia manusia.Siang itu, saat bel istirahat berbunyi, Aca menariknya ke sudut perpustakaan yang sepi.“Kamu harus jujur sama aku,” kata Aca tanpa basa-basi.Tharie menghela napas. “Tentang apa?”“Hu
Pagi datang terlalu cepat bagi Tharie.Ia tidak benar-benar tidur. Semalaman ia hanya memejamkan mata, tetapi pikirannya berkelana ke mana-mana—ke ruang ICU tempat Kakek dirawat, ke ruang tamu semalam yang penuh tekanan, ke wajah Gilang yang entah mengapa kini terasa lebih sulit ia baca.Sinar matahari menembus celah tirai, menciptakan garis-garis cahaya di lantai kamarnya. Ia bangkit perlahan, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, mata sembap. Gadis itu nyaris tak mengenali dirinya sendiri.“Ini hidupku,” gumamnya pelan.Namun untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar sekuat biasanya.Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Mama sudah lebih dulu ke rumah sakit. Papa menyusul beberapa menit kemudian setelah menerima telepon. Tharie hanya diberi pesan singkat: “Kondisi Kakek menurun lagi.”Jantungnya mencelos.Ia berdiri di ruang tengah, memeluk tasnya, bimbang antara menyusul atau menunggu. Namun sebelum ia memutuskan, ponselnya bergetar.Pesan dari Gilang.Aku







