เข้าสู่ระบบTidak ada malam tanpa peraduan indah sebagai suami istri.
Terlebih esok hari kami akan menjalani LDR.Dan entah siapa yang memulai, malam ini kami ingin menutupnya dengan sangat manis.Namun, aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Meski tubuhku rasanya lelah, apalagi setelah digempur oleh suamiku. Tapi kelelahan itu seakan kalah oleh perasaan tak siap.Aku menatap wajah Ravyan yang terlelap di hadapanku.Tubuhnya tertutup selimut yang sama denganku.Hari pertama memulai kembali lembaran hidup di rumah yang sama dan masih dengan orang yang sama. Bahkan dengan perasaan yang juga tetap sama.Udara pagi di halaman belakang terasa sangat asri. Aku dan Ravyan memutuskan menikmati teh hangat di sana. Menempati gazebo ditemani kicauan burung yang sesekali terbang melewati langit di atas kami."Kamu gak kerja hari ini?" tanyaku pada Ravyan di hadapan.Ia tengah bersandar pada tiang gazebo sambil membaca buku di tangannya.Helaan napas berat pun terdengar. "Saya mengajukan cuti. Lusa baru masuk lagi."Aku pun hanya mengangguk mendengar jawabannya.Tak berapa lama, Ravyan tampak menutup halaman buku yang sedang ia baca. Lalu membiarkan buku itu di atas pangkuannya.Tiba-tiba, ia meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kamu sendiri gimana?"Keningku sempat mengernyit. "Gimana ... apanya?"Ravyan mengembus napas pelan. "Gimana rencana kamu ke depan setelah resign
Selesai sarapan, kami pun segera menuju parkiran hotel. Mobilku masih terparkir di tempat yang sama. Tidak bergeser satu inchi pun, karena aku memang tak menggunakannya selama menginap di hotel. Kendaraan roda empat itu pun terlihat sedikit berdebu."Kamu ke sini naik apa?" tanyaku pada Ravyan yang sudah sibuk memasukkan koper-koper milikku ke dalam bagasi."Motor saya di parkiran khusus motor," jawabnya tanpa menghentikan aktivitas. Hingga pintu bagasi mobil akhirnya ia tutup."Terus sekarang kita pulang masing-masing?" tanyaku kembali.Ravyan menggeleng cepat. "No! Mana mungkin saya membiarkan kamu nyetir sendirian.""Jadi?""Saya yang bawa mobil. Motor saya biar nanti diambil anak buah."Aku mengangguk patah-patah."Kamu tunggu di sini. Saya titip kunci ke resepsionis sebentar."Lelaki itu bergegas pergi dan aku langsung masuk ke mobil. Mengisi kursi di sebelah kemudi.Aku mengangguk patah-p
Kami sudah duduk di meja cafetaria hotel. Sarapan telah dihidangkan. Pelayan baru saja meletakkan dua piring sarapan di hadapan kami ketika ponsel Ravyan yang berada di atas meja bergetar.Aku dan Ravyan sama-sama menoleh.Nama Mami terpampang jelas di layar.Aku langsung menghela napas. "Apa kubilang. Mami pasti nelpon lagi.Ravyan mengangkat kedua alis. "Kali ini gak bisa dihindari."Aku menatapnya lalu mengangguk pelan. "Coba aja abaikan."Ravyan mendecak seraya menggeleng. "Definisi menggali lubang kubur sendiri."Ponsel itu masih terus bergetar. Akhirnya aku yang mengambil dan menerima panggilan videonya.Layar langsung berubah menjadi wajah Mami yang tampak cemas."Lyra!"Aku tersenyum kaku. "Iya, Mi.""Ini beneran kamu?""Iya, Mi. Ini Lyra. Anak Mami."Mami mengembuskan napas lega. "Ya Allah, Nak. Mami sampai gak bisa tidur beberapa malam. Kamu pergi tanpa kaba
Aku dan Ravyan seketika beradu tatap. Aku dapat melihat jelas raut wajahnya yang panik dan merasa terdesak. Dengan kesadaran penuh aku merebut ponsel dari tangan Ravyan."Ini Lyra, Mi," ucapku kemudian."Lyra? Nak? Ini benar kamu, Sayang?" Suara Mami terdengar antusias bercampur kaget."Benar, Mi. Aku ... aku sudah bertemu dengan Ravyan sekarang."Hembusan napas lega Mami pun terdengar. "Ya Allah, Nak. Akhirnya ... Mami cemas sekali. Kamu ke mana saja, Sayang? Kenapa kamu pergi dari rumah?""Emm ... maaf, Mi. Aku gak bermaksud buat Mami cemas. Aku ... cuma gak tahu lagi harus apa. Sekarang, Mami jangan cemas lagi. Aku sudah bersama Ravyan." Aku coba menenangkan Mami."Setelah mendengar suara kamu, mami bisa sedikit tenang sekarang. Tapi, belum benar-benar lega. Coba kita video call, Nak."Aku langsung menoleh pada Ravyan hingga kami bertatapan lagi. Kemudian aku menunduk, menatap keadaan diriku yang hanya terbalut selimu
Tak sampai sepuluh menit, pintu kamar mandi terdengar berderit. Disusul suara langkah kaki hingga akhirnya aku menoleh dan mendapati Ravyan bertelanjang dada.Pakaian dinasnya sudah terlepas. Hanya tersisa celana pendek hitam dan tubuh atasnya yang polos. Handuk putih tersampir di bahu sambil ia gunakan mengusap wajah serta rambutnya yang sedikit basah."Saya gak bawa baju ganti. Ini aja pakai celana dobelan. Semoga gak buat saya gatal-gatal," ucapnya yang kini berdiri di hadapanku.Aku tersenyum kecil. "Mau pakai bajuku?"Ravyan menggeleng cepat. "Memangnya saya lelaki apaan?" jawabnya diikuti tawa kecil."Daripada nanti kamu gatal-gatal," sahutku kemudian."Gatal-gatal sedikit gak papa, yang penting tidur bareng kamu," balasnya terdengar ringan.Aku hanya menatapnya seraya tersenyum kecil lalu bangkit dan berjalan ke tepi ranjang. "Jujur aja aku capek. Udah pengen tiduran." Seketika aku langsung menjatuhkan tubuh di at
Entah berapa lama Ravyan membiarkan bibirnya terus menempel di keningku dan aku pun tidak memiliki keinginan untuk melepaskannya."Andai kamu tahu ... berhari-hari aku menunggu saat seperti ini. Saat kamu datang, memeluk, hatimu penuh penerimaan, dan menjadi satu-satunya tempatku bersandar," ucapku dengan suara parau.Perlahan-lahan, Ravyan mulai menarik diri. Namun kedua tangannya masih mendekap. Dan berikutnya, kurasakan belaian lembut di rambutku."Kalau saya tidak bisa menemukan kamu sampai besok, mami kamu yang akan turun tangan. Dan ... beliau tidak akan membiarkan kamu bersama saya lagi," ujar Ravyan membuatku bingung hingga buru-buru menarik diri."Ma—maksudnya?" tanyaku kemudian.Ravyan mengembus napas berat. Pelukannya sudah terlepas, ia menunduk dan memijat pangkal hidung sebentar. Lalu kepalanya menoleh dan menatapku lagi."Awalnya saya mengira kamu pergi ke rumah Mami atau Kak Elina. Dan saya baru memastikan perkiraa
Perjalanan yang awalnya kupikir hanya sebentar ternyata memakan waktu hampir tiga jam.Kami sempat berhenti dua kali.Sekali untuk mengisi bensin. Dan sekali lagi membeli minuman dingin di minimarket pinggir jalan.Namun sebagian besar waktu dihabiskan di atas motor.Melewati hamparan sawah.Perbuk
"Kalian sudah tahu akan tinggal di mana setelah menikah?" tanya Mami. Pembicaraan di meja makan ini rupanya terus berlanjut."Kebetulan saya sudah ada rumah, Mi. Tidak terlalu besar seperti rumah ini. Tapi, cukup untuk kami berdua memulai hidup baru," jawab Ravyan dengan cepat.
Aku refleks berhenti.Jantungku yang masih tak karuan, kini makin berulah.Pelan aku menoleh.Ravyan berdiri sangat dekat di belakangku sekarang. Jemarinya masih menggenggam pergelangan tanganku hangat.“Kenapa buru-buru kabur?” tanyanya santai.“Aku g
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl







