登入Malam sudah larut. Cahaya lampu kamar hanya menyala redup, cukup untuk membuat suasana terasa tenang. Setelah seharian terkuras oleh emosi, akhirnya Deviana tertidur di sisi tempat tidurnya.Adrian yang duduk di kursi di dekat ranjang memandang wajah Deviana yang tampak damai.Rasa lega dan bersalah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.Dia pasti sangat lelah karena ulahku. Aku tidak pantas membuatnya menderita seperti ini, batinnya.Keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara ponsel yang bergetar pelan di atas meja.Adrian segera meraihnya.Begitu melihat nama yang muncul di layar, napasnya seketika tertahan.Leviana.Ia melirik ke arah Deviana, memastikan wanita itu masih terlelap, lalu bangkit perlahan. Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar dan menutup pintunya tanpa suara.Di luar, udara malam terasa dingin menusuk kulit.Adrian berjalan menuju taman kecil di depan rumah, lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya.“Halo?” suaranya pelan dan penuh kehati-hatian.Di seb
Mobil Adrian melaju perlahan menyusuri jalanan kota yang mulai lengang. Keheningan memenuhi ruang di dalam mobil, hanya diiringi dengungan mesin dan sesekali suara klakson kendaraan yang melintas. Beberapa kali Adrian melirik ke arah Deviana, tetapi wanita itu terus menatap ke luar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memperhatikan cahaya lampu kota yang berkelebat di hadapannya.“Deviana...” suara Adrian terdengar serak, dipenuhi keraguan. “Aku tahu kau kecewa. Tapi tolong, dengarkan penjelasanku. Leviana menghubungiku hanya karena dia sedang sakit. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.”Deviana bahkan tidak bergeming. Tatapannya tetap tertuju pada gemerlap lampu kota, seolah cahaya itu mampu menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hatinya.“Aku tidak ingin tahu,” jawabnya singkat dengan nada datar tanpa ekspresi.Jawaban itu menghantam dada Adrian seperti palu yang menghancurkan pertahanannya. Ia menggenggam kemudi lebih erat, berusaha menahan gejolak emosi.“Men
“Deviana, ayo. Aku sudah di bawah.”Suara Adrian terdengar dari ponsel Deviana.Deviana mengembuskan napas pelan sambil menatap bayangannya di cermin. Matanya tampak lelah, tetapi ia tetap merapikan penampilannya dengan sederhana dan anggun.Bukan karena ingin terlihat cantik di hadapan Adrian.Melainkan karena ia menolak terlihat rapuh.Dengan langkah tenang, ia mengambil tasnya lalu turun menuju lobi apartemen.Mobil hitam milik Adrian sudah menunggu.Seperti biasa, Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu mobil, lalu berdiri menunggunya masuk.“Malam ini kau terlihat sangat cantik,” ucap Adrian sambil tersenyum hangat.Deviana hanya menganggukkan kepala pelan.“Terima kasih.”Sepanjang perjalanan, Adrian terus berbicara.Tentang pekerjaannya.Tentang proyek besar yang sengaja ia tolak hanya agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Deviana.“Dulu aku mengira mengejar ambisi adalah segalanya,” katanya sambil melirik ke arah Deviana.“Tapi sekarang... satu-satunya yang ingin
"Maaf, Deviana... tapi aku tetap akan membawamu pulang bersamaku."Suara Adrian terdengar tegas dan dingin, tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk penolakan.Mobil hitam mewah itu melaju perlahan menembus dinginnya malam. Cahaya lampu jalan melintas dalam garis-garis buram, seolah tak memiliki arti apa pun. Di dalam mobil, keheningan terasa jauh lebih berat daripada dengungan mesin.Di kursi penumpang, Deviana duduk membisu. Tatapannya kosong menembus jendela, sementara air mata terus mengalir tanpa suara di pipinya. Tangisnya bukan lagi karena takut, melainkan karena lelah.Lelah memikul luka yang tak pernah benar-benar sembuh.Lelah mencintai seorang pria yang tak pernah tahu bagaimana mencintainya dengan benar.Hatinya telah hancur berkeping-keping. Kini yang mampu ia pikirkan hanyalah satu pertanyaan.Apa lagi yang akan Adrian lakukan padaku kali ini?Namun, di balik air matanya, masih tersisa secercah rasa penasaran.Mengapa Adrian begitu bersikeras membawanya pulang? Apakah ka
“Aku tidak peduli. Malam ini juga aku harus menemuinya.”Adrian bergumam pelan saat mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen mewah di pusat kota.Hari sudah larut malam, tetapi lampu lobi masih menyala terang. Petugas keamanan yang mengenali Adrian langsung mempersilahkannya masuk tanpa banyak bertanya.Wajah Adrian tampak muram.Tatapannya tajam.Di dalam dirinya bercampur amarah, kerinduan, dan luka yang bahkan ia sendiri tak mampu mengerti.Ia berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang begitu dikenalnya.Sudah lama ia tidak datang ke tempat itu.Tempat yang dahulu dipenuhi tawa, tangis, dan kenangan bersama Deviana.Kini...Yang tersisa hanyalah penyesalan dan jarak yang begitu jauh.Tangannya mengepal di samping tubuh.Dengan keyakinan yang bercampur antara gengsi dan rasa bersalah, ia menunggu wanita yang selama beberapa hari terakhir terus memenuhi pikirannya.Tak lama kemudian...Terdengar suara langkah kaki diiringi bunyi pintu lift yang terbuka.Adrian tahu.Itu pasti De
Adrian berdiri membeku di depan butik pakaian pria. Kemeja yang masih berada di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah tanpa ia sadari. Tatapannya kosong, terpaku pada punggung Deviana yang semakin menjauh dengan langkah mantap tanpa sedikit pun keraguan.Seolah-olah...Wanita itu benar-benar telah meninggalkannya.Benar-benar melupakannya.Amarah dan frustrasi bergemuruh di dalam dadanya seperti ombak yang menghantam karang. Namun di balik semua emosi itu, ada satu perasaan yang paling kuat.Kehilangan.“Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Deviana!”Suara Adrian menggema di sepanjang jalan, serak dan dipenuhi emosi.Beberapa pejalan kaki menoleh ke arahnya, tetapi Adrian sama sekali tidak peduli. Harga diri yang selama ini ia banggakan telah hancur berkeping-keping, seakan berserakan di tengah jalan.Ia hendak mengejar Deviana.Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.Ia melihat seseorang.Seorang pria.Tubuhnya tinggi dan tegap.Wajahnya tenang.Ia mengenakan setel







