分享

bab 2

作者: Gafa author
last update publish date: 2026-07-23 04:47:19

“Deviana! Ambilkan aku minum!”

Adrian menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang di ruang tamu. Suaranya lantang, dipenuhi rasa lelah. Jas yang masih dikenakannya tampak kusut dan tidak lagi terkancing rapi, sementara dasinya menggantung longgar di leher. Cahaya senja memenuhi ruangan, tetapi keheningan di dalam rumah terasa begitu menusuk, seolah menjawab panggilannya dengan kehampaan.

Tak ada jawaban.

Tak ada suara langkah kaki.

Tak ada siapa pun yang menyahut.

Hanya dengungan pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terdengar jelas.

Adrian mengernyit. Tatapannya beralih ke arah tangga menuju lantai atas.

“Deviana? Kau dengar aku? Aku minta air!”

Tetap tidak ada jawaban.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki pelan terdengar dari arah dapur. Bibi Emely, pembantu rumah tangga yang telah bekerja puluhan tahun di rumah itu, keluar sambil membawa nampan kecil.

“Tuan... Nyonya Deviana sudah pergi,” ucapnya hati-hati.

Adrian langsung berdiri.

“Pergi? Maksudmu... pergi ke mana?”

Bibi Emely menundukkan kepala lalu meletakkan segelas air di atas meja.

“Saya tidak tahu, Tuan. Tapi Nyonya sudah tidak pulang selama seminggu. Sejak hari itu... sejak pernikahan dibatalkan.”

Adrian mendengus sinis.

“Mana mungkin dia berani meninggalkanku!”

Ia terkekeh pendek penuh rasa tidak percaya.

“Dia terlalu terobsesi padaku. Itu bukan sifat Deviana. Pasti dia cuma sedang memainkan drama lagi.”

Namun entah mengapa, dadanya terasa sesak.

Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya, membuka kontak Deviana. Tak ada satu pun pesan.

Tak ada panggilan tak terjawab.

Tak ada apa pun.

Ia segera menekan tombol panggil.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."

“Sial!”

Adrian melempar ponselnya ke atas sofa lalu mondar-mandir di ruang tamu. Kekesalan mulai memenuhi pikirannya.

“Dia pikir dengan diam seperti ini aku bakal mengejarnya? Mimpi saja! Aku bukan pria yang bisa dia permainkan!”

Namun tanpa sadar, matanya kembali melirik ponsel itu.

Tetap tidak ada pesan.

Dengan kesal ia mengambil kunci mobil, lalu keluar dari rumah.

---

Malam telah menyelimuti kota ketika Adrian memasuki klub malam langganannya.

Lampu disko berputar tanpa henti.

Dentuman musik mengguncang lantai.

Aroma alkohol bercampur parfum memenuhi udara.

Adrian duduk di depan bar dan langsung menghabiskan segelas scotch dalam sekali teguk.

“Satu lagi,” katanya datar kepada bartender.

Beberapa wanita cantik menghampiri, terang-terangan mencoba menggoda.

Namun Adrian sama sekali tidak tertarik.

Tatapannya kosong.

Pikirannya terus dipenuhi satu nama.

Deviana.

Ia kembali membuka ponselnya.

Masih tidak ada pesan.

Ia mengembuskan napas panjang.

“Kenapa aku jadi begini? Konyol sekali.”

Namun logika tak pernah mampu mengalahkan hati.

Ia kembali membuka kontak Deviana dan mencoba menelepon.

Tapi kali ini...

Ia membeku.

Nomor ini telah memblokir Anda.

“Apa?”

Wajah Adrian memerah.

Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras.

“Dia memblokirku?”

Rahangnya mengeras menahan amarah.

“Jadi kau pikir dengan begini aku bakal mengejarmu, Deviana? Kau benar-benar delusi!”

Tangannya mengepal erat.

Ia kembali duduk, tetapi tubuhnya tak bisa tenang.

Bahkan dentuman musik yang memekakkan telinga pun tak mampu mengusir kekacauan di dalam pikirannya.

Ia menggertakkan gigi.

“Berani-beraninya kau pergi tanpa sepatah kata. Menghilang begitu saja. Sekarang malah memblokirku? Kau pikir ini permainan yang akan kau menangkan? Kau pikir aku bakal mengejarmu dan meminta maaf?”

Ia tertawa sinis.

“Tidak, Deviana. Tidak sekarang. Tidak akan pernah.”

Namun semakin ia berbicara, semakin terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Jauh di dalam hatinya...

Ia tahu.

Ia sedang menyangkal sesuatu.

Adrian menghabiskan gelas scotch ketiganya.

Lebih cepat.

Lebih kasar.

Tiba-tiba layar ponselnya menyala.

Dengan penuh harapan ia langsung meraihnya.

Namun...

Hanya email promosi.

“Sial... bukan dia.”

Ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menatap langit-langit klub yang dipenuhi cahaya ungu dan merah.

“Kenapa kau tidak meneleponku, Deviana?”

“Bukankah selama ini kau yang selalu mengejarku?”

“Bukankah kau bilang tak bisa hidup tanpaku?”

“Lalu kenapa sekarang kau bisa menghilang begitu saja?”

Ia menarik napas panjang.

Gelasnya telah kosong.

Tetapi kekosongan di dalam dadanya jauh lebih besar.

Tak sanggup lagi bertahan, Adrian berdiri.

Ia melempar beberapa lembar uang ke atas meja bar lalu keluar dari klub.

Udara malam langsung menyambutnya.

Dingin.

Menusuk.

Namun tetap tak sedingin hatinya saat itu.

Langkahnya terasa berat.

Mobilnya hanya beberapa meter di depan.

Tetapi ia tidak segera masuk.

Ia bersandar pada pintu mobil sambil menatap langit malam.

“Apa aku... merindukanmu, Deviana?”

“Atau... aku hanya terluka karena harga diriku yang kau injak?”

Ia memejamkan mata sejenak.

Lalu berbisik lirih.

“Apa aku benar-benar kehilanganmu... atau aku hanya kehilangan kendali atas dirimu?”

---

Di balik jendela sebuah apartemen mewah di kota lain...

Deviana berdiri memandangi layar ponselnya.

Di sana masih terlihat nama Adrian, tepat di bawah daftar panggilan yang telah ia blokir.

Ia mengembuskan napas perlahan.

“Kau tidak akan pernah berubah, Adrian.”

“Dan aku sudah selesai membuang waktuku untukmu.”

Ia meletakkan ponselnya di atas meja.

Lalu melangkah pergi...

Meninggalkan masa lalu di belakangnya.

Di tempat lain, Adrian berbisik pelan, hampir seperti sebuah doa.

“Kalau kau pikir aku akan datang mencarimu... kau salah besar.”

“Tapi kenapa... kenapa aku masih ingin tahu... di mana kau berada?”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 9

    Malam sudah larut. Cahaya lampu kamar hanya menyala redup, cukup untuk membuat suasana terasa tenang. Setelah seharian terkuras oleh emosi, akhirnya Deviana tertidur di sisi tempat tidurnya.Adrian yang duduk di kursi di dekat ranjang memandang wajah Deviana yang tampak damai.Rasa lega dan bersalah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.Dia pasti sangat lelah karena ulahku. Aku tidak pantas membuatnya menderita seperti ini, batinnya.Keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara ponsel yang bergetar pelan di atas meja.Adrian segera meraihnya.Begitu melihat nama yang muncul di layar, napasnya seketika tertahan.Leviana.Ia melirik ke arah Deviana, memastikan wanita itu masih terlelap, lalu bangkit perlahan. Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar dan menutup pintunya tanpa suara.Di luar, udara malam terasa dingin menusuk kulit.Adrian berjalan menuju taman kecil di depan rumah, lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya.“Halo?” suaranya pelan dan penuh kehati-hatian.Di seb

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 8

    Mobil Adrian melaju perlahan menyusuri jalanan kota yang mulai lengang. Keheningan memenuhi ruang di dalam mobil, hanya diiringi dengungan mesin dan sesekali suara klakson kendaraan yang melintas. Beberapa kali Adrian melirik ke arah Deviana, tetapi wanita itu terus menatap ke luar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memperhatikan cahaya lampu kota yang berkelebat di hadapannya.“Deviana...” suara Adrian terdengar serak, dipenuhi keraguan. “Aku tahu kau kecewa. Tapi tolong, dengarkan penjelasanku. Leviana menghubungiku hanya karena dia sedang sakit. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.”Deviana bahkan tidak bergeming. Tatapannya tetap tertuju pada gemerlap lampu kota, seolah cahaya itu mampu menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hatinya.“Aku tidak ingin tahu,” jawabnya singkat dengan nada datar tanpa ekspresi.Jawaban itu menghantam dada Adrian seperti palu yang menghancurkan pertahanannya. Ia menggenggam kemudi lebih erat, berusaha menahan gejolak emosi.“Men

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 7

    “Deviana, ayo. Aku sudah di bawah.”Suara Adrian terdengar dari ponsel Deviana.Deviana mengembuskan napas pelan sambil menatap bayangannya di cermin. Matanya tampak lelah, tetapi ia tetap merapikan penampilannya dengan sederhana dan anggun.Bukan karena ingin terlihat cantik di hadapan Adrian.Melainkan karena ia menolak terlihat rapuh.Dengan langkah tenang, ia mengambil tasnya lalu turun menuju lobi apartemen.Mobil hitam milik Adrian sudah menunggu.Seperti biasa, Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu mobil, lalu berdiri menunggunya masuk.“Malam ini kau terlihat sangat cantik,” ucap Adrian sambil tersenyum hangat.Deviana hanya menganggukkan kepala pelan.“Terima kasih.”Sepanjang perjalanan, Adrian terus berbicara.Tentang pekerjaannya.Tentang proyek besar yang sengaja ia tolak hanya agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Deviana.“Dulu aku mengira mengejar ambisi adalah segalanya,” katanya sambil melirik ke arah Deviana.“Tapi sekarang... satu-satunya yang ingin

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 6

    "Maaf, Deviana... tapi aku tetap akan membawamu pulang bersamaku."Suara Adrian terdengar tegas dan dingin, tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk penolakan.Mobil hitam mewah itu melaju perlahan menembus dinginnya malam. Cahaya lampu jalan melintas dalam garis-garis buram, seolah tak memiliki arti apa pun. Di dalam mobil, keheningan terasa jauh lebih berat daripada dengungan mesin.Di kursi penumpang, Deviana duduk membisu. Tatapannya kosong menembus jendela, sementara air mata terus mengalir tanpa suara di pipinya. Tangisnya bukan lagi karena takut, melainkan karena lelah.Lelah memikul luka yang tak pernah benar-benar sembuh.Lelah mencintai seorang pria yang tak pernah tahu bagaimana mencintainya dengan benar.Hatinya telah hancur berkeping-keping. Kini yang mampu ia pikirkan hanyalah satu pertanyaan.Apa lagi yang akan Adrian lakukan padaku kali ini?Namun, di balik air matanya, masih tersisa secercah rasa penasaran.Mengapa Adrian begitu bersikeras membawanya pulang? Apakah ka

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 5

    “Aku tidak peduli. Malam ini juga aku harus menemuinya.”Adrian bergumam pelan saat mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen mewah di pusat kota.Hari sudah larut malam, tetapi lampu lobi masih menyala terang. Petugas keamanan yang mengenali Adrian langsung mempersilahkannya masuk tanpa banyak bertanya.Wajah Adrian tampak muram.Tatapannya tajam.Di dalam dirinya bercampur amarah, kerinduan, dan luka yang bahkan ia sendiri tak mampu mengerti.Ia berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang begitu dikenalnya.Sudah lama ia tidak datang ke tempat itu.Tempat yang dahulu dipenuhi tawa, tangis, dan kenangan bersama Deviana.Kini...Yang tersisa hanyalah penyesalan dan jarak yang begitu jauh.Tangannya mengepal di samping tubuh.Dengan keyakinan yang bercampur antara gengsi dan rasa bersalah, ia menunggu wanita yang selama beberapa hari terakhir terus memenuhi pikirannya.Tak lama kemudian...Terdengar suara langkah kaki diiringi bunyi pintu lift yang terbuka.Adrian tahu.Itu pasti De

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 4

    Adrian berdiri membeku di depan butik pakaian pria. Kemeja yang masih berada di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah tanpa ia sadari. Tatapannya kosong, terpaku pada punggung Deviana yang semakin menjauh dengan langkah mantap tanpa sedikit pun keraguan.Seolah-olah...Wanita itu benar-benar telah meninggalkannya.Benar-benar melupakannya.Amarah dan frustrasi bergemuruh di dalam dadanya seperti ombak yang menghantam karang. Namun di balik semua emosi itu, ada satu perasaan yang paling kuat.Kehilangan.“Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Deviana!”Suara Adrian menggema di sepanjang jalan, serak dan dipenuhi emosi.Beberapa pejalan kaki menoleh ke arahnya, tetapi Adrian sama sekali tidak peduli. Harga diri yang selama ini ia banggakan telah hancur berkeping-keping, seakan berserakan di tengah jalan.Ia hendak mengejar Deviana.Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.Ia melihat seseorang.Seorang pria.Tubuhnya tinggi dan tegap.Wajahnya tenang.Ia mengenakan setel

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status