مشاركة

bab 3

مؤلف: Gafa author
last update تاريخ النشر: 2026-07-23 04:47:48

“Syam, cari Deviana. Sekarang juga!”

Adrian berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, menatap hiruk-pikuk kota dari balik kaca. Tatapannya gelisah. Tangannya menggenggam ponsel yang sudah lama tidak lagi menampilkan satu pun notifikasi dari Deviana. Hampir dua minggu wanita itu menghilang tanpa kabar, dan kesabarannya akhirnya habis.

Di belakangnya, Syam, asisten pribadinya, berdiri dengan ragu.

“Tuan... bukankah Tuan pernah berjanji tidak akan mencarinya lagi?” tanyanya hati-hati.

Adrian terdiam.

Tubuhnya menegang, rahangnya mengeras. Ia memang pernah mengucapkan janji itu—sebuah sumpah yang lahir dari harga dirinya bahwa ia tidak akan mengejar wanita yang memilih meninggalkannya.

Namun malam-malam yang sunyi, ponsel yang tak pernah lagi berbunyi, dan mimpi-mimpi yang selalu dihantui wajah Deviana perlahan menghancurkan pertahanannya.

“Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Itu saja,” ucap Adrian, berusaha menyembunyikan kegelisahan di dalam hatinya. “Kau tahu sendiri keras kepalanya Deviana. Bisa saja dia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya.”

Syam tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menjalankan perintah atasannya.

---

Dua hari kemudian...

Adrian duduk di kursi belakang mobil yang kini terparkir di sebuah kota kecil di bagian selatan. Kepada semua orang ia mengatakan bahwa dirinya datang untuk menghadiri rapat bisnis dengan salah satu cabang perusahaan.

Namun jauh di lubuk hatinya...

Ia tahu itu bukan satu-satunya alasan.

Dari kursi depan, Syam menoleh ke belakang.

“Tuan... itu Nona Deviana.”

Tanpa berpikir panjang, Adrian langsung membuka pintu mobil dan turun.

Tatapannya segera terpaku pada sosok wanita yang berdiri di seberang jalan, tepat di depan sebuah butik pakaian pria.

Angin berembus pelan, mengibaskan ujung gaun putih sederhana yang dikenakannya. Rambutnya disanggul rapi, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat-lihat etalase.

Namun yang membuat darah Adrian langsung mendidih adalah benda yang sedang dipilih Deviana.

Sebuah kemeja pria.

Tanpa memedulikan suara Syam yang memintanya tenang, Adrian melangkah cepat menghampiri.

“Aku sudah tahu,” katanya sinis begitu berada di hadapan Deviana. “Pada akhirnya kau pasti akan kembali mengejarku.”

Deviana perlahan menoleh.

Sekilas rasa terkejut tampak di matanya, tetapi secepat itu pula menghilang, digantikan ekspresi dingin yang sulit dibaca.

“Kembali mengejarmu?” katanya tenang. “Jangan terlalu percaya diri, Adrian. Hubungan kita sudah berakhir. Aku bahkan sudah melupakanmu.”

Adrian menyilangkan kedua tangan di dada.

“Berhenti berpura-pura, Dev. Aku melihatmu memilih kemeja pria. Kalau bukan untukku, memangnya untuk siapa?”

Deviana tersenyum tipis.

“Untuk orang lain. Aku sudah move on.”

Jawaban itu menghantam dada Adrian seperti anak panah.

Matanya langsung menyipit.

“Pembohong!”

Ia melangkah maju lalu merebut kemeja itu dari tangan Deviana.

“Ini... ini merek favoritku. Warnanya juga warna yang biasa kupakai. Kau pikir aku tidak tahu kebiasaanmu? Kau selalu memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Kau membelinya untukku.”

Deviana menarik napas panjang.

“Bukan, Adrian. Kemeja itu bukan untukmu. Tolong jangan ganggu aku lagi. Hidupku jauh lebih tenang tanpa kehadiranmu.”

“Berhenti berbohong, Deviana! Bahkan kau tidak berani menatap mataku saat mengatakan itu!”

Adrian berusaha meraih lengannya.

Namun Deviana segera menarik tangannya.

“Jangan sentuh aku! Aku bukan milikmu lagi. Sudah kubilang, hidupku tidak lagi berpusat padamu.”

Adrian tertawa pahit.

“Kau bicara seolah-olah benar-benar mencintai pria baru itu. Siapa dia? Memangnya pria seperti apa yang bisa menggantikanku?”

“Seseorang yang tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik. Bukan seseorang yang mempermainkan perasaannya seperti yang kau lakukan.”

Adrian membeku.

Tatapannya berubah.

“Jadi benar... sekarang kau sudah bersama pria lain?”

Deviana menatap lurus ke matanya tanpa sedikit pun gentar.

“Ya. Dan sekalipun aku belum memiliki siapa pun, aku tetap akan memilih siapa saja daripada kembali kepadamu.”

Adrian melangkah semakin dekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.

“Ayolah, Deviana. Berhenti bermain sandiwara. Kau tahu aku masih bersedia menerimamu kembali. Tidak perlu membuat drama seperti ini hanya untuk menarik perhatianku.”

Deviana mengembuskan napas panjang.

Dengan tegas ia merebut kembali kemeja itu dari tangan Adrian.

“Dengarkan baik-baik, Adrian. Aku tidak membutuhkan perhatianmu. Aku tidak membutuhkan maafmu. Aku juga tidak membutuhkan pengakuanmu.”

Ia menatap pria itu dengan mata yang penuh ketegasan.

“Yang kubutuhkan hanyalah ketenangan. Kebebasan... darimu.”

Tangan Adrian mengepal kuat.

“Jadi kau benar-benar yakin akan lebih bahagia tanpa aku?”

Deviana tersenyum tipis.

“Bukan hanya lebih bahagia. Aku jauh lebih tenang, lebih jujur pada diriku sendiri, dan jauh lebih berharga. Aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku lagi hanya untuk menunggu seseorang yang selalu menganggap dirinya terlalu berharga untuk kehilangan siapa pun.”

Setelah mengatakan itu, Deviana berbalik dan mulai melangkah pergi.

Adrian tetap berdiri membeku di tempatnya.

Namun sebelum memasuki butik, Deviana berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang.

Dengan suara yang tenang namun menusuk, ia berkata,

“Kau datang terlambat, Adrian. Aku sudah memilih jalan hidup yang tidak lagi memiliki tempat untukmu.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 9

    Malam sudah larut. Cahaya lampu kamar hanya menyala redup, cukup untuk membuat suasana terasa tenang. Setelah seharian terkuras oleh emosi, akhirnya Deviana tertidur di sisi tempat tidurnya.Adrian yang duduk di kursi di dekat ranjang memandang wajah Deviana yang tampak damai.Rasa lega dan bersalah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.Dia pasti sangat lelah karena ulahku. Aku tidak pantas membuatnya menderita seperti ini, batinnya.Keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara ponsel yang bergetar pelan di atas meja.Adrian segera meraihnya.Begitu melihat nama yang muncul di layar, napasnya seketika tertahan.Leviana.Ia melirik ke arah Deviana, memastikan wanita itu masih terlelap, lalu bangkit perlahan. Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar dan menutup pintunya tanpa suara.Di luar, udara malam terasa dingin menusuk kulit.Adrian berjalan menuju taman kecil di depan rumah, lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya.“Halo?” suaranya pelan dan penuh kehati-hatian.Di seb

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 8

    Mobil Adrian melaju perlahan menyusuri jalanan kota yang mulai lengang. Keheningan memenuhi ruang di dalam mobil, hanya diiringi dengungan mesin dan sesekali suara klakson kendaraan yang melintas. Beberapa kali Adrian melirik ke arah Deviana, tetapi wanita itu terus menatap ke luar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memperhatikan cahaya lampu kota yang berkelebat di hadapannya.“Deviana...” suara Adrian terdengar serak, dipenuhi keraguan. “Aku tahu kau kecewa. Tapi tolong, dengarkan penjelasanku. Leviana menghubungiku hanya karena dia sedang sakit. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.”Deviana bahkan tidak bergeming. Tatapannya tetap tertuju pada gemerlap lampu kota, seolah cahaya itu mampu menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hatinya.“Aku tidak ingin tahu,” jawabnya singkat dengan nada datar tanpa ekspresi.Jawaban itu menghantam dada Adrian seperti palu yang menghancurkan pertahanannya. Ia menggenggam kemudi lebih erat, berusaha menahan gejolak emosi.“Men

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 7

    “Deviana, ayo. Aku sudah di bawah.”Suara Adrian terdengar dari ponsel Deviana.Deviana mengembuskan napas pelan sambil menatap bayangannya di cermin. Matanya tampak lelah, tetapi ia tetap merapikan penampilannya dengan sederhana dan anggun.Bukan karena ingin terlihat cantik di hadapan Adrian.Melainkan karena ia menolak terlihat rapuh.Dengan langkah tenang, ia mengambil tasnya lalu turun menuju lobi apartemen.Mobil hitam milik Adrian sudah menunggu.Seperti biasa, Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu mobil, lalu berdiri menunggunya masuk.“Malam ini kau terlihat sangat cantik,” ucap Adrian sambil tersenyum hangat.Deviana hanya menganggukkan kepala pelan.“Terima kasih.”Sepanjang perjalanan, Adrian terus berbicara.Tentang pekerjaannya.Tentang proyek besar yang sengaja ia tolak hanya agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Deviana.“Dulu aku mengira mengejar ambisi adalah segalanya,” katanya sambil melirik ke arah Deviana.“Tapi sekarang... satu-satunya yang ingin

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 6

    "Maaf, Deviana... tapi aku tetap akan membawamu pulang bersamaku."Suara Adrian terdengar tegas dan dingin, tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk penolakan.Mobil hitam mewah itu melaju perlahan menembus dinginnya malam. Cahaya lampu jalan melintas dalam garis-garis buram, seolah tak memiliki arti apa pun. Di dalam mobil, keheningan terasa jauh lebih berat daripada dengungan mesin.Di kursi penumpang, Deviana duduk membisu. Tatapannya kosong menembus jendela, sementara air mata terus mengalir tanpa suara di pipinya. Tangisnya bukan lagi karena takut, melainkan karena lelah.Lelah memikul luka yang tak pernah benar-benar sembuh.Lelah mencintai seorang pria yang tak pernah tahu bagaimana mencintainya dengan benar.Hatinya telah hancur berkeping-keping. Kini yang mampu ia pikirkan hanyalah satu pertanyaan.Apa lagi yang akan Adrian lakukan padaku kali ini?Namun, di balik air matanya, masih tersisa secercah rasa penasaran.Mengapa Adrian begitu bersikeras membawanya pulang? Apakah ka

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 5

    “Aku tidak peduli. Malam ini juga aku harus menemuinya.”Adrian bergumam pelan saat mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen mewah di pusat kota.Hari sudah larut malam, tetapi lampu lobi masih menyala terang. Petugas keamanan yang mengenali Adrian langsung mempersilahkannya masuk tanpa banyak bertanya.Wajah Adrian tampak muram.Tatapannya tajam.Di dalam dirinya bercampur amarah, kerinduan, dan luka yang bahkan ia sendiri tak mampu mengerti.Ia berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang begitu dikenalnya.Sudah lama ia tidak datang ke tempat itu.Tempat yang dahulu dipenuhi tawa, tangis, dan kenangan bersama Deviana.Kini...Yang tersisa hanyalah penyesalan dan jarak yang begitu jauh.Tangannya mengepal di samping tubuh.Dengan keyakinan yang bercampur antara gengsi dan rasa bersalah, ia menunggu wanita yang selama beberapa hari terakhir terus memenuhi pikirannya.Tak lama kemudian...Terdengar suara langkah kaki diiringi bunyi pintu lift yang terbuka.Adrian tahu.Itu pasti De

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 4

    Adrian berdiri membeku di depan butik pakaian pria. Kemeja yang masih berada di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah tanpa ia sadari. Tatapannya kosong, terpaku pada punggung Deviana yang semakin menjauh dengan langkah mantap tanpa sedikit pun keraguan.Seolah-olah...Wanita itu benar-benar telah meninggalkannya.Benar-benar melupakannya.Amarah dan frustrasi bergemuruh di dalam dadanya seperti ombak yang menghantam karang. Namun di balik semua emosi itu, ada satu perasaan yang paling kuat.Kehilangan.“Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Deviana!”Suara Adrian menggema di sepanjang jalan, serak dan dipenuhi emosi.Beberapa pejalan kaki menoleh ke arahnya, tetapi Adrian sama sekali tidak peduli. Harga diri yang selama ini ia banggakan telah hancur berkeping-keping, seakan berserakan di tengah jalan.Ia hendak mengejar Deviana.Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.Ia melihat seseorang.Seorang pria.Tubuhnya tinggi dan tegap.Wajahnya tenang.Ia mengenakan setel

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status