MasukTerbiasa direndahkan membuat Vitara bekerja keras untuk bangkit meraih mimpi. Di tengah usahanya, Narayan hadir memberi uluran tangan. Sayangnya, ketika kepercayaan mulai terbangun dan masa depan terasa begitu dekat, sebuah kebenaran justru menghancurkan segalanya. Akankah waktu kembali mempertemukan mereka? Atau justru membuktikan bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki?
Lihat lebih banyak“Pulang kerja nanti jangan ke mana-mana, ya, Ta! Langsung pulang! Kita mau makan bersama,” seru bu Fitria.
Gerakan tangan Vitara yang tengah menata sarapan terhenti. Tangan kanannya masih menggenggam sendok garpu yang baru saja ia ambil. Bibirnya sudah terbuka hendak berkata. Namun kembali terkatup saat suara sang ibu mendahului.
“Abangmu baru naik jabatan kemarin. Jadi ibu dan ayah mau buat acara kecil-kecilan untuk syukuran keberhasilannya,” sambung wanita paruh baya tersebut.
Kerongkongan Vitara terasa tercekat. Seolah ada sesuatu yang menghalangi jalan nafasnya. Susah payah Vitara menelan salivanya sendiri hanya untuk bisa menyahuti perkataan sang ibu.
“Iya, Bu,” sahut Vitara pelan.
“Makanya, Ta! Kamu itu cari kerja yang bener. Liat, tuh, Vito. Abangmu itu dari dulu selalu giat belajar, giat kerja. Makanya bisa keterima di perusahaan besar. Sekarang malah udah naik jabatan jadi supervisor. Lah, kamu? Masih aja kerja di warung,” ketus bu Fitria terlihat kesal
“Kafe, Bu,” cicit Vitara pelan meralat perkataan sang ibu.
“Halah! Kafe kok kecil gitu? Itu mah namanya warung!” tegas sang ibu tak ingin dibantah.
Vitara menghela nafas pelan. Hari masih pagi. Namun energinya sudah terkuras banyak hanya untuk menanggapi perkataan sang ibu yang cukup menyentil hati kecilnya.
Netranya menatap sendok garpu yang masih ia pegang. Namun pikirannya telah berkelana entah kemana.
Lagi-lagi perbandingan. Hal yang seolah menjadi rutinitas bagi keluarganya untuk dibahas. Sejak kecil, ia selalu hidup dengan perbandingan. Bahkan sekeras apapun ia berusaha, sebaik apapun hasil yang ia dapat, tidak pernah cukup di mata keluarganya. Selalu ada orang yang menjadi perbandingan untuk setiap prestasi yang Vitara dapatkan.
Vitara masih diam. Rasa laparnya mendadak hilang. Telinganya seolah tak diperbolehkan mendengar hal lain. Selain kalimat perbandingan untuk dirinya atau sanjungan untuk sang kakak.
“Rasanya rugi ibu udah keluarin banyak uang buat nguliahin kamu. Tapi dapet kerjanya di warung. Mending dulu kamu gak usah kuliah, biar bantuin ibu jualan sarapan!” celetuk bu Vitara menusuk.
Dada Vitara seolah tengah dihantam palu godam. Nyeri juga sesak secara bersamaan menyerang Vitara. Netranya memanas. Namun mati-matian Vitara menahan bulir bening yang siap meluncur dari pelupuk matanya.
“Aku gak minta dikuliahin!”
Ingin sekali Vitara meneriakkan kalimat tersebut. Dadanya sudah terlalu sesak menahan rasa sakit yang selalu diberikan oleh keluarganya. Ia tak pernah meminta untuk dikuliahkan karena Vitara sendiri tahu akan kemampuannya. Namun, diam masih menjadi satu-satunya cara bagi Vitara untuk bertahan.
“Sebaiknya aku pergi, sebelum ayah dan abang datang,” batin Vitara menguatkan diri.
Dihapusnya bulir bening yang sempat mengintip dari ujung matanya. Lalu tanpa sarapan, tanpa menyiapkan bekal, Vitara berlalu meninggalkan samg ibu.
“Aku berangkat kerja dulu, Bu,” ucap Vitara pada akhirnya.
Ia juga tak ingin kembali disalahkan hanya karena tak berpamitan saat berangkat kerja. Rasanya sudah lelah terus menjadi orang yang dibandingkan dan disalahkan. Segala perbuatannya akan menjadi topik utama dalam setiap pertemuan keluarga.
“Pulang kerja langsung pulang! Jangan ke mana-mana lagi!” seru bu Vitara setengah berteriak.
Vitara masih mendengar suara sang ibu yang menggema. Tak berniat untuk menjawab, Vitara terus melangkahkan kakinya menuju tempat kerja.
Saat sampai di kafe tempatnya bekerja, Vitara segera memulai pekerjaannya. Berharap kalimat rutinitas yang sang ibu lontarkan bisa hilang dari kepalanya. Dia juga tidak ingin mencampuradukkan masalah di rumah dengan pekerjaannya.
Vitara menghela nafas lelah setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Jika biasanya waktu terasa begitu lambat saat di rumah. Namun saat di tempat kerja, Vitara merasakan waktu bergulir lebih cepat.
Harusnya aku punya lebih banyak waktu di tempat kerja.
Harusnya waktu bisa lebih cepat berputar saat aku di rumah.
“Males banget mau pulang,” keluh Vitara saat melihat teman-temannya telah bersiap untuk pulang.
“Tapi kalo telat pulang, malah nambah durasi lagi.”
Vitara kembali menghela nafas lelah. Tubuhnya masih belum sanggup jika harus segera pulang ke rumah. Dia seolah bisa menebak apa yang akan terjadi nanti saat di rumah.
“Hadapi aja kayak biasanya,” gumam Vitara menyemangati diri.
Langkah lelah membawa Vitara pulang ke rumah. Tempat yang seharusnya menjadi penenang kala lelah menyapa. Namun, bagi Vitara itu adalah tempat di mana luka bermula.
“Kan tadi pagi ibu sudah pesen sama kamu supaya langsung pulang, Ta!” seru bu Fitria.
Langkah kaki Vitara terhenti. Cukup kaget dengan suara sang ibu yang entah muncul dari mana.
“Untung aja ibu gak jadi ngundang yang lain. Bisa malu ibu kalo mereka liat kamu baru pulang sementara ibu repot ngurusi rumah!” omel bu Fitria kesal.
Vitara diam. Rasa lelah yang tadi sempat menghilang kini muncul kembali. Seolah tak biarkan dirinya beristirahat barang sejenak.
“Cepet cuci tangan dan muka kamu. Abangmu udah laper itu nungguin kamu pulang!” titah ibu dua anak tersebut.
Tak menjawab, Vitara langsung melangkahkan kakinya ke kamar. Membersihkan diri dan gegas kembali ke meja makan. Di sana, ayah, ibu juga kakak laki-lakinya telah duduk dengan masing-masing piring terisi nasi lengkap dengan lauk pauk.
Vitara menatap piringnya yang masih kosong. Ibunya bahkan tak pernah ingat untuk meletakkan setidaknya nasi ke piring miliknya.
“Adit ternyata udah kerja di perusahaan furniture yang di kota, Bu,” ujar Vito mengadu.
Vitara langsung merasakan firasat yang tak enak. Ia paham betul dengan sifat keluarganya. Itu juga yang menjadi alasan Vitara tak pernah ikut makan malam bersama.
“O ya? Bagus, dong. Dari dulu memang Adit gak berubah. Sekolah dari SD sampek kuliah di tempat bagus terus. Dapet juara lagi,” sahut sang ibu antusias.
“Dia juga udah jadi manajer, Bu,” sambung Vito lagi.
“Si Adit mah emang pinter anaknya. Jadi gak heran kalo dia cepet naik jabatan.”
Kali ini suara sang ayah terdengar. Vitara hanya melirik sekilas. Ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Tuh! Contoh itu abang dan sepupumu. Lulus kuliah langsung kerja di perusahaan besar. Terus bisa sampek naik jabatan. Makanya kamu cari kerja yang bener!” ketus bu Fitria.
“Aku udah berusaha, Bu. Memang belum keterima.”
Vitara menjawab seadanya. Ia juga telah berusaha mengajukan lamaran di berbagai perusahaan. Namun, belum juga mendapat panggilan.
“Kamunya aja yang gampang nyerah. Lebih nyaman kerja di warung daripada di kantoran. Sia-sia ibu nguliahin kamu,” kembali bu Fitria mengomel.
Vitara tak menjawab. Namun, selera makannya seketika hilang. Makanan yang baru ia suap ke mulut pun terasa begitu sulit dikunyah. Apalagi untuk ditelan.
“Usaha yang lebih kuat. Biar hasilnya juga lebih terlihat,” titah sang Ayah.
Vitara masih bergeming. Kalimat sang ayah berhasil menyita perhatiannya.
Selama ini, Vitara bekerja di kafe miliknya sendiri yang ia bangun bersama beberapa teman semasa kuliahnya. Dengan modal kecil yang mereka kumpulkan dari sisa uang jajan. Dari yang hanya gerobak, hingga sekarang menjadi sebuah kios.
“Apa aku ngajuin pinjaman aja, ya untuk modal tambahan?”
Sandrina tertawa lepas setelah melihat ponselnya. Senyum kemenangan terus tercetak di bibir merahnya. Ia bahkan terlihat percaya diri dengan apa yang ia lakukan.“Kamu memang gak ditakdirkan untuk bahagia, Vita. Terima aja nasibmu yang cuma jadi seorang waitress. Gak usah mengharap lebih. Apalagi untuk dapetin Rayan,” ujar Sandrina bermonolog.“Walaupun Rayan cuma penjaga toko buku, tapi aku tetep gak rela kalo dia harus sama Vita. Andai aja Rayan kaya, pasti aku pertahanin dia jadi pacarku,” sambung Sandrina lagi bermonolog.Sandrina kembali membuka layar ponselnya. Foto yang baru saja ia kirim ke Vitara menampilkan dirinya sedang bergandengan tangan dengan Rayan. Padahal itu adalah foto lama saat mereka masih bersama. Dengan sedikit sentuhan aplikasi edit, foto itu tampak seperti potret pasangan yang sedang dimabuk cinta."Sekarang Vita pasti lagi nangis di pojokan setelah lihat ini," gumam Sandrina sambil terkekeh.“Kamu gak boleh lebih dariku, Vita. Kamu harus selalu tetap di bawa
Setelah bertemu Narayan, Vitara langsung ke kafe lama. Ia meminta Ayu untuk menggantikannya mengurus kafe baru mereka. Saat ini Vitara ingin tenang. Kafe lama adalah tempat yang tepat untuk Vitara.“Aku sayang kamu, Tara. Itu faktanya sekarang!” suara Narayan kembali berputar di kepala Vitara.Vitara meletakkan kepalanya di meja kerja. Ia cukup pusing mencerna keadaan hari ini. Niatnya bertemu Narayan hanya untuk bercerita mengenai perkembangan kafenya. Namun, Narayan malah menyatakan perasaannya pada Vitara.“Kenapa harus di saat kayak gini, sih?” keluh Vitara lelah.Gadis itu kembali menegakkan kepalanya. Wajah lelah masih setia menempel di sana. Padahal, harusnya Vitara bahagia karena ternyata perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.“Ini sebenernya … waktu atau keluarga sih yang gak berpihak samaku?” keluh Vitara lagi bertanya entah pada siapa.Dering ponsel mengalihkan atensi Vitara. Ia melirik tanpa berminat menjawab panggilan tersebut. Namun, suara dering yang seolah berteriak
Pagi-pagi sekali Vitara sudah keluar rumah. Seperti biasa, gadis itu mengabaikan omelan sang ibu yang terus menyuruhnya untuk berhenti bekerja. Padahal, berulang kali Vitara mengatakan pada keluarga bahwa kafe itu miliknya. Namun, tak ada satupun yang percaya dengan ucapannya.“Tara …” suara seseorang terdengar memanggil begitu Vitara berhasil sampai di toko buku yang selalu menjadi favorit gadis itu.Vitara terdiam sejenak. Saat ia menoleh, degup jantungnya meningkat dua kali lebih cepat begitu melihat siapa pemilik suara tersebut.“Akhirnya kamu dateng juga. Aku pikir kamu akan abaikan aku lagi,” lirih Narayan berkata.Senyum bahagia terbit di bibir pria tersebut. Narayan tak bisa sembunyikan kebahagiaannya. Itu jelas terlihat dari binar matanya.“Aku mau bilang sesuatu sama kamu, Ra. Aku gak mau lagi memendam ini semua,” sambung Narayan lagi berkata.Vitara masih diam. Lebih tepatnya, gadis itu masih bingung harus merespon seperti apa. Sikap Narayan berbeda dari terakhir kali merek
Narayan mengacak rambutnya frustasi. Berkali-kali ia menelpon Vitara, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Pesan yang ia kirim juga tak kunjung mendapat balasan. “Tara … tolong angkat!” pinta Narayan lirih sembari menunggu dering telepon terhubung. “Ini semua gara-gara Rina! Harusnya aku gak perlu nuruti kemauan dia!” rutuk Narayan merasa tertipu. Tadinya, Narayan sudah ingin menemui Vitara di kafe lama. Namun, kedatangan Sandrina dengan segala dramanya membuat Narayan tidak bisa mengabaikan mantan kekasihnya itu. Tak disangka, ternyata Vitara juga ada di tempat yang sama dengannya. “Apa aku langsung temui Tara aja, ya? Biar semuanya jelas,” celetuk Narayan. Lelaki itu mengangguk pelan seolah membenarkan ide yang baru saja terlintas di kepalanya. Tak membuang waktu, Narayan langsung bergegas menemui Vitara. Tempat yang menjadi tujuan utama Narayan adalah kafe lama milik Vitara. Setelah ia memastikan Vitara tidak berada di kafe baru lewat temannya yang kebetulan ada di lokasi tu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.