Share

bab 5

Author: Gafa author
last update publish date: 2026-07-23 04:50:04

“Aku tidak peduli. Malam ini juga aku harus menemuinya.”

Adrian bergumam pelan saat mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen mewah di pusat kota.

Hari sudah larut malam, tetapi lampu lobi masih menyala terang. Petugas keamanan yang mengenali Adrian langsung mempersilahkannya masuk tanpa banyak bertanya.

Wajah Adrian tampak muram.

Tatapannya tajam.

Di dalam dirinya bercampur amarah, kerinduan, dan luka yang bahkan ia sendiri tak mampu mengerti.

Ia berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang begitu dikenalnya.

Sudah lama ia tidak datang ke tempat itu.

Tempat yang dahulu dipenuhi tawa, tangis, dan kenangan bersama Deviana.

Kini...

Yang tersisa hanyalah penyesalan dan jarak yang begitu jauh.

Tangannya mengepal di samping tubuh.

Dengan keyakinan yang bercampur antara gengsi dan rasa bersalah, ia menunggu wanita yang selama beberapa hari terakhir terus memenuhi pikirannya.

Tak lama kemudian...

Terdengar suara langkah kaki diiringi bunyi pintu lift yang terbuka.

Adrian tahu.

Itu pasti Deviana.

Pintu lift terbuka perlahan.

Deviana melangkah keluar dengan anggun sambil membawa sebuah kantong belanja kecil.

Wajahnya tampak lelah.

Namun ada ketenangan yang selama ini tak pernah Adrian lihat.

Sampai akhirnya...

Tatapan mereka bertemu.

Deviana membeku.

“Adrian?”

Nada suaranya memperlihatkan keterkejutan sekaligus rasa tidak senang.

Adrian melangkah mendekatinya.

“Kembalilah kepadaku, Deviana. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku bersumpah.”

Napas Deviana sempat tertahan.

Namun ia segera memalingkan wajah.

“Sudah terlambat.”

“Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah menyakitimu. Tapi jangan berpura-pura seolah kau tidak merindukanku. Aku tahu kau juga menderita karena perpisahan ini.”

Tatapan Deviana langsung berubah tajam.

“Jangan meremehkan perasaanku, Adrian. Aku tidak sedang berpura-pura. Aku benar-benar tidak ingin kembali bersamamu.”

Suaranya terdengar tegas tanpa sedikit pun keraguan.

“Sejak kau meninggalkanku di altar... sejak hari itu pula aku melepaskan seluruh cinta yang masih kumiliki untukmu.”

Adrian menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dalam dadanya.

“Kau marah karena pernikahan kita gagal?”

“Baik.”

“Aku akan mengadakan pernikahan baru.”

“Lebih megah.”

“Lebih mewah.”

“Kalau perlu, seluruh kota akan kuundang.”

“Aku akan menebus semuanya, Deviana.”

Deviana tersenyum pahit.

“Jadi menurutmu semua ini hanya soal pesta?”

Ia menggeleng pelan.

“Ini bukan tentang kemewahan, Adrian.”

“Ini tentang rasa sakit.”

“Ini tentang bagaimana kau menghancurkan harga diriku di depan semua orang.”

Ia melangkah semakin dekat.

Tatapannya kini tidak lagi dipenuhi kelembutan.

Melainkan setajam pisau.

“Selama ini aku hanyalah boneka dalam hubungan kita.”

“Selalu mengejarmu.”

“Selalu berusaha menjadi wanita yang kau cintai.”

“Tapi kau?”

“Kau bahkan tidak pernah benar-benar melihatku.”

“Dan sekarang... aku sudah selesai.”

“Aku ingin bebas dari semua hal yang berhubungan denganmu.”

Adrian terdiam.

Setiap kalimat itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya.

Namun bukannya mundur...

Ia justru melangkah lebih dekat.

Saat Deviana berbalik hendak membuka pintu apartemennya...

Tiba-tiba Adrian mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.

“Adrian! Turunkan aku!”

Deviana berteriak sambil memukul dada Adrian berkali-kali.

Namun Adrian tetap berjalan menuju lift tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku sekarang juga!”

Suara Deviana mulai dipenuhi kepanikan.

Tetapi tubuh Adrian terlalu kuat.

Dan tekadnya bahkan lebih kuat lagi.

Pintu lift terbuka.

Mereka masuk ke dalam.

Deviana terus meronta, tetapi Adrian hanya menatap lurus ke depan.

Wajahnya dipenuhi campuran amarah, kerinduan, dan kekacauan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.

Beberapa saat kemudian...

Mereka tiba di area parkir bawah tanah.

Adrian membuka pintu mobilnya lalu dengan cepat mendudukkan Deviana di kursi penumpang.

Ia segera masuk ke kursi pengemudi.

Klik.

Semua pintu langsung terkunci.

“Apa maumu, Adrian?!”

Suara Deviana bergetar.

Matanya memerah.

Napasnya memburu.

Adrian menoleh ke arahnya.

Wajahnya tampak hancur, tetapi ia masih berusaha terlihat tegar.

“Aku ingin membawamu pulang.”

“Ke rumah kita.”

“Tempat kita dulu tertawa bersama.”

“Tempat kita dulu saling memandang tanpa rasa takut.”

Deviana tertawa lirih.

Tawa yang dipenuhi kepedihan.

Air matanya kembali mengalir.

“Rumah kita?”

“Kau masih berani menyebutnya rumah kita?”

“Kau sendiri yang menghancurkannya.”

“Kau meninggalkanku di altar, Adrian.”

“Dan sekarang kau datang menculikku seperti ini?”

Adrian membuka mulut.

Namun tak satu kata pun keluar.

Ia ingin menjelaskan semuanya.

Tetapi ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.

Semua penjelasan terasa tidak berarti dibanding luka yang telah ia berikan.

“Deviana...”

“Aku takut kehilanganmu.”

“Itulah satu-satunya alasan aku datang.”

Deviana menatapnya tajam.

“Sekarang kau baru takut setelah aku benar-benar pergi?”

“Di mana rasa takutmu saat aku berjuang sendirian mempertahankan hubungan kita?”

“Di mana rasa takutmu saat kau memilih wanita lain tepat di hari yang seharusnya kita menjadi suami istri?”

Adrian tetap diam.

Ia tidak mampu membantah satu pun perkataan itu.

Deviana menghapus air matanya.

Tatapannya kembali dingin.

Penuh ketegasan.

“Dengarkan baik-baik, Adrian.”

“Mencintai seseorang bukan berarti memilikinya.”

“Kau tidak bisa mengambil dan membuangnya sesuka hati.”

“Aku bukan bonekamu.”

Ia menunjuk ke arah mereka berdua.

“Dan hubungan ini... sudah berakhir.”

Tatapannya menembus mata Adrian.

Lalu, dengan suara pelan namun begitu tajam, ia berkata,

“Antarkan aku kembali ke apartemenku.”

“Sekarang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 9

    Malam sudah larut. Cahaya lampu kamar hanya menyala redup, cukup untuk membuat suasana terasa tenang. Setelah seharian terkuras oleh emosi, akhirnya Deviana tertidur di sisi tempat tidurnya.Adrian yang duduk di kursi di dekat ranjang memandang wajah Deviana yang tampak damai.Rasa lega dan bersalah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.Dia pasti sangat lelah karena ulahku. Aku tidak pantas membuatnya menderita seperti ini, batinnya.Keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara ponsel yang bergetar pelan di atas meja.Adrian segera meraihnya.Begitu melihat nama yang muncul di layar, napasnya seketika tertahan.Leviana.Ia melirik ke arah Deviana, memastikan wanita itu masih terlelap, lalu bangkit perlahan. Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar dan menutup pintunya tanpa suara.Di luar, udara malam terasa dingin menusuk kulit.Adrian berjalan menuju taman kecil di depan rumah, lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya.“Halo?” suaranya pelan dan penuh kehati-hatian.Di seb

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 8

    Mobil Adrian melaju perlahan menyusuri jalanan kota yang mulai lengang. Keheningan memenuhi ruang di dalam mobil, hanya diiringi dengungan mesin dan sesekali suara klakson kendaraan yang melintas. Beberapa kali Adrian melirik ke arah Deviana, tetapi wanita itu terus menatap ke luar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memperhatikan cahaya lampu kota yang berkelebat di hadapannya.“Deviana...” suara Adrian terdengar serak, dipenuhi keraguan. “Aku tahu kau kecewa. Tapi tolong, dengarkan penjelasanku. Leviana menghubungiku hanya karena dia sedang sakit. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.”Deviana bahkan tidak bergeming. Tatapannya tetap tertuju pada gemerlap lampu kota, seolah cahaya itu mampu menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hatinya.“Aku tidak ingin tahu,” jawabnya singkat dengan nada datar tanpa ekspresi.Jawaban itu menghantam dada Adrian seperti palu yang menghancurkan pertahanannya. Ia menggenggam kemudi lebih erat, berusaha menahan gejolak emosi.“Men

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 7

    “Deviana, ayo. Aku sudah di bawah.”Suara Adrian terdengar dari ponsel Deviana.Deviana mengembuskan napas pelan sambil menatap bayangannya di cermin. Matanya tampak lelah, tetapi ia tetap merapikan penampilannya dengan sederhana dan anggun.Bukan karena ingin terlihat cantik di hadapan Adrian.Melainkan karena ia menolak terlihat rapuh.Dengan langkah tenang, ia mengambil tasnya lalu turun menuju lobi apartemen.Mobil hitam milik Adrian sudah menunggu.Seperti biasa, Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu mobil, lalu berdiri menunggunya masuk.“Malam ini kau terlihat sangat cantik,” ucap Adrian sambil tersenyum hangat.Deviana hanya menganggukkan kepala pelan.“Terima kasih.”Sepanjang perjalanan, Adrian terus berbicara.Tentang pekerjaannya.Tentang proyek besar yang sengaja ia tolak hanya agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Deviana.“Dulu aku mengira mengejar ambisi adalah segalanya,” katanya sambil melirik ke arah Deviana.“Tapi sekarang... satu-satunya yang ingin

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 6

    "Maaf, Deviana... tapi aku tetap akan membawamu pulang bersamaku."Suara Adrian terdengar tegas dan dingin, tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk penolakan.Mobil hitam mewah itu melaju perlahan menembus dinginnya malam. Cahaya lampu jalan melintas dalam garis-garis buram, seolah tak memiliki arti apa pun. Di dalam mobil, keheningan terasa jauh lebih berat daripada dengungan mesin.Di kursi penumpang, Deviana duduk membisu. Tatapannya kosong menembus jendela, sementara air mata terus mengalir tanpa suara di pipinya. Tangisnya bukan lagi karena takut, melainkan karena lelah.Lelah memikul luka yang tak pernah benar-benar sembuh.Lelah mencintai seorang pria yang tak pernah tahu bagaimana mencintainya dengan benar.Hatinya telah hancur berkeping-keping. Kini yang mampu ia pikirkan hanyalah satu pertanyaan.Apa lagi yang akan Adrian lakukan padaku kali ini?Namun, di balik air matanya, masih tersisa secercah rasa penasaran.Mengapa Adrian begitu bersikeras membawanya pulang? Apakah ka

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 5

    “Aku tidak peduli. Malam ini juga aku harus menemuinya.”Adrian bergumam pelan saat mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen mewah di pusat kota.Hari sudah larut malam, tetapi lampu lobi masih menyala terang. Petugas keamanan yang mengenali Adrian langsung mempersilahkannya masuk tanpa banyak bertanya.Wajah Adrian tampak muram.Tatapannya tajam.Di dalam dirinya bercampur amarah, kerinduan, dan luka yang bahkan ia sendiri tak mampu mengerti.Ia berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang begitu dikenalnya.Sudah lama ia tidak datang ke tempat itu.Tempat yang dahulu dipenuhi tawa, tangis, dan kenangan bersama Deviana.Kini...Yang tersisa hanyalah penyesalan dan jarak yang begitu jauh.Tangannya mengepal di samping tubuh.Dengan keyakinan yang bercampur antara gengsi dan rasa bersalah, ia menunggu wanita yang selama beberapa hari terakhir terus memenuhi pikirannya.Tak lama kemudian...Terdengar suara langkah kaki diiringi bunyi pintu lift yang terbuka.Adrian tahu.Itu pasti De

  • Dikhianati Saat Malam Pernikahan    bab 4

    Adrian berdiri membeku di depan butik pakaian pria. Kemeja yang masih berada di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah tanpa ia sadari. Tatapannya kosong, terpaku pada punggung Deviana yang semakin menjauh dengan langkah mantap tanpa sedikit pun keraguan.Seolah-olah...Wanita itu benar-benar telah meninggalkannya.Benar-benar melupakannya.Amarah dan frustrasi bergemuruh di dalam dadanya seperti ombak yang menghantam karang. Namun di balik semua emosi itu, ada satu perasaan yang paling kuat.Kehilangan.“Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Deviana!”Suara Adrian menggema di sepanjang jalan, serak dan dipenuhi emosi.Beberapa pejalan kaki menoleh ke arahnya, tetapi Adrian sama sekali tidak peduli. Harga diri yang selama ini ia banggakan telah hancur berkeping-keping, seakan berserakan di tengah jalan.Ia hendak mengejar Deviana.Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.Ia melihat seseorang.Seorang pria.Tubuhnya tinggi dan tegap.Wajahnya tenang.Ia mengenakan setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status