LOGINBella langsung menunjuk Reyhan sambil mengunyah makanan."Makanya kak Reyhan punya pacar dong.""Inget umur."Leo langsung tertawa kecil setuju."Bener tuh.""Jangan sok dingin terus.""Pangkat boleh dokter bedah terkenal…""Tapi urusan cinta?"Leo sengaja menggantung kalimatnya sambil terkekeh meledek. Reyhan langsung menyipitkan mata kesal."Berisik."Namun dalam hati Reyhan justru makin kacau.Cinta? Ia bahkan belum sempat memikirkan hal lain selain rasa bersalahnya pada Nessy. Tentang semalam. Tentang bagaimana ia harus bertanggung jawab. Dan sekarang... Bella juga sudah punya pacar. Reyhan memijat pelipisnya pelan."Astaga...""Bocah itu udah punya pacar."Namun akhirnya Reyhan mendengus lalu membalas Leo."Leo, jangan bisanya ngeledekin aku.""Lihat diri lo sendiri.""Bahkan kamu gak punya orang yang kamu suka."Dan detik berikutnya... Bella langsung nyeletuk polos tanpa dosa."Ada kok.""Tapi Leo ditolak terus ditinggalin."Semua langsung menoleh ke Bella. Leo langsung membelal
Malam itu suasana meja makan ramai seperti biasanya. Aku duduk di samping Andreas. Di seberang kami ada Bella dan Leo yang sejak tadi sudah ribut sendiri.Di meja sudah tersaji berbagai makanan hangat.Namun bukannya makan tenang… Bella justru sibuk ngoceh sambil tersenyum sendiri."Ya ampun… Bela masih gak nyangka bakal ke Tiongkok.""Bela nanti mau foto banyak sama Sean."Leo langsung mendengus jijik."Najis."Bella langsung melotot."Leo!""Aku laporin ya sama mama!"Leo santai menyendok sup."Lapor aja.""Aku tetap muak lihat gaya bucin kamu."Bella langsung nyolot."Emangnya kenapa kalau Bela sayang sama pacar sendiri?!"Leo memutar mata malas."Soalnya kamu lebay.""Sean napas aja kamu senyum-senyum sendiri."Andreas langsung nyeletuk dingin,"Itu juga yang papa rasain."Aku spontan tertawa kecil. Sementara Bella langsung manyun."Papa kok ikut-ikutan sih."Aku akhirnya mencoba mengalihkan pembicaraan."Leo, kamu yakin gak mau ikut ke Tiongkok?""Bela sama Sean kan berangkat lus
Sinar matahari pagi mulai masuk melalui celah tirai hotel. Reyhan perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat.Pening.Tubuhnya juga terasa pegal dengan cara yang aneh. Pria itu mengernyit sambil memijat pelipisnya pelan."Akh..."Ia mencoba duduk. Namun begitu bergerak... Potongan-potongan ingatan semalam mulai muncul satu persatu. Reuni SMA. Suasana ramai.Minuman. Tawa teman-teman lamanya. Lalu...Clara.Teman sekelasnya dulu. Reyhan langsung mengingat jelas bagaimana wanita itu terus menempel padanya semalam. Dan kemudian... Tatapan Reyhan berubah dingin. Ia ingat. Minumannya bermasalah. Tubuhnya mulai panas tidak normal. Kesadarannya kacau.Dan Clara justru membawanya masuk ke kamar hotel. Ingatan berikutnya membuat rahang Reyhan mengeras. Clara menyentuhnya. Menggodanya. Mencoba membuka kancing bajunya. Namun bukannya terbawa suasana...Reyhan justru mencekik wanita itu ke dinding. Tatapannya gelap dan bengis malam itu."Keluar."Suara Reyhan saat itu benar-benar mengerikan
Sinar matahari pagi menembus celah tirai hotel. Nessy perlahan membuka matanya. Dan detik berikutnya... "Astaga…" Tubuhnya terasa remuk. Pinggangnya seperti patah. Tulang-tulangnya terasa hancur. Seolah habis terlindas truk. Nessy meringis sambil memegangi pinggangnya pelan. "Ya Tuhan…" Ia perlahan menoleh ke samping. Dan di sana… Reyhan masih tertidur pulas. Wajah pria itu terlihat damai. Rambutnya sedikit berantakan. Dasi dan kemejanya bahkan masih setengah terbuka. Melihat itu... Ingatan Nessy langsung kembali ke semalam. Tentang ciuman mereka. Pelukan itu. Tentang bagaimana semuanya terasa begitu memabukkan. Wajah Nessy langsung merah padam. Ia buru-buru menutup wajahnya sendiri dengan bantal. "AAAAA malu banget!" Namun beberapa detik kemudian... Nessy langsung membeku lagi. Karena tiba-tiba otaknya bekerja normal. Kalau Reyhan sadar nanti… Dan ingat semuanya… Nessy langsung duduk panik. "Kalau dia bunuh aku gimana?!" Namun beberapa detik kemudian Nessy malah menghela n
Nessy duduk lemas di sofa sambil menatap Reyhan yang kini memejamkan mata dengan napas berat dan tidak teratur. Wajah pria itu masih memerah. Keringat membasahi leher dan dahinya.bNamun bahkan dalam keadaan seperti itu… Reyhan tetap terlihat tenang dan tampan. Perlahan Nessy mengusap batang hidung Reyhan dengan jemarinya yang gemetar. "Reyhan…" "Bahkan dalam situasi kayak gini kamu masih tetap tenang…" Nessy tertawa kecil pahit. Lalu berbisik lirih pada dirinya sendiri, "Aku ngapain sih…" "Mentang-mentang mau mati malah gali neraka sendiri." Ia terkekeh kecil walau matanya mulai berkaca-kaca. Namun saat jemari Nessy tanpa sadar menyentuh bibir Reyhan.. Pria itu perlahan membuka matanya.bTatapan mereka bertemu. Dan sebelum Nessy sempat bicara... Reyhan langsung membalik posisi Nessy pelan ke sofa. Membuat Nessy menahan napas. Tanpa banyak kata… Reyhan kembali mencium bibir Nessy. Kali ini lebih dalam. Lebih putus asa. Lebih penuh emosi yang tak mampu dijelaskan. Ne
"Tolong aku"Nessy masih membeku saat melihat sosok di depannya."Reyhan…?"Pria itu benar-benar berbeda dari biasanya. Wajahnya memerah. Napasnya tidak teratur. Keringat membanjiri tubuhnya.Bahkan tatapan matanya terlihat kacau.Nessy langsung panik."Kak Reyhan…""Kakak kenapa?"Namun Reyhan seperti tidak benar-benar sadar. Ia menatap Nessy dengan mata berat lalu kembali berbisik lirih,"Tolong aku…""Aku akan bertanggung jawab…"Nessy makin bingung. Namun detik berikutnya... Reyhan tiba-tiba menarik Nessy lalu mencium bibirnya.Mata Nessy langsung membelalak lebar. Tubuhnya refleks mendorong Reyhan menjauh.PLAK. "Brengsek!!!" Tamparan kecil mendarat di pipi Reyhan. Nessy memegangi bibirnya sendiri dengan napas gemetar.Ciuman pertamaku…Namun saat melihat Reyhan tersungkur lemah di lantai… Nessy mulai sadar ada yang tidak beres. Pria itu terlihat benar-benar kehilangan kendali. Nessy buru-buru berjongkok membantu Reyhan."Kak…""Aku panggil dokter ya... "Namun sebelum sempat pe
Siang itu aku datang lebih dulu ke sebuah restoran yang cukup tenang di pusat kota. Tempatnya elegan, dengan jendela besar menghadap jalan dan cahaya matahari yang masuk lembut ke dalam ruangan. Aku duduk di meja dekat jendela sambil menunggu. Beberapa menit kemudian. Seorang pria tinggi dengan
Mobil melaju membelah jalan malam yang mulai ramai oleh lampu kota. Dari jendela mobil terlihat deretan gedung tinggi dengan cahaya yang berkilauan. Di dalam mobil suasananya hangat dan tenang. Andreas menyetir dengan santai, namun sesekali ia melirik ke arahku. Aku sendiri sejak tadi sibuk meny
Butik itu dipenuhi cahaya siang yang masuk dari jendela kaca besar. Interiornya tampak mewah namun tetap hangat dinding berwarna krem lembut, rak kayu walnut yang rapi, dan sofa beludru di sudut ruangan. Di tengah ruangan, berbagai gulungan kain terbentang di atas meja panjang. Aku berdiri di s
Malam itu kamar hotel murah yang ditempati Maudy terasa pengap. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit, membuat ruangan itu tampak semakin muram. Di atas meja kecil yang penuh noda rokok, sebuah map coklat tergeletak. Maudy duduk di kursi dengan gelisah. Tangannya terus mengetuk meja







