Share

Tangis Rindu

Penulis: Senjaaaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-12 11:47:58

“Apa ini?” katanya dengan suara tegas. “Kamu mau bakar rumah ini, ya?”

Aku masih terbatuk sambil menatapnya. Punggung tanganku terasa nyeri dan panas.

“Ak-aku cuma mau bikin sarapan…” jawabku lirih, antara malu dan kesal pada diri sendiri.

Andreas mendesah pelan. Setelah ia mematikan kompor, lalu menarik lenganku dengan hati-hati. Tatapannya jatuh pada kulit tanganku yang memerah.

“Dasar,” gumamnya. “Kamu benar-benar berbahaya ka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   199

    Tangannya yang tadi melingkar di pinggangku kini berpindah menggenggam tanganku di atas meja. “Sore ini kita ada janji.” Aku mengangkat alis. “Janji?” “Dengan agen properti.” Aku langsung teringat. Beberapa hari terakhir ini memang kami berdua sedang mencari rumah. Sejak memutuskan untuk menetap di kota ini, Andreas bilang kami tidak mungkin terus tinggal di apartemen. “Kita lihat beberapa rumah hari ini,” lanjutnya. Aku tersenyum kecil. “Baik, Tuan suami.” Andreas mendengus pelan, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Sore harinya, Mobil kami berhenti di sebuah kawasan elit di pusat kota. Deretan rumah besar berdiri rapi dengan pepohonan tinggi di sepanjang jalan. Lingkungannya sangat tenang dan eksklusif. Seorang pria berpakaian rapi sudah menunggu di depan gerbang salah satu rumah. Begitu kami turun dari mobil, ia langsung tersenyum ramah. “Selamat sore, Tuan Andreas. Nyonya Nadira.” Ia menunduk sopan. “Saya Adrian, agen properti yang akan men

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   198

    Siang itu aku datang lebih dulu ke sebuah restoran yang cukup tenang di pusat kota. Tempatnya elegan, dengan jendela besar menghadap jalan dan cahaya matahari yang masuk lembut ke dalam ruangan. Aku duduk di meja dekat jendela sambil menunggu. Beberapa menit kemudian. Seorang pria tinggi dengan jaket hitam masuk ke restoran. Begitu matanya menangkap sosokku, senyumnya langsung muncul. “Nana.” Aku ikut tersenyum lebar. “Danuel.” Ia berjalan mendekat lalu duduk di depanku. Sudah lama sekali sejak terakhir kami bertemu. Wajahnya masih sama, hanya terlihat lebih dewasa dan tenang. “Gila,” katanya sambil tertawa kecil. “Aku pikir kamu masih di luar negeri.” “Aku juga pikir kamu masih keliling dunia.” Danuel mengangkat bahu santai. “Masih. Tapi kalau kamu yang manggil, aku pasti pulang.” Aku menggeleng geli. “Kamu masih sama aja.” Pelayan datang dan kami memesan minuman. Setelah itu, percakapan kami langsung mengalir seperti dulu ringan, tanpa jarak. Danuel menyandarkan pun

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   197

    Mobil melaju membelah jalan malam yang mulai ramai oleh lampu kota. Dari jendela mobil terlihat deretan gedung tinggi dengan cahaya yang berkilauan. Di dalam mobil suasananya hangat dan tenang. Andreas menyetir dengan santai, namun sesekali ia melirik ke arahku. Aku sendiri sejak tadi sibuk menyentuh kalung di leherku. Ujung jariku mengusap berlian kecil itu berkali-kali. Kilauannya memantul oleh lampu jalan. “Cantik…” bisikku pelan, hampir seperti bicara pada diriku sendiri. Andreas melirik lagi sambil tersenyum tipis. “Tapi tidak lebih cantik dari orang yang memakainya.” Aku langsung menoleh padanya. “Kamu gombal.” Andreas menggeleng pelan. “Aku serius.” Ia kembali fokus ke jalan, namun sudut bibirnya masih terangkat samar. Aku hanya mendengus kecil, walau diam-diam pipiku terasa hangat. Beberapa saat kemudian Andreas kembali bicara. “Sayang.” “Hm?” “Aku rasa kamu harus punya asisten pribadi.” Aku mengangguk kecil. “Memang aku juga sudah kepikiran itu.” Dengan ke

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   196

    Butik itu dipenuhi cahaya siang yang masuk dari jendela kaca besar. Interiornya tampak mewah namun tetap hangat dinding berwarna krem lembut, rak kayu walnut yang rapi, dan sofa beludru di sudut ruangan. Di tengah ruangan, berbagai gulungan kain terbentang di atas meja panjang. Aku berdiri di sana dengan beberapa lembar sketsa di tangan. “Yang ini kita pakai silk satin, jatuhnya harus ringan,” kataku sambil menunjuk gambar gaun di kertas. Salah satu karyawan yang direkomendasikan Dirga, Rina, segera mencatat. “Baik, Bu Nadira.” Sementara karyawan lainnya, Maya, memegang beberapa contoh kain. “Yang ini bagaimana, Bu?” tanya Maya sambil memperlihatkan kain berwarna champagne. Aku menyentuhnya sebentar. “Teksturnya bagus… tapi terlalu berat. Cari yang lebih ringan.” “Baik, Bu.” Aku kembali memeriksa sketsa berikutnya. “Untuk koleksi pembukaan nanti kita buat tiga konsep dulu. Elegan, feminin, tapi tetap modern.” “Jangan terlalu ramai di detail. Aku lebih suka po

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   195

    Malam itu kamar hotel murah yang ditempati Maudy terasa pengap. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit, membuat ruangan itu tampak semakin muram. Di atas meja kecil yang penuh noda rokok, sebuah map coklat tergeletak. Maudy duduk di kursi dengan gelisah. Tangannya terus mengetuk meja. Di depannya seorang pria berjaket kulit duduk santai sambil menyalakan rokok. “Ini semua yang kamu minta,” kata pria itu sambil mendorong map ke arah Maudy. Maudy langsung meraihnya cepat. “Cepat sekali,” gumamnya. Pria itu menyeringai. “Kamu bayar mahal. Jadi aku kerjakan cepat.” Maudy tidak menanggapi. Ia langsung membuka map itu. Beberapa lembar dokumen dan foto terlihat di dalamnya. Di halaman pertama terdapat foto Andreas dengan jas hitam rapi. Wajahnya tampan, dingin, dan berwibawa. Maudy menatap foto itu cukup lama. “Gila…” bisiknya. Pria di depannya berkata santai, “Itu baru awal.” Maudy mulai membaca lembar informasi itu. Matanya perlahan membesar. “N

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   194

    Mobil berhenti tepat di depan butikku. Bangunan dua lantai bergaya modern klasik itu berdiri anggun di pusat kota. Papan nama butik yang belum dipasang membuat tempat itu masih terlihat eksklusif dan misterius. Dua ruko dari sana berdiri sebuah bar besar yang cukup terkenal di kota ini. Aku turun dari mobil. Baru saja kakiku menginjak trotoar, langkahku terhenti. Di depanku berdiri seseorang yang sangat familiar. Maudy. Aku tidak kaget melihatnya. Riasannya tebal seperti biasa. Bibir merah menyala. Dress mini yang terlalu mencolok membungkus tubuhnya. Bahkan dari jarak beberapa langkah saja aku bisa mencium bau alkohol yang cukup kuat. Maudy juga melihatku. Matanya langsung melebar. Wajahnya berubah penuh amarah dan kebencian. Ia menunjukku dengan jari gemetar. “Kamu!” Namun sebelum ia sempat melakukan sesuatu yang lebih dramatis, pintu mobil di belakangku terbuka. Andreas keluar. Dengan santai ia berjalan mendekat lalu melingkarkan tangannya di pinggan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status