LOGINBab 21: Ritual Pagi
Fajar di Akademi Aethelgard biasanya disambut dengan denting pedang yang beradu atau rapalan mantra para jenius. Namun, di kamar asrama nomor 303, fajar disambut oleh suasana yang jauh lebih mencekam bagi harga diri seorang ksatria. Kael Gold Glave berbaring kaku di atas tempat tidur Raka yang sempit. Wajahnya ia tutup memakai bantal busa, berharap ada yang menelan eksistensinya saat itu juga. Sebagai Nobel Knight Rank A, Kael memiliki refleks yang sanggup mBab 30:Marco Malam beranjak semakin larut, menyelimuti Akademi Aethelgard dalam keheningan yang dingin. Angin malam berhembus melalui celah-celah pilar batu, membawa udara beku yang membuat sebagian besar penghuni akademi memilih meringkuk di balik selimut. Namun, di koridor asrama elit, langkah kaki berat yang memantulkan ketegasan bergema memecah kesunyian. Valerius van Deimos, sang Kepala Sekolah sekaligus patriark dari salah satu keluarga bangsawan petarung paling ditakuti, berjalan dengan rahang mengeras dan wajah ditekuk tajam. Jubah kebesarannya berkibar pelan di belakangnya. Jam saku emas di balik jasnya sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi putra tunggalnya, Marco, belum juga kembali ke kamarnya. "Ke mana anak itu?" gerutu Valerius, suaranya berat tertahan di tenggorokan, memendam amarah yang siap meledak. "Apakah dia masih keluyuran bersama si Babysitter kelas bawah itu? Setelah naik ke Rank A, dia seharusnya menghabiskan waktu membedah taktik
Bab 29: Dilema Malam telah menyelimuti ibu kota Aethelgard, membawa udara dingin yang biasanya membuat orang-orang lebih memilih meringkuk di balik selimut tebal. Di kediaman mewah keluarga Gold Glave, Tuan Muda Kael berbaring di atas ranjang king-size berkanopi emasnya. Kamar itu memancarkan kemewahan dari setiap sudutnya; permadani Persia yang didatangkan dari benua timur, lampu kristal yang berpendar lembut, dan perapian sihir yang menjaga suhu ruangan tetap hangat. Namun, pemandangan di atas kasur itu sangat bertolak belakang dengan kemegahan di sekitarnya. Kael Gold Glave, ksatria elit Rank S yang baru saja berevolusi, tidak sedang membaca buku taktik militer atau membersihkan pedangnya. Ia baru saja membuka tas selempang akademinya dengan sangat hati-hati, seolah mengeluarkan artefak paling rapuh di dunia. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah botol susu plastik bermotif anak ayam yang masih memancarkan kehangatan dan pendar cahaya keemasan. Itu adalah j
Bab 28: Penolakan Angin siang di taman belakang Akademi Aethelgard seolah berhenti berhembus. Daun-daun ek yang tadinya menari di udara kini jatuh membeku, seakan alam semesta sendiri menahan napas untuk menyaksikan momen paling bersejarah—sekaligus paling memalukan—dalam sejarah para ksatria suci. Bima Ironheart, sang Holy Knight Rank SS kebanggaan angkatan Zenith, pria yang digadang-gadang akan menjadi perisai kerajaan di masa depan, kini berlutut merana di atas rumput. Kedua tangannya memeluk erat betis Raka Nightfall. Air mata keputusasaan yang bercampur dengan rasa iri menetes membasahi sepatu sang Babysitter Rank F. Di tangan Raka, sebuah bungkusan popok bermotif naga api yang berbunyi kresek-kresek seolah menjadi cawan suci yang menjanjikan kekuatan absolut. Raka tersenyum tipis, sebuah senyum manipulatif yang dibungkus dengan kehangatan seorang ayah. Jari telunjuk dan ibu jarinya sudah terangkat, siap untuk menjentikkan Instant Diaper Change dan meresmikan Bim
Bab 27: lulus Angin siang berhembus lembut melintasi taman belakang Akademi Aethelgard, membawa serta guguran daun ek yang menari-nari di udara. Raka Nightfall duduk dengan tenang di bangku taman kayu favoritnya, menikmati ketenangan setelah sesi pemanggilan familiar yang menggemparkan seluruh akademi pagi tadi. Di sebelahnya, Momo si Holy Cow sedang mengunyah rumput dengan sangat khidmat, lonceng kuningan di lehernya berbunyi klontang-klontang menciptakan melodi yang mendamaikan jiwa. Ketengangan itu tiba-tiba dipecahkan oleh derap langkah kaki yang tergesa-gesa. Raka menoleh dan melihat sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan akan terjadi di dunia ini. Kael Gold Glave, sang pewaris tunggal keluarga bangsawan terkaya, ksatria elit yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat menantang langit, kini berlari kencang menghampirinya. Wajah Kael berseri-seri, senyumnya mengembang lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia mengabaikan sama sek
Bab 26: gold glave Lorong Menara Senior pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Kael Gold Glave. Napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup kencang bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena kepanikan sosial yang luar biasa. Setelah sesi sarapan "Bubur Naga" yang emosional bersama Raka dan yang lainnya, Kael menyadari satu hal yang mengerikan: ia benar-benar terlambat untuk kelas Teori Taktik Ksatria tingkat lanjut. Kael berlari melintasi koridor dengan kecepatan ksatria Rank A, jubah sutranya berkibar tertiup angin. Namun, saat ia melewati deretan cermin hias yang terpasang di dinding lorong, ia mendadak mengerem langkahnya hingga sepatunya mencicit keras di atas lantai marmer. Wajah Kael memucat. Ia menatap pantulan dirinya dengan ngeri. Di lehernya, masih terikat erat sebuah celemek bayi (bib) berwarna biru muda dengan gambar anak ayam kuning yang sedang tersenyum lebar. Raka lupa melepaskannya setelah sesi suap-menyuap tadi, dan Kael yang terlalu terobsesi d
Bab 25: Harmoni Elemen Matahari tepat berada di atas kepala saat Kelas Zenith berkumpul di Lapangan Latihan Barat. Area ini bukan sekadar lapangan rumput biasa; tanahnya telah diperkuat dengan sihir pengeras, dan di sekelilingnya terdapat dinding pembatas transparan yang mampu menahan ledakan Mana tingkat tinggi. Aroma tanah kering dan energi magis yang pekat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang sangat kompetitif. Instruktur Luna berdiri tegak di tengah lapangan, elang raksasanya, Zephyr, bertengger di pundaknya dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. "kalian sudah mendapatkan familiar masing masing. Sekarang kita masuk ke inti dari kontrak familiar: Sinkronisasi Skill," suara Luna bergema, tajam dan tanpa basa-basi. "Kalian harus paham perbedaan antara Skill Pasif dan Skill Aktif. Pasif adalah bakat alami familiar yang bekerja secara otomatis tanpa perintah, seperti Heavy Armor milik Tonton. Namun, Skill Aktif—seperti Ice Beam atau Flame Thrower—membutuhka







