로그인Bab 27: lulus
Angin siang berhembus lembut melintasi taman belakang Akademi Aethelgard, membawa serta guguran daun ek yang menari-nari di udara. Raka Nightfall duduk dengan tenang di bangku taman kayu favoritnya, menikmati ketenangan setelah sesi pemanggilan familiar yang menggemparkan seluruh akademi pagi tadi. Di sebelahnya, Momo si Holy Cow sedang mengunyah rumput dengan sangat khidmat, lonceng kuningan di lehernya berbunyi klontang-klontang menciptakan melodi yang mendamaikan jBab 225: Bayangan dan BintangKael berdiri di hadapan Gareth.Cahaya keemasan masih menyelimuti tubuhnya.Di belakangnya, Alaric berlutut sambil menopang tubuh dengan Heaven Splitter.Gareth mengangkat Dark Sword.Alaric segera memperingatkan putranya."Kael...""Hati-hati.""Pedang hitamnya berbahaya."Kael melirik ayahnya."Aku akan berhati-hati."Gareth menyeringai."Bagus.""Karena aku juga tidak akan menahan diri."Namun sebelum Kael kembali menyerang—Ia menoleh ke belakang."Di mana Crow?"Alaric mengerutkan kening."Crow?"Kael melihat ke arah lain.Di kejauhan, Mantis dan Crow masih berhadapan dengan Shade, Fang, dan Raven.Ketiga mantan assassin itu bergerak tanpa kesadaran.Mata mereka masih gelap.Selene mengendalikan tubuh mereka seperti boneka."Serang!"Shade langsung melemparkan pisaunya.Fang menyusul dengan—[Shuriken Strike!]SHING! SHING! SHING!Pul
Bab 224: Putra Sang Panglima Empat lawan satu. Halaman belakang Istana Aethelgard telah berubah menjadi medan perang. CLANG!!! Heaven Splitter kembali beradu dengan pedang hitam Gareth. Alaric terdorong beberapa langkah. Napasnya mulai berat. Darah menetes dari sudut bibirnya. Namun ia masih berdiri. Gareth tersenyum. "Menyerahlah, Paman Alaric." Alaric mengangkat Heaven Splitter. "Jangan panggil aku paman dengan mulut kotormu itu." "Aku masih bisa bertarung." BOOM! Gareth kembali menerjang. Pedang hitamnya menghantam Heaven Splitter. CLANG! CLANG! Alaric menangkis dua serangan. Namun— WHOOSH! Lucian muncul dari belakang. SLASH! Alaric memutar tubuh dan menahan serangan tersebut. Belum sempat bernapas— "Darkfall." Selene mengangkat tangannya. WHOOOOM! Gelombang sihir hitam melesat. Alaric melompat ke samping. BOOM!!! Tanah tempatn
Bab 223: Boneka dan BayanganHelios menatap Alaric yang masih berdiri dengan Heaven Splitter di tangannya.Senyumnya menghilang."Kalau Paman Alaric begitu ingin mati..."Ia mengangkat tangannya."Aku akan mengabulkannya."Tatapannya menjadi dingin."Serang dia."Kelima elit langsung bergerak.BOOM!Gareth melesat paling dahulu.Pedang hitamnya beradu dengan Heaven Splitter.CLANG!!!Gelombang kejut menyebar.Alaric terdorong beberapa langkah.Gareth justru tertawa."Hebat!"Ia kembali mengayunkan pedangnya.CLANG! CLANG!Alaric menangkis setiap serangan."Pengguna pedang..."Gareth menyeringai."Aku sudah lama mencari lawan sepertimu!"BOOOOOOM!Kedua pedang beradu lagi.Alaric lebih kuat.Namun Gareth tidak mundur sedikit pun.Setiap kali ter
Bab 222: Lima Elit Ordo Matahari HitamAsap perlahan menghilang.Retakan panjang akibat Heaven Splitter membelah halaman Istana Aethelgard.Shade, Fang, dan Raven tergeletak beberapa meter dari titik benturan."Aduh..."Shade memegangi kepalanya.Fang bangkit sambil membersihkan debu dari pakaiannya.Raven merapikan rambut hitamnya yang berantakan.Viper langsung berlari menuju Alaric."Paman Alaric!"Alaric masih menggenggam pedangnya.Tatapannya tertuju pada tiga assassin di belakang Viper."Mereka menyerang kalian?"Viper buru-buru mengangkat kedua tangan."Jangan serang mereka!"Alaric mengerutkan kening."Kenapa?"Viper menunjuk Shade, Fang, dan Raven."Mereka cuma mantan anak buahku yang bodoh!"Shade langsung berdiri."Ketua!"Fang ikut protes."Kenapa kami selalu disebut bodoh?!"
Bab 221: Mantan BawahanBOOOOOOOOOOM!!!Ledakan mengguncang Istana Aethelgard.Alaric Goldglave langsung bergerak.Rose yang berada di sampingnya hampir kehilangan keseimbangan."Rose!"Alaric menarik istrinya ke dalam pelukan dan memutar tubuhnya.CRASH!Pecahan kaca beterbangan.Namun semuanya menghantam punggung Alaric.Rose menatapnya cemas."Alaric!""Aku tidak apa-apa."Alaric segera membawa Rose keluar melalui pintu samping istana.Begitu sampai di halaman, Rose langsung menoleh ke belakang."Kael...""Dia masih di dalam."Alaric mengangguk."Kael bisa menjaga dirinya sendiri.""Dia seorang ksatria."Rose menghela napas."Aku percaya padanya."Alaric tersenyum."Dia anak kita."Ia kemudian membuka pintu kereta kuda."Masuk."Rose masih ragu."Bagaimana denganmu?""Aku akan kembali."Alaric menatap istana yang dipenuhi asap."Aku akan membantu melindungi Yang Mulia."Rose menggenggam tangannya."Sayang...""Jaga dirimu."Alaric tersenyum."Kau juga."Kereta pun bergerak meningga
Bab 220: Ledakan di IstanaRaja masih menatap Jack dengan ekspresi penuh kenangan."Erick Carpenter..."Ia tersenyum tipis."Sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu."Jack mengangkat wajah."Yang Mulia benar-benar mengenal kakek saya?"Raja mengangguk."Ketika aku masih muda..."Tatapannya menerawang."Aku pernah berburu di hutan bersama beberapa pengawal.""Namun kami diserang monster."Jack membelalak."Monster?""Ya.""Seekor monster yang jauh lebih kuat daripada yang kami perkirakan."Raja tertawa kecil."Para pengawalku sudah terluka. Aku sendiri hampir tidak bisa bergerak."Raja menatap tangannya sendiri.Seolah masih mengingat bagaimana rasanya tidak berdaya."Lalu...""Erick muncul."Jack terdiam."Ia mengalahkan monster itu dan menyelamatkanku."Raja menghela napas."Sebagai seorang raja muda, tentu saja aku ingin memberinya hadiah.""Tapi kakekmu menolak.""Dia hanya berkata..."Raja tersenyum."Yang Mulia tidak perlu membayar nyawa dengan harta."Jack terdiam.Raja m
Bab 78: Harga Sultan Di tengah himpitan tekanan aura emas [Royal Dragon Pressure] yang membuat paving blok pelataran arena retak halus, Raka Nightfall tetap berdiri tegak. Dengan celemek beruang kesayangannya yang berkibar pelan, ia justru melipat kedua lengannya dengan santai, memancarkan
Bab 64: Resonansi Sang Naga "Di sudut kiri, Cahaya Aethelgard, BIMA IRONHEART! Dan di sudut kanan, Matahari Solaris, PRINCE LEONIDAS!" suara penyiar menggelegar ke seluruh penjuru stadion. Sorak-sorai penonton kembali pecah, Jika pada pertandingan Elena melawan Seraphina tribun dikuas
Bab 61: Tenang Sebelum Badai Ribuan penonton telah dievakuasi dengan pengawasan ketat, meninggalkan kursi-kursi kosong yang tampak membisu menyaksikan kawah kehancuran di pusat arena. Di tengah kawah itu, Duke Valerian Isabella berdiri dengan jubah Archmage-nya yang berkibar pelan. Wa
Bab 38: Kesalahpahaman Aroma dupa herbal yang menenangkan memenuhi udara di kamar utama kediaman Gold Glave. Tabib Tertinggi Istana baru saja merapikan peralatan medisnya setelah selesai memeriksa nadi Alaric van Gold Glave. Sang tabib tua itu menggelengkan kepalanya pelan, sebuah pemandang







