Share

BAB 3 - Setengah Aset Perusahaan

Author: Rianoir
last update Last Updated: 2026-01-19 12:09:02

Ryan langsung bereaksi, kebiasaan instingtif dari medan perang. Teriakan bisa menarik musuh. Harus dibungkam.

Dia menutup shower dengan cepat, meraih handuk terdekat untuk menutupi pinggangnya, lalu dalam gerakan cepat menutup mulut wanita itu dengan tangannya.

"Mmmphhh!" Celeste meronta, matanya menatap Ryan dengan tatapan campuran shock, takut, dan marah.

"Ssstt! Jangan teriak!" bisik Ryan panik. "Aku bukan orang jahat! Serius! Aku cuma mau mandi, aku tidak tahu kau ada di sini! Pintunya tidak dikunci!"

Celeste meronta lebih keras, mencoba mendorong dada Ryan.

"Dengar," kata Ryan sambil menatap wajah wanita di hadapannya, sekarang dari jarak sangat dekat. Rambut basah yang menempel di pipi, mata cokelat yang indah meski penuh amarah, bibir yang terkatup karena mulutnya ditutup tangan Ryan. "Aku tidak akan melakukan apapun. Aku janji. Kau mengerti?"

Ryan baru menyadari sesuatu. Wajah ini... dia kenal wajah ini.

Foto di buku nikah!

Ini... Celeste Thornfield?!

Istrinya?!

Celeste perlahan mengangguk, meski matanya masih penuh kecurigaan.

Ryan perlahan melepaskan tangannya dari mulut Celeste.

"Da… dasar mesum!" Celeste langsung mendorong dada Ryan dengan keras. Wajahnya merah padam, entah karena malu atau marah, atau keduanya. "Kau... kau..."

DRRRT! DRRRT!

Ponsel berdering dari meja nakas di kamar.

Keduanya langsung menoleh ke arah suara.

"Ponselku..." gumam Celeste, masih dengan napas tersengal.

Dia langsung meraih jubah mandi yang tergantung di dekat pintu dan memakainya dengan tergesa-gesa, lalu berlari keluar ke kamar tidur.

Ryan mengikutinya, masih canggung dengan handuk di pinggangnya, berdiri di ambang pintu kamar mandi.

Celeste meraih ponselnya yang masih berdering. "Halo?"

"Celeste!" Suara Viktor Thornfield, ayah Celeste, terdengar dari speaker, cukup keras sampai Ryan bisa dengar dari kejauhan. "Sudah ketemu dengan suamimu?"

Celeste membeku.

Tubuhnya kaku total. Perlahan, sangat perlahan, kepalanya berputar menatap Ryan yang berdiri di pintu kamar mandi dengan handuk.

Tidak.

Mungkin.

Ini pria itu?!

"A... Ayah?" suaranya bergetar.

"Iya! Ryan Hendrikson sudah sampai kan? Ayah tadi pagi telepon dia, memberinya alamat rumahmu. Dia pria baik, Ayah jamin. Kalian harus..."

Ryan, melihat kesempatan emas untuk klarifikasi situasi kacau ini, melangkah maju dan mengambil ponsel dari tangan Celeste yang lemas.

"Halo, Pak Viktor," kata Ryan dengan nada sopan. "Ryan Hendrikson."

"Ah! Ryan! Kau sudah sampai! Bagus!" Ayahnya terdengar sangat gembira. "Sudah ketemu Celeste kan? Cantik kan putriku? Ayah..."

"AYAH!" Celeste merebut kembali ponselnya dengan kasar. Wajahnya merah padam, napasnya memburu. "AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGAN PRIA INI!"

"Lho? Kenapa? Kalian sudah sah secara hukum, sayang..."

"TIDAK PEDULI! AKU MAU CERAI! SEKARANG! HARI INI!"

Hening sejenak di ujung sana.

"Celeste, sayang..." suara ayahnya berubah serius. "Kau tidak bisa cerai semudah itu. Pernikahan kalian ada kontraknya. Sudah diatur oleh Kakekmu. Pihak yang meminta cerai harus membayar setengah aset keluarga kepada pihak lain sebagai kompensasi..."

"APA?!" Celeste hampir menjatuhkan ponselnya. Matanya melotot. "Ayah, apa maksudnya?! Kontrak macam apa itu?!"

"Ini demi kebaikanmu, nak. Pernikahan ini sudah diatur dengan sangat hati-hati. Kalau kau cerai sekarang, kau harus bayar Ryan setengah dari aset Thornfield Group..."

"SETENGAH ASET THORNFIELD GROUP?!" Celeste berteriak frustasi maksimal. "AYAH, ITU TRILIUNAN!"

"Makanya jangan cerai," jawab ayahnya tenang. "Ryan pria baik. Kalian harus saling mengenal dulu. Ayah yakin kalian..."

"MENGENAL?!" Celeste meledak. "DIA MASUK KAMAR MANDI SAAT AKU SEDANG BERENDAM! DIA MANDI TELANJANG DI SEBELAHKU!"

Hening yang sangat, sangat panjang.

"...Ryan?" suara ayahnya pelan, hati-hati.

Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pintunya tidak dikunci, Pak. Rumahnya kosong. Saya pikir tidak ada orang. Saya mau mandi, tidak tahu Nona Celeste berendam di bathtub. Shower dan bathtubnya terpisah, saya tidak lihat dia dari luar..."

Ayahnya tertawa, agak canggung. "Oh... Haha. Ya, ya. Kesalahan komunikasi. Celeste, jangan marah dulu..."

"AYAH!"

"Yang penting kalian sudah ketemu. Sekarang kalian bisa ngobrol baik-baik. Ryan, jaga putriku ya. Ayah masih ada rapat..."

"AYAH, TUNGGU..."

Tut. Tut. Tut.

Celeste menatap ponselnya dengan ekspresi tidak percaya. "Dia... dia tutup teleponnya..." gumamnya lirih.

Ryan masih berdiri canggung dengan handuk, tidak tahu harus bilang apa.

Celeste berbalik menatapnya dengan tatapan membunuh. "KAU! PAKAI BAJU! SEKARANG! INI SANGAT TIDAK PANTAS!"

"Oh. Iya, tentu." Ryan mengangguk cepat. "Tapi... bajuku basah. Tadi aku..."

"SANA KELUAR! TUNGGU DI RUANG TAMU!"

Ryan langsung keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, menutup pintu di belakangnya.

Celeste menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ini mimpi buruk... Pasti mimpi buruk..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 12: Tiga Syarat

    Ryan berdiri dari kursinya dengan gerakan yang tenang.Celeste menatapnya dengan terkejut. "Apa yang kau lakukan? Saya belum selesai berbicara.""Saya pikir sudah jelas," kata Ryan. "Anda ingin saya pergi. Baiklah. Saya akan pergi."Dia berbalik dan berjalan menuju pintu.Celeste terpaku. Tangan Ryan sudah di handle pintu."Ryan, tunggu!" kata Celeste tanpa berpikir.Ryan berhenti. Dia berbalik sedikit. "Ya?"Celeste membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. "Aku... saya maksudnya... lalu apa yang akan kau lakukan?"Ryan mengangkat bahu dengan santai. "Ke Horizon International di sebelah untuk menemui Nona Sinclair. Dia sudah menjanjikan saya posisi manajer dengan gaji tiga puluh juta per bulan.""KAU TIDAK BOLEH KE HORIZON INTERNATIONAL!"Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Celeste sebelum dia bisa menahannya. Begitu dia menyadari apa yang dia katakan, wajahnya langsung memerah.Ryan menatapnya dengan sedikit terkejut.Celeste menenangkan diri. Horizon International milik Elara

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 11 - Dipecat?

    Emma Snow dan Ryan berdiri di dalam lift yang bergerak naik dengan tenang. Keheningan yang sangat tidak nyaman menyelimuti ruang sempit itu.Emma berdiri dengan postur sempurna di sudut lift, menatap angka lantai yang berubah tanpa melirik Ryan sedikitpun. Wajahnya dingin dan profesional, seperti patung es yang tidak bisa disentuh.Ryan berdiri dengan santai di sisi lain lift, tangannya di saku celana. Dia mencoba mencairkan suasana."Sudah lama bekerja untuk Presiden Thornfield?" tanya Ryan dengan nada ramah."Tiga tahun," jawab Emma dengan singkat tanpa menoleh. Suaranya datar, tidak memberikan ruang untuk percakapan lebih lanjut."Pasti menyenangkan bekerja dengannya."Emma akhirnya melirik Ryan dengan tatapan yang tajam dan penuh penilaian. "Presiden Thornfield adalah pemimpin yang sangat baik dan sangat profesional. Saya menghormatinya dengan sepenuh hati."Nada bicaranya seperti memberikan peringatan halus: jangan macam-macam dengan bossku.TING!Lift berbunyi saat tiba di lanta

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 10 - Panggilan

    Daniel Hayes menutupi pipinya yang bengkak sambil menatap Ryan dengan tatapan penuh dendam yang menyala-nyala. Matanya berputar-putar seakan-akan melihat bintang karena efek tamparan keras tadi. Tetapi karena ada David dan Sophie di ruangan, dan dia tidak ingin kehilangan muka lebih jauh lagi, dia hanya berkata dengan gigi yang terkatup rapat, "Tidak... apa-apa."Ryan membantu Daniel duduk di sofa kecil di samping ruangan dengan sikap yang sangat perhatian, seolah benar-benar merasa bersalah atas "kesalahpahaman" tadi.David menatap Ryan dengan kagum sekaligus bingung. Temperamen macam apa yang dimiliki orang ini? Satu detik dia bisa sangat garang seperti singa yang melindungi wilayahnya, detik berikutnya dia terlihat sangat jujur dan penuh penyesalan. Transisi terlalu cepat sampai dia tidak bisa mengikuti ritmenya!Sophie menatap Ryan dengan pandangan yang kompleks. Awalnya dia merasa sangat berterima kasih karena Ryan membelanya dari pelecehan Daniel. Tetapi setelah melihat R

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 9 - Pelecehan

    "Baiklah, baiklah," kata Marcus sambil bertepuk tangan untuk menarik perhatian semua orang. "Cukup bergosip. Ryan, ayo kita urus dokumen keamananmu. Setelah selesai, kau bisa langsung mulai bekerja.""Terima kasih, Bro Marcus."Ternyata, dengan dukungan tidak langsung dari kedua presiden cantik itu, dokumen keamanan Ryan diproses dengan sangat lancar. Dalam waktu kurang dari satu jam, semua administrasi selesai dan dia resmi menjadi anggota tim keamanan Moonbrook Tower.Tim keamanan terdiri dari 31 orang termasuk Ryan, dibagi menjadi tiga kelompok yang bertugas secara bergiliran. Marcus Stone adalah kepala tim keamanan sekaligus memimpin kelompok pertama. Ryan ditugaskan ke kelompok Marcus.Karena ini hari pertamanya, Ryan tidak langsung diberi tugas patroli. Marcus yang terlalu sibuk dengan pekerjaan administrasi meminta David Porter untuk membawa Ryan berkeliling mengenal lingkungan kerja dan area patroli."Bro Ryan, ikut saya," kata David dengan ramah. "Saya akan menunjukkan rua

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 8 - Pilihan Ryan

    Keheningan yang canggung menyelimuti area depan Moonbrook Tower.Ryan dan Celeste saling menatap. Elara berdiri di antara mereka dengan ekspresi bingung, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba menjadi tegang ini.Marcus dan para satpam lainnya juga merasakan atmosfer yang aneh, tetapi tidak berani bertanya.Celeste adalah orang pertama yang memecah keheningan. Dia menatap Ryan dengan tatapan tajam yang seolah mengatakan "jangan macam-macam," lalu sedikit mengangkat dagunya dan berjalan melewati Ryan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan ritme yang tegas saat dia memasuki gedung.Ryan menatap punggung Celeste yang menjauh dengan ekspresi rumit.Elara memperhatikan interaksi singkat antara Ryan dan Celeste dengan rasa penasaran, tetapi dia tidak bertanya. Sebagai gantinya, dia kembali fokus pada tawaran yang sudah dia berikan."Jadi, Ryan," kata Elara sambil melipat tangannya. "tiga puluh juta per bulan, belum termasuk bonus dan komisi. Ini taw

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 7 - Bertemu Elara Lagi

    Marcus tertawa, pertama kali sejak insiden dimulai. "Orang biasa? Orang biasa tidak bisa memukul Garrett Blackwood seperti itu dan tetap tenang." Dia mengulurkan tangannya. "Marcus Stone. Kepala keamanan Moonbrook Tower."Ryan menjabat tangannya. "Ryan Hendrikson.""Dengar, Ryan," kata Marcus dengan nada serius. "Aku menghargai apa yang kau lakukan tadi. Kami semua menghargainya. Tapi... kau harus tahu konsekuensinya. Garrett akan melapor ke ayahnya. Ayahnya akan telepon perusahaan security kami. Dan kemungkinan besar...""Aku akan dipecat sebelum sempat dipekerjakan?" Ryan menyelesaikan kalimatnya."Ya," jawab Marcus dengan nada menyesal."Tidak masalah," kata Ryan. "Saya sudah terbiasa dengan situasi sulit."Marcus menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, salah satu satpam muda berteriak..."Pak Marcus! Nona Sinclair datang!"Semua orang menoleh.Suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah gedung. Seorang wanita cantik berjalan keluar d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status