Share

BAB 4 - Satpam

Author: Rianoir
last update Last Updated: 2026-01-19 12:13:14

Lima belas menit kemudian, keduanya duduk di ruang tamu.

Celeste sudah berganti pakaian, blus putih rapi dan celana kantor hitam, rambut diikat kencang. Duduk dengan postur kaku di sofa single.

Ryan duduk di sofa panjang seberang, sudah pakai celana dan kemeja yang agak lembab, tidak ideal tapi lebih baik daripada cuma pakai handuk.

Suasana canggung.

Sangat canggung.

Celeste menatap Ryan dengan tatapan dingin. "Jadi. Kau Ryan Hendrikson."

"Iya."

"Dan kau... suamiku." Celeste hampir tersedak saat bilang kata "suami".

"Secara teknis, iya, aku suamimu," jawab Ryan hati-hati.

"JANGAN PANGGIL DIRIMU SUAMIKU!"

Ryan mengangguk cepat. "Oke. Maaf."

Celeste menghela napas panjang, berusaha tenang. "Baiklah. Mari kita bicarakan ini seperti orang dewasa. Aku tidak tahu kenapa keluarga kita mengatur pernikahan ini. Tapi jelas, kita tidak saling kenal. Kita tidak cocok. Jadi solusi terbaiknya adalah..." Dia berhenti, mengerutkan kening. "Tapi karena ada kontrak bodoh itu..."

"Setuju soal kontraknya cukup... ekstrem," kata Ryan.

Celeste menatapnya dengan curiga. "Kau tahu soal kontrak itu sebelumnya?"

"Tidak. Baru tahu dari telepon tadi."

"Hmm." Celeste menyipitkan mata, mengamati Ryan dari atas ke bawah. "Kau kerja apa?"

Ryan diam sejenak. "Saat ini... tidak punya pekerjaan."

"Tidak punya pekerjaan?!" Celeste menatapnya tidak percaya. "Lalu kau hidup dari apa?"

"Aku baru sampai di kota ini kemarin. Belum sempat cari kerja."

Celeste memijat pelipisnya. "Luar biasa. Aku dapat suami pengangguran."

"Kalau kau mau," kata Ryan dengan nada datar, "aku bisa kerja. Kau direktur perusahaan kan? Bisa atur aku kerja di perusahaanmu. Terserah posisi apa. Yang penting gajinya cukup buat makan dan beli rokok."

Celeste menatapnya lama. Ekspresinya sulit dibaca. Lalu tiba-tiba dia tersenyum, tapi senyum yang tidak hangat. Senyum yang lebih mirip seringai.

"Baiklah. Aku punya posisi yang sempurna untukmu."

"Posisi apa?"

"Satpam."

Ryan membeku. "Satpam?"

"Security. Penjaga keamanan." Celeste melipat tangan dengan puas. "Perusahaanku butuh satpam. Kau kelihatannya cukup... kekar untuk pekerjaan itu."

"Satpam?" Ryan mengerutkan kening. "Bukannya ada posisi lain yang lebih..."

"Lebih apa?" potong Celeste. "Kau bilang sendiri tidak punya pekerjaan, tidak punya keahlian khusus. Satpam sudah sangat bagus."

Ryan ingin protes, tapi Celeste sudah berdiri dan mulai monolog panjang lebar.

"Lagipula, pekerjaan satpam itu sangat penting!" katanya dengan semangat berlebihan, jelas mengolok-olok. "Keamanan perusahaan, aset, karyawan, semua bergantung pada satpam! Thornfield Group punya ribuan karyawan. Kalau keamanan tidak terjaga, produksi terganggu, karyawan khawatir, perusahaan rugi, ekonomi nasional terganggu..."

"Stop." Ryan mengangkat tangan. "Oke, oke. Aku mengerti maksudmu."

Celeste berhenti, menatapnya dengan senyum kemenangan. "Jadi?"

Ryan menghela napas panjang. Dia, mantan Dewa Perang dan Raja Tentara Bayaran, War God Ares yang ditakuti di seluruh dunia underground, sekarang ditawari jadi satpam oleh istrinya sendiri.

"Baiklah. Satpam. Aku terima."

"Bagus!" Celeste terlihat sangat puas. "Kau mulai besok pagi jam tujuh. Jangan terlambat."

"Dimengerti."

Celeste melirik jam dinding, sudah sore. "Sekarang... kau tinggal di mana?"

"Belum ada tempat."

"Kalau begitu..." Celeste ragu sejenak. Dia tahu secara teknis Ryan berhak tinggal di rumah ini, dia suaminya, meski Celeste benci mengakuinya. "Kau bisa tinggal di sini. Ini rumahmu juga, secara hukum. Tapi dengar baik-baik. Ada aturan."

"Aturan?"

"Pertama, kau tidur di kamar tamu. Kedua, jangan pernah masuk kamarku tanpa izin. Ketiga, jangan ganggu aku. Kita hidup terpisah di rumah yang sama. Mengerti?"

"Mengerti."

"Bagus." Celeste berdiri. "Sekarang sudah malam. Kau... ngantuk?"

Ryan menatapnya, dan entah kenapa otaknya langsung berpikir ke arah yang salah. Wajahnya sedikit memerah. "Eh... lumayan?"

Celeste menunjuk sofa panjang di ruang tamu. "Sofa itu cukup empuk. Kalau kurang nyaman, ada karpet tebal. Sekarang aku mau istirahat. Jangan ganggu aku."

Ryan mengerjap. "Tunggu, apa?"

"Memang kau pikir apa?" Celeste menatapnya dengan jijik. "Kau pikir aku akan ajak kau tidur di kamar yang sama? Mimpi kali!"

Ryan tersenyum canggung. "Oh. Tentu. Sofa. Oke."

Celeste berjalan ke tangga, tapi sebelum naik, dia berbalik. "Dan Ryan?"

"Ya?"

"Besok jangan terlambat. Kalau kau terlambat di hari pertama, aku pecat. Kontrak pernikahan atau bukan."

"Siap, Presiden Thornfield."

Celeste mengangguk, lalu naik ke lantai dua. Ryan mendengar suara pintu kamar ditutup, dan dikunci. Bahkan ada suara furniture diseret, mungkin lemari didorong ke depan pintu.

Ryan merebahkan diri di sofa, menatap langit-langit mansion mewah ini.

Kehidupan barunya dimulai besok.

Sebagai satpam.

Di perusahaan istrinya.

Istri yang membencinya.

Ryan tersenyum tipis dalam kegelapan.

"Menarik."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 12: Tiga Syarat

    Ryan berdiri dari kursinya dengan gerakan yang tenang.Celeste menatapnya dengan terkejut. "Apa yang kau lakukan? Saya belum selesai berbicara.""Saya pikir sudah jelas," kata Ryan. "Anda ingin saya pergi. Baiklah. Saya akan pergi."Dia berbalik dan berjalan menuju pintu.Celeste terpaku. Tangan Ryan sudah di handle pintu."Ryan, tunggu!" kata Celeste tanpa berpikir.Ryan berhenti. Dia berbalik sedikit. "Ya?"Celeste membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. "Aku... saya maksudnya... lalu apa yang akan kau lakukan?"Ryan mengangkat bahu dengan santai. "Ke Horizon International di sebelah untuk menemui Nona Sinclair. Dia sudah menjanjikan saya posisi manajer dengan gaji tiga puluh juta per bulan.""KAU TIDAK BOLEH KE HORIZON INTERNATIONAL!"Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Celeste sebelum dia bisa menahannya. Begitu dia menyadari apa yang dia katakan, wajahnya langsung memerah.Ryan menatapnya dengan sedikit terkejut.Celeste menenangkan diri. Horizon International milik Elara

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 11 - Dipecat?

    Emma Snow dan Ryan berdiri di dalam lift yang bergerak naik dengan tenang. Keheningan yang sangat tidak nyaman menyelimuti ruang sempit itu.Emma berdiri dengan postur sempurna di sudut lift, menatap angka lantai yang berubah tanpa melirik Ryan sedikitpun. Wajahnya dingin dan profesional, seperti patung es yang tidak bisa disentuh.Ryan berdiri dengan santai di sisi lain lift, tangannya di saku celana. Dia mencoba mencairkan suasana."Sudah lama bekerja untuk Presiden Thornfield?" tanya Ryan dengan nada ramah."Tiga tahun," jawab Emma dengan singkat tanpa menoleh. Suaranya datar, tidak memberikan ruang untuk percakapan lebih lanjut."Pasti menyenangkan bekerja dengannya."Emma akhirnya melirik Ryan dengan tatapan yang tajam dan penuh penilaian. "Presiden Thornfield adalah pemimpin yang sangat baik dan sangat profesional. Saya menghormatinya dengan sepenuh hati."Nada bicaranya seperti memberikan peringatan halus: jangan macam-macam dengan bossku.TING!Lift berbunyi saat tiba di lanta

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 10 - Panggilan

    Daniel Hayes menutupi pipinya yang bengkak sambil menatap Ryan dengan tatapan penuh dendam yang menyala-nyala. Matanya berputar-putar seakan-akan melihat bintang karena efek tamparan keras tadi. Tetapi karena ada David dan Sophie di ruangan, dan dia tidak ingin kehilangan muka lebih jauh lagi, dia hanya berkata dengan gigi yang terkatup rapat, "Tidak... apa-apa."Ryan membantu Daniel duduk di sofa kecil di samping ruangan dengan sikap yang sangat perhatian, seolah benar-benar merasa bersalah atas "kesalahpahaman" tadi.David menatap Ryan dengan kagum sekaligus bingung. Temperamen macam apa yang dimiliki orang ini? Satu detik dia bisa sangat garang seperti singa yang melindungi wilayahnya, detik berikutnya dia terlihat sangat jujur dan penuh penyesalan. Transisi terlalu cepat sampai dia tidak bisa mengikuti ritmenya!Sophie menatap Ryan dengan pandangan yang kompleks. Awalnya dia merasa sangat berterima kasih karena Ryan membelanya dari pelecehan Daniel. Tetapi setelah melihat R

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 9 - Pelecehan

    "Baiklah, baiklah," kata Marcus sambil bertepuk tangan untuk menarik perhatian semua orang. "Cukup bergosip. Ryan, ayo kita urus dokumen keamananmu. Setelah selesai, kau bisa langsung mulai bekerja.""Terima kasih, Bro Marcus."Ternyata, dengan dukungan tidak langsung dari kedua presiden cantik itu, dokumen keamanan Ryan diproses dengan sangat lancar. Dalam waktu kurang dari satu jam, semua administrasi selesai dan dia resmi menjadi anggota tim keamanan Moonbrook Tower.Tim keamanan terdiri dari 31 orang termasuk Ryan, dibagi menjadi tiga kelompok yang bertugas secara bergiliran. Marcus Stone adalah kepala tim keamanan sekaligus memimpin kelompok pertama. Ryan ditugaskan ke kelompok Marcus.Karena ini hari pertamanya, Ryan tidak langsung diberi tugas patroli. Marcus yang terlalu sibuk dengan pekerjaan administrasi meminta David Porter untuk membawa Ryan berkeliling mengenal lingkungan kerja dan area patroli."Bro Ryan, ikut saya," kata David dengan ramah. "Saya akan menunjukkan rua

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 8 - Pilihan Ryan

    Keheningan yang canggung menyelimuti area depan Moonbrook Tower.Ryan dan Celeste saling menatap. Elara berdiri di antara mereka dengan ekspresi bingung, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba menjadi tegang ini.Marcus dan para satpam lainnya juga merasakan atmosfer yang aneh, tetapi tidak berani bertanya.Celeste adalah orang pertama yang memecah keheningan. Dia menatap Ryan dengan tatapan tajam yang seolah mengatakan "jangan macam-macam," lalu sedikit mengangkat dagunya dan berjalan melewati Ryan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan ritme yang tegas saat dia memasuki gedung.Ryan menatap punggung Celeste yang menjauh dengan ekspresi rumit.Elara memperhatikan interaksi singkat antara Ryan dan Celeste dengan rasa penasaran, tetapi dia tidak bertanya. Sebagai gantinya, dia kembali fokus pada tawaran yang sudah dia berikan."Jadi, Ryan," kata Elara sambil melipat tangannya. "tiga puluh juta per bulan, belum termasuk bonus dan komisi. Ini taw

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 7 - Bertemu Elara Lagi

    Marcus tertawa, pertama kali sejak insiden dimulai. "Orang biasa? Orang biasa tidak bisa memukul Garrett Blackwood seperti itu dan tetap tenang." Dia mengulurkan tangannya. "Marcus Stone. Kepala keamanan Moonbrook Tower."Ryan menjabat tangannya. "Ryan Hendrikson.""Dengar, Ryan," kata Marcus dengan nada serius. "Aku menghargai apa yang kau lakukan tadi. Kami semua menghargainya. Tapi... kau harus tahu konsekuensinya. Garrett akan melapor ke ayahnya. Ayahnya akan telepon perusahaan security kami. Dan kemungkinan besar...""Aku akan dipecat sebelum sempat dipekerjakan?" Ryan menyelesaikan kalimatnya."Ya," jawab Marcus dengan nada menyesal."Tidak masalah," kata Ryan. "Saya sudah terbiasa dengan situasi sulit."Marcus menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, salah satu satpam muda berteriak..."Pak Marcus! Nona Sinclair datang!"Semua orang menoleh.Suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah gedung. Seorang wanita cantik berjalan keluar d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status