로그인"Jadilah suamiku, setelah itu kamu bisa membeli semua wanita yang pernah merendahkan kamu!” Arfeen Mahesvara seorang mahasiswa tingkat akhir yang menyandang predikat mahasiswa termiskin di kampusnya tiba-tiba menggemparkan seisi kota dengan menjadi suami dari Larena Jayendra yang usianya terpaut jauh di atasnya. Pasca menjadi suami Larena, Arfeen tak lantas bisa menikmati hidupnya karena ia hanya dianggap sampah oleh keluarga sang istri. Namun tak ada yang tahu bahwa dibalik wajah rupawan Arfeen, tersembunyi seorang iblis yang kejam.
더 보기Emma's POV
“Are you sure about that?” I asked my mom as soon as she flashed her diamond ring in my face. She's been head over heels in love with her new man, and while they get on my nerves sometimes, especially on the days I caught them making out in the living room, one thing I can't deny is the fact that they are good together. “Yes honey.” She replied beaming. “What's wrong?” Mom looked concerned, she probably sensed that I wasn't so cool with it, but I didn't want to be the party pooper. “Oh no. Don't get me wrong. I just wanted to make sure that you are certain about it.” I replied to her. “Besides, is it an old people's thing to not propose in public. Why did he slip the ring under the duvet?” I teased her. “Please!” She said, laughing. Before Mark, my soon to be step dad, it's been a really long while since I saw my mom so happy. She was a workaholic. A lifestyle I think she picked up after my dad. It was a great save from alcohol, but I still didn't have her to myself, it was all work, then Mark came along. “So what's next?” Do I get to be on your train?” I asked. She seemed so eager to laugh at every single thing. That probably is what happiness feels like. I hope I get to experience it someday. “You know that's a given.” She replied. I wasn't expecting that. I know it was a little delusional of me to think it was all a joke, but some part of me really wished it was. I needed my mom! Her marriage to Mark was going to mean a lot. Mark is a great guy, but I'd rather we stayed like this. I don't ever want anyone else to hurt my mom the way dad did. He broke her so bad, she could not help it. Our life wasn't so great afterwards, but it was at least drama free. Mark, who owns a chain of stores, one of which my mom operated, started visiting more often, and not just for business sake. In the beginning, it was nice that she came back from work less grumpy. Or that she started staying out a little later, giving me a itsy-bitsy little bit of freedom. Then she brought back leftovers, which were far more classy than the veggies we always had for dinner. I was excited and wished that whatever was driving change in this direction never stopped. Then she started coming home with my own pack. I knew she couldn't afford that from her salary, and that was where the suspicion started setting in. I mean, it was great that I could finally relate to all the great foods the girls at school always talked about, but I had my mom less. Mom was home less frequently, fortunately or unfortunately, it was also around that time that a new neighbor moved in with her kids, both about my age. Kayla made the first move. “Hi, I'm Kayla, he's Kevin.” She broke into my thoughts on one of those days when I stood in the hallway, hoping no one saw me while I gawked at how toned ‘he’ was. It had always been ‘he’, now I knew his name, I could call him by his name in my dreams. Shamelessly, I was enjoying the fact that he was stealing my dreams and that I said everything I ever wanted to say to him in real life there. “Oh. Uhm. Hi, Kay, Kayla.” I stuttered dumbly after she snuck up on me. Her voice clearly betrayed that she found it amusing. She was seconds away from ripping at the seams. “I'll tell him you fancy him. Some yeast to his ego that is already far off the roof.” She gave an eye roll and stalled off. She was a very attractive girl. For a second, she made me wish I was into women. I'd have all that beauty to myself, till my eyes caught Kevin again. I instantly unwished it. He was a Greek God in the form of a high school kid. “Oh, and he takes your classes too.” Kayla turned back and said when she was already within his earshot. Kevin turned back immediately and looked at who Kayla was referring to. Determined to not let him see me, I turned back and ran back into the house. I'm not proud of the last bit of memory I have from that morning, but the story is really incomplete without it. Mom always had the decency to not be in the same space I was when she and Mark were on their never ending calls they made when Mark was out of town. This time around, I ran inside determined not to let Kevin see who his stalker was. Mom was clothless, stark naked. I wished that was all. She was on a video call with Mark, and trust me when I say she had more clothes on than he did. I immediately ran back out, screaming. This time around, Kevin and Kayla ran towards me. With each step he took, I saw his thighs contract and relax, his hair toddling in the breeze, and his eyes looking for who just made the eerie sound in the ever quiet hallway. They had gotten really close before I remembered that I had to have something to tell them. Stupid me! I can't say anything about mom, never, that was between her and I… “Are you alright?” He asked. The moment he opened his mouth, I wished he took mine in his. My hormones were rioting and running wild. Kayla, who understood, stood behind him, laughing at the exchange. I was too embarrassed, already reddening in the cheeks. Kevin put his hands on my shoulder and held my face in one hand. “I asked if you are alright. You screamed really loud.” He repeated. “Sorry.” It's the only thing I could utter. My mind was blank.Arfeen terpaku menatap sosok di depannya itu. "Bella! Apa yang kau lakukan di sini?" "Menyelamatkanmu dari para gadis itu, apalagi?" jawab wanita itu dengan senyum hangat. "Aku masih bisa mengatasi mereka sendiri!" "Oya, lalu kenapa kau lari?" "Aem!" Arfeen kebingungan untuk menjawab. "Ayolah, Arfeen. Kau memang seorang Casanova, tapi kau benci dikerubungi para gadis. Seharusnya kau menempatkan pengawalan ketat untuk mengantisipasi. Di acara seperti ini sudah pasti jati dirimu akan terbongkar!" Arfeen menghela nafas panjang. "Terima kasih, tapi aku harus pergi!" ia hendak melangkah namun Bella kembali menyandarkan tubuhnya menggunakan telunjuk. "Kau mau aku berteriak bahwa kau sedang melecehkan aku?" Arfeen menyimpulkan senyum miring. "Kau mengancamku?" "Aku hanya ... argh!" kalimat Bella belum berlanjut karena Arfeen sudah lebih dulu membalik tubuh wanita itu yang kini justru dirinya yang bersandar tembok dengan tangan Arfeen di lehernya. "Dengar Bella, sudah aku katakan
"Rena, apa kau tega pada Kakek?" seru Ferano yang mencoba membujuk cucunya. Dua orang polisi sudah memegangi lengannya kanan dan kiri. "Larena, Papa sudah tua. Tega sekali kalian lalukan itu?" seru Arland tak terima. "Kami masih keluargamu!""Keluarga!" desis Arfeen dengan kecut, "Keluarga tidak menumbalkan anggota keluarganya sendiri."Arland menatap tajam kepada Arfeen. "Ini pasti ulahmu kan?" ia hendak menyerang nalun lekas digentikan oleh anak buah Arfeen. Kedua tangannya dicengkeram dan langsung diborgol ke belakang. "Lepaskan aku!"Buk!Satu tinju mendarat di wajah Arland. Nyaris semua anggota keluarga Jayendra sudah ditahan. "Arfeen!""Lancang kau hanya menyebutkan nama saja, panggil Tuan Zagan!" seru Gray. Mereka semua membeliak, Tuan Zagan?Jadi Arfeen ... Arfeen adalah Tuan Muda Mahesvara? Kenapa Lyra tak pernah memberitahu? "Tuan Muda, kami tidak melakukan kesalahan apa pun padamu. Tolong ampuni kami!" pinta Radika. Arfeen mengeraskan rahang. "Korban kecelakaan Papa
"Ahk, jangan terlalu kencang. Itu menyakitiku!"Seketika kedua mata Larena mendelik, ia melepas peluknya dna menatap wajah di bawahnya. Mata pemuda itu sudah membuka, tengah menatapnya. "Kau ... kau sudah siuman?" beonya. Arfeen mengulum senyum. "Jadi ... pesonaku begitu mengagumkan ya, sampai kau jatuh cinta berkali-kali?" celetuknya memainkan satu alis. "Sejak kapan kau sadar?" tanya Larena mencubit perut Arfeen. "Argh ... sakit, Wife. Sakit, aku masih sakit kenapa kau menganiaya aku?" protesnya mengelus bekas cubitan sang istri. Larena menatap wajah di depannya masih dengan tatapan tak percaya. "Sejak kapan kau sadar? Kau sengaja ingin membuatku takut? Hah?" air mata langsung mengalir deras di pipinya. Arfeen menyentuh pipi sang istri, mengusap cairan hangat itu dengan ibu jarinya. "Maaf!" ucapnya lirih. Larena pun langsung merebahkan diri ke pelukannya."Kenapa kau lakukan itu?" isaknya, "Aku pikir ... kau akan benar-benar meninggalkan aku ... jangan seperti itu lagi ...
"Keluarga Adipradana?" seru Vano. "Kau dan Arfeen?""Iya, Tuan. Saya dan Presdir sama-sama mimiliki darah kleuarga Adipradana. Presdir ... adalah cucu dari Jenderal Wira Adipradana!"Vano menghela nafas dalam. Pantas saja Arfeen berbeda dari semua keluarga Mahesvara yang lainnya. Anak itu jelas memiliki jiwa seorang pemimpin. Ternyata di dalam darahnya mengalir darah orang hebat. Larena sangat beruntung bisa menikahi dengannya. "Golongan darah Anda sama dengan pasien?" tanya si dokter. "Iya, Dok. Anda bisa mengambil sebanyak yang dibutuhkan!" jawabnya dengan iklas. "Mari ikut saya!"Jordi tetap harus melakukan mengecekan terlebih dahulu, setelah cocok baru transfusi bisa dilakukan. Beruntung Arfeen hanya membutuhkan dua kantung darah, sehingga masih bisa mengambil dari tubuh Jordi. Di luar ruangan, Larena masih menangis. Bahkan tangisnya kian pilu. Arfeen rela mengorbankan nyawa demi dirinya, pemuda itu membuktikan kata-kata yang rela mati demi dirinya. Sementara ia ... apa yang
Suara lembut itu membuat Tantra terpaku, rahangnya langsung mengeras menatap sepupunya. Wanita itu! Darah keluarga Wijaya rupanya lebih kuat di tubuh Lyra daripada keluarga Mahesvara. "Kau tak sepantasnya melakukan ini terhadap Kakek, Lyra.""Apakah aku meminta pendapatmu?" tanya Lyra sinis. Tentu sa
"Tantra!" desis Radika dengan bibir gemetar. Meski Tantra tak memiliki kelebihan seperti Arfeen, tapi pemuda itu tetap cucunya. "Tuan Muda, Tantra!" desis Liam."Kakek, jangan pikirkan aku!" seru Tantra yang sama sekali tak ada rasa takut. "Kelangsungan Klan Mahesvara jauh lebih penting dari nyawaku
"Arfeen!" suara Larena bergetar. Ia menggengam erat tangan pemuda itu yang terasa sangat dingin. Biasanya tangan Arfeen sangat hangat! Sekarang, ia benar-benar takut jika pemuda itu akan pergi untuk selamanya. Larena meletakan telapak tangan itu ke pipinya yang basah oleh cairan hangat yang tak bisa
"Larena!"Larena menghentikan langkah dua meter di hadapan Arfeen. Arfeen langsung berhambur memeluk wanita itu, Larena sama sekali tak memberikan respon apa pun. wanita itu hanya mematung, membiarkan sang suami memeluk tubuhnya. Karena mungkin saja itu akan menjadi pelukan terakhir mereka. Jujur saj






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 하기