Share

BAB 7 - Bertemu Elara Lagi

Penulis: Rianoir
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 12:22:29

Marcus tertawa, pertama kali sejak insiden dimulai. "Orang biasa? Orang biasa tidak bisa memukul Garrett Blackwood seperti itu dan tetap tenang." Dia mengulurkan tangannya. "Marcus Stone. Kepala keamanan Moonbrook Tower."

Ryan menjabat tangannya. "Ryan Hendrikson."

"Dengar, Ryan," kata Marcus dengan nada serius. "Aku menghargai apa yang kau lakukan tadi. Kami semua menghargainya. Tapi... kau harus tahu konsekuensinya. Garrett akan melapor ke ayahnya. Ayahnya akan telepon perusahaan security kami. Dan kemungkinan besar..."

"Aku akan dipecat sebelum sempat dipekerjakan?" Ryan menyelesaikan kalimatnya.

"Ya," jawab Marcus dengan nada menyesal.

"Tidak masalah," kata Ryan. "Saya sudah terbiasa dengan situasi sulit."

Marcus menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, salah satu satpam muda berteriak..."Pak Marcus! Nona Sinclair datang!"

Semua orang menoleh.

Suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah gedung. Seorang wanita cantik berjalan keluar dari pintu kaca, rambut panjang tergerai, mengenakan dress putih elegan, wajah cantik dengan makeup natural. Elara Sinclair.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Elara sambil melihat sekeliling, tanah yang berantakan, para satpam yang berdiri dengan ekspresi bersalah, dan... Ryan.

Matanya bertemu dengan mata Ryan.

Dan untuk sesaat, Elara berhenti bernapas.

Wajah itu. Dia mengenali wajah itu.

Pria yang menyelamatkannya di hotel kemarin malam!

Ryan juga mengenali Elara, wanita yang hampir dia "nikahi" dengan buku nikah palsu kemarin malam di hotel.

Keduanya terdiam, saling menatap.

"Kau..." Elara berbisik, hampir tidak terdengar.

Ryan tersenyum tipis. "Nona Sinclair. Kita bertemu lagi."

Marcus menatap keduanya dengan bingung. "Kalian... saling kenal?"

Elara tidak menjawab. Dia masih menatap Ryan dengan ekspresi campur aduk, shock, lega, bingung, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa dia identifikasi.

"Ya," jawab Ryan untuk Elara. "Kami bertemu kemarin malam. Situasinya... agak rumit."

"Rumit?" Marcus mengerutkan kening.

Elara akhirnya menemukan suaranya kembali. "Rumit memang cara yang tepat untuk menggambarkannya." Dia menatap Ryan dengan tatapan menyelidik. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Melamar pekerjaan sebagai satpam," jawab Ryan jujur.

"Satpam?" Elara tampak terkejut. "Kau... satpam?"

"Belum. Baru mau melamar."

Elara terdiam. Pikirannya berputar cepat. Pria yang menyelamatkannya kemarin malam, pria yang bergerak dengan kecepatan dan ketenangan yang tidak biasa, ternyata hanya seorang pelamar kerja satpam?

Tidak masuk akal.

"Nona Sinclair," kata Marcus hati-hati. "Ada yang perlu saya laporkan. Tadi Tuan Blackwood datang lagi, mencoba masuk untuk menemui Anda. Kami menghalanginya sesuai instruksi Anda. Lalu... Ryan di sini memukul Tuan Blackwood. Cukup keras. Tuan Blackwood sudah pergi, tetapi dia mengancam akan membalas."

Elara menatap Ryan. "Kau memukul Garrett Blackwood?"

"Dia yang meminta dipukul," jawab Ryan dengan nada santai. "Saya hanya memenuhi permintaannya."

Elara tidak bisa menahan senyumnya. Dia cepat-cepat menutupi mulutnya dengan tangan, tetapi matanya sudah mengkhianatinya, mata itu bersinar dengan hiburan.

"Kau... memukul Garrett?" ulangnya, kali ini dengan nada yang hampir... senang?

"Ya."

"Keras?"

"Lumayan keras."

Elara tertawa, tertawa kecil yang dia coba sembunyikan. Semua satpam menatapnya dengan terkejut. Mereka jarang melihat Nona Sinclair tertawa.

"Maafkan saya," kata Elara sambil menenangkan diri. "Hanya... Garrett memang pantas dipukul. Sudah lama saya ingin melakukan itu sendiri."

Marcus menatap Elara dengan tidak percaya. "Nona Sinclair... maksud Anda?"

Elara menatap Ryan dengan tatapan baru, tatapan yang lebih hangat. "Ryan Hendrikson, benar?"

"Benar."

"Kau melamar sebagai satpam?"

"Ya."

Elara tersenyum, senyum yang membuat semua satpam di sana terkejut karena mereka tidak pernah melihat Nona Sinclair tersenyum seperti itu.

"Tidak perlu," kata Elara. "Kau tidak perlu menjadi satpam."

Ryan mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Kau bisa bekerja di perusahaan saya. Horizon International." Elara melipat tangannya. "Saya bisa mengatur posisi untuk kamu. Manajer departemen? Atau kau lebih suka mencoba posisi direktur proyek?"

Semua orang terdiam.

Marcus menatap Elara dengan mulut terbuka. "Nona Sinclair... maksud Anda..."

"Saya serius," kata Elara tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryan. "Kau menyelamatkan saya semalam. Dan sekarang kau memukul orang yang sudah lama mengganggu saya. Itu layak mendapat penghargaan lebih dari sekadar pekerjaan satpam."

Ryan terdiam. Ini sama seperti yang terjadi semalam di hotel, wanita ini mencoba memberinya posisi tinggi tanpa mengenalnya dengan baik.

"Berapa gajinya?" tanya Ryan tiba-tiba.

Elara mengangkat tiga jari. "Tiga puluh juta per bulan. Belum termasuk bonus dan komisi."

Suara satpam-satpam menarik napas terdengar di sekeliling mereka.

Ryan menatap tiga jari Elara. Dia pikir dia akan mengatakan tiga juta, yang sudah cukup untuk membeli rokok dan makan. Tiga puluh juta?

Itu uang yang sangat besar untuk seseorang yang baru saja pulang dan tidak punya apa-apa.

"Gajinya sangat menarik," kata Ryan perlahan. "Tetapi..."

"Tetapi apa?"

Ryan belum sempat menjawab ketika suara sepatu hak tinggi lain terdengar dari dalam gedung.

Semua orang menoleh lagi.

Seorang wanita lain berjalan keluar, lebih tinggi dari Elara, postur lebih kaku, wajah cantik dengan tatapan dingin yang menusuk. Rambut hitam sebahu diikat rapi. Blazer hitam, rok pensil, sepatu hak tinggi. Aura presiden direktur yang tidak bisa disangkal.

Celeste Thornfield.

Ryan membeku.

Celeste juga membeku saat melihat Ryan.

Keduanya saling menatap dengan ekspresi shock.

"Kau..." Celeste berbisik. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku..." Ryan mencoba mencari kata-kata. "Melamar kerja. Seperti yang kita bicarakan kemarin."

Elara menatap antara Ryan dan Celeste dengan bingung. "Kalian... saling kenal?"

Celeste tidak menjawab. Dia masih menatap Ryan dengan tatapan tidak percaya, dan sedikit marah.

Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Situasi ini... rumit.

Sangat rumit.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 205: Logo Mahkota 

    "Sayang..." Ryan menatap Celeste dengan tatapan memelas yang sudah sangat ia latih. "Mobilku kehabisan bensin. Dan aku tidak punya uang untuk mengisinya."Celeste melirik Ryan dengan ekspresi yang sudah sangat jelas artinya. 'Sudah kuduga.'Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah kartu, dan melemparkannya ke arah Ryan tanpa berkata apa pun.Ryan menangkap kartu itu. Matanya langsung berkilau sangat terang.Kartu BBM level diamond. Tidak perlu antre, tidak perlu bayar tunai di tempat, pelayanan kelas tertinggi di semua SPBU rekanan.Tentu saja "tidak perlu bayar di tempat" artinya Celeste yang akan melunasi tagihannya di akhir periode. Tapi detail seperti itu tidak perlu dipikirkan sekarang."Istriku memang yang terbaik!" Ryan nyaris melompat kegirangan seperti anak kecil yang baru dapat hadiah.Celeste sudah hendak berdiri dari kursinya ketika Ryan berdeham lagi dengan nada yang sangat tidak bisa dipercaya."Bicara yang benar!""Sayang, bisa tolong antar aku ke kantor? Mobilku

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 204: Alasan Miranda

    "Sayang..." Ryan meletakkan garpu itu kembali ke atas meja dengan gerakan paling lembut yang bisa ia tampilkan. Matanya mengamati Celeste dengan kewaspadaan seseorang yang berdiri di depan bom yang sudah dihitung mundur."Ryan! Hendrikson!" Celeste menyebut namanya kata per kata. Setiap suku kata jatuh seperti pukulan palu hakim yang menghakimi tanpa ruang banding.Keringat dingin langsung membasahi seluruh punggung Ryan seketika.Di balik konter kasir, para pelayan yang bersembunyi saling berpandangan dengan ekspresi yang sangat tidak percaya. Apakah telinga mereka bermasalah, atau mata mereka? Pria berantakan yang baru masuk tadi memanggil wanita secantik dewi itu dengan sebutan "sayang"? Dan wanita itu merespons, meskipun responsnya berupa lemparan garpu?'Dunia sudah benar-benar tidak masuk akal. Sejak kapan wanita secantik itu mau dengan pria macam ini?'"Jangan marah dulu. Aku bisa j

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 203: Terlambat Datang

    Begitu mendengar deskripsi Miranda, nama itu muncul secara sangat otomatis di kepalanya. Organisasi misterius yang bahkan di dunia bawah tanah pun hanya beredar sebagai bisikan yang tidak berani diucapkan keras-keras."Mata Shura?" Miranda memiringkan kepalanya. "Nama yang cocok untuk tato seperti itu."Dugaannya tepat. Simbol yang cukup menimbulkan rasa takut hanya dengan melihatnya bukan tato biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap dan jauh lebih dalam di balik semua ini."Jangan ikut campur dalam kasus ini." Ryan menatap Miranda dengan pandangan yang tidak menerima bantahan. "Wanita-wanita itu bukan lawan yang bisa kamu tangani.""Mana bisa aku ikut campur? Kasusnya sudah diambil alih oleh Iron Wolves." Miranda mengerucutkan bibirnya dengan kecewa yang sangat nyata. "Aku cuma tahu karena kebetulan sempat melihat sebelum berkas diserahkan.""Syukurlah." Ryan mengangguk. Setidaknya Miranda tidak akan terlibat lebih jauh dari ini."Tapi Guru, kenapa bilang begitu? Memangnya mereka

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 202: Jejak Mata Shura

    "Guru! Guru!" Miranda mendobrak masuk ke kantor polisi seperti badai yang sangat tidak diundang. Matanya langsung mencari-cari. "Jangan bilang Guru ikut operasi razia lagi?!"Kata-kata itu membuat wajah Ryan semakin suram dari sebelumnya.Polisi yang bertugas menatap Miranda, lalu menatap Ryan, lalu kembali ke Miranda dengan ekspresi yang sangat datar. "Dia yang kena razia. Bayar dendanya, orangnya bisa dibawa pulang. Jangan diulangi."Setelah mendengar itu, Miranda menatap Ryan dengan pandangan yang sangat campur aduk antara kecewa, tidak percaya, dan sedikit jijik yang cukup tulus."Guru... citra Guru bagaimana jadinya?"Ryan menyuruh Miranda membayar denda dan meninggalkan kantor polisi secepat mungkin. Tempat ini terlalu memalukan untuk ditinggali lebih lama dari yang sudah terjadi.Yang ia inginkan sekarang hanyalah membuat Scarlett Jasmine Pierce berlutut di hadapannya dan memohon ampun dengan sangat sungguh-sungguh.**Miranda berjalan di samping Ryan di trotoar yang sepi. M

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 201: Masuk Penjara

    Ryan digiring ke kantor polisi distrik tanpa banyak bicara. Bahkan tanpa interogasi, ia langsung dimasukkan ke ruang tahanan begitu saja.Sebenarnya membayar denda sudah cukup untuk membebaskannya. Tapi dompetnya tertinggal di lemari Moonlight Inn. Dan saldo rekeningnya, yah, memang tidak pernah menjadi sesuatu yang perlu dibanggakan.Menelepon keluarga? Kalau Celeste tahu suaminya ditangkap polisi atas tuduhan transaksi prostitusi atau perbuatan mesum dengan wanita lain, bukan hanya pekerjaannya yang akan tamat. Mungkin nyawanya juga.Tapi kalau ditahan di sini lima belas hari, Celeste pasti akan tahu juga. Tinggal soal waktu saja.'Dilema yang sangat klasik.'"Kawan, masuk karena apa?" Suara berat terdengar dari sudut ruang tahanan. Seorang pria bertubuh sangat kekar duduk di sana, menatap Ryan dengan cara yang membuat bulu kuduknya mulai berdiri."Tidak melakukan apa-apa." Ryan menjawab dengan nada kesal. Memang benar, ia tidak sempat melakukan apa pun."Tidak melakukan apa-apa

  • Dikira Satpam Hidung Belang Ternyata Dewa Perang   BAB 200: Ditangkap Polisi

    Transaksi prostitusi? Ryan bahkan belum sempat melakukan apa pun!"Pak, ada kesalahpahaman." Ryan memasang senyum paling meyakinkan yang bisa ia tampilkan. "Ini istri saya. Mana mungkin ada transaksi tidak senonoh antara suami istri sendiri?"Ini sudah kedua kalinya kebohongan yang sama keluar dari mulutnya. Pertama dengan Elara di hadapan polisi, sekarang dengan wanita yang bahkan namanya saja ia belum tahu. Nasib memang sangat suka mempermainkan orang.Kedua polisi itu mengalihkan pandangan ke Valentina yang duduk di tepi tempat tidur."Nona, apa benar yang dikatakan pria ini?"Valentina menatap polisi. Lalu menatap Ryan. Lalu kembali ke polisi."Kami memang suami istri..."Ryan hampir menghembuskan napas lega."...BOHONG!"Valentina tiba-tiba meringkuk di tempat tidur, memeluk lututnya sendiri, dan mulai terisak dengan sangat meyakinkan. Air matanya mengalir sangat deras

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status