LOGINMarcus tertawa, pertama kali sejak insiden dimulai. "Orang biasa? Orang biasa tidak bisa memukul Garrett Blackwood seperti itu dan tetap tenang." Dia mengulurkan tangannya. "Marcus Stone. Kepala keamanan Moonbrook Tower."
Ryan menjabat tangannya. "Ryan Hendrikson."
"Dengar, Ryan," kata Marcus dengan nada serius. "Aku menghargai apa yang kau lakukan tadi. Kami semua menghargainya. Tapi... kau harus tahu konsekuensinya. Garrett akan melapor ke ayahnya. Ayahnya akan telepon perusahaan security kami. Dan kemungkinan besar..."
"Aku akan dipecat sebelum sempat dipekerjakan?" Ryan menyelesaikan kalimatnya.
"Ya," jawab Marcus dengan nada menyesal.
"Tidak masalah," kata Ryan. "Saya sudah terbiasa dengan situasi sulit."
Marcus menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, salah satu satpam muda berteriak..."Pak Marcus! Nona Sinclair datang!"
Semua orang menoleh.
Suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah gedung. Seorang wanita cantik berjalan keluar dari pintu kaca, rambut panjang tergerai, mengenakan dress putih elegan, wajah cantik dengan makeup natural. Elara Sinclair.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Elara sambil melihat sekeliling, tanah yang berantakan, para satpam yang berdiri dengan ekspresi bersalah, dan... Ryan.
Matanya bertemu dengan mata Ryan.
Dan untuk sesaat, Elara berhenti bernapas.
Wajah itu. Dia mengenali wajah itu.
Pria yang menyelamatkannya di hotel kemarin malam!
Ryan juga mengenali Elara, wanita yang hampir dia "nikahi" dengan buku nikah palsu kemarin malam di hotel.
Keduanya terdiam, saling menatap.
"Kau..." Elara berbisik, hampir tidak terdengar.
Ryan tersenyum tipis. "Nona Sinclair. Kita bertemu lagi."
Marcus menatap keduanya dengan bingung. "Kalian... saling kenal?"
Elara tidak menjawab. Dia masih menatap Ryan dengan ekspresi campur aduk, shock, lega, bingung, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa dia identifikasi.
"Ya," jawab Ryan untuk Elara. "Kami bertemu kemarin malam. Situasinya... agak rumit."
"Rumit?" Marcus mengerutkan kening.
Elara akhirnya menemukan suaranya kembali. "Rumit memang cara yang tepat untuk menggambarkannya." Dia menatap Ryan dengan tatapan menyelidik. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Melamar pekerjaan sebagai satpam," jawab Ryan jujur.
"Satpam?" Elara tampak terkejut. "Kau... satpam?"
"Belum. Baru mau melamar."
Elara terdiam. Pikirannya berputar cepat. Pria yang menyelamatkannya kemarin malam, pria yang bergerak dengan kecepatan dan ketenangan yang tidak biasa, ternyata hanya seorang pelamar kerja satpam?
Tidak masuk akal.
"Nona Sinclair," kata Marcus hati-hati. "Ada yang perlu saya laporkan. Tadi Tuan Blackwood datang lagi, mencoba masuk untuk menemui Anda. Kami menghalanginya sesuai instruksi Anda. Lalu... Ryan di sini memukul Tuan Blackwood. Cukup keras. Tuan Blackwood sudah pergi, tetapi dia mengancam akan membalas."
Elara menatap Ryan. "Kau memukul Garrett Blackwood?"
"Dia yang meminta dipukul," jawab Ryan dengan nada santai. "Saya hanya memenuhi permintaannya."
Elara tidak bisa menahan senyumnya. Dia cepat-cepat menutupi mulutnya dengan tangan, tetapi matanya sudah mengkhianatinya, mata itu bersinar dengan hiburan.
"Kau... memukul Garrett?" ulangnya, kali ini dengan nada yang hampir... senang?
"Ya."
"Keras?"
"Lumayan keras."
Elara tertawa, tertawa kecil yang dia coba sembunyikan. Semua satpam menatapnya dengan terkejut. Mereka jarang melihat Nona Sinclair tertawa.
"Maafkan saya," kata Elara sambil menenangkan diri. "Hanya... Garrett memang pantas dipukul. Sudah lama saya ingin melakukan itu sendiri."
Marcus menatap Elara dengan tidak percaya. "Nona Sinclair... maksud Anda?"
Elara menatap Ryan dengan tatapan baru, tatapan yang lebih hangat. "Ryan Hendrikson, benar?"
"Benar."
"Kau melamar sebagai satpam?"
"Ya."
Elara tersenyum, senyum yang membuat semua satpam di sana terkejut karena mereka tidak pernah melihat Nona Sinclair tersenyum seperti itu.
"Tidak perlu," kata Elara. "Kau tidak perlu menjadi satpam."
Ryan mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Kau bisa bekerja di perusahaan saya. Horizon International." Elara melipat tangannya. "Saya bisa mengatur posisi untuk kamu. Manajer departemen? Atau kau lebih suka mencoba posisi direktur proyek?"
Semua orang terdiam.
Marcus menatap Elara dengan mulut terbuka. "Nona Sinclair... maksud Anda..."
"Saya serius," kata Elara tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryan. "Kau menyelamatkan saya semalam. Dan sekarang kau memukul orang yang sudah lama mengganggu saya. Itu layak mendapat penghargaan lebih dari sekadar pekerjaan satpam."
Ryan terdiam. Ini sama seperti yang terjadi semalam di hotel, wanita ini mencoba memberinya posisi tinggi tanpa mengenalnya dengan baik.
"Berapa gajinya?" tanya Ryan tiba-tiba.
Elara mengangkat tiga jari. "Tiga puluh juta per bulan. Belum termasuk bonus dan komisi."
Suara satpam-satpam menarik napas terdengar di sekeliling mereka.
Ryan menatap tiga jari Elara. Dia pikir dia akan mengatakan tiga juta, yang sudah cukup untuk membeli rokok dan makan. Tiga puluh juta?
Itu uang yang sangat besar untuk seseorang yang baru saja pulang dan tidak punya apa-apa.
"Gajinya sangat menarik," kata Ryan perlahan. "Tetapi..."
"Tetapi apa?"
Ryan belum sempat menjawab ketika suara sepatu hak tinggi lain terdengar dari dalam gedung.
Semua orang menoleh lagi.
Seorang wanita lain berjalan keluar, lebih tinggi dari Elara, postur lebih kaku, wajah cantik dengan tatapan dingin yang menusuk. Rambut hitam sebahu diikat rapi. Blazer hitam, rok pensil, sepatu hak tinggi. Aura presiden direktur yang tidak bisa disangkal.
Celeste Thornfield.
Ryan membeku.
Celeste juga membeku saat melihat Ryan.
Keduanya saling menatap dengan ekspresi shock.
"Kau..." Celeste berbisik. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku..." Ryan mencoba mencari kata-kata. "Melamar kerja. Seperti yang kita bicarakan kemarin."
Elara menatap antara Ryan dan Celeste dengan bingung. "Kalian... saling kenal?"
Celeste tidak menjawab. Dia masih menatap Ryan dengan tatapan tidak percaya, dan sedikit marah.
Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Situasi ini... rumit.
Sangat rumit.
Ryan berdiri dari kursinya dengan gerakan yang tenang.Celeste menatapnya dengan terkejut. "Apa yang kau lakukan? Saya belum selesai berbicara.""Saya pikir sudah jelas," kata Ryan. "Anda ingin saya pergi. Baiklah. Saya akan pergi."Dia berbalik dan berjalan menuju pintu.Celeste terpaku. Tangan Ryan sudah di handle pintu."Ryan, tunggu!" kata Celeste tanpa berpikir.Ryan berhenti. Dia berbalik sedikit. "Ya?"Celeste membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. "Aku... saya maksudnya... lalu apa yang akan kau lakukan?"Ryan mengangkat bahu dengan santai. "Ke Horizon International di sebelah untuk menemui Nona Sinclair. Dia sudah menjanjikan saya posisi manajer dengan gaji tiga puluh juta per bulan.""KAU TIDAK BOLEH KE HORIZON INTERNATIONAL!"Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Celeste sebelum dia bisa menahannya. Begitu dia menyadari apa yang dia katakan, wajahnya langsung memerah.Ryan menatapnya dengan sedikit terkejut.Celeste menenangkan diri. Horizon International milik Elara
Emma Snow dan Ryan berdiri di dalam lift yang bergerak naik dengan tenang. Keheningan yang sangat tidak nyaman menyelimuti ruang sempit itu.Emma berdiri dengan postur sempurna di sudut lift, menatap angka lantai yang berubah tanpa melirik Ryan sedikitpun. Wajahnya dingin dan profesional, seperti patung es yang tidak bisa disentuh.Ryan berdiri dengan santai di sisi lain lift, tangannya di saku celana. Dia mencoba mencairkan suasana."Sudah lama bekerja untuk Presiden Thornfield?" tanya Ryan dengan nada ramah."Tiga tahun," jawab Emma dengan singkat tanpa menoleh. Suaranya datar, tidak memberikan ruang untuk percakapan lebih lanjut."Pasti menyenangkan bekerja dengannya."Emma akhirnya melirik Ryan dengan tatapan yang tajam dan penuh penilaian. "Presiden Thornfield adalah pemimpin yang sangat baik dan sangat profesional. Saya menghormatinya dengan sepenuh hati."Nada bicaranya seperti memberikan peringatan halus: jangan macam-macam dengan bossku.TING!Lift berbunyi saat tiba di lanta
Daniel Hayes menutupi pipinya yang bengkak sambil menatap Ryan dengan tatapan penuh dendam yang menyala-nyala. Matanya berputar-putar seakan-akan melihat bintang karena efek tamparan keras tadi. Tetapi karena ada David dan Sophie di ruangan, dan dia tidak ingin kehilangan muka lebih jauh lagi, dia hanya berkata dengan gigi yang terkatup rapat, "Tidak... apa-apa."Ryan membantu Daniel duduk di sofa kecil di samping ruangan dengan sikap yang sangat perhatian, seolah benar-benar merasa bersalah atas "kesalahpahaman" tadi.David menatap Ryan dengan kagum sekaligus bingung. Temperamen macam apa yang dimiliki orang ini? Satu detik dia bisa sangat garang seperti singa yang melindungi wilayahnya, detik berikutnya dia terlihat sangat jujur dan penuh penyesalan. Transisi terlalu cepat sampai dia tidak bisa mengikuti ritmenya!Sophie menatap Ryan dengan pandangan yang kompleks. Awalnya dia merasa sangat berterima kasih karena Ryan membelanya dari pelecehan Daniel. Tetapi setelah melihat R
"Baiklah, baiklah," kata Marcus sambil bertepuk tangan untuk menarik perhatian semua orang. "Cukup bergosip. Ryan, ayo kita urus dokumen keamananmu. Setelah selesai, kau bisa langsung mulai bekerja.""Terima kasih, Bro Marcus."Ternyata, dengan dukungan tidak langsung dari kedua presiden cantik itu, dokumen keamanan Ryan diproses dengan sangat lancar. Dalam waktu kurang dari satu jam, semua administrasi selesai dan dia resmi menjadi anggota tim keamanan Moonbrook Tower.Tim keamanan terdiri dari 31 orang termasuk Ryan, dibagi menjadi tiga kelompok yang bertugas secara bergiliran. Marcus Stone adalah kepala tim keamanan sekaligus memimpin kelompok pertama. Ryan ditugaskan ke kelompok Marcus.Karena ini hari pertamanya, Ryan tidak langsung diberi tugas patroli. Marcus yang terlalu sibuk dengan pekerjaan administrasi meminta David Porter untuk membawa Ryan berkeliling mengenal lingkungan kerja dan area patroli."Bro Ryan, ikut saya," kata David dengan ramah. "Saya akan menunjukkan rua
Keheningan yang canggung menyelimuti area depan Moonbrook Tower.Ryan dan Celeste saling menatap. Elara berdiri di antara mereka dengan ekspresi bingung, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba menjadi tegang ini.Marcus dan para satpam lainnya juga merasakan atmosfer yang aneh, tetapi tidak berani bertanya.Celeste adalah orang pertama yang memecah keheningan. Dia menatap Ryan dengan tatapan tajam yang seolah mengatakan "jangan macam-macam," lalu sedikit mengangkat dagunya dan berjalan melewati Ryan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan ritme yang tegas saat dia memasuki gedung.Ryan menatap punggung Celeste yang menjauh dengan ekspresi rumit.Elara memperhatikan interaksi singkat antara Ryan dan Celeste dengan rasa penasaran, tetapi dia tidak bertanya. Sebagai gantinya, dia kembali fokus pada tawaran yang sudah dia berikan."Jadi, Ryan," kata Elara sambil melipat tangannya. "tiga puluh juta per bulan, belum termasuk bonus dan komisi. Ini taw
Marcus tertawa, pertama kali sejak insiden dimulai. "Orang biasa? Orang biasa tidak bisa memukul Garrett Blackwood seperti itu dan tetap tenang." Dia mengulurkan tangannya. "Marcus Stone. Kepala keamanan Moonbrook Tower."Ryan menjabat tangannya. "Ryan Hendrikson.""Dengar, Ryan," kata Marcus dengan nada serius. "Aku menghargai apa yang kau lakukan tadi. Kami semua menghargainya. Tapi... kau harus tahu konsekuensinya. Garrett akan melapor ke ayahnya. Ayahnya akan telepon perusahaan security kami. Dan kemungkinan besar...""Aku akan dipecat sebelum sempat dipekerjakan?" Ryan menyelesaikan kalimatnya."Ya," jawab Marcus dengan nada menyesal."Tidak masalah," kata Ryan. "Saya sudah terbiasa dengan situasi sulit."Marcus menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, salah satu satpam muda berteriak..."Pak Marcus! Nona Sinclair datang!"Semua orang menoleh.Suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah gedung. Seorang wanita cantik berjalan keluar d







