Masuk“Jadi ini alasan kamu menghilang?”Suara Langit terdengar rendah, tajam, tanpa basa-basi. Tidak berteriak, tidak meninggi—justru itu yang membuatnya terasa lebih menekan. Tatapan hitam legam pria itu menyapu sekeliling rumah kosong dengan sorot waspada, seperti sedang memetakan bahaya yang tak kasatmata.Tanisha berdiri beberapa langkah darinya. Tangannya refleks menggenggam sling bag di bahunya, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ritme pagi yang seharusnya tenang.“Kenapa kamu ke sini?” lanjut Langit, langkahnya maju satu tapak. “Apa yang kamu cari?”Ia berhenti tepat di depan Tanisha. “Atau…” Langit menyipitkan mata, menelisik wajah wanita itu dengan intensitas yang membuat Tanisha ingin mundur, “…ada seseorang yang kamu temui?”Tanisha tersentak halus. Hampir tanpa sadar, tubuhnya bergerak sedikit menyamping, seolah ingin melindungi sisi tempat tasnya tergantung. Benda yang ia temukan di kamar orang tuanya terasa mendadak berat—bu
Keesokan paginya, Tanisha berdiri di seberang jalan depan rumahnya. Ia tidak langsung turun dari mobil. Tangannya masih bertahan di atas tas, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar, sementara pandangannya tertuju pada satu hal yang membuat dadanya seperti diremas perlahan.Sebuah banner besar terbentang di pagar rumah itu.DISEGEL.DALAM PROSES PENYITAAN.Tulisan merah menyala itu terlalu kontras dengan warna tembok rumah yang dulu selalu terasa hangat. Terlalu mencolok, terlalu kejam. Seolah negara ingin memastikan semua orang tahu bahwa rumah itu—rumah keluarganya—kini bukan lagi milik mereka.Tanisha menghela napas panjang.Inilah rumah tempat ia tumbuh. Tempat ia belajar berjalan, jatuh, bangkit, menangis diam-diam di balik pintu kamar, juga tempat ia pernah percaya bahwa keluarganya akan selalu baik-baik saja. Ia hampir menghabiskan seluruh hidupnya di sini, dan kini… semuanya tinggal nama di ingatan.Ia menu
Tanisha berbohong. Bohong kecil, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk membuat dadanya berdenyut tidak nyaman sejak keluar dari rumah. Ketika Adinda bertanya ia hendak ke mana, Tanisha hanya menjawab ingin jalan-jalan sebentar. Menghirup udara, mencari tenang. Ibunya menatapnya lama—terlalu lama untuk sebuah jawaban sederhana—namun akhirnya mengangguk, seolah memilih percaya demi tidak menambah beban.Langit tidak tahu. Itu satu-satunya hal yang Tanisha pastikan sebelum melangkah pergi.Ia mengenakan pakaian sederhana, rambut diikat rendah, kacamata hitam menutupi setengah wajahnya. Sopir mengantar sampai titik yang disepakati, lalu Tanisha melanjutkan sendiri. Gedung itu berdiri kokoh dengan tembok tinggi dan kawat berduri, dingin bahkan dari kejauhan. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, seolah setiap langkah ke depan harus dibayar dengan keberanian yang mahal.Penjara. Tempat yang selama ini hanya hadir sebagai kata—di berita, di bisik-bisik
Mobil Langit berhenti tepat di depan rumah persembunyian itu. Mesin masih menyala, lampu depan menyorot tembok tinggi yang tampak kusam, seolah rumah itu memang diciptakan untuk tidak menarik perhatian siapa pun. Tanisha membuka pintu lebih dulu, turun tanpa menoleh, tangannya refleks menopang perutnya yang semakin membesar.Udara sore terasa lebih berat dari biasanya.Di dalam mobil, Langit masih duduk diam beberapa detik. Rahangnya mengeras. Pembahasan tentang perceraian di perjalanan tadi jelas belum selesai—bahkan belum benar-benar dimulai, tapi sudah cukup untuk membuat dadanya penuh oleh emosi yang tidak tersalurkan.Tanisha sudah menutup pintu mobil ketika suara Langit terdengar, datar namun jelas tertahan.“Kamu selalu memilih waktu yang tepat buat ngomong soal itu.”Tanisha berhenti melangkah. Punggungnya masih menghadap Langit. Ia menghela napas pelan sebelum menoleh setengah badan.“Aku cuma realistis, Mas,” jawabnya.
Tanisha berangkat pagi itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan gugup. Bukan juga takut. Lebih seperti ada beban yang terus bertambah, seiring usia kandungan yang makin besar dan rahasia yang kian menumpuk di dadanya.Tujuh bulan.Angka itu terasa berat ketika dokter menyebutkannya terakhir kali. Tujuh bulan berarti waktunya semakin dekat. Tujuh bulan berarti ruang untuk menghindar semakin sempit. Tujuh bulan berarti—apa pun yang sedang mengintainya, tak bisa lagi ditunda.Ia duduk di kursi belakang mobil, mengenakan kerudung sederhana dan masker, pandangannya tertuju pada jalanan yang mulai ramai. Sopir yang mengantar adalah orang lama, orang yang bisa dipercaya, dan itulah satu-satunya alasan Tanisha berani keluar hari ini.Ia tidak memberi tahu Langit.Pemeriksaan kandungan ini—ia ingin menjalaninya tanpa bayang-bayang siapa pun. Tanpa pengawalan. Tanpa tatapan orang-orang. Tanpa Langit Akasa Mahadewa yang ke mana pun pergi selalu membawa sorotan.Rumah sakit itu tidak besa
Rumah itu kembali sunyi setelah Langit pergi. Tanisha berdiri beberapa detik di ambang pintu, memastikan langkah kaki pria itu benar-benar menjauh. Bunyi pintu depan yang tertutup pelan menjadi penanda—ia sendirian lagi. Hanya dirinya, napasnya sendiri, dan ruang sempit yang entah kenapa selalu terasa terlalu besar saat malam datang.Ia menutup pintu kamar perlahan, lalu bersandar di sana. Entah sejak kapan dadanya terasa berat setiap kali ia sendirian.Tanisha berjalan menuju ranjang, duduk di tepinya, lalu menunduk. Tangannya meraih tas kecil berwarna hitam yang tadi sempat ia sembunyikan tergesa-gesa. Tas serut itu terasa asing sekaligus terlalu akrab. Bahannya sudah agak kasar, sudut-sudutnya mulai mengelupas—jelas bukan barang baru.Ia menghela napas panjang sebelum membukanya lagi. Bau kertas, bau kain lama, bercampur dengan aroma samar sesuatu yang mengingatkannya pada malam itu. Malam yang selalu ia coba potong dari ingatannya, tapi tak p







