แชร์

Seperti Penguasa

ผู้เขียน: Young Lady
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-27 23:50:41

Tanisha sebenarnya sudah siap mengusir Langit sejak detik pertama pria itu berdiri di depan rumah persembunyiannya.

Ia ingin Langit pergi. Sekarang juga. Ia tidak ingin hari yang sudah melelahkan ini bertambah kacau hanya karena kehadiran seseorang yang seharusnya sudah ia lepaskan.

Namun tubuhnya ternyata tidak sekuat tekadnya.

Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya dan ia berbalik menghadap Langit, dunia seolah berputar pelan. Pandangannya mengabur, kepalanya terasa berat seperti ditekan dari dua sisi. Perutnya mual—bukan mual biasa, tapi jenis mual yang membuat napas terasa naik ke dada dan tenggorokan mengencang.

“Kamu ngapain ke sini, Mas?” Tanisha bertanya, tapi suaranya jauh dari galak. Lebih mirip orang yang sedang berusaha keras untuk tetap berdiri.

Langit tidak langsung menjawab.

Pria itu berdiri di ambang pintu, sorot matanya menyapu Tanisha dari kepala hingga kaki. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup rapat—bukan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Kamu Pikir Kemampuanmu Cukup?

    “Kamu belum kasih tahu Mama tentang apa yang kamu temukan di rumah lama kalian, kan?”Suara Langit terdengar pelan, tapi serius. Mereka sudah berada di kamar. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sisi ranjang. Tirai tertutup rapat. Dunia di luar kamar seolah dipisahkan oleh batas tak kasatmata.Tanisha yang tengah duduk bersandar di sandaran ranjang, menoleh perlahan. “Nggak,” jawabnya lirih. “Bahkan Mama nggak tahu aku sempat jenguk Papa di penjara.”Langit menghela napas tipis, lalu duduk di sisi ranjang, berhadapan dengannya. Ia menyandarkan siku di paha, menautkan jemari, sikap khasnya ketika sedang berpikir serius.“Mama masih terguncang,” lanjut Tanisha. “Aku nggak mau bikin Mama makin tertekan. Rasanya… beliau belum siap dengar apa pun lagi.”Langit mengangguk pelan. “Bagus,” katanya akhirnya. “Memang sebaiknya Mama jangan tahu dulu.”Tanisha mengangkat wajahnya, menatap Langit dengan sorot ragu. “Mas yakin?”“Yakin,” jawab Langit tanpa ragu. “Ma

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Kebahagian Tak Berlangsung Lama

    Dapur kecil itu biasanya hanya diisi suara detak jam dan langkah Tanisha yang pelan. Namun pagi ini berbeda.Ada Langit. Berdiri kaku di dekat meja dapur, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung asal-asalan. Ekspresinya datar, nyaris serius—seolah ia sedang menghadiri rapat penting, bukan membantu membuat kue kering.Tanisha memperhatikannya sekilas sambil mengaduk adonan di mangkuk besar. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.“Mas,” katanya akhirnya, menahan senyum. “Kamu kelihatan kayak mau tandatangan kontrak, bukan bikin kue.”Langit melirik ke arah mangkuk. “Saya memang nggak pernah menyentuh hal-hal seperti ini.”“Itu kelihatan,” balas Tanisha ringan. “Sendoknya kebalik.”Langit menatap sendok kayu di tangannya, lalu membaliknya tanpa komentar. Gerakannya kaku, tapi serius. Terlalu serius untuk sesuatu yang seharusnya santai.Adinda sejak pagi belum keluar kamar. Demam ringan membuatnya memilih beristirahat, dan pesanan kue yang sudah terlanjur masuk tak mungkin dit

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Memecah Pelan-Pelan

    Mobil baru berhenti ketika Langit mematikan mesin dengan satu gerakan tegas. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Hanya suara ban yang melaju di aspal dan napas Tanisha yang sejak tadi belum benar-benar stabil.Begitu turun dari mobil, Tanisha langsung melangkah cepat menuju rumah. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena benda kecil yang kini tak lagi berada di genggamannya.Flashdisk itu.Langit mengikutinya dari belakang, langkahnya panjang, ekspresinya tak terbaca. Pintu tertutup, suasana rumah kembali sunyi—terlalu sunyi untuk dua orang yang baru saja membawa pulang sesuatu yang bisa mengubah segalanya.“Mas,” Tanisha akhirnya bicara, memecah keheningan. Ia berbalik, menatap Langit dengan mata yang masih menyimpan sisa panik. “Itu… bukan barang sembarangan.”Langit melepas jasnya, meletakkannya di sandaran kursi. “Saya tahu.”Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang membuat Tanisha makin gelisah.

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Memanfaatkan Kelengahan

    “Jadi ini alasan kamu menghilang?”Suara Langit terdengar rendah, tajam, tanpa basa-basi. Tidak berteriak, tidak meninggi—justru itu yang membuatnya terasa lebih menekan. Tatapan hitam legam pria itu menyapu sekeliling rumah kosong dengan sorot waspada, seperti sedang memetakan bahaya yang tak kasatmata.Tanisha berdiri beberapa langkah darinya. Tangannya refleks menggenggam sling bag di bahunya, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ritme pagi yang seharusnya tenang.“Kenapa kamu ke sini?” lanjut Langit, langkahnya maju satu tapak. “Apa yang kamu cari?”Ia berhenti tepat di depan Tanisha. “Atau…” Langit menyipitkan mata, menelisik wajah wanita itu dengan intensitas yang membuat Tanisha ingin mundur, “…ada seseorang yang kamu temui?”Tanisha tersentak halus. Hampir tanpa sadar, tubuhnya bergerak sedikit menyamping, seolah ingin melindungi sisi tempat tasnya tergantung. Benda yang ia temukan di kamar orang tuanya terasa mendadak berat—bu

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Tinggal Kenangan

    Keesokan paginya, Tanisha berdiri di seberang jalan depan rumahnya. Ia tidak langsung turun dari mobil. Tangannya masih bertahan di atas tas, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar, sementara pandangannya tertuju pada satu hal yang membuat dadanya seperti diremas perlahan.Sebuah banner besar terbentang di pagar rumah itu.DISEGEL.DALAM PROSES PENYITAAN.Tulisan merah menyala itu terlalu kontras dengan warna tembok rumah yang dulu selalu terasa hangat. Terlalu mencolok, terlalu kejam. Seolah negara ingin memastikan semua orang tahu bahwa rumah itu—rumah keluarganya—kini bukan lagi milik mereka.Tanisha menghela napas panjang.Inilah rumah tempat ia tumbuh. Tempat ia belajar berjalan, jatuh, bangkit, menangis diam-diam di balik pintu kamar, juga tempat ia pernah percaya bahwa keluarganya akan selalu baik-baik saja. Ia hampir menghabiskan seluruh hidupnya di sini, dan kini… semuanya tinggal nama di ingatan.Ia menu

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Kamu Bodoh

    Tanisha berbohong. Bohong kecil, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk membuat dadanya berdenyut tidak nyaman sejak keluar dari rumah. Ketika Adinda bertanya ia hendak ke mana, Tanisha hanya menjawab ingin jalan-jalan sebentar. Menghirup udara, mencari tenang. Ibunya menatapnya lama—terlalu lama untuk sebuah jawaban sederhana—namun akhirnya mengangguk, seolah memilih percaya demi tidak menambah beban.Langit tidak tahu. Itu satu-satunya hal yang Tanisha pastikan sebelum melangkah pergi.Ia mengenakan pakaian sederhana, rambut diikat rendah, kacamata hitam menutupi setengah wajahnya. Sopir mengantar sampai titik yang disepakati, lalu Tanisha melanjutkan sendiri. Gedung itu berdiri kokoh dengan tembok tinggi dan kawat berduri, dingin bahkan dari kejauhan. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, seolah setiap langkah ke depan harus dibayar dengan keberanian yang mahal.Penjara. Tempat yang selama ini hanya hadir sebagai kata—di berita, di bisik-bisik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status